
...Happy Reading...
Entah kegilaan apa lagi yang terjadi dengan pasangan absurd yang satu ini, walaupun mereka menikah tanpa rasa cinta sedikitpun namun ternyata tanpa di sadari tubuh mereka seolah saling menerima satu sama lain.
Bahkan Panji semakin bersemangat mengeny*t dua gunung itu saat mendengar suara de sahan dari istri belianya, namun saat Panji ingin segera menjebol sesuatu yang menjadi jalan anak buahnya satu-satunya, ada saja halangan yang menghadang.
Apalagi mereka melakukan itu di kursi sofa kecil yang berada di dapur, ditambah lagi lampu penerangan disana cukup terang, untuk bisa ditonton dari arah manapun.
Namun tanpa disangka Gendhis yang sedari tadi resah menunggu adeknya didalam kamar merasa kehausan dan ingin meminum sesuatu dari dapur yang hangat, karena perutnya terasa kembung, dan tidak enak, namun malah melihat atraksi gila dari sepasang suami istri itu.
Sebenarnya itu hal yang wajar ketika dilakukan oleh pasangan suami istri, tapi jika Panji yang melakukannya itu terasa sangat menusuk dan menyiksa diri Gendhis, apalagi pria yang sangat dia sayangi itu melakukannya dengan adek kandung yang dia sayangi juga.
Seolah hatinya sakit bagai teriris sembilu tajam, apalagi Panji terlihat sangat menikmati adegan fanas itu.
" Mas Panji, kamu jahat mas, hiks.. hiks.."
Gendhis menjerit dengan histeris dengan air mata yang sudah membanjiri wajah cantiknya.
" Pak... eh... Mas... eh... anu... udah dong enyennya, ada kak Gendhis itu!"
" Hemm.. Nyot.. Nyot..."
Entah apa yang terjadi dengan otak cerdas sang dosen ini, semakin Ratu memelototinya, dia semakin semangat menghi sapnya.
" Pak Dosen yang terhormat, bisa dilepasin enggak!" Ratu langsung memegang kepala suaminya dengan gemas.
Gubrak!
Saat mereka masih berdebat, ternyata Gendhis tiba-tiba langsung tidak sadarkan diri dan jatuh diantara serpihan kramik dari vas bunga besar yang jatuh pecah berhamburan di lantai tadi.
" Astaga, kak Gendhis!"
Ratu langsung mendorong paksa tubuh suaminya dan melompat kearah kakaknya yang sudah tergeletak pingsan disana, sambil membenahi bajunya yang compang-camping karena ulah Panji.
" Ratu, kamu pakai dulu kain dalamanmu itu, biar aku yang mengangkat tubuh kakakmu!"
Setelah sperskian detik akhirnya Panji sadar dan langsung mengambil pakaian dalam istrinya yang berhasil dia lepas tadi.
" Aish... Gimana ini, gara-gara pak dosen ini, bawa kak Gendhis ke kamar, aku ke toilet sebentar!" Ratu langsung berlari pergi ke kamar mandi dan membenahi kembali bajunya.
" BROTO SUSENO, dimana kamu, istrimu pingsan ini, woi...!"
Panji langsung berteriak memanggil Broto saat mengingat kalau dia adalah seorang dokter.
" Apalagi ini?" Broto langsung menyatukan alisnya saat melihat Gendhis berada didalam gendongan Panji.
" Dia pingsan, coba kamu periksa dia!"
" HAH? KENAPA BISA, sini biar aku yang menggendongnya!" Broto langsung mengambil alih Gendhis dari dalam dekapan Panji.
Mereka bertiga akhirnya duduk mengelilingi Gendhis yang belum sadarkan diri dengan wajah harap-harap cemas.
Broto dengan telaten membersihkan luka goresan potongan kramik di kaki dan lengan Gendhis, dan menempelkan plaster dengan hati-hati, walau sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam.
" Bang.. Bagaimana keadaan kak Gendhis, apa dia baik-baik saja? Kenapa dia nggak bangun-bangun?" Tanya Ratu yang merasa bersalah dalam hal ini, apalagi beberapa hari sebelumnya dia terlihat baik-baik saja, tidak ada keluhan apapun.
Saat ini Broto juga belum bisa menganalisa lebih jauh lagi tentang keadaan Gendhis, selain itu karena memang tidak ada peralatan check up yang komplit juga di Villa itu, hanya ada kotak p3k saja.
" Kamu panggil dia apa?" Panji langsung menarik dagu Ratu yang duduk disampingnya, agar Ratu menatap dirinya.
" Apaan sih pak, emang dokter Broto abang aku sekarang kan." Ratu langsung mengibaskan tangan suaminya, bisa-bisanya dalam situasi panik begini dia masih mempermasalahkan nama panggilan pikirnya.
