
Stella kembali ke kelas. Untung pelajaran pertama ini adalah jam kosong, jadi dia tak ketinggalan pelajaran. Meskipun dulu Stella memang t**rouble maker, tapi dia sama sekali tidak ingin kepikiran ketinggalan pelajaran, apalagi satu tahun berlalu sekolah di sini dia sudah mulai berubah tidak pembuat onar seperti dulu. Matanya bertemu dengan tatapan sengit Tania di pojokan sana menatap sinis kepada nya, dia mulai hari ini Tania memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan Stella.
Tania adalah salah satu mantan pacar Gino, mereka berpacaran hanya seminggu. Sebelumnya gadis itu terus saja mempergoki Stella bersama Gino, meski Gino yang selalu menggangunya. Tania mencoba tidak dimasuki ke hati atas kedekatan Gino dan Stella, karena Stella tahu sendiri mereka sepasang kekasih. Namun, lama-kelamaan cewek itu mulai jengah dan jengkel melihat kedekatan antar kedua nya, yang lebih menjengkelkan lagi kemarin, kemarin merupakan kejadian langka yang Tania lihat.
"Tania Tania Tania, tunggu!"
"Apaan" jawabnya ketus.
"Gue mau minta maaf atas kejadian kemarin"
"Minta maaf? Stella Stella. Lo udah taukan gue masih punya rasa sama Gino, tapi lo udah-"
"Dan lo juga tau, bukan gue yang coba deketin Gino, tapi Gino sendiri yang mau mengakrabkan diri sama gue" sela Stella tak kalah sengit.
"Udah kan, bye" Kata Tania, kemudian diri nya melenggang pergi. Dia sudah muak melihat wajah munafik mantan sahabatnya itu.
Stella masih mematung melihat punggung Tania yang kian menjauh dari penglihatannya. Stella menarik nafas dalam-dalam pusing, saking pusing nya dia sampai tak mendengar teriakan dari kejauhan. Cowok menghampiri nya dan menepuk pundak Stella, sampa-sampai Stella dengan patuhnya membalikan tubuhnya. Dia sudah yakin bahwa lelaki itu adalah Gino, cowok memaksa nya untuk menjadikan Stella babu nya. Udah lah biarkan saja Stella tidak peduli, yang penting dia bisa membayar hutang budinya ke Gino, Stella tidak suka bila dalam kamusnya ada kata hutang.
__ADS_1
"Ayo" ajak nya. Gino menarik pergelangan tangan Stella agar mengikuti langkahnya, tapi belum melangkah perempian itu menarik tangannya kembali.
"Nggak usah pegang-pegang!" ucapnya tegas sembari meninggalkan koridor kelas IPS.
"Jutek banget sih" monolog nya seraya menggeleng kapala serta kekehan kecil. Lalu cowok itu mengikuti Stella melangkah mencoba menyamakan langkah nya dan Stella. "Kebanyakan tuh ya, yang gue lihat-lihat bos itu di depan. BUDAK nya dibelakang!"
"Silahkan Gino ke depan" ucapnya sinis tapi dia memaksa lembut.
"Bagus!"
Di belakang, Stella mengempalkan tangannya menatap pemuda sok tampan didepan nya, sampai ingin meninjunya sampai mampus.
"Hem" deheman Stella bersekedap dada sinis itu.
Gino membalikan badannya dan reflek Stella juga langsung mengerem langkah kakinya. "Ikh kalau balik tuh, bilang-bilang dong" celetuknya.
"Hey nona kamu itu babu aku, babu tuh nggak ada yang jawab pakai deheman" ucapnya tanpa memperdulikan dengusan gadis itu.
__ADS_1
"Iya"
"Satu kata lagi!"
"Apa lagi!" keluhnya memelas manatap jengkel pemuda dihadapan nya.
"Embel-embel apa?"
"Bos!"
"Sambung,"
"Iya bos. PUAS!" decak Stella seraya mendengus kesal, baru juga cowok itu memaksanya untuk menjadi budaknya sudah banyak maunya, apalagi kalau nanti. Haedehhh dirinya yang tadi pusing menghadapi Tania, makin pusing saat menghadapi Gino lagi.
"Puas banget!" Gino kembali membalikan tubuhnya berjalan sembari tersenyum dan sesekali terkekeh melihat Stella sudah disamping nya.
"Lo harus temenin gue di cafe nemuin cewek gue"
__ADS_1
Stella kembali di kejutkan dengan pengakuan Gino kecafe temuin pacar nya. Aduh ngaco nih Gino, masa dia ingin dijadikan nyamuk diantara keduanya, ngelihat mereka bermesraan gitu. Waduh, Stella hanya bisa menghela nafas sekaligus berdecak kesal.
...****************...