Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
21. Pedasnya Rumput Tetangga


__ADS_3

...Happy Reading...


Akhirnya disore yang cerah itu, Ratu memilih mengenakan kaos oblong berwarna putih yang lumayan kedodoran karena bukan sizenya, namun karena paras tubuh Ratu yang memang proporsional, jadi tetap terlihat cantik walau mengenakan pakaian model apapun.


Bahkan saat ini dia terlihat spek artis Korea, hanya dengan memasukkan kaosnya kedalam celana jeans ketat berwarna biru yang dipakainya.


" Sudah belom, nggak mandi aja lama banget kamu didalam kamar mandi Ratu?" Panji berdiri menyandarkan tubuhnya disamping pintu kamar mandi yang berada didalam kamarnya.


" Iya sebentar lagi pak, tungguin loh ya!"


Sedari tadi Ratu merengek tidak mau ditinggal Panji turun duluan, alasannya masih sama, karena rumah dosennya itu dia anggap berhantu.


" Kamu ini, nggak soal pelajaran, nggak didalam kamar mandi semua lelet, kebiasaanmu itu buruk banget! aku heran kenapa kalian itu kakak beradik, tapi nggak ada mirip-miripnya sama sekali kan, lain kali contohlah kakak itu, emm... eh Ratu, kamu yakin kalau kamu itu bukan anak pungut kan?" Tiba-tiba terbesit sesuatu dipikiran Panji saat mengingat perbedaan diantara mereka.


" Ckk... bapak tau artinya sakit tapi tidak berdaraah nggak sih?"


Ratu keluar dari kamar mandi dengan sedikit membenturkan pintu itu, karena dia merasa sangat kesal, dirinya paling tidak suka jika dibanding-bandingkan walau dengan kakak kandungnya sendiri.


" Manalah kutahu?" Jawab Panji dengan cuek, sebenarnya dia hanya iseng bercanda saja tadi.


" Nih ya pak, jangan pernah membandingkan hidup kita dengan orang lain. Tidak akan ada perbandingan antara Matahari dan Bulan, karena mereka bersinar, ketika saatnya tiba."


Skak!


Entah tingkat kecerdasanku yang mulai melemah karena faktor umur, atau bocah ini yang terlalu licik untuk membalikkan semua ucapanku, lama-lama kok kesel sendiri saat berdebat dengannya!


" Suka-suka hatimu lah Ratu, bapak malas membahasnya, ayo kita turun, mereka pasti sudah menunggu!"


Panji selalu saja dibuat terpaku jika sudah beradu argumen dengan Ratu, ada saja jawaban darinya yang selalu membuat dirinya kesal.


" Dasar dosen killer, aku rasa hatinya itu sudah dikiloin bareng sama hati ayam di Pasar, kalau ngomong itu loh, nggak punya perasaan sama sekali." Umpat Ratu yang langsung memilih berjalan mendahului Panji yang menatapnya dengan sinis.


" Kamu ngomong apa kumur-kumur? bapak nggak dengar?" Panji langsung mengikuti langkah mahasiwanya itu dari belakang.


" Ehh... asyik ada pak Arga, kayak gini nih vibes pria idaman, sudah tampan dan yang paling penting dia tidak pernah menyakiti hati orang lain, nggak kayak sahabatnya itu." Sindir Ratu dengan wajah sumringah saat melihat betapa menawannya suami orang dibawah sana.


" Heleh... asal kamu tidak lupa saja, kalau dia itu sudah menjadi suami orang!"


" Mau suami orang juga dia tetap menawan hati, hai... pak Arga!" Ratu langsung melambaikan tangannya kearah Arga yang sudah duduk di meja makan.


" Ssstt... kamu tahu nggak siapa wanita yang sedang duduk disampingnya sambil memangku seorang anak yang lucu itu?"


Kata-kata Panji langsung berhasil menghentikan langkah Ratu seketika.


" Saudaranya mungkin?"


Ratu langsung memperhatikan dengan seksama seseorang yang duduk disamping dosen favoritnya itu.


" Salah, tapi dia itu adalah istri dan anak kesayangan dari dosen favorit kamu itu, haha!"


Panji langsung terkekeh saat melihat raut wajah Ratu yang langsung berubah dan lebih terlihat kecewa.


" Yaelah... apes bener dah gue hari ini, sudah disiram kembang kuburan, ditambah lagi harus melihat kenyataan yang pahit ini, ampun dah Gusti nu Agung."


Namun mau tidak mau, Ratu tetap melangkahkan kakinya, walau semangatnya kini tak lagi membara.


" Jangan mimpi kamu, dia cinta terlarang untukmu!" Ejek Panji masih dengan senyum sinisnya.


" Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi.. Hanya untuk bersamanya.. Ku mencintainya sungguh mencintainya.. Rasa ini sungguh tak wajar.. Namun ku ingin tetap bersama dia.. Untuk selamanya.. ho uwooo!"


Mau sedih atau bahagia, ketika ada lagu yang menurut Ratu pas dihati, pasti akan dia nyanyikan saat itu juga.


