Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
88. Menjemput Takdir


__ADS_3

...Happy Reading...


Tiga hari sudah Melody pergi meninggalkan hinggar bingar kota dan juga meninggalkan Arga yang masih kalang kabut mencarinya, namun tidak juga mendapatkan hasil.


Puluhan Kafe terdekat dari kampus dan dari kontrakan Melody sudah dia datangi, namun satu pun tidak ada jejak-jejak dari Melody.


"Dad... katanya Hugo beneran punya Mama sekarang, trus kenapa Mama nggak pulang-pulang?" Tanya Hugo saat mereka baru dalam perjalanan pulang dari sekolah.


"Entahlah nak, kemana perginya mama baru kamu itu, daddy sudah mencarinya dimana-mana, tapi tidak bertemu dengannya." Jawab Arga yang seolah memilih curhat dengan Hugo saja, karena curhat dengan sahabat karibnya hanya membuat emosinya semakin meradang saja.


"Apa daddy jahatin mama baru Hugo?" Hugo melirik ayahnya dengan tatapan curiga.


"Ya nggak mungkinlah nak, daddy menyayangi Mama Hugo seperti daddy menyayangi kamu, kalian berdua itu sama-sama menggemaskan bagi daddy." Jawab Arga sambil mengusap wajah Hugo yang seolah menjadi fans yang siap membela idolanya itu.


"Lalu kenapa Mama kabur kalau daddy tidak nakal?"


"Hehe... Daddy bukannya nakal sayang, tapi mungkin Mama yang salah paham."


Selama ini Hugo lah yang memang sering menghibur Arga dari semua masalah yang menimpanya, karena hanya dengan celotehan lucu bocah itu lah dia bisa tersenyum.


"Kalau begitu dicari dong Dad, kalau punya masalah itu diselesaikan, bukan di diamkan saja, kapan baiknya kalau begitu? Padahal kata Bu Guru, kita tidak boleh marah lebih dari tiga hari, dosa loh Dad, hayow?" Ucapan Hugo bahkan sudah seperti anak dewasa, padahal belum cukup umurnya.


"Kamu ini ada-ada saja, Daddy nggak marahan sama Mama sayang, lagian Daddy juga sudah mencari Mama, cuma belum waktunya ketemu aja."


"Tanya dong sama tante Ratu, Mama kan sahabat karibnya tante Ratu?"


"Sudah kemarin lewat telpon, tapi tantemu juga tidak tahu."


"Lalu Daddy percaya begitu saja?"


"Jadi?"


"Ayo kita ke rumah Eyang, biar Hugo yang tanya kemana sebenarnya Mama pergi, daddy mah Payah!" Hugo langsung mengacungkan jempol terbalik ke arah Daddynya.


"Woah... kamu benar-benar anak Daddy yang cerdas, okey kalau begitu kita langsung ke rumah Eyang okey?" Arga merasa takjub sendiri dengan putranya yang sudah tumbuh besar saat ini.


Akhirnya dia memilih datang ke rumah Eyang untuk menginterogasi Ratu secara langsung atas saran Hugo putra tampannya.


"Eyang?"


Hugo langsung berteriak saat dia baru saja turun dari mobil.


"Ehh... Cucu Eyang, baru pulang sekolah nak?" Eyang yang sedang duduk santai di teras langsung menyambut bocah kecil yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri itu dengan riang gembira.


"Iya Eyang." Hugo langsung duduk dipangkuan Eyang.


"Gimana sekolahnya hari ini? Lancar?"


"Lancar Eyang, tapi Hugo sedih."


"Sedih? Siapa yang berani membuat cucu kesayangan Eyang sedih, ayo... bilang sama Eyang, biar Eyang samperin sekarang juga!"


"Tuh!"


Hugo langsung menunjuk Ratu yang yang baru saja muncul dari pintu sambil mengusap perutnya yang semakin membesar.


"Apa sayang? Kenapa nunjuk aunty?"

__ADS_1


"Tante jahat."


"Duh... Kenapa aku jadi jahat, panggil aunty dong sayang, kalau tante kayak ketuaan deh?"


"Dih... sama aja artinya!" Cibir Hugo yang terlihat marah namun malah terlihat semakin menggemaskan.


"Iya, tapi panggil aunty aja biar kerenan dikit."


"TANTE!" Teriak Hugo yang tidak perduli.


"Hugo?"


"Dengan satu syarat!"


"Astaga... Apa itu sayang?"


"Dimana tante menyembunyikan Mama baru Hugo!"


Dan Arga hanya bisa terkekeh melihat perdebatan Hugo dengan Ratu yang memang tidak mau mengalah itu.


"Emang Mama baru Hugo siapa?" Eyang yang belum tahu kabar terkini langsung terbengong saat mendengarnya.


"Mama Melody."


"Woahahahaha... Tuh kan, bener apa kata Eyang, kalau soal jodoh mah Eyang yang paling tahu siapa yang cocok! Hei Arga... Kapan kamu menikahi Melody, kenapa kamu tdak minta restu dari Eyang dulu, keterlaluan kamu ini!"


"Maaf Eyang, bukan tidak mau, tapi tidak sempat, nanti kalau sudah menikah resmi saja, sekarang baru nikah siri."


"Yaelah... Ngapain mesti siri dulu, biar bisa enak-enak dulu, tanpa ada larangan begitu?"


