
Gino membawa Stella bertamu di rumah nya, menemui adik kecil Gino namanya Celsy. Dan kebetulan di ruang tamu ada seorang pria berkaca mata, matanya mengarah monitor depan nya. Papi Fernando merasa ada yang datang, mengalihkan pandangan nya kedepan, mengeliat tangan keduanya saling bertautan. Tanpa berpikir panjang papi Fernando langsung berdiri dan menarik Gino menuju gazebo.
"Kamu kenapa bawa Stella kesini?"
"Kenapa? Lhoh bukan nya papi senang Stella mampir kesini?" Dua pertanyaan sekaligus yang dia ajukan kepada papi nya heran.
"Iya. Tapi yang masalah, kenapa kamu gandeng dia?" tanya balik papi Fernando marah. "Kamu mau pepet saudari kamu?" Imbuhnya bertanya.
"Bu-bukan gitu, pi" Bantah Gino. Entahlah sebenarnya ini perasaan aneh apa yang di rasa ketika ia berada samping Stella.
"Saudari!" Sentak Stella, muncul di belakang kedua pria beda generasi itu.
Segera ayah dan anak itu, menoleh setelah mendengar gumaman suara yang amat mereka kenal.
"Stella." Sebut Gino kaget.
"Saudari! Berarti. Hebat, ayah sama anak emang hebat" gumaman nya sekali, lirih sembari tersenyum kecut. Gadis itu segera berlari meninggalkan rumah besar itu, berlari sekuat tenaga dengan deraian air mata. Dia tidak menyangka bahwa orang terdekat nya adalah saudara nya sendiri, itu berarti om Fernando ayah kandung nya. Jadi selama ini dia di bohongi oleh Gino, dia bertanya-tanya mengapa om Fernando menutupi ini? Apa om Fernando begitu membencinya, sehingga dia tidak di anggap anak oleh pria itu. sudah berapa lama dia bertanya-tanya siapa ayah kandung nya.
"Stella tunggu!" teriak Gino, seraya mengejar gadis itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak nya ketika ada mobil yang berlaju kencang di depannya, menabrak Stella.
"STELLA!"
-
Brak...
"Papi kenapa?"
"Ga tahu, perasaan papi kok makin khawatirin Stella"
__ADS_1
-
"Stella bertahan! Suster, Dokter tolong!" pekiknya khawatir.
Dokter datang tergopoh- gopoh serta Suster mengekorinya dengan membawa brangkar.
Gino segera menurunkan Stella dari gendongan nya dan membantu mendorong brangkar, sambil terus menggengam tangan Stella.
'Maafin aku Stella,'
Sesampai depan UGD. Diluar ruangan, Gino terus menggigit jari jemarinya, meremas kuat tanggannya, dia merasa bersalah, dan terus berjalan bolak balik khawatir . Dari awal juga dia tidak mau begini, namun ini adalah jalan terbaik untuk menjaga Stella. dan ini takdirnya, apa boleh buat.
Tiba-tiba ponsel nya berdering, pria itu merogoh suku, ada telepon masuk. Papi, Gino segera memencet icon hijau.
"Halo pi"
'Kalian dimana?' Suara dari seberang telepon yang nampak terlihat cemas.
'Rumah sakit?'
"Stella kecelakaan, sekarang dia ada di UGD"
'Apa! Stella kecelakaan! bagaimana bisa. Kamu dimana sekarang?'
"Rumah sakit Medika pi" Setelah menjawab berbagai pertanyaan papi nya, sambungan terputus secara sepihak.
"Dengan keluarga pasien?" panggi Dokter membuat Gino segera menghampiri nya.
"Saya dok, bagaimana kondisinya?"
"Pasien baik-baik saja, hanya terbentur di bagian kepala" jawab Dokter, membuat Gino menghela nafas lega.
__ADS_1
"Terimakasih dok" Setelah Dokter dan perawat pergi, Gino segera masuk ruangan Stella. Terlihat Stella terbaring tak berdaya, dengan perban di kepalanya, membuat dirinya semakin bersalah.
"Gue minta maaf, gue minta maaf, gue minta maaf!"
Cklek..
"Bagaimana keadaan Stella?" tanya pria paruh baya.
Mami Cysara segera mendekat pada putranya, yang masih menatap iba gadis tersebut, memberikan pelukan hangat pada Gino. Kasihan, itulah kata hati mami Cysara kepada gadis teman terdekat putra nya.
Setelah melepas pelukan, tante Cysara, menarik tangan om Fernando keluar ruangan.
"Ada apa?, katakanlah?" tanya papi Fernando, karena sepertinya mami Cysara ragu.
"Emm…sebenarnya Gino bukan anak kita" ucapnya pelan dan ragu. Betapa terkejut nya papi Fernando ucapan istri nya. Sementara, di belakang seorang pria mendengar pengakuan wanita itu.
"Bukan anak kita!"
"Sayang!"
"Gino!"
"Jadi Gino bukan anak kandung kalian."
"Bukan gitu sayang, dengarkan mami dulu" mami Cysara segera menghampiri Gino sebelum pria itu marah, melarikan diri.
"Sayang Gino maafin mami" sahutnya menangkup pipi Gino, tak lama kemudian isak tangis mulai terdengar, sedangkan Gino menglihkan pandangan nya.
"Kenapa mi, kenapa mami nyembunyiin ini"
"Terpaksa!"
__ADS_1
"Terpaksa?" tanya nya tersenyum getir menatap sang mami yang mulai menunduk meratapi penyesalan nya.