
Gino memberhentikan motornya dipinggir jalan beraspal, melihat Stella yang kebingunan sambil melihat-lihat mesin mobil. Gino tersenyum smirk merasakan sadang mendapatkan durian runtuh, ternyata tidak sia-sia dia berangkat jam agak kesiangan dan melewati jalan yang dominan sepi.
"Kenapa?," tanya Gino sudah berdiri dibelakang Stella, sembari membenarkan tatanan rambut nya.
Stella segera membalikkan badan nya menatap arah sumber suara yang sepertinya cukup dekat, karena tercium aroma maskulin di belakangnya.
Plak
"Arght… Kok lo nampar gue sih!"
Stella menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terkejut tenyata di tampar bukan lah penjahat yang berniat menyentuh dirinya melainkan pemuda menyebalkan sejagat raya itu. "Gino" gumamannya sama seraya membulatkan matanya.
"Udah ah gue pergi aja!"
"Eh eh, mau kemana?. Bantuin gue pliss,"
Gino hanya diam menatap malas pada gadis di hadapannya sembari tangannya terlipat depan dada. "Emh……" Gino menaruh jari telunjuknya di depan dagu berpikir, senyum merekah di wajah nya sumringah. "Okey gua bakal bantu, tapi tapi tapi ada syaratnya"
"Syarat lagi" dengus Stella memutarkan bola matanya jengah.
"Iyalah"
"Timbal bantuin mobil doang, pake ajuin syarat segala" gumam nya monolog.
"Lo lupa. Pertama, awal kita ketemu di toko…" Gino menjeda sejenak perkataan nya sembari menatap gadis itu dalam. "Gue bantuin lo buat bayar sepatu yang lo beli ditoko papi gue. Kedua-,"
"Iya iya gue inget."
"Bagus lah!"
__ADS_1
"Bantuin gue dulu, gue nggak mau telat ya!"
"Udah telat!"
"Gino!" pekik Stella mendengus sebal.
"OK!" Pemuda itu segera mendekat kemobil Stella yang sudah terbuka, mengecek mesin kendaraan di hadapannya.
"Gimana, bisa nggak?,"
"Ini mah kecil,"
"Lama banget sih"
"Bentar Stella. Nah udah"
"Udah lewat lima menit, biasanya jam segini pager udah tutup"
"Nggak"
"Yaudah gue anter aja, didepan kan macet. Daripada lo naik mobil lo"
"Ogah"
"Ya sudah kalo lo gak mau, putar balik aja" ucap Gino segera membalikan tubuhnya dan pergi menghampiri motor nya.
"Okay fine gue ikut elo" katanya dengan memelas. Gino yang berbalik, mengangkat sudut bibir nya membentuk senyum tipis sekaligus senang karena ia sudah hampir mengendalikan gadis itu.
******
__ADS_1
"Lo sih kita dapat hukuman kan!" omelnya.
"Kok elu nyalahin gua, tadi gue udah suruh lu putar balik. Karena udah terlanjur terlambat Stella, tapi lo tetap keukeuh!" jelas Gino sembari mengikuti guru BK untuk memberikan hukuman kepada mereka.
"Sekarang kalian kelilingi lapangan ini sebanyak sepuluh kali!"
"Baik pak!"
Gino dan Stella segera menyeret kakinya untuk berlari memutari lapangan yang panjang kali lebar. Matahari terik mudah membuat Stella mudah lelah di tambah lagi tadi pagi dia tidak sarapan, karena pertengkaran hebat di antara Stella dan daddy nya.
"Kalau capek bilang!" ujar Gino sembari berlari di belakang Stella.
"Brisik lu!" ketus Stella sesekali gadis itu mengelap dengan tangannya keringat yang bercucuran di dahinya.
Setelah menyelesaikan hukuman dari pak Sapto selaku guru BK, Stella yang ingin kembali kelas IPA malah pergelangan tangannya ditarik oleh Gino ke arah berlawanan, yaitu kantin. "Eh lo ngapain sih, kok malah narik gue kesini!"
"Lo laper kan?".
"Gak,"
"Udah lah lo diem disini"
"Lo mau kemana?"
"Tunggu gue!" Gino berlalu berjalan ke arah warung Mbok ijah, membeli dua botol air mineral dan kembali lagi dimana Stella menunggu.
"Nih" pria itu menyondorkan sebotol air minum di tangannya. Dan Stella menerima mineral itu tanpa mengatakan apapun. "Oh iya untuk syarat, gue mau lo jadi BABU gue!" tegasnya.
Byur
__ADS_1
Saking kagetnya, Stella sampai keselek minuman akan ucapan cowok itu. Membolakan mata mendelik tajam ke arah Gino yang kini terkekeh melihat tingkah Stella.