Haruskah Aku Mengalah Pada Takdir

Haruskah Aku Mengalah Pada Takdir
Permintaan diterima


__ADS_3

 Kenzi memikirkan kembali tentang permintaan Rose yang ingin ikut serta ke kota. Sekali pun Rose meminta hanya di antarkan ke kota. Hal seperti ini tak bisa ia lakukan. Rose masih lemah untuk di tinggalkan sendirian. Ia berjalan kesana kemari sambil memikirkannya. Tak lama ia langsung mendekat pada Rose....


"Kau bisa ikut denganku,tapi tidak di rumah sakit. Karena itu kota tempatku bekerja,aku tak ingin masalah ini di ketahui orang banyak. Kau akan mendapatkan perawatan dari salah satu apartemenku. Dan sampai kau benar-benar pulih,kau bisa tinggal di sana!" Kata Kenzi pada Rose...


Wajah cerah menghiasi wajah Rose. Ia tak bisa berkata-kata mendengar pernyataan yang Kenzi ucapkan. Hanya mata yang berkaca-kacalah yang mewakili perasaannya saat ini....


"Aku akan menemui Evan!" Kata Kenzi menarik diri dan langsung meninggalkan Rose sendirian...


Di tempat tidurnya Rose menangis terharu. Tak menyangka dirinya bertemu dengan orang sebaik Kenzi dan teman-temannya. Yang ikhlas menolongnya sekali pun tak mengenalinya...


 


Saat melamun,Kenzi masuk ke kamarnya kembali sambil memegang ponselnya...


"Ada apa Tuan?" Tanya Rose penasaran...


"Evan tak ada di sini! Dia sudah kembali!" Kata Kenzi mencoba menelpon seseorang...


"Van... Kau dimana?" Tanya Kenzi yang tak lain bicara pada dokter Evan...


"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu! Bisakah kau kemari?" Tanya Kenzi pada Dokter Evan melalui sambungan teleponnya...


"Baiklah aku tunggu kau!" Kata terakhir yang Kenzi ucapkan sebelum akhirnya ia menutup kembali panggilan teleponya..


Kenzi masih melihat layar ponselnya,lalu mendekatkan kembali ponsel tersebut ke telinganya...


 


"Arga.. Kau kerumah sakit sekarang. Siapkan peralatan kita besok. Kita pergi malam ini!" Kata Kenzi memberi perintah dan langsung mematikan ponselnya lalu mendekat pada Rose...


"Rose... Kita akan berangkat malam ini. Aku ada meeting pagi harinya,jika aku pergi besok pagi,aku tak bisa mengantarmu ke apartemen dan Arga ikut denganku. Jika kau tinggal di mobil, mungkin akan sangat melelahkan bagimu.!" Jelas Kenzi bersemangat..


"Iya Tuan!" Jawab Rose singkat,namun juga sedikit terkejut....


"Kau belum makan,makanlah sedikit agar kau bisa meminum obatmu. Perjalanan nanti akan membuatmu merasakan sakit yang berkali-kali lipat dari apa yang kau rasakan sebelumnya?" Jelas Kenzi


Rose menganggukkan kepalanya...


Kenzi mengambil piring nasi tersebut dan membawanya,lalu mengambil sendok untuk menyuapi Rose yang masih terbaring....

__ADS_1


"Terimakasih!" Kata Rose pada Kenzi...


Rose mengunyah pelan makanan yang disuapkan Kenzi kedalam mulutnya. Ia tak pernah berpikir akan di perlakukan sebegitu baiknya oleh orang asing yang tak dikenalnya. Dan itu adalah lelaki! Suatu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya...


Rose sudah menghabiskan semua makanannya. Tinggallah meminum obat ketiganya hari ini. Ia sudah enggan meminum semua obat itu,namun apa yang bisa ia lakukan. Saat ini yang bisa membantunya meredakan semua rasa perih dari lukanya adalah obat-obatan tersebut. Mau tak mau ia harus meminumnya...


Saat Kenzi sedang memberikan obat tersebut pada Rose. Arga datang dengan nafas yang tersengal-sengal, seperti baru saja berlari ratusan meter jauhnya...


 


"Ada apa Ken? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Arga mencoba bicara pelan namun tetap saja nafasnya tersengal-sengal...


Belum sempat Kenzi menjawabnya,Dokter Evan masuk dengan keadaan yang sama seperti Arga..


"Ada apa Ken?" Tanya Dokter Evan sambil duduk di kursi untuk mengendalikan nafasnya...


"Dengarkan aku!" Kata Kenzi sambil memberikan obat pada Rose...


