
"Nih kuenya" Vino langsung menaruh kue pesanan bundanya alias adiknya diatas meja makan.
"Kakak lama banget sih," celetuknya.
"Ehm" Elvin hanya mendapatkan deheman dari sang kakak hanya mendengus kesal, lantaran ujaran dia hanya ditanggapi deheman singkat.
"Vino, kenapa muka kamu lebam gini. Trus buku tangan kamu?," tanya Bunda Airin seraya mengintrogasi anaknya, menajamkan penglihatannya kepada Vino. "Kamu berantem yah?" imbuhnya.
Vino menelan salivanya susah payah, gugup tentu. Apalagi mendapatkan pertanyaan introgasi serta tatapan tajam dari bunda nya. Vino harus kuat mental menghadapi Bunda, wanita paling tidak suka jika mendengar kata perkelahian, bundanya juga orangnya disiplin, karena itu dia dan Elvin selalu diajar oleh sang ibunda dengan baik. "I-itu anu.." Vino menarik nafasnya melihat bunda Airin mengeryit paham bahwa anaknya habis berkelahi dan kemudian mengalihkan pandangannya. Pasalnya baru kali ini anaknya ikutan tawuran kayak tadi terakhir kali Vino berkelahi waktu pemuda itu masih menduduki bangku SMP sebelum mengenal teman-temannya.
"Biasalah Bun, anak muda" sahut pria paruh baya dengan meneteng tas kantor di belakang ada pak Yanto sang supir. Vino baru manghela nafas leganya ketika Ayahnya sudah pulang dan langsung menenangkan bunda yang kini menduduki sofa ruang tengah.
"Ayahhh...."
"Hati-hati kamu jatoh nanti" Elvin yang sedari tadi menduduki meja makan berlari menghampiri ayah baskara dengan antusias serta tatapan binar.
"Habisnya Elvin kangen ayah"
"Manja banget nih anak" gumam Vino.
"Biarin."
"Dihh. Yaudah yah, bun Vino kekamar dulu" Vino berlalu menaiki anak tangga, kekamarnya. Sesampai dikamar dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur king size nya, sebelumnya dia merenggangkan otot-ototnya, seharian ini Vino lumayan capek. Pertama, dia harus ekstra dalam permainan basket karena minggu depan itu ada pertandingan antar Sekolah antara sekolah international. Kedua, sialnya dia harus berkendara jauh kerena Elvin. Dan yang terakhir, dia harus melawan Andrex dan teman-temannya. Untung ada Fiza disampingnya, dan juga para sahabatnya tepat waktu buat bantuin pemuda itu, ya walaupun muka tampannya sedikit bonyok.
Berapa menit merilekskan tubuhnya di atas kasur, Vino bangkit menuju kamar kecil didalam kamarnya, dia tak langsung mandi melainkan meratapi wajahnya di kaca besar. Tak berapa lama setelah itu Vino pun memutuskan mandi, dia tak merasa nguli sedikit pun dari wajahnya yang sedikit terdapat luka lebam.
__ADS_1
"Bun, aku bantuin" pinta Fiza.
"Nggak usah Za. Kamu obatin ajatuh lukanya si Vino" tutur bunda Airin. Dibalas anggukan oleh Fiza. Gadis itu segera menyusul Vino dikamar nya.
Sesampai nya diatas tepat depan kamar berpintu cokelat di hadapannya Fiza mengetok terlebih dahulu pintu itu. Tapi tidak ada sahutan dari sang empunya, karena saking penasarannya Fiza sedikit mengintip dicela pintu yang Fiza buka perlahan. Siapa tahu kalau dia menyambar masuk, takutnya Vino sedang mandi atau tidur.
"Fiza"
Suara datar tersebut membuat Fiza menoleh kebelakang. "Kaget tauk" Katanya memegang dadanya yang terasa berdebar, dia langsung terpaku ketika mata memandang pria yang baru saja keluar dari walk in closet. Kadar ketampanan Vino tidak berkurang. Wajahnya penuh luka lebam, namun itu tak mengurangi ketampanan cowok di hadapannya. Dengan senyum maut disungging pria itu saja sudah membuat Fiza salting, apalagi rambut setengah basah ditambah poni panjang didepan dahinya terpampang, aduh sudah membuat Fiza melayang tinggi. Pasti kalau cewek selain dia melihat pemandangan cakep di depan mata, ciwi-ciwi itu kembali berteriak histeris seperti biasa, memang ya kalau ketampanan itu tiada lawan yang membuat para kaum hawa tidak bisa berpaling, tidak ada yang bisa menolak ketampanan pria di hadapannya.
"Bunny hey" Entah sudah berapa kali Vino melambaikan tangan sambil memanggil nama gadis itu, Fiza hanya diam memandanginya tanpa berkedip. "Masih belum puas ngelihatin wajah tampan aku" bisiknya. ucapan Vino membuat Fiza tersadar dan langsung tersenyum salah tingkah sembari menunduk, detik kemudian dia mencubit kecil pinggang Vino.
"Aw aw"
"Bisa nggak sih, turunin sedikit aja tingkat kepedean kamu itu"
Fiza manarik tangan Vino untuk menduduki sofa, sambil mencari p3k. Vino menatap gadisnya sedang mencari sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Kamu cari apa?"
"P3k kamu mana?"
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Sekarang aku mau siap-siap buat nganter kamu pulang" Pemuda itu ingin beranjak dari duduknya mengambil kunci mobil diatas nakas samping ranjang tempat tidur, namun pergerakannya itu di hentikan oleh Fiza.
"Kamu duduk sini dulu aku obatin, habistuh aku bisa mau pulang deh"
__ADS_1
"Za.." panggil Vino
"Bisa diem gak!" galak Fiza menatap tajam pemuda itu. Ingin rasanya dia menekan luka lebam di hadapannya, saking geramnya. "Aku tuh, cuma mau mastiin dulu muka kamu di obatin apa gak!" tegasnya.
"Makasih" Vino jadi lebih leluasa menatap wajah dekat itu, Begitupun Fiza.
"Sama-sama"
Dengan cekatan Fiza memakaikan hansaplast pada bagian pelipis Vino "Udah" tutur Fiza seraya menyunggingkan senyum tipis sembari tangannya bergerak menutup kotak berwarna putih.
Vino meraih kunci mobilnya, segera mengantar Fiza, sebelum jam yang ditentukan Reza sore hari tadi.
Sesampai di rumah besar kediaman Wilson, Fiza meraih handle pintu mobil tapi tangannya di cekal. Menyuruh gadisnya menunggu diatas mobil biar dia membukakan Fiza pintu. Vino ingin ikut masuk kedalam mansion itu, Vino sudah janji oleh papa Marcel bahwa sering-sering mampir menemani pria itu bermain catur, katanya.
"Assalamualaikum om, tante" Vino mencium punggung tangan om Marcel dan tante Kania.
"Waalaikumsalam"
"Wah pas banget nih, Vin temeni papa main catur yuk" ajak papa Marcel.
"Papa?"
"Iyalah, kan kamu calon mantu saya"
"Pipipi calon mantu!!" seru Reza setelah menuruni tangga langsung berbisik tepat samping telinga Vino yang membuat pemuda itu mengeluskan dada nya karena terkejut.
__ADS_1
...-----------...