
Ckitt...
Sebuah mobil BMW milik Vino memasuki pekarangan rumah lantai dua itu, diapun turun dengan pakaian formal.
Ting tong…
Tak lama kemudian seorang pemuda tinggi yang membuka pintu besar itu.
"Vino" kaget Reza, karena pagi-pagi Vino sudah berada di ambang pintu rumah nya dan bersetelang jas. Mau kemana dia, pikir nya.
Mereka berdua menduduki sofa ruang tamu, Reza agak bingung bertanya-tanya, mau kemana sahabat nya dengan jas yang melekat di tubuh nya serta sepatu pantofel. Bukan nya hari ini hanya ulang tahun Mita saja yang ingin mereka kunjungi.
"Lo mau kemana?" tanya Reza, pemuda itu meletakkan tangan nya di depan dada sambil menaikan dagu nya meminta jawaban cowok itu.
Cowok itu hanya menatap sekilas Reza. Lalu dia hanya diam memainkan handphone nya, mengabaikan pertanyaan tidak penting sahabat lucknat nya itu.
"Cik" Reza yang merasa terabaikan hanya bisa berdecak kesal, selalu saja begitu.
"Bangg.." teriak Fiza sembari tangan nya bergerak mengelap tas selempang nya dengan tisu basah.
Barulah, pemuda yang bernama Vino mendongakkan, kepala nya, berdiri. Arah pandang nya langsung mengarah kepada gadis mungil nya
Dia diam mematung sembari memandang Fiza dari atas sampai bawah. Jujur ia begitu pangling dengan gadis berpakaian dress biru langit di hadapan nya, polesan make up tipis menambah kecantikan nya.
__ADS_1
"Kak Vino,"
"Cantik" Pemuda itu langsung berdecak kagum sedari tadi mata nya tak berkedip, ucapan Vino membuat pipi Fiza memanas.
Vino langsung mengukirkan senyum tampan nya, dan itu membuat Reza bergidik geri ingin muntah. Mengapa di depan adik nya si beruang kutub ini berubah, apa dia benar-benar sebucin itu kepada Fiza.
Setelah sadar, kini Fiza balik memandang atas sampai bawah penampilan cowok tampan yang menyandang kekasih nya itu, Fiza langsung menyerbu sofa menduduki bokong nya diikuti Vino.
"Ekhem, nyamuk-nyamuk. gue duluan ya Za" sahut Reza melenggang pergi.
"Kakak mau kemana?," tanyanya sedikit ngegas, tak ingin membuat Reza mengetahui hubungan mereka, gadis itu merilekskan reaksi nya.
"Mau keluar negeri" Seru Vino sambil menengadah kedua tangan halus perempuan itu mengusap-usap tangannya.
"Kakak mau ninggalin aku," Mata Fiza Fiza sudah berkaca-kaca, menggigit kecil mulut nya dan menahan isak tangis.
"Emangnya, disana ada urusan apa?" tanya Fiza yang sudah menetralkan perasaan nya.
"Kerja" jawab Vino santai. Dia sudah berdiri berentangkan tangan nya segera mengajak Fiza ke rumah Mita.
"Aku anter," ajak Vino dan di balas Fiza.
Vino membuka pintu mobil untuk Fiza. Sampai ke dalam Vino juga ingin memasangkan gadis itu seatbelt, tapi Fiza menahan lengan pemuda itu.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Fiza selidik.
"Pasang sabuk pengaman"
"Aku bisa sendiri"
"Biarin, kan ini terakhir kali nya aku bersikap manis ke kamu sebelum aku pergi dan kembali lagi ke pelukanmu" ungkap Vino, tersenyum simpul sambil memasang seatbelt dan di balas senyum masam Fiza. Jujur dia masih belum siap kehilangan Vino apalagi kenyataan nya baru kemarin Vino tidak janji sepenuh nya.
-
Di dalam rumah besar itu, tamu berdatangan, berlalu lalang menikmati pesta, anak SMA termasuk teman-teman, dan sahabat Mita yang di undang. Tak terlalu banyak tamu hanya teman seangkatan. Karena gadis yang kini menginjakkan 17 tahun itu tidak terlalu bergaul.
"Mita"
"Fiza" seru Mita dan langsung menyambar memeluk sahabat nya, Mereka berduapun berkumpul dengan Dita dan Nadia.
"Lama, banget sih"
"Maaf" sahut Fiza linglung. "Oh iya nih, hadiah lo" Dia merentangkan tangannya memberikan kado berukuran sedang.
"Makasih Za" ucap Mita.
"Gue keluar dulu"
__ADS_1
"Kemana lu?" tanya Dita sembari memakan cake di tangan nya.
"Ke depan, bentar" Fiza langsung melenggang pergi menghampiri Vino yang kini berada di tengah-tengah sahabat nya, siapa lagi kalau bukan The most wanted.