Haruskah Aku Mengalah Pada Takdir

Haruskah Aku Mengalah Pada Takdir
Dukungan Clara pada Rose


__ADS_3

...Clara datang dengan handuk kecil serta mangkuk yang berukuran besar. Dia mendekat pada Rose dengan wajah cemas....


..."Berbaringlah... Aku akan mengompresmu!" Kata Clara pada Rose......


...Melihat Rose terbaring dengan suhu tubuh yang tinggi dan wajah yang pucat Clara pun meneteskan air mata. Rose yang melihat Clara menangis segera memegang tangannya sembari berkata......


..."Jangan menangis kak.. Aku tidak apa-apa hanya sedikit demam. Tidak akan lama lagi juga aku akan pulih!" Ujar Rose menenangkan Clara......


...Arga yang melihatnya menjadi geram sendiri. Ia tak tahu Mengapa Rose bisa mengambil keputusan sejauh itu jika dengan keputusannya pula sudah menyakiti dirinya sendiri....


..."Kalian bicaralah.. Aku harus pergi ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan!" Kata Arga pada keduanya......


..."Terimakasih Ga karena sudah mengantarku pulang!" Kata Clara sambil mengantarkan Arga keluar kamar Rose......


..."Iya sama-sama.. Kau jaga dia. Kau pun harus menjaga dirimu agar tak sakit. Jika kalian sakit!" Ucap Arga tiba-tiba......


..."kau mengkhawatirkan aku?" Tanya Clara heran...


...Arga tak sadar dengan ucapannya dan menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan dari Clara......


..."Aku...Aku tidak mengkhawatirkanmu.. Aku mengatakan itu agar ini lebih mudah bagiku dan Kenzi untuk bergerak!" jawab Arga mengelak......


...Ia memang mengkhawatirkan keadaan Clara karena Clara terlalu memikirkan Rose......


..."Ah begitu.. Syukurlah.. Jika tidak aku akan salah paham mengartikan kata-katamu tadi hehe!" Ucap Clara asal...


..."Sudahlah.. Kau terlalu banyak bicara, lebih baik kau teman di Rose,Aku bisa sendiri keluar dari rukomu!" Ujar Arga...


..."Aku tidak berniat untuk mengantarmu,aku hanya ingin menguji pintu setelah Kau pergi!" Jawab Clara spontan......

__ADS_1


...Arga mendengus kesal.. Ia pun segera menuruni anak tangga tanpa menghiraukan Clara lagi......


...Clara hanya mengikutinya dari belakang tanpa bicara. Ia hanya tersenyum kecil melihat Arga salah tingkah di depannya......


...Setelah mengantar Arga keluar, Clara segera kembali ke kamar Rose. Rose masih terbaring lemah diatas tempat tidur. Suhu tubuhnya masih belum turun meski sudah ia kompres. Saat Rose membuka matanya,Clara langsung tersenyum padanya......


..."Bagaimana perasaanmu?" Tanya Clara pada Rose......


...Rose tersenyum berat,ia meraih tangan Clara yang masih memegang handuk kompres.....


..."Aku sudah lebih baik. Kakak beristirahatlah.. Ini sudah siang.. Aku merasa sedikit mengantuk dan ingin tidur lagi!" Jelas Rose dengan nada serak......


..."Iya.. Kau tidurlah.. Aku akan membuatkan kau bubur sebentar!" Kata Clara pada Rose......


..."Terimakasih kak karena sudah begitu menjagaku. Aku tak tahu bagaimana harus membalas semua jasa baikmu ini. Selama ini hanya kau yang begitu mengkhawatirkan dan perhatian. Kau selalu menganggapku sebagai saudaramu dan memberikanku kasih sayang penuh layaknya seorang kakak. Aku merasa selama ini hidupku hanyalah sebatang kara namun setelah bertemu denganmu aku merasa sekarang aku memiliki keluarga. Aku sangat bersyukur pada Tuhan karena mengirimkanmu untukku!" ucap Rose lirih......


...Mendengar hal itu Clara segera menarik tangannya dan menggenggamnya. Ia membelai halus rambut Rose sambil tersenyum manis padanya......


...Rose hanya menganggukkan kepalanya pelan. Clara pun berdiri meninggalkan Rose beristirahat di kamarnya. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan Rose bubur......


...Setelah 30 menit lebih ia bergulat di dapur, sekarang bubur yang yang dia buat untuk Rose sudah jadi. Ia pun segera menemui Rose di kamarnya. Saat sampai di kamar Rose,ia melihat Rose sudah duduk diatas tempat tidur sambil memeluk lututnya. Clara masuk untuk memberikan bubur itu pada Rose......


