
...Happy Reading...
Pagi ini suasana kota diguyur hujan yang cukup deras, bahkan dari semalam air-air di sungai banyak yang meluap, rumah yang berada di pinggiran kota banyak yang tergenang karena luapan air hujan.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun Panji masih menggunakan baju rumahan, padahal biasanya dia sudah rapi jam segini dan bersiap akan pergi ke Kampus untuk mengajar.
" Selamat pagi Ayang."
Kalau moodnya sudah membaik, Ratu memang sering menggoda suaminya kalau sedang santai di rumah, bahkan dia juga sering menjahili suaminya sampai akhirnya mereka kejar-kejaran seperti kakak adek yang tidak pernah bisa akur.
" Ratu, mau dipeluk!" Rengek Panji sambil merentangkan kedua tangannya.
" Dih... Apaan sih ini? Mas belom mandi kan?" Ratu langsung mendorong tubuh suaminya, karena tidak biasanya jam segini dia masih menggunakan celana pendek dan t-shirt saja.
" Sudah Ratu... Kamu kok udah cantik aja, mau kemana kamu?" Panji mengamati penampilan istrinya yang masih berdandan layaknya seorang gadis lajang, sambil turun tangga dan mengantongi tangannya.
" Hidih... Istri mas ini, emang sudah cantik dari bawaan orok, jadi nggak usah terkagum-kagum gitu kenapa, biasa aja!" Jawab Ratu dengan tingkat kepercayaan diri yang sudah melambung tinggi.
" Ckk... Menyesal mas memujimu tadi." Umpat Panji yang langsung menghadang tubuh Ratu di tengah-tengah tangga.
" Hehe... Siapa suruh pagi-pagi udah basa-basi begini, ya mau ke Kampus lah, kemana lagi? Udah jam berapa ini, mas nggak ngajar apa? Jadwal mas kayaknya pagi kan?" Ratu langsung memundurkan tubuhnya mencoba menjauh dari tubuh Panji, walau pun