" Tuh... Kamu panggil aku pak lagi? Kamu bisa nggak sih nggak bikin aku kesel!" Panji merasa tidak suka, dia merasa tidak mendapatkan keadilan dari Ratu.
" Ya ampun, aku cuma lupa aja mas." Ratu hanya bisa menghela nafas panjangnya, entah mengapa dosennya yang sedari dulu cuek dan galak dengannya tiba-tiba berubah menjadi posesif dan sensitif seperti ini.
" Masak sama dia nggak lupa, tapi sama suami sendiri kamu lupa, kebangetan banget kamu ini!" Panji merasa tidak terima akan hal itu.
" Hei... Kalian kalau mau berantem pergi keluar sana, jangan ganggu kakak kalian bisa nggak, bikin kepala tambah pusing aja kalian berdua ini!" Broto langsung berkacak pinggang melihat mereka berdua.
" Maaf deh bang, ini nih mas Panji ngajak ribut aja."
" Kalian keluar saja dulu, biar aku yang menjaga kakak kamu, nanti kalau dia sadar aku panggil kalian." Broto terlihat khawatir, apalagi Gendhis sedang mengandung anaknya dan dia tidak bisa memeriksa menyeluruh keadaannya.
" Ya sudah kalau begitu, kami ada didepan Villa." Panji langsung merangkul pundak Ratu dan membawanya keluar.
" Mas, gimana dong kalau kak Gendhis nggak sadar-sadar, disini kan jauh banget dari rumah sakit, kalau ada apa-apa dengan kandungannya, itu salah kita dong mas?"
" Sudahlah, kita berdoa saja, semoga kakak kamu baik-baik saja, lagian bukan salah kita sepenuhnya, kita melakukan hal yang wajar sebagai suami istri, kakak kamu aja yang lagi apes trus melihat a degan kita." Panji pun sebenarnya merasa risau, namun dia mencoba untuk menenangkan hati istrinya yang terlihat gusar.
__ADS_1
" Bapak sih, enyen terus kayak bayi tuek, kan kasian kak Gendhis jadinya." Ratu langsung memukul dadaa bidang suaminya.
" Habisnya enak, itu kamu ngangenin banget!"
" Ngangenin gimana, orang baru pertama kali kok!"
" Siapa bilang?"
" Jadi?"
" Eherm.. nggak papa Ratu, kakak kamu pasti baik-baik saja, kita berdoa saja ya?" Panji hampir saja kembali keceplosan kalau dia bukan sekali melakukan hal itu.
" Tapi aku takut mas, nanti kalau terjadi hal yang tidak diinginkan pasti aku yang akan disalahkan ayah sama ibuk, mana kak Gendhis anak kesayangan mereka lagi, gimana dong pak!"
" Jangan takut Ratu, ada suamimu disini, aku yang akan bertanggung jawab atas semua kejadian ini, kamu tenang ya."
" Tapi mas?"
" Sini mas peluk, jangan khawatir Ratu, aku akan melindungi kamu dalam masalah apapun, don't be sad, right?" Panji langsung menarik tubuh ramping istrinya dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
Tiba-tiba saat mereka masih saling berpelukan, ada bunyi helikopter dari atas atap Villa itu.
" Apa itu mas? Ada apa, kenapa ada helikopter, jangan-jangan ada teror isme di Villa ini? Aduh.. gimana ini mas?"
" Nggak mungkinlah Ratu, kamu ini pikirannya kenapa sampai kemana-mana? Orang Villa ini cuma ada kita berempat aja." Panji pun merasa was-was juga, karena tidak mungkin sebuah helikopter mendarat sembarangan, pasti ada sebabnya.
Ratu langsung terlihat panik dan ketakutan, dia langsung memilih bersembunyi dibelakang tubuh kekar Panji saat melihat helikopter itu mendarat ditepi pantai depan Villa yang mereka tempati itu.
" Selamat malam." Sapa seorang pria dan wanita yang baru saja turun dari helikopter itu.
" Mampus kita mas, mereka beneran kesini loh, tapi kok ada wanita juga ya?" Tangan dan kaki Ratu bahkan terlihat gemetaran karenanya.
" Sita, cepat kamu periksa Gendhis didalam!" Broto yang mendengar suara helikopter langsung berlari keluar Villa dan menemui rekan dokternya.
" Hah? Helikopter itu abang yang nyuruh datang?" Ratu dan Panji langsung terlihat melongo saat melihatnya.
" Nggak usah Katrok jadi orang, dia dokter spesialis kandungan."
