
"Yok" ajak Reza. Pria itu sudah menaiki motornya.
"Lo duluan aja, gue mau beliin pesenan bunda!"
"Yaudah bro gue duluan, bye" Reza segera meninggalkan area parkiran. Meninggalkan Vino yang masih berkutat dengan handphonenya, dengan duduk menyamping di atas si merah motor sport miliknya.
Vino melajukan si merah menuju jalan cempaka, dimana bunda Airin menyuruhnya membelikan Elvin makanan kesukaannya yaitu putu. Kata bundanya bocil itu tidak mau makan, sebelum kue kesukaannya tersebut sudah di depan mata. Mana jalannya jauh dari sekolah. Aduh…merepotkan saja!
******
"Za, kita pulang aja yuk. Nanti Reza nyariin" bisik Mita tepat di samping telinga Fiza. Sebenarnya itu bukan alasan utamanya karena sedari tadi sepupu Aril yang berada di dalam kamar pemuda itu, menatap Fiza dan Mita intens dan gadis itu masih mengigat nama sepupu Aril. Tapi sepertinya sepupu nya pemuda itu tidak mengenalinya.
"Ril, cepet sembuh. Gue harus pulang nih, udah sore"
__ADS_1
"Makasih ya udah mau jengukin gue." ujar Aril senang. Sebelumnya Aril sudah mengetahui kalau Fiza dan anak IPS 1 yaitu Vino saat ini sedang menjaling hubungan, namun itu tidak akan membuatnya urung mendapatkan Fiza walaupun gadis itu tidak mengigatnya sama sekali. Koreksi baginya, gadis itu belum mengigatnya sebagai teman masa kecil Fiza.
Vino memberhentikan motornya mendadak, netra laki-laki itu menangkap sebuah mobil tidak asing baginya. Berwarna kuning, honda brio. Iya, itu mobil Mita. Tapi kenapa gadis itu di sana, diketahui rumah Mita bukan mansion itu, terus rumah siapa. saudara? tidak mungkin, dia tahu Mita tidak punya saudara di jakarta, Fiza pernah cerita semua sepupu Mita berada di luar negeri.
Vino ingin melajukan motornya, tapi dia urungkan. Sejak kapan dia kepo, pemuda itu hanya selalu cuek terhadap sekitarnya, Ya biasalah cowok bernotabene acuh. Namun ini bukan seorang Vino yang acuh, entah ada tarikan apa yang membawanya mendekat ke rumah besar itu.
Melihat Fiza dan Mita yang baru saja keluar dari rumah itu, amarah Vino langsung memuncak, namun dia tahan. Ternyata kedua gadis itu membohonginya dan Reza, astaga!. Vino menghampiri kedua gadis itu.
"Kalian ngapain disini?" tanya Vino dingin sekaligus datar sembari bersekedap dada.
"A-anu...." Fiza menggaruk teguknya tak gatal, dia bingung menjawab apa pertanyaan cowok kulkas itu. Atmosfer di sekitarnya terasa sekali dingin antara dia dan Vino.
Mita sama sekali tak berkutik, dia hanya memandang Vino yang kini menatap tajam pada sahabatnya serta sikap dinginnya, aduh bikin Mita merinding jadinya.
__ADS_1
Vino menarik tangan Fiza paksa, menuju motornya yang berseberangan depan warung pedagang kaki lima di pinggir jalan. "Kamu bohong ya?," tanya Vino menatap intens gadis di hadapannya.
"Vin saa-kit, lepasin dulu ishhh…" umpat Fiza menarik paksa tangannya yang dicengkram oleh Vino. Pemuda itu reflek melepaskan sembari menatap Fiza memelas "Kasar banget sihh!" dengus Fiza sinis seraya memegang pergelangan tangannya yang kian sedikit memerah akibat cengkeraman dari cowok yang super duper datar di hadapannya.
"Maaf," Hanya itu yang mampu Vino katakan ketika pandangannya bertemu dengan netra indah Fiza.
Tanpa berkata apapun Fiza langsung melenggang pergi meninggalkan Vino seorang diri, namun tangannya berhasil di cekal oleh Vino dan memeluk Fiza dari belakang, dia tidak perduli dimana mereka sekarang, yang penting dia berhasil menahan Fiza ketika gadis itu ingin menyebrang jalan perumahan.
"Maaf, maaf, maaf" ucap Vino nada sesal. Berulang kali ketika Fiza membalikan badan dan mendongak keatas, kini pandangan mereka kembali bertemu.
"Aku nggak suka ya, kamu kasar gini" Kata gadis itu menitikkan setetes air mata.
"Aku minta maaf" ujar Vino menangkup pipi Fiza yang kian membasah.
__ADS_1
Detik kemudian Fiza membenamkan kepalanya di dada bidang Vino, menumpahkan kekesalannya disitu. Gadis itu dengan sesekali memukul dada Vino, Vino yang mengetahui gadisnya hari ini sedang sensitif. Membiarkan Fiza melampiaskannya, membiarkan Fiza memukulnya sekeras apapun.