Handsome Ice Boy

Handsome Ice Boy
Flashback 2


__ADS_3

"Hari itu, papi kamu keluar negeri dan kebetulan mami hamil besar 7 bulan. Hari berikutnya mami merasa ketuban mami pecah, dan mengalami pendarahan. Opa, oma kamu segera membawa mami kerumah sakit, dan hari itu juga mami melahirkan caesar dan prematur, namun itu, terlambat mami sudah keguguran. Oma kamu melihat anak lucu yang sangat menggemaskan, yaitu kamu sayang. Oma dan opa tertarik ingin menganggat kamu menjadi cucunya, asal harus ada kompensasi nya yang di berikan kepada ibu kamu, terpaksa karena ibu kamu juga terlilit hutang ayah kamu yang sudah meninggal." jelas Cysara seraya mengigat kejadian 17 tahun yang lalu, dan itu membuat Gino berkaca-kaca mendengar cerita itu. Saat ini dia berhamburan memeluk mami nya dalam isak tangis tidak tertahan.


"Nak pergilah, temui ibu kamu, ibu kamu ada di dekat kita yaitu mbak Sum!"


"Mbok Sumi?"


"Iya nak, pergilah"


Langsung saja Gino berlari menyusuri koridor rumah sakit, cepat-cepat dia menyetirkan mobil nya dan melajukan mobil nya, ingin segera mencari ART di rumah nya, yang di akui oleh mami nya bahwa wanita itu adalah ibu kandung nya yang sebenarnya.


Setibanya, pemuda itu langsung mencari Mbok Sum nya.


"Bi, bibi lihat mbok Sum nggak?" tanya nya pada salah satu pembantu di rumahnya.


"Mbok Sum teh, ada di belakang den"


"Makasih bi." ujar nya langsung melenggang dengan terburu-buru, membuat sang maid terheran-heran atas sikap Gino.


"Mbok Sum" pangginya bergetar.


"Aden Gino, den Gino kenapa?"


"Ibu,"


"Ibu? den Gino kita duduk disini" Mata nya berkaca-kaca mendengar panggilan itu, langsung mengajak Gino duduk di tepi kolam sembari wanita itu mengelus punggung majikan sekaligus nya dengan penuh kasih sayang.


"Mbok Sum,"

__ADS_1


"Iya kenapa den?"


"Aku udah tahu semuanya,"


"Tahu apa den?"


"Aku tahu, kalau mbok adalah.. Ibu kandung aku"


Benar, ternyata feeling nya benar. Setelah tumbuh besar anak sekaligus majikan nya itu tahu, kalau boleh jujur dia bahagia anak semata wayang nya mengetahui bahwa wanita itu adalah ibu nya.


"Jadi kamu sudah tahu. Maafkan ibu nak, maafkan ibu." ucap nya sesal, sembari menarik Gino kedalam pelukan nya. "Ibu tidak bermaksud membuang kamu,"


"Iya bu, Gino udah tahu alasan nya, yang penting sekarang kita udah hidup bersama."


Drt... Drttt..


"Ada apa pi?" tanya nya lewat telepon. Dia diam sebentar mendengar suara papi nya di seberang sana.


"Ada apa nak?"


"Gino harus ke rumah sakit, ibu ikut ya"


"Tidak usah nak, ibu masih banyak pekerjaan"


"Yaudah, Gino berangkat dulu. Assalamualaikum" pamit Gino lalu mencium punggung tangan wanita itu.


"Waalaikumsalam." Wanita paruh baya itu menggeleng kepala melihat Gino berlari terburu-buru menuju rumah sakit. Sebelum nya dia sudah tahu dari majikan nya bahwa Gino mempunyai gadis cantik yang begitu ia jaga.

__ADS_1


Mungkinkah Stella sudah merubah Gino menjadi seorang mantan playboy.


