
...*1 hari yang lalu*...
"Vin, ayah ada kerjaan di luar negri, kamu bantuin ayah urusin bisnis di sana. Besok kita ke luar negri" ucap ayah Baskara Leonard.
Kini ketiga keluarga itu sedang bersantai di ruang tamu, bunda Airin dan Elvin langsung menatap pria paruh baya itu dan juga Vino secara bergantian.
Vino yang tengah sibuk mengetik pesan kepada Fiza kini beralih menatap ayah nya.
"Tap…"
"Tidak ada tapi-tapi, lagian ayah sudah ijinin kamu di sekolah selama seminggu." bantah Baskara sembari menghirup kopi nya, matanya tetap memperhatikan koran. Anggap saja ini adalah perintah mutlak dari sang ayah, Akhir nya Vino hanya pasrah menuruti keinginan ayah nya.
-
"Ngapain kamu ajak aku kesini?" tanya Fiza bingung. Dia tahu betul ini salah satu rumah sahabat pemuda itu yaitu rumah tersebut adalah rumah David.
"Ikut aku" Bukan nya menjawab pemuda itu mengajak nya ke salah satu kamar yang ada di rumah itu.
__ADS_1
Vino memutar kenop pintu kamar di hadapan nya, akan tetapi tangan nya di cekal oleh Fiza.
"Eh, jangan masuk. Inikan kamar kak David," kata Fiza setelah mengetahui ini adalah kamar David, terbukti dari tulisan di depan pintu.
"Udah masuk aja Za" David muncul ke arah tangga dengan pakaian casual nya. Sebelum itu dia barusan mengganti pakaian nya sebelum ke pantry mengambil minum untuk kedua sepasang kekasih yang baru saja sehari resmi pacaran. Dia hanya sendiri di rumah megah itu, kedua orang tua nya sedang menjalankan bisnis ke luar negeri dan pembantu sedang izin pulang kampung.
"Orang nya aja biarin," Sahut Vino sekena nya. Pria itu melenggang masuk ke dalam kamar david.
Sore berganti malam, Vino melangkahkan kaki nya ke arah jendela besar yang ada di kamar sahabat nya itu. Jendela yang menembus balkom kamar, pemandangan yang sangat jelas dengan perlahan menampakkan bintang kelap kelip bersinar di atas sana.
Dari jendela saja Fiza dapat melihat pemandangan komplek, pohon-pohon dan gedung berhiaskan lampu lampu cantik. Di tambah lagi malam yang semarak akan bintang dan bulan purnama, membuat gadis itu seakan tak berhenti memandang nya dengan tatapan sempurna sangat sempurna.
"Ini adalah salah satu, tempat favoritku," monolog Vino menatap langit yang di penuhi akan bintang dan bulan pernama.
"Dan tempat ini juga cocok untuk menenangkan diri" Vino bermonolog lagi, sambil memasukan kedua tangan dalam saku nya.
Fiza menatap Vino dengan intens, memandang setiap sudut raut wajah itu.
__ADS_1
"Kenapa lihatin aku kek gitu? tanya Vino bisa dibilang juga sebuah kenyataan tersadar bahwa kekasih nya menatap bola mata nya dalam, karena itu dia pun membalas tatapan yang sulit dia artikan.
"Kamu ada masalah?," tanyanya.
"Gak kok" Jawab Vino datar tanpa keraguan, namun dalam hati nya dia sudah ragu akan janji yang di minta oleh Fiza walaupun dia tahu kepergian nya hanyalah selama seminggu. Dia hanya takut terbesit rasa takut kehilangan wanita kecilnya.
"Kirain," Fiza tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi, gadis itu terus saja berdecak kagum dalam hati.
Fiza lalu melangkah menuju balkom. Dan menikmati hawa yang menyejukkan, sampai rambut nya yang di gerai berterbangan. Vino pun menghampiri dan memeluk pinggang ramping itu sambil menaruh kepala nya di ceruk leher Fiza, seperti seorang anak sedang bermanja-manja dengan ibu nya.
"Kamu sebenar nya kenapa sih?," geram Fiza kesal. Spontan, ia ingin melepaskan diri dari lelaki itu. Rasa keingintahuan nya sudah menjalar sampai ke ubung-ubung.
"Biarkan seperti ini dulu Za" Dengan cepat ia mengeratkan pelukan. Fiza yang mendapat pelukan mencekam hanya bisa pasrah membiarkan Vino menuntaskan hasrat nya.
"Kok kamu jadi aneh sih, ada apa?"
"Nanti aku ceritain" seru Vino senyum kecut. Membalikkan badan nya sambil tangan nya bergerak menyelipkan rambut Fiza.
__ADS_1
...----------------...