"Aku akan membawa Rose ke kota! Dia akan tinggal di apartemen sampai semuanya benar-benar aman. Saat ini aku banyak sekali pekerjaan,tak mungkin bagiku untuk bolak-balik kesana kemari hanya untuk memastikan keadaan Rose. Sementara Kau tak ingin merawatnya dan menyuruh diriku bertanggungjawab penuh atas dirinya!" Ucap Kenzi pada Dokter Evan...


Arga terkejut mendengar pernyataan Kenzi...


"Aku akan membawa seorang dokter dan perawat di apartemen. Mereka akan menangani Rose secara pribadi, Karena tak mungkin bagiku untuk membiarkan Rose berada di rumah sakit. Akan bahaya jika orang-orang yang sedang mencari Rose bisa menemukan Rose di rumah sakit dengan namaku sebagai walinya. Saat ini kalian tahu perusahaanku sedang tak stabil,aku tak ingin masalah baru lagi. Ini sudah cukup membuatku sakit kepala!" Jawab Kenzi...


"Lalu... Selama dia di apartemenmu,apakah ada orang selain perawat yang menjaganya. Tak mungkin bagi Nona Rose jika hanya di rawat satu orang. Bagaimana jika perawat itu ada keperluan diluar?" tanya Dokter Evan memastikan..


 


Kenzi berpikir sejenak,lalu kembali menatap Dokter Evan...


"Jangan khawatir tentang hal ini. Aku bisa menyewa dua atau tiga perawat secara pribadi. Yang penting saat ini aku tak harus keluar masuk desa ini!" Jelas Kenzi ..


Arga dan Dokter Evan saling memandang. Lalu mereka berpikir sejenak bagaimana baiknya untuk mereka semua...


"Jika dia keluar dari rumah sakit ini,maka aku harus memberikan surat rujukan dari sini. Itu akan sulit bagiku jika memberikan surat rujukan dengan tujuan rumah sakit namun dia tak dirawat di sana!" Kata Dokter Evan...


"Tuan... Maaf!" Kata Rose menyela pembicaraan ketiga lelaki itu...


"Ada apa Rose?" tanya Kenzi..

__ADS_1


"Tak usah keluarkan surat rujukan. Aku bisa keluar rumah sakit tanpa surat persetujuan itu. Hari ini aku minta pulang dan semua konsekuensinya aku yang akan menanggungnya!" Jelas Rose...


"Bingo!" Kata Kenzi tiba-tiba dengan suara yang cukup keras...


"Rose benar. Jadi kita semua terbebas dari tuntutan!" Lanjut Kenzi mendukung pernyataan Rose...


"Baiklah jika begitu. Aku akan membuatkan surat izin keluar rumah sakit hari ini. Tapi kalian harus membantuku jika kelak akan ada masalah dengan izinku ini. Ingat,aku tak ingin izin praktekku di cabut hanya karena masalah ini!" Jelas Dokter Evan dengan tegas...


Kenzi langsung mengacungkan jempolnya pada Dokter Evan. Dokter Evan pun segera keluar dari kamar Rose untuk membuatkan surat persetujuan rawat jalan Rose.


Arga tak mampu mengendalikan Kenzi lagi,meski yang ia ambil saat ini sebenarnya tak perlu. Sifat Kenzi tak bisa di atur. Jika dia ingin hal ini maka ia akan melakukan hal tersebut. Tak peduli bagaimana keadaan orang sekitarnya...


"Bersiaplah!" Kata Kenzi pada Rose...


Rose bingung bagaimana ia harus bersiap. Jangankan untuk berdiri,bergerak saja ia sulit. Ia pun mencoba menjelaskan keadaannya. Namun Arga sudah mengerti akan hal tersebut..


"Ken.. Aku akan keluar untuk membelikan baju ganti Nona Rose. Kau tunggulah sebentar!" Kata Arga pada Kenzi...


"Baiklah... Aku sampai melupakan hal ini!" Ujar Kenzi yang baru mengetahui bahwa Rose tak memiliki pakaian ganti...


"Nona Rose.. Bisakah Kau memberitahuku ukuran yang kau pakai? Termasuk pakaian dalammu?!" kata Arga yang membuat Rose bingung untuk menjawabnya, sementara Kenzi tidak mempedulikan hal tersebut,ia sibuk dengan layar ponselnya saat ini...


Dengan memandang ragu-ragu Rose menjawab...


"Bra-ku Size 36B dan Celana dalamku ukuran M!!" Jawab Rose malu-malu...


"Baiklah... tunggu sebentar,aku akan kembali!" Jawab Arga langsung pergi dengan cepat...


***


Terimakasih karena sudah membaca ceritaku!


Jangan Lupa... like,Coment dan Vote ya...


Baca juga novelku yang lainnya..


"PERNIKAHAN KONTRAK!"


Dan masukkan ke Favorit juga ya,agar kalian tahu perkembangan cerita selanjutnya🙏

__ADS_1


__ADS_2