-


"Maafkan papi nak, ini semua salah papi. Salah papi yang sudah melentarkanmu, papi sungguh bodoh membiarkan kamu hidup bersama ibumu, salah papi yang terbuai oleh omongan ibu kamu bahwa beliau akan menjaga dan merawatmu bersama lelaki brengsek itu. Andai papi tahu kejadiannya menjadi seperti ini, pasti papi akan mencari dan merebutmu dari tangan nya. Maafkan papi yang tidak ada saat kamu terpuruk, butuh sandaran, papi menyesal sekali, papi rela menerima balasan atas apa yang papi lakukan dulu, asal kamu bisa memaafkan papi." ucap papi Fernando menyesal sambil mencium tangan anak nya, ia menyesal karena sudah menelantarkan Stella. 17 tahun itu tidak bisa dia bayangkan, betapa sengsara nya hidup Stella.


Stella membuka mata perlahan, gadis itu mengerjapkan beberapa kali, menyeimbangkan silau lampu di dalam ruangan itu. Mata nya sedikit buram untuk menangkap objek sekitar, mungkin karena pusing. Gadis itu menoleh kesamping, dirasa ada tangan seseorang menggengam nya dengan begitu erat. Benar saja, disamping ada sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah sedang menunduk.


Stella menggerakkan jarinya, Fernando marasakan nya sontak menengadah menatap gadis itu. Sementara Stella cepat-cepat mengalihkan pandangannya kesamping, pria itu tersenyum senang, akhirnya anaknya sudah sadar.


"Alhamdulillah Kamu sudah sadar," Ujarnya. Stella menghempaskan tangan itu, tak sakalipun dia menatap pria disampingnya itu.


"Papi tahu, papi salah. Papi sudah menelantarkanmu, papi yang tidak pernah menemuimu dari dulu, papi menghilang saat kamu sangat membutuhkan bantuan, tapi apakah papi masih pantas mendapatkan maaf dari kamu nak?"


Stella diam, gadis itu masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut kedua pria itu tadi pagi. Tidak dapat menanggapi kata-kata yang di ucapkan om Fernando, tiba-tiba secuil dihati nya langsung muncul rasa iba, tapi menggigat betapa Fernando dulu menelantarkannya, ia kembali tidak perduli.


Gino masuk, dimana suasana dalam ruangan hanya mengisi kecanggungan antara anak dan ayah.


"Stella, lo salah paham, selama ini papi nggak bermaksud ngelantarin lo!"


"Lo tahu itu semua! Tapi, kenapa dari dulu lo nggak-"


"Biarkan Gin, biarkan papi saja yang mengalah mungkin kesalahan papi begitu besar. Papi nggak pantas mendapatkan maaf" Papi Fernando berdiri berniat meninggalkan mereka.


"Tunggu!" seru Stella memberhentikan langkah papi Fernando. "Aku mau maafin om. Asal om ungkap alasannya apa?" Suaranya bergetar dan ragu mengatakan itu. Sebenarnya dia tadi mendengar gumaman papi Fernando.


"Baiklah akan papi ceritakan, dulu pernikahan papi dan mommy kamu hanya sebatas kontrak karena dia hamil kamu dan dia mengaku bahwa kamu itu anak papi, papi terima. Namun, setelah papi terima kehadiran mommy mu, mommy mu mengaku lagi, bahwa kamu adalah anak dari selingkuhannya. Dan sebuah fakta yang anak buah papi temukan, kalau kamu benar-benar anak papi." Jelasnya. Stella kembali menitikkan air matanya, sekarang dia mengerti, ini semua salah ibu nya yang rela mempermainkan ayah nya, demi lelaki itu, dan pada akhirnya dia yang menderita.

__ADS_1


"Jadi, apakah kamu mau memaafkan papi?" Stella tersenyum menanggapi permintaan papi Fernando, yang berarti dia menerimanya. Fernando bangkit, lalu memeluk anak nya yang masih terbaring di brankar.


...----------------...


__ADS_2