Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Wahana Bermain


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaa............!"


Suara teriak menggema memenuhi langit-langit.


Fiza sangat sangat menikmati suasana siang hari disini, karena ini pertama kalinya ia menaiki roller coaster. Sedangkan Vino yang disamping nya tersungging senyum simpul sembari menutup kuping nya kuat, melihat senyum bahagia Fiza membuat hati nya tenang.


Sementara itu juga Grace yang di belakang dua sejoli itu mendengus kesal. Khayalan nya tidak sesuai harapan, nyata Vino duduk dekat gadis itu, padahal dia ingin berpura-pura takut ketinggian sampai pada akhir nya Vino mendekapnya.


Sudah tiga kali putaran, tapi Fiza belum juga puas. Padahal pengunjung yang lain sudah muntah setelah naik wahana roller coaster, tapi itu tidak berlaku bagi seorang gadis di samping Vino. Sekarang Vino dengan terpaksa menolak permintaan gadisnya. Dengan sedikit bujukan, dan itu berhasil membuat Vino lega. Ia hanya tidak mau Fiza sakit karena terlalu lama terpapar angin dan sinar matahari, sebisa mungkin dia akan melindungi Fiza dari apapun itu.


"Ngapain lo?" tanya Vino datar kepada Grace yang mengikuti berdua sedari tadi.


"Mau, mau bar-"


"Grace, ternyata lo disini. Dipanggil bang Edo noh, buat pemotretan" tutur seseorang pria kerdil gemuk dengan rambut gimbal menghampiri Grace.

__ADS_1


Dengan memutar bola mata nya jengah, Grace terpaksa meninggalkan dua pasutri itu dengan perasaan jengkel.


setelah turun dari rollercoaster bukannya Fiza memperistirahatkan jantung nya, gadis itu malah menunjuk ke arah wahana niagara-gara.


"Nggak boleh!" tegas Vino membuat Fiza kembali mencebikkan bibir bawah nya kesal.


Gadis itu mengalihkan pandangan nya kesamping kanan, netra nya tidak sengaja menangkap permainan zig zag. "Aku mau itu, boleh ya" pinta Fiza kali ini mata bulatnya mununjukkan puppy eyes yang bisa meluluhkan siapapun.


Vino memandang apa yang di tunjukkan gadisnya seketika dia menajamkan penglihatan nya melihat tulisan yang tertera di atas pintu masuk permainan, tak lama kemudian Vino manggut-manggut.


Gadis mungil itu hanya mengacungkan jempol sembari berlari. Sementara Vino hanya bisa menggeleng atas tingkah gadis berambut panjang, lalu menyusul.


Fiza memasuki area permainan zig zag, dengan penuh ceria. Dalam permainan itu, gadis tersebut dapat melihat mobil listrik yang di mainkan oleh anak-anak.


Setelah bertempur mobil-mobilan, Fiza dan Vino kini menyantap ice cream, bukan, lebih tepatnya hanya Fiza menikmati, sedangkan Vino duduk samping gadis itu. Rasanya sangat lelah mengikuti Fiza kesana kemari, sampai pemuda itu menyeka keringat nya.

__ADS_1


Tapi setelah melirik gadisnya yang memakan es secara belepotan Vino tersenyum tipis sembari tangannya berinisiatif mengusap sudut bibir nya.


"Pelan-pelan napa makan nya, sampe belepotan itu" sahut Vino.


"Aku senang deh, kamu perhatian gini sama aku," ujar nya lirih membuat Vino memberhentikan tangan nya.


"Kapan aku nggak perhatian?"


"Nggak, aku cuma beruntung di kelilingi banyak orang papa, mama, bang Reza, kak Rena, teman-teman, dan kamu" kata Fiza menatap intens Vino yang mengernyitkan dahi nya heran, tiba-tiba Fiza mengatakan itu. Tapi Vino tidak bertanya lagi. "Kita pulang aja ya, aku udah capek" sambung nya.


"Bianglala."


"Nggak usah," ucapnya singkat.


Vino menurut, Lagipula tadi om marcel sudah berpesan bahwa anak nya jangan pulang malam-malam.

__ADS_1


****


__ADS_2