"Bukan begitu Eyang, tapi memang waktunya tidak tepat." Arga tidak mungkin mengatakan dia menikah karena digerebek oleh warga, bisa di bully habis-habisan oleh Eyang ajaib yang satu ini pikirnya.


"Ratu, temen kamu ada dimana?"


Pandangan mereka semua langsung terarah ke Ratu yang juga kebingungan, dia sendiri pun tak tahu dimana keberadaan Melody saat ini.


"Apa sih kalian, kenapa mata kalian seolah menghakimi istriku?"


Panji yang baru saja muncul langsung memeluk istrinya dari belakang dan mengusap perut Ratu dengan penuh senyuman.


"DIAM."


Entah siapa yang menjadi pemandu suara diantara mereka bertiga, karena mereka bisa kompak berteriak seperti itu.


"Astaga, sabar sayang, kenapa mereka jadi anarkis seperti itu!" Mata Panji langsung terbelalak saat mendengarnya.


"Aku beneran nggak tahu Melody ada dimana, dia nggak pamit juga sama aku, atau mungkin dia balik ke kampungnya kali."


"Aish... Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin Ratu, tau gitu kan bapak nggak pusing-pusing keliling kota hanya untuk mencari Melody, trus alamat rumahnya dimana?" Arga pun baru kepikiran tentang hal itu.


"Nggak tahu."


"Ratu, jangan main-main kamu, cepat beritahu bapak, sudah tiga hari dia nggak masuk kampus."


"Heleh.. Karena masalah kampus apa masalah hati ini?" Panji langsung meledeknya.


"Aku beneran nggak tahu pak, karena memang aku belum pernah main kesana."

__ADS_1


"Kamu kan teman dekatnya, masak dia nggak pernah ngajak kamu main kesana?" Arga masih saja ngotot.


" Emang nggak pernah pak, soalnya rumahnya jauh kata Melody, biasanya ibunya yang datang kesini kalau rindu, itu pun satu bulan sekali belum pasti, biasanya mereka hanya video call saja."


Karena Ratu memang tidak pernah menanyakan bagaimana keluarga Melody, asal usulnya ataupun tempat tinggalnya, dia berteman karena memang Melody asyik dan selalu nyambung dengannya, bukan karena siapa Melody.


"Huft... Lalu bagaimana aku bisa menemukan alamatnya? aku harus bertanya dengan siapa?" Arga hanya bisa tertunduk lesu karenanya, entah kenapa walau hanya satu hari mereka menikah, namun Melody begitu berkesan dihatinya.


"Yaelah.. Payah banget kamu sekarang Ga, kemana otak cerdasmu yang dulu?" Ledek Panji kembali.


"Maksud kamu apa!" Arga langsung tidak terima.


"Ckk.. ternyata memang benar kalau cinta itu bisa membuat orang bodoh!"


"Apa sih Njuuulll, nggak usah bikin perkara bisa nggak, bukannya ngasih solusi malah tambah bikin pusing aja kamu ini!"


"Kasih sogokan dulu sini, biar aku beritahu caranya!"


"Sogokan apaan, mau istri kamu aku sogok!"


"Pffthh!" Eyang dan Ratu langsung menahan senyuman saat mendengar perdebatan dua sahabat itu.


Plak


"Sembarangan aja kalau ngomong!" Panji langsung memukul lengan Arga dengan kesal.


"Ya sudah... Buruan kasih tahu, sama temen sendiri aja banyak perhitungan deh kamu." Arga pun langsung menggendong Hugo yang terbengong seperti sapi ompong karena tidak paham maksud perkataan orang-orang dewasa itu.


"Kamu kan bisa tanya di bagian administrasi Kampus, semua data mahasiswa juga pasti ada disana."


"Ide yang bagus, kalau begitu saya permisi Eyang,doakan semua lancar ya Eyang, biar kita bisa cepet makan nasi kenduri."


"Tentu saja, jangan lupa bawa anakmu, biar bisa jadi senjata manjur untuk membawanya kembali pulang." Eyang langsung memberikan trik terjitu untuk menakhlukan Melody nantinya.


"Maksud Eyang Hugo?"


" Siapa lagi, Melody bisa menolakmu, tapi dia tidak akan bisa menolak cucu ganteng kesayangan Eyang ini ya kan?"


"Woah... I love you Eyang!"


Dengan santainya Arga langsung mencivm kening Eyang sebagai hadiah untuk ide cemerlang itu.


"Hehe.. Siapa dulu dong, EYANG ROMLAH gitu loh!"


"Huuuu... Dasar Eyang ganjen!" Ledek Panji saat melihat Eyangnya seperti orang kesengsem karena mendapatkan hadiah sebuah kecvpan.


"Aaaaaaa... Aku jadi iri sama Eyang." Umpat Ratu tanpa sadar.


"Iri apa kamu, mau jugak!"


Cup.. Cup.. Cup.. Cup..


Panji merasa tidak terima istrinya menoleh kearah pria selain dirinya dan langsung menghujani puluhan kecvpan diwajah istrinya.


Sedangkan Arga tidak mau membuang waktu lagi, dia langsung pulang ke rumah dan bersiap menjemput Takdirnya untuk pulang kembali bersamanya.


Takdir bukanlah masalah kesempatan. Ini masalah pilihan. Ini bukan hal yang harus ditunggu, itu adalah hal yang harus dicapai.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2