Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Salah paham


__ADS_3

Penjaga perpustakaan sedang tertidur pulas, kepalanya di atas meja tangan jadi bantalan. beliau sayup-sayup mendengar suara sedikit kencang, ingin sekali membuka mata. Tapi matanya terus tertutup menikmati mimpi indahnya.


"Jangan brisik"


Fiza langsung menegang "haishh…lo sih," ucapnya dengan nada kecil.


Perpustakaan ini sangatlah sepi, karena sebagian besar teman seangkatannya sedang berlibur. Sebagian lagi ingin perbaikan nilai yang menurun. So, hanya guru berpentingan yang datang.


"Kenapa aku?." tanya Vino dingin tanpa ekspresi menunjuk diri.


"Gue males ladenin olaf kek lo, udah sana balik ke habitat lu" ucap Fiza ketus.


"Aku mau baca buku"


Fiza melanjutkan membaca buku pelajaran yang dia pinjam tanpa memperdulikan Vino yang sesekali menatapnya. Sebenarnya ia risih tapi mau apa buku yang berada dipangkuannya masih dibaca.


Kotak makannya masih di tangan Vino, ia ingin sekali segera merampasnya akan tetapi inikan di perpus mana bisa di perpustakaan makan ataupun minum lebih baik tahan sebentar lagi.


Tak lama...


Kruk...Kruk


Fiza menundukkan kepalanya sambil menyembunyikan perut yang merasa keroncongan, jujur dia malu semoga pemuda itu tidak mendengar suara dari sumber yang didekapnya itu.


Sementara Vino hanya menggeleng sambil menahan senyum. Dia sangat lucu pada gadis mungil yang ada di sampingnya itu. Salah dia juga sih kenapa tidak kasih kotak milik gadis itu,

__ADS_1


Pemuda itu mengerutuki kesalahannya.


"Bunyi apaan tuh" Vino hanya pura-pura tak tau sebelum Fiza yang mengaku.


Fiza terlihat nampak acuh dan cuek dengan olaf yang satu ini toh buat apa ditanggapi orang nadanya tidak jelas.


"Suaranya kayak arah sini"


"Lo ngejek gue"


Vino mengerutkan dahinya. "Lapar"


"Hem…"


"Maaf" ucap Vino dingin tapi merasa bersalah serta senyum tipis tercetak di wajah tampannya.


Reza sedang di ambang pintu perpustakaan mengintip dengan bersama David. Memandang adik dan sahabatnya, dengan sangat santai keduanya berdehem mengisi hawa dingin yang mencekam keduanya.


"Ekhem"


"Abang, Kak david" Fiza langsung berdiri tegak dengan perasaan gugup. Kepergok dengan Reza membuat gadis itu takut jika abangnya berfikir yang tidak-tidak.


"Kalian ngapain di sini?, tempat sepi lagi" Tanya David "Dan lo ngapain ngajak gue kesini," Imbuhnya menunjuk Reza.


"Hey," Reza terkekeh.

__ADS_1


Vino menatap tajam ke arah Reza. Sebenarnya apa tujuannya dia kesini, kalau tahu bakal jadi begini dia lebih baik tadi menunggu sahabatnya. Pemuda itu merasa jengah, sebal dan jengkel kepada Reza.


"Gue kekantin dulu" pamit Fiza. Sebelum berlalu pergi gadis itu menatap jengkel Vino lalu Meninggalkan kawasan itu.


Vino langsung saja berlari mengejar Fiza, ia tahu gadis itu merasa di permainkan, batinnya.


"Woey mau ke mana lu," panggil Reza dan David bersamaan dengan bangunnya ibu penjaga perpustakaan.


"David, Reza kalian tau ini dimana?." Tanya Wanita paruh setengah baya itu sembari menguap khas bangun tidur.


"Di perpus bu," Jawab Reza.


"Udah tau, pake ribut segala,"


"Maaf bu"


"Udah kalian di sini jaga, ibu mau basuh muka dulu"


"Kok kita" pekik David dan Reza serentak.


"Itu hukuman" ucap Wanita itu dengan nada ketus, Anggap saja perintah mutlak. Biarpun Reza terkenal disekolah ini akan tetapi dia juga harus menjaganya.


Sepanjang koridor banyak siswa-siswi menatap heran ke kedua insan itu, bahkan sebagian kaum hawa menatap nanar ke arah Fiza seolah gadis itu sedang mencari kesempatan untuk mendekati idolanya. Gadis itu mengangkat buku yang sempat dipinjam untuk menyembunyikan wajah merah padamnya karena malu bercampur marah. Dia tahu Pemuda itu mengikutinya maka dari itu semua siswi kesal melihatnya di kejar oleh manusia tampan tapi hatinya dingin bak es batu bisa disebut beruang kutub. Dan lebih parahnya lagi, Aku?? apa-apaan ini kenapa Vino pakai bahasa aku-kamu What? mereka jadian.


"Fiza hey, dengerin dulu penjelasan aku," ujar Vino sembari memegang tangan halus milik Fiza. Gadis itu menurut tanpa menatap ke pemuda itu.

__ADS_1


Entah kenapa Vino ingin bersikap manis terhadap gadis bersurai coklat itu, rasanya tak sanggup untuknya sampai gadis itu tidak mendapatkan penjelasan darinya.


__ADS_2