" Bukan masalah dokternya, tapi helikopternya!" Tanya Ratu yang sudah terlihat heboh, dia tidak menyangka bahwa Broto se wow itu pikirnya.
" Cih... Kamu belum kenal lagi siapa abang iparmu ini, ayo masuk, kita lihat keadaan kakakmu!" Broto langsung bergegas meninggalkan mereka yang kesal namun sudah pasti kagum juga dengannya.
Broto memang sengaja menyewa sebuah helikopter dengan salah satu kenalannya, agar bisa menyuruh Sita datang ke Villa itu untuk memeriksanya, Broto tidak punya pilihan lain untuk mempersingkat waktu walau harus merogoh kocek yang tidak sedikit, namun tidak masalah baginya, karena kalau harus menggunakan kendaraan darat ataupun laut akan memakan banyak waktu dan Broto tidak ingin sesuatu hal buruk menimpa istri dan janin didalam perutnya kalau semua terlambat.
" Apa keadaan Gendhis cukup mengkhawatirkan?" Broto kembali terlihat panik.
" Kalau Gendhis sendiri aku rasa baik-baik saja, sebentar lagi dia juga pasti sadar, tapi yang saya khawatirkan adalah janin yang ada didalam kandungannya." Sita sudah mempertimbangkan semuanya sebagai dokter kandungan yang sudah berpengalaman.
" Kalau begitu kita pindahkan saja sekarang juga, lebih cepat ditangani lebih baik." Broto pun tidak mau memunda waktu lagi, apapun akan dia lakukan untuk kebaikan keduanya.
" Trus kami gimana dong bang?" Tanya Ratu yang ikut gelisah.
" Terserah kalian saja, kalau kalian mau ikut cepat naik, kalau mau lanjut bulan madu silahkan, aku tidak perduli dengan kalian!" Umpat Broto.
" Ikut lah!" Jawab Ratu tanpa pikir panjang lagi, dia langsung ingin naik kedalam Helikopter itu.
" Barang-barang kita gimana? Kita belum sempat beres-beres ini?" Panji teringat barang mereka di Villa.
" Kamu saja yang membereskannya, skalian punyaku sama punya Gendhis, aku harus memindahkan dia sekarang juga ke rumah sakit."
" Kalau begitu Ratu berangkat denganku saja!" Panji langsung menarik ratu untuk kembali turun dari helikopter lagi.
" Tapi pak, aku mau nemenin kak Gendhis!" Rengek Ratu.
" Siapa yang berencana mau bulan madu ke sini coba? Kenapa jadi aku yang harus ditinggal disini sendirian membawa barang kalian?" Umpat Panji dengan kesal.
" Sudahlah... Kalian membuang-buang waktu kami saja, kita berangkat sekarang!" Teriak Broto yang sudah tidak sabaran.
" Abang, tunggu!" Panggil Ratu kembali.
" Kamu temani saja suamimu itu, biar kakakmu aku yang mengurusnya, lagian ada atau tidaknya kalian berdua juga tidak penting!" Umpat Broto yang langsung menyuruh pilot itu untuk segera berangkat.
Akhirnya helikopter itu terbang meninggalkan Ratu yang terlihat bersedih, walau dia dengan kakaknya jarang bertemu tapi Ratu sangat menyayangi kakaknya, dia yang dulu selalu menemaninya bahkan sering menjadi walinya saat kedua orang tuanya sibuk bekerja di rumah sakit.
" Sekarang kita bereskan barang bawaan kita, pagi-pagi sekali kita langsung berangkat pulang, okey?" Panji mengusap rambut Ratu perlahan.
Panji tahu, istrinya itu pasti merasa bersalah dan khawatir juga, dia pun sama, namun ini juga bukan keinginan mereka pikirnya, jadi Panji lebih memilih berfikir positif saja.
Bahkan mereka berdua mengemas semua barang bawaan dalam diam, tanpa istirahat dan memejamkan mata walau sekejab saja, sampai pagi menjelang dan matahari mulai muncul di permukaan bumi.
__ADS_1
" Ratu, speedboatnya sudah datang, kita pulang sekarang."
Ratu hanya menggangukkan kepalanya sambil menenteng tas milik kakaknya, wajahnya terlihat lesu, karena memang mereka bergadang sampai pagi, bukan hanya karena beberes, tapi karena rasa bersalah mereka, sedangkan Panji membawa barang lainnya yang tersisa kedalam speedboat itu.
Ting
Satu pesan masuk kedalam ponsel Panji saat speedboat itu belum berjalan.
" Ratu!"
Senyum Panji terukir diwajahnya yang tadinya ikut suram itu, saat melihat layar ponselnya.
" Ada apa? Apa yang terjadi?"
Ratu langsung mendekat kearah suaminya dengan wajah penasaran.