..."Hei.. Apa yang kau pikirkan?" Tanya Clara saat melihat Rose menatap keluar jendela kamar ......


..."Tidak.. Aku hanya melihat air hujan yang menetes dari atap rumah kita. Ia begitu pasrah meski tubuhnya akan menghantam apapun yang berada di bawahnya! Apakah aku bisa seperti air hujan itu Kak? Menyerahkan semuanya pada waktu dan mengalah pada takdirku?" Tanya Rose lirih......


...Clara mendekat sambil meletakkan bubur yang ada di tangannya di atas meja yang berada di sisi tempat tidur Rose. Ia memegang tangan Rose dan duduk di sisi tempat tidur Rose.....


..."Ayahku selalu berkata, apapun yang terjadi kita harus menerimanya. Air hujan itu tidak sedang memasrahkan dirinya,dia melakukan itu karena itulah yang harus ia lakukan. Mungkin beberapa orang mengasihani nasibnya tapi lebih daripada itu lebih banyak juga orang yang mengharapkannya. Dia membawa keceriaan bagi bumi dan langit. Ia menyuburkan tanah dan memberikan kehidupan bagi makhluk bumi lainnya. Sementara setelah Ia reda,ia melukiskan warna yang begitu indah di langit untuk menggantikan warna langit yang gelap. Semua sudah berada pada tempatnya masing-masing. Tapi adakalanya air hujan itu turun secara berlebihan hingga membuat makhluk di bumi kewalahan dan langit menjadi muram. Bukan karena ia marah tapi karena ia ingin memperingatkan bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan garisnya. Ia bisa keluar,namun ia tahu kapan ia harus keluar dari garis itu. Tidak berlebihan namun memiliki sejarah bagi makhluk hidup lainnya!" Ucap Clara lirih sambil mengikuti cara Ros melihat keluar jendela......

__ADS_1


...Sejenak Rose terdiam. Lalu ia tersenyum dan melihat pada Clara......


..."Apakah kita bisa keluar dari garis yang sudah kita buat?"Tanya Rose ragu .....


...Clara bungkam sejenak. Ia mengambil mangkok bubur dan mengambilnya satu sendok lalu menyuapkannya pada Rose......


..."Kau ingin keluar?" Tanya Clara memastikan......


...Rose ragu untuk menjawab. Ia kembali bertanya pada Clara......


..."Apa kakak pernah mencoba keluar dari garis yang sudah Kakak buat?" Tanya Rose penasaran......


...Clara tersenyum. Ia mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana saat ia memutuskan untuk memulai hubungan dengan suaminya dulu......


..."Pernah... Itu saat aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan suamiku. Saat itu,hubungan kami tidak mendapat restu dari ayah dan ibuku karena suamiku berasal dari keluarga yang menengah ke bawah. Aku bertemu dengannya karena dia adalah seorang pengantar makanan. Dan aku adalah seorang mahasiswa semester terakhir. Kami sering bertemu karena aku sering memesan makanan di tempatnya bekerja. Lambat laun kami semakin dekat dan menjadi akrab. Tapi baru saja ia mengutarakan perasaannya padaku, ayah dan ibuku melarangku untuk berteman dengannya. Karena menurut mereka suamiku akan memberi dampak yang buruk bagi masa depan karena aku adalah satu-satunya anak mereka. Saat itu juga mereka mengatur kencan buta untukku. Pria-pria itu adalah pria mapan dan berpendidikan. Aku mencoba menuruti semua permintaan orang tuaku karena aku merasa hal inilah yang pantas kulakukan untuk membalas jasa-jasa mereka padaku. Aku berkencan dengan salah satu pilihan mereka. Namun karena aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang suamiku,aku tidak bisa menjalani hubungan yang normal layaknya sepasang kekasih. Aku risih saat dia mengatakan kata-kata romantis atau memperhatikanku. Hal yang sebaliknya kurasakan saat suamiku mengatakannya padaku. Aku merasa senang hingga ingin terbang. Suatu hari, aku memintanya bertemu denganku. Aku mengatakan bahwa aku tidak bisa bersama dengannya karena orang tuaku ku tidak merestui hubungan kami. Aku juga mengatakan bahwa aku sudah memiliki kekasih yang dipilihkan oleh orang tuaku. Aku memintanya untuk berhenti bertemu denganku ataupun mengirimkan pesan singkat padaku. Aku juga memintanya agar menjauhiku. Dia mengerti, meski awalnya ia menolak dan berkata bahwa ia akan meyakinkan orang tuaku. Kami akhirnya benar-benar menjauh. Tapi selama waktu itu aku merasa bahwa aku semakin tidak bisa melupakan dia, hari-hari yang kulalui dengan kekasihku menjadi suram. Tak ada kejelasan karena setiap kali ia mencoba mendekat padaku aku menolak dan saat ia mengajakku untuk segera menikah aku pun dengan lantang menolaknya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan karena aku selalu teringat pada suamiku. Dan pada akhirnya aku mencampakkan kekasihku. Aku bertengkar hebat dengan ayah dan juga ibuku karena masalah ini. Aku berkata jujur pada ayah dan ibuku bahwa aku belum bisa melupakan suamiku. Aku juga mengatakan ingin mencarinya. Ayah dan ibuku murka hingga mengurungku di kamar dan mengatur pernikahanku dengan pria lain. Aku tidak berdaya. Dalam kegalauanku,aku melarikan diri dari rumah dan mencari suamiku. Saat itu aku menyadari, semua rasa sakit yang kuterima karena hinaan orang terhadap ku yang memilihnya itu tidak seberapa dibandingkan kehilangan dirinya. Aku dengan bangga dan mantap berlari mencari dia di rumahnya dan mengajaknya untuk menikah. Entah dia memang terlalu mencintaiku atau kamiyang terlalu berpikiran bodoh hingga akhirnya menikah pada malam itu juga. Orang tuaku semakin murka dan memutuskan hubungan denganku. Aku di coret dari akta keluarga dan juga hak waris. Tapi aku sedikitpun tidak merasa menyesal dengan keputusanku. Yang tahu tentang diriku, perasaanku dan apa yang aku inginkan hanyalah aku. Orang lain tidak berhak mengatur aku sekalipun itu ayah dan ibuku. Lalu dengan tabungannya kami membuka ruko ini dan berencana memiliki anak secepatnya. Aku bekerja keras menjaga ruko ini. Meski hidup pas-pasan aku bahagia karena dia begitu memanjakanku dan begitu menyayangiku. Aku tidak bisa memungkiri hal yang sama pun aku dapatkan dari orang tuaku,tapi yang tidak aku dapatkan dari orang tuaku adalah hak untuk memilih jalan hidupku. Dan tanpa kusadari, Ayah mengirim orang untuk mengawasiku karena melihatku bahagia meski hidup dengan sederhana akhirnya Ayah memanggil kami berdua untuk berkunjung ke rumah. Dia menerima suamiku karena ia tahu bahwa suamiku adalah orang yang bertanggung jawab yang bisa menjagaku dan membahagiakanku kedepannya. Aku keluar dari garis yang sudah ditentukan orang tuaku. Aku tahu hal itu tidak mudah tapi karena aku bertemu dengan orang yang mencintaiku maka semuanya menjadi mudah. Sekarang aku bertanya padamu,apakah kau mencintai Kenzi?" Tanya Clara serius menatap Rose.....


...Rose tak bergeming. Meski ia mencintai Kenzi tapi ia tidak seberani Clara yang akan memilih jalannya sendiri.....


..."Rose.. Yang tau hatimu dan perasaanmu hanyalah dirimu sendiri. Aku bisa melihat ketulusan dari Kenzi. Kenzi benar-benar mencintaimu. Lalu apa yang kau ragukan? Apakah keselamatanmu ataukah kebahagiaanmu? Kedua hal itu tidak ada yang bisa memastikannya. Selamat atau tidaknya kau,tak ada yang bisa memastikannya. Bahagia atau tidaknya kau,tak ada yang bisa memastikannya. Karena bahagia itu kita sendiri yang ciptakan. Rose,bersama atau tidaknya kau dengan Kenzi,kedua hal itu belum pasti. Tapi setidaknya kau sudah mencobanya dan aku yakin keputusan yang diambil dengan kebulatan hati tidak akan memiliki penyesalan di akhirnya. Kembalilah pada Kenzi,genggam tangannya dan katakan bahwa kau ingin bersama dengannya apa pun yang terjadi!" Ujar Clara meyakinkan Rose,Rose hanya tersenyum bimbang untuk menentukan sikapnya......


***


Terimakasih karena sudah membaca ceritaku!


Jangan Lupa... like,Coment dan Vote ya...


Baca juga novelku yang lainnya..


"PERNIKAHAN KONTRAK & Cinta Terlarang aku dan sepupuku!"

__ADS_1


Dan masukkan ke Favorit juga ya,agar kalian tahu perkembangan cerita selanjutnya🙏


__ADS_2