" Ratu? kamu juga datang kesini? lagi akur kamu sama dosenmu yang satu ini? kelihatannya kayak senang begitu?"


Arga langsung mengerutkan kedua alisnya, saat melihat Ratu berjalan turun dari tangga bersama Panji, bahkan sambil bernyanyi.


" Astaga, lagi sedih ini pak!"

__ADS_1


Ratu langsung menarik kursi disamping Gendhis, dan ternyata kursinya berhadapan langsung dengan istri Arga.


Cantik sih? tapi menurutku masih di level biasa aja, kalau dilihat-lihat kalah jauh dariku, mana aku lebih muda, lebih semlehot dan lebih segala-galanya dari dia, apa coba kelebihan darinya yang mampu mengunci seorang pak Arga Madharsa untuk tetap setia hanya dengannya?


Ratu bahkan tidak memperdulikan makanan yang diambilkan oleh Gendhis untuknya, kedua matanya terus saja menelisik wanita yang murah senyum dihadapannya itu.


" Ssstt... makan dek, tadi katanya mau makan seafood asam pedas?" Gendhis menyenggol lengan Ratu dan berhasilkan membuyarkan lamunannya tentang istri dari dosen idolanya itu.


" Iya kak."


Hidangan favorit Ratu itu seolah hambar tiada rasa, padahal biasanya dia paling kalap, walau baru mencium bumbu asam pedas seperti itu saja.


" Sayang, kamu mau makan daging kepitingnya nggak?" Arga langsung melirik istrinya, saat Hugo tidak bisa diam ketika duduk dipangkuan istrinya.


" Mas aja makan duluan, Hugo gerak-gerak terus ini, nggak bisa diam, takutnya malah numpahin makanan kemana-mana nanti." Jawab Istri Arga yang terus mendekap Hugo dihadapannya.


" Mas suapin aja, kamu mau pake sambalnya apa enggak?" Arga langsung sigap mengupaskan cangkang dari kepiting itu.


" Boleh deh mas." Jawab Istri Arga dengan senyum malu-malu, walau keluarga Panji sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.


" Aak dulu sini!" Arga dengan luwesnya menyuapi istrinya, bahkan dengan tangan.


" Terima kasih sayang, mas makan juga dong?" Istri Arga menerima suapan itu dengan senyum kebahagiaan, suaminya itu memang selalu memperlakukan dirinya secara istimewa sedari dulu sampai sekarang.


" Iya, mas udah kenyang juga kok, mas suapin buat kamu saja ya."


Arga bahkan mengusap rambut istrinya dengan tangan kirinya, didepan semua orang yang ada disana tanpa rasa malu sedikitpun, dia tahu diusia Hugo yang sekarang ini, dia lagi aktif-aktifnya, sehingga istrinya itu sering kuwalahan saat menghadapi tingkah anak semata wayangnya.


" Ratu... usap dulu air matamu itu, netes pula ke makanan, tambah asin nanti rasanya." Panji langsung menggeser kotak tissu ke hadapan Ratu sambil tersenyum menyeringai.


" Fuuh.."


Kok perih ya?


Entah mengapa saat melihat kemesraan diantara mereka berdua secara langsung seperti ini, membuat rasa iri dihati Ratu muncul seketika, ditambah lagi saat melihat Arga yang selalu tersenyum dengan tampannya ketika menatap wajah istrinya, seolah ada sayatan luka yang terkena alkohol didirinya.


Gendhis langsung dengan sigap mengambilkan tissu untuk adeknya, dia merasa aneh sendiri, karena menurutnya masakan itu tidak terlalu pedas, bahkan ada rasa manisnya juga.


" Pffftthhh...! bukan masakannya yang pedas sayang, tapi rumput tetangga itu yang lebih pedas."


Hari ini Panji sudah berulang kali dibuat terkekeh geli oleh sosok Ratu.


" Hah? maksudnya gimana sih mas?" Gendhis merasa bingung sendiri jadinya, dia tidak paham dengan apa yang diucapkan Panji.


" Sssttt... Adekmu itu tergila-gila sama suami orang." Bisik Panji sambil mengusap bibiir kekasihnya yang sedikit terkena saos itu dengan penuh kelembutan.


Astaga, pantas saja dia nggak pernah cerita kalau punya pacar apa belum selama ini, jadi ini alasannya?


" Suami orang, siapa mas?" Pikiran Gendhis langsung bercabang kemana-mana.


" Arga, tambah lagi nih kepitingnya, suapin lagi yang banyak istrimu itu, kasian mbak Nita nanti kurus karena kecapekan mengasuh keponakan aku yang ganteng itu." Panji langsung sengaja mengalihkan pandangan matanya ke Arga.


" Maksud mas dia?" Gendhis langsung mengikuti kemana arah pandang dari kedua mata kekasihnya itu pergi.


" Hmm." Panji memilih berdehem ria saja.


" RATU!"


Tiba-tiba emosi Gendhis tanpa sadar meledak saat itu juga, dia lupa kalau saat ini dia sedang berada diantara calon keluarga masa depannya nanti.