" Kakakmu baik-baik saja dan janin yang ada di dalam kandungannya juga berhasil diselamatkan, jadi kita bisa tenang sekarang."
" Benarkah, siapa yang bilang?"
" Broto, tadi aku mengirimnya pesan dan dia sudah membalasnya.
" Alhamdulilah..."
Ada rasa kelegaan yang tak terkira saat mendengarnya, dia tidak bisa membayangkan jika terjadi hal buruk pada kakaknya.
" Ratu, kita pulangnya besok aja ya, kakak kamu kan sudah baik-baik saja sekarang." Panji mulai modus, apalagi saat mengingat has ratnya tadi malam yang belum tersampaikan.
" Ckk... Sudahlah pak kita pulang aja, lagian semua juga udah kita kemas, tinggal berangkat aja." Jawab Ratu yang mood nya memang sudah memburuk.
" Tapi Ratu?"
" Tuan, Nona, semua sudah siap, bisa kita berangkat sekarang?" Tiba-tiba sopir speedboat itu mendatangi mereka.
" Iya pak, ayo kita berangkat." Ratu langsung menjawabnya dengan cepat, walaupun dia sudah lega tapi seolah mood liburannya sudah hancur.
Dan Panji pun hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, tidak mungkin juga dia memaksakan kehendaknya sendiri, walaupun sebenarnya dia bisa namun tidak ada gunanya juga kalau hanya dia yang berkemauan sendiri.
" Ratu, kamu bisa kerikin badan aku nggak?"
Tiba-tiba terlintas satu ide gila dari Panji, namanya juga pria, saat sudah merasa nyaman dengan seseorang dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, apalagi memang tidak ada larangan bagi mereka.
" Emang kenapa? Bapak masuk angin?"
" Sepertinya iya, kita kan nggak tidur semaleman."
" Tapi aku nggak pernah ngerikin orang mas, cuma pernah lihat si bibi aja ngerikin mamang waktu itu." Jawab Ratu dengan jujur.
" Nggak papa, dicoba aja sebisanya, kita ke ruang istirahat di belakang yuk, disana ada kursi panjangnya." Panji langsung pergi kebelakang dengan senyum penuh makna.
Speedboad mewah itu pun perlahan mulai berjalan, meninggalkan Villa indah ditepi pantai itu.
Namun saat dalam perjalanan, sang sopir merasakan ada sesuatu yang aneh dibelakang sana.
Ukuran speedboad mewah itu memang tidak terlalu besar, sebagai sopir yang sudah berkecimpung diatas air laut selama puluhan tahun, dia bisa mendeteksi getaran-getaran atau goyangan apapun yang terjadi pada speedboat itu.
" Apa ada yang bocor dibelakang ya? Atau ada sesuatu yang menghantam speedboat ini? Kok kayaknya ada getaran lain disana?" Sopir speedboat itu ragu, namun demi keselamatan bersama, dia memilih memeriksanya sebentar dan menyuruh rekannya unyuk menggantikan dirinya.
" Permisi, tuan dan nona, saya mau...?" Sopir itu tidak jadi meneruskan ucapannya saat dia mendengar suara mereka dibelakang sana.
" Hmpth... Umm.. Aaw.. Sakit mas.. Aduh.."
" Sabar Ratu... Sebentar lagi ini."
" Aw.. Aw.. Perih mas, aku nggak mau!"
" Ssh... Nanggung Ratu, sabar ya sayang.. Euh!"
Sopir speedboad itu langsung terdiam ditempat, saat mendengarkan suara sahut-sahutan dari ruangan istirahat yang ada di bagian paling belakang.
" Aish... apa yang mereka lakukan dibelakang sana? Aduh... Kenapa Lontongku jadi ikutan gerak ini jadinya, haduh... Mana istri lagi datang bulan lagi, sialll."
Akhirnya dengan tampang mupengnya, sopir speedboad itu kembali berjalan ke tempatnya semula, sambil mendekap lontongnya yang mulai membesar dan berulah di sarangnya.
Kalau ada kesempatan emas, terjang saja dimanapun dan kapanpun, ya kan?
Ada hal yang menurutmu sederhana tapi ternyata sangat membahagiakan orang lain.
Ada hal yang menurutmu wajar tapi ternyata sangat melukai perasaan orang lain.
__ADS_1
Kita lahir dan tumbuh di lingkungan yang berbeda, kita menjalani fase-fase hidup yang berbeda juga, maka benar saja jika kita tak sama.
Jangan meremehkan perasaan orang lain, jangan mengukur perasaan orang lain dengan penggaris perasaanmu, karena kamu tidak pernah tahu apapun isi hati orang lain.