Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Tidak Sekolah


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, gadis yang masih tertidur pulas dengan bantal guling dia memeluk nya begitu erat. Merasa terganggu dengan ketokan pintu, kemudian seseorang itu masuk membuka pintu membuat Fiza mengerjapkan mata nya.


"Bangun woi, Vino udah nungguin tuh dibawah" ucap seorang pria seangkatan nya tak lain dan tak bukan adalah Reza.


"Eugh" Suara Fiza menandakan perempuan itu terbangun dari tidur nya. "Bang, aku nggak sekolah dulu deh" ucapnya dengan suara serak.


"Lho emang nya lo kenapa?"


Gadis itu tidak mengubris tanggapan Reza, gadis itu hanya memunggungi Reza sambil menyilangkan tangan nya depan dada, bisa di bilang gadis itu menggigil dilihat dari bibir nya yang bergetar, muka pucat pasi. Reza menghampiri adik nya, lalu pemuda itu menaruh punggung tangan nya atas dahi Fiza, ternyata benar gadis itu demam. Dia segera berjalan turun menuju ruang tamu di mana Vino menunggu nya.


"Fiza kagak sekolah, dia demam!"


"Demam? Kok bisa?"


"Gue juga gak tau, yaudah yuk, keburu telat nih" sahut Reza.


Kedua pria itu segera melenggang pergi menaiki kendaraan setelah berpesan pada bi Sari untuk mengurus keperluan Fiza.


Di sekolah kini parkiran sudah rame, menunggu kedatangan tiga cogan yaitu Vino, Reza dan Gino, yang paling antusias melihat para kaum hawa sudah depan mobil Vino, pasti nya Gino.

__ADS_1


Ketiga cowok itu turun dengan tampilan memukau sembari berjalan seperti biasa, Vino dan Reza hanya cuek sedangkan Gino keluar dengan menampakkan senyum khas milik nya.


Tiba-tiba ada gadis cantik berkaca mata bulat tapi rambut nya masih tergerai indah, menghampiri Reza dengan malu-malu nya dia menunduk sembari membawa paperbag cokelat tertengger di tangannya. Kira-kira umur nya beda setahun dari ketiga pria itu, lebih tepat nya kelas sepuluh.


"Kak Reza ini buat kakak, mohon di terima ya kak" pinta gadis itu sembari menyondorkan paperbag entah isinya apa? Lalu gadis itu berlari sambil memegang tali tas nya.


"Buat gue. Eh..tunggu...!" sentak Reza nenerima pemberian gadis itu, Reza mengecek sebentar apa isinya, tapi setelah ia mendonggak gadis kecil itu lari menjauh.


Pfffttt..


"Cie, ternyata selama ini seorang Reza punya pengagum rahasia juga!" ledek Gino menertawai anak pemilik sekolah itu alias sahabat nya.


Dari kejauhan seorang gadis tomboy memperhatikan interaksi Reza dan diduga adik kelas dengan tatapan tak suka. Siapa lagi kalau bukan Mita. Gadis itu ingin sekali menghampiri ketiga cowok itu, mamaki Reza karena sudah ganit kepada adik kelas. Mentang-mentang mempunyai wajah kharismatik, bisa menampilkan pesona sana-sini. Akhir nya Mita kembali berjalan di arah berlawanan masih keadaan kesal.


"Kenapa lo?"


"Apa lo!" sertak Mita dengan nada tinggi mengagetkan kedua sahabat nya.


"Dihh suntuy-suntuy bro, cuma nanya gitu doang juga, udah sensi!" celetuk Dita ikutan kesal, bibir nya di cebikan ketus.

__ADS_1


"Mita sini" panggil Reza di ambang pintu kelas.


"Ta, dipanggil tuh!" cetus Nadia.


"Lo ajalah Dit, gue gak mood"


"Lhah lo yang dipanggil" kata Dita ketus mengumpat. "Yaudah deh, iya-iya!" ucap Dita mengalah. Gadis itu berdiri dari kursi nya menghampiri Reza dan kawan-kawan.


"Kenapa kak?"


"Bilangin ke ibu Siska, kalau Fiza nggak sekolah!"


"Kenapa tu anak?"


Lama-lama Reza puyeng juga menghadapi gadis satu ini, banyak pertanyaan. Dengan malas Reza membalas "Demam"


"Demam?" tanya lagi Dita memastikan. Reza tidak menyahuti lagi pertanyaan unfaedah Dita, dia hanya menatap memelas Dita, sehingga membuat gadis di depannya cekikikan tidak jelas. "Oke kak, gue akan bilangin ke ibu Siska, makasih" ucapnya melenggang masuk. Reza menggeleng melihat tingkah pacar sahabatnya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2