" Uhuk... uhuk... kenapa kak?" Ratu langsung tersedak saat makanan itu dia paksa masuk kedalam perut.


" Nak Gendhis? ada apa?"


Bahkan ibu Panji yang baru menikmati lezatnya hidangan mereka itu ikut terkejut saat mendengarnya.


" Owh... maaf, nggak papa kok Tante, ini Ratu sedikit jahil."

__ADS_1


Ingin sekali Gendhis pulang saat itu juga karena merasa malu sendiri, baru pertama jumpa dengan keluarga kekasihnya saja dia sudah membuat kesalahan pikirnya.


" Ckk... apaan sih kak, orang aku diem aja!" Umpat Ratu yang langsung tidak terima.


" Gendhis, Om mau nanya sesuatu, tapi maaf kalau kamu kurang berkenan nantinya."


Akhirnya ayah Panji mengalihkan kepanikan diwajah Gendhis, karena tidak lagi membahas soal suaranya yang tiba-tiba meninggi.


" Owh... silahkan om." Jawab Gendhis dengan sopan.


" Apa kamu sudah siap jika Panji melamarmu sekarang?"


" Hah? ehh..."


Dia sungguh tidak menyangka, jika orang tua kekasihnya langsung yang akan mengatakan hal ini.


" Tapi kalau kamu belum siap ya nggak papa, bicarakan saja dulu berdua dengan Panji, kami hanya berharap kalian segera memutuskannya, karena lama-lama pacaran juga tidak baik kan, banyak menimbulkan fitnah, kalau kalian rasa sudah cocok, ngapain mesti ditunda-tunda ya kan?" Ibu Panji langsung ikut mengomentarinya.


" Baik Tante, kalau aku sih ikut mas Panji saja gimana baiknya." Antara terkejut namun juga senang saat Gendhis mendengarnya.


" Woah... kalau begitu pasti akan ada berita baik setelah ini." Ibu Panji langsung terlihat sumringah, karena sebelumnya Panji sudah bercerita banyak tentang kekasihnya itu.


" Tunggu!"


Tiba-tiba Eyang Romlah muncul dan langsung ikut bergabung di meja makan panjang itu.


" Kenapa Eyang?" Tanya Panji yang langsung membantu membenahi kursi Eyangnya.


" Eyang kurang setuju jika kalian menikah secara terburu-buru."


" Maksud Eyang apa ini? bukannya Eyang yang selalu mendesak Panji agar segera menikah?" Tanya Panji dengan heran, kemarin semangat sekali saat menyuruhnya menikah, sekarang lain pula ceritanya.


" Eyang, kalau mereka sudah mau langsung menikah, kenapa tidak?" Ibu Panji menatap heran dengan ibu mertuanya itu.


" Mereka kan baru kenal sebentar? baru berapa minggu juga pacarannya kan?"


" Eyang, bukannya pacaran setelah menikah itu akan lebih bagus, kalau sudah halal itu sebagai orang tua kita malah bisa tenang, mereka mau ngapain aja bebas, ya kan Yah?"


" Hmm... kalau ayah sih terserah mereka saja, pernikahan itu kan mereka yang menjalani, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka."


Sebagai ayah yang bijak dia memutuskan semua keputusan kepada anaknya, karena menurut dia Panji sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik untuk dirinya dan masa depannya nanti.


" Tapi...?"


" Eyang... katanya mau cepat dapat cucu? Panji udah siap lahir batin ini." Panji pun ikut heran dengan sikap Eyangnya, padahal tadi pagi baik-baik saja pikirnya.


" Tapi Panji?"


" Sssttt... atau Eyang mau Panji membujang sampai tua?"


" Diih... amit-amit jabang bayik!"


" Ya sudah, kalau begitu biarkan aku secepatnya menikah dengan Gendhis." Ucap Panji dengan mantap.


" Kalian tunangan saja dulu, dua atau tiga bulan kemudian baru menikah."


" Tapi Eyang?" Panji semakin aneh dengan pemikiran Eyangnya yang dia rasa plin plan itu.


Entah kenapa aku merasa ada yang salah dengan hubungan mereka, kenapa firasatku mengatakan jodoh Panji bukan dia, tapi malah adeknya, atau ini karena aku yang salah memberikan sesajen tadi untuknya? astaga...


" TITIK!"


Hanya satu kata yang keluar dari mulut Eyang Panji, sebelum akhirnya Eyang Romlah memilih pergi meninggalkan meja makan itu, dan mampu membuat mereka semua terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.


Sedari tadi pikiran Eyang Romlah tidak tenang, apalagi setelah melihat Panji dan Ratu saat didalam kamar tadi.


Walau bukan hal yang menurut mereka romantis, tapi mampu membuat kepala sang Eyang merasa pusing tujuh keliling, bukan karena faktor usia yang semakin renta, tapi karena firasatnya mengatakan Berbeda.

__ADS_1


..."Apabila yang ada didepan membuatmu takut dan yang ada dibelakangmu pernah membuat luka, lihatlah ke atas: Sungguh Alloh tidak pernah gagal dalam menolongmu."...


__ADS_2