Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
10. Say Yes or No!


__ADS_3

...Happy Reading...


Hal terbesar yang pernah kamu pelajari adalah mencintai dan dicintai sebagai balasannya. Namun terkadang Cinta hanyalah tentang menemukan diri kita sendiri di orang lain, dan sebuah kegembiraan dalam pengakuan.


Tetapi tidak semua orang mempunyai watak yang sama, untuk dengan mudahnya mengungkapkan sebuah rasa kepada seseorang.


" Mas Panji, emm... boleh saya tanya sesuatu?" Gendhis yang memang tipenya tidak suka terlalu lama memendam rasa langsung berinisiatif untuk selangkah lebih maju.


" Tentu, katakan saja." Jawab Panji setelah menyeruput kopi pesanan miliknya.


" Apa mas sekarang sudah punya pasangan?"


" Heh?"


" Opsh sorry... apa pertanyaan saya terlalu frontal?"


" Emm... bukan begitu, tapi..."


" Begini mas, saya hanya tidak ingin nama baik mas dan juga nama saya ternodai kalau ternyata mas sudah punya pasangan, apalagi kita ngobrol dan makan hanya berdua saja, kalau ada yang mengenal kita kan nanti gosipnya bisa kemana-mana."


Gendhis langsung menjelaskan maksud dari pertanyaannya, apalagi satu rumah sakit itu rata-rata mengenal siapa Gendhis sebenarnya.


" Owh... belum kok."


Yes... sudah gue duga!


" Kalau begitu, maukah bapak jadi kekasih saya?"


Dor!


•••


" Hei Ratu, sepertinya saya langsung percaya, kalau Gendhis itu memang kakak kandungmu."


Dua makhluk pengintai ini kembali berkomentar, saat mereka duduk santai sambil terus memantau Gendhis dan juga Panji.


" Kenapa? jadi bapak juga tidak percaya kalau aku ini adeknya? hanya karena aku sering bolos dan malas belajar gitu?" Tanya Ratu dengan tatapan menyeringai.


" Bukan begitu juga sih?"


" Trus alasannya kenapa?"


" Karena kalian berdua sama-sama frontal saat berkata-kata dalam mengungkapkan sebuah perasaan, tidak ada rasa segan atau bagaimana gitu, masak nembak cowok semudah itu, kayak nggak ada beban gitu, kok bisa ya?"


Arga mengingat Ratu yang juga sering tanpa rasa segan saat mengungkapkan rasa suka dan ketertarikan kepada dirinya selama ini.


" Ckk... bapak ini lah, justru bagus dong, perasaan itu harus diungkapkan, memang kalau diam-diam saja bapak bisa tahu bagaimana perasaan seseorang?"

__ADS_1


" Yalaah tuh..."


" Didalam hidup itu pak, jangan hanya mementingkan sebuah gengsi, apalagi sok jual mahal, entar kemahalan nggak laku loh pak!"


Iya juga atau jangan-jangan Panji itu nggak laku karena sering jual mahal ya?


" Suka-suka kamu lah cil.. bocil, asal nggak rewel saja sudah, kita lanjut lagi ngupingnya!"


Setelah Arga kembali kalah berdebat untuk yang kesekian kalinya, akhirnya mereka berdua kembali fokus menyimak obrolan mereka.


•••


" Kamu ngomong begitu serius nggak?"


Pria mana yang langsung percaya dengan mudahnya dengan pernyataan cinta seseorang yang baru saja dia kenal.


" Ya seriuslah mas, apa wajahku terlihat main-main?"


" Kita baru saja kenal loh Ndis, bahkan baru beberapa hari yang lalu?"


" Why not? cinta kan memang begitu, bisa datang sesingkat-singkatnya, perasaan dan hati seseorang kan tidak bisa diatur begitu saja, kalau suka ya suka, kalau enggak dia juga pasti menolak, ya kan?"


" Tapi... emm, aku tidak bisa percaya begitu saja."


Panji yang sudah melewati berkali-kali kandasnya dalam sebuah hubungan tidak dengan mudahnya menerima, karena hubungannya yang telah lalu saja bisa berakhir dengan cepat walau mereka sudah berkenalan dalam waktu yang lama, apalagi cuma kenal dekat beberapa hari saja pikirnya.


" Emm... gimana ya ngomongnya, aku tipe orang yang malas berhubungan jika hanya main-main saja." Panji sama sekali belum mempunyai persiapan tentang hal ini, dia juga tidak menduga sama sekali jika Gendhis bisa mengungkapkan perasaannya sesingkat ini.


" Jadi mas mau kita langsung menikah saja?"


" HAH?"


Sebenarnya ada rasa suka ketika seseorang mengajaknya masuk kedalam hubungan serius, apalagi ini harapan terbesar keluarganya, namun lagi dan lagi dia tidak yakin, rasa ketakutannya malah semakin bertambah, kalau cuma pacaran putus tidak akan menjadi masalah besar, tapi kalau pernikahan dan perceraian itu sangat tabu baginya dan tidak mudah walau baru dibayangkan saja.


Dia sama sekali tidak ingin merasakan apa itu perceraian, jadi dia ingin lebih selektif dalam mencari calon istri, prinsip Panji adalah dia tidak mau menikah hanya karena umur yang sudah tua, hanya karena desakan keluarga, apalagi menikah hanya karena omongan tetangga, karena yang merasakan rumitnya biduk rumah tangga adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.


" Gimana sih? pacaran nggak mau, nikah juga ragu, trus maksud mas mau menjalani sebuah hubungan yang seperti apa?"


" Bukan begitu Gendhis, cuma aku rasa kamu terlalu terburu-buru dalam memutuskan, kita bisa kenal dulu lebih dekat kan?"


" Tanpa sebuah kepastian?"


" Pasti, tapi gimana ya?"


" Ckk... gini aja deh mas, jangan muter-muter ngomongnya, nanti nabrak kanan kiri pula, mas tinggal ngomong aja, say Yes or No, it's very simple."


" Aku tidak bisa memutuskan sekarang Gendhis, aku belum siap aja."

__ADS_1


" Okey, kalau begitu aku mundur, pertemanan kita pun cukup sampai disini saja." Gendhis langsung mengatakannya tanpa berpikir terlalu lama.


" Gendhis, bukan begitu maksud aku tadi loh."


Saat mendengar kata mundur Panji langsung merasa kecewa, karena memang bukan seperti ini yang dia harapkan.


" Saya itu bukan tipe orang yang suka menunggu tanpa kepastian ya mas, yang namanya sebuah hubungan itu bukan hanya mencari kecocokan yang sama dalam diri seseorang, bahkan orang kembar identik pun pasti ada bedanya, menurutku hubungan yang indah itu bisa saling menerima kekurangan satu sama lain dan saling melengkapi gitu."


" Kamu sudah yakin denganku?"


" Iyalah... aku tidak suka buang-buang waktu menjalin hubungan yang tidak jelas, kalau sudah srek ya maju terus, kalau memang nggak bisa ya selesai, nggak perlu babibu a.. i.. u..! hidup kita terlalu singkat untuk itu!"


" Secepat ini?"


" Iya, jadi mas masih belum percaya?"


" Maaf Ndis, aku hanya..."


Terlalu sulit bagi Panji untuk menjawabnya, disatu sisi dia sangat tertarik dengan Gendhis, namun itu saja tidak cukup untuk modal menuju sebuah pernikahan pikirnya, dan disisi lain dia sangat takut akan terjadinya sebuah Perpisahan.


" It's okey, nevermind mas, jangan terlalu tegang seperti itu." Gendhis langsung tersenyum melihat wajah Panji yang terlihat panik.


" Fuuh... kamu hanya bercanda kan Gendhis?" Saat melihat senyuman Gendhis dia bisa sedikit lebih tenang.


" No! aku selalu serius, tapi kalau kehadiranku hanya membuat beban untuk mas, aku memilih tidak berhubungan sama sekali dengan mas."


" Tapi Ndis?"


Panji tetap merasa keberatan, karena setelah mereka saling bertukar nomor ponsel waktu itu, mereka sering chat an dan obrolan mereka pun sangat nyambung bahkan mereka sampai bergadang hingga larut malam.


" Karena aku sudah terlanjur menggungkapkan perasaanku dengan mas, dan mas terlihat keberatan, maka kalau hubungan kita dilanjutkan sebagai teman pun sudah tidak nyaman lagi kan? jadi sebelum terlalu jauh mengenal, kita stop saja sampai disini."


" Gendhis?"


Klik!


" Sudah aku delete nomor mas, semua yang terjadi dengan kita, sudah selesai sampai disini, terima kasih sudah hadir dihidupku dalam beberapa hari ini, senang bisa berkenalan dengan mas, kalau begitu saya permisi."


Gendhis langsung bangkit dari duduknya dan menampilkan senyuman termanis untuk Panji yang terakhir kalinya.


Astaga... apa kutukan itu benar adanya! bahkan belum jadian pun dia sudah kabur duluan dariku, tapi masak iya gue harus berhubungan sek s sesama jenis? arghhh...


Panji hanya bisa memejamkan kedua matanya dan kembali mengingat kutukan almarhumah sang mantan kekasih.


Pada akhirnya, kita akan sadar bahwa hidup itu butuh konflik untuk mendewasakan kita. Sebuah Konflik yang sehat, bukan pura-pura tak apa-apa, padahal memendam banyak rasa.


JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK KALIAN😘

__ADS_1


__ADS_2