
Akhir nya Vino dan David, tiba di teras rumah berlantai luas bermotif petak. Pintu utama tidak dikunci, seperti nya sepi, pikir mereka. Tanpa menunggu lama mereka langsung masuk tak lupa, keduanya mengucap salam.
Tok...Tok...Tok
"Masuk," Seru Fiza yang sedari meringis dan sekarang masih kesakitan namun di tahan. Dia tidak mau dua lelaki itu menjadi panik tercetak dimuka datar itu.
"Mana nasi goreng sama obat nya?," Gadis itu menengadah telapak tangan nya.
"Nasi goreng?. Obat?…" Dia mengangkat dagu nya menghadap sahabat nya.
David mengangkat bahu nya acuh.
"Lupa.." lanjut nya menyengir kuda sambil meraih teguk nya tidak gatal. Memang saking panik nya, dia dan David melupakan makanan dan benda utama itu.
"Argh, Vinooo…" suara bervolume naik oktaf mengelegar mengisi keheningan di kamar itu membuat yang mendengar lebih dekat itu menutup telinga, Sungguh terasa mencekik indera pendengaran.
David di samping Vino menutup kuping nya, merasa sebal dengan suara gadis yang kini kesakitan itu yang beda banget dengan wajah cantik dan damai kelihatan kalem itu, mengetahui juga gadis itu sangat menjaga kelakuan nya. Pria yang hampir mirip sahabat nya, sudah mengetahui bahwa kedua insan itu sudah jadian alias berpacaran, karena ia yang selalu dekat dengan Vino beda yang lain hanya sibuk, cuma sesekali nongkrong bersama mereka.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, ga usah teriak-teriak Fiza," ujar nya sambil mengusap telingan nya.
"Hehehe sorry kak gue lagi kesakitan nih." Fiza mengangkat dua jari nya.
Peletak!
Sekarang Vino yang menjitak kepala David sampai sang empu memekik sakit.
"Lo tau gadis gue kesakitan, pantes teriak lah," nada tegas tapi dingin menatap tajam ke arah sahabat seangkatan nya itu.
"Iya iya Vin," ucap David santai. "Gue tunggu di depan," Dengan senyum tipis melekat di bibir tipis nya, dia membalikkan badan nya. Bukan nya marah sama Vino, tapi ini ia tidak mau menjadi nyamuk di tengah-tengah duo tampan dan cantik itu.
"Emang nya aku cowok apaan" ucap Vino menyeringai menanggapi perkataan Fiza yang sedikit ambigu.
"Ya.. kali aja" sahut Fiza. Membuat otak nya mengarah traveling-traveling gitulah. Cepat-cepat, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
'Dasar aneh' dalam hati pemuda tampan itu menggeleng.
__ADS_1
Fiza sudah kembali menghadap Vino dengan tatapan manja nya, dirasa gadis itu berubah yang tadi nya menakutkan menjadi berbinar, pasti ada maunya nih, pikir nya.
"Aku beliin kamu obat ya" ucapnya melangkah satu langkah.
"Tunggu"
Vino segera cepat cepat menoleh kepada gadis itu, takut- takut gadis nya berubah galak lagi. Karena setahu nya perempuan itu mudah marah, mood nya sewaktu waktu berubah, tapi ada kalau nya, namun pemuda itu tak tahu.
"Vino," Rengek nya bergelayut manja di lengan pemuda yang kini bersekedap dada.
"Minta aja, aku pasti turutin, jan sungkan,"
"Beneran,"
Vino merasakan arwa menakutkan pada gadis cantik, ada yang beda dari rengekan gadis itu, semoga aja permintaan nya ga aneh-aneh, batin nya sembari menatap wajah binar gadis itu.
"Sekalian Beliin aku pembalut" ucap nya cepat. Sebenar nya ia malu mengatakan keinginannya kepada cowok yang kini diam membatu itu.
__ADS_1
"Hah" ucap nya, sedikit teriak. Itu Fiza kelewat polos atau bagaimana, bisa-bisa nya seorang lelaki tampan seperti nya membeli benda itu, apa kata orang, kalau di katakan perhatian kepada wanita nya itu bagus. Tapi ada terbesit rasa malu juga apa lagi kalau sahabat nya David tau bisa-bisa dia ngakak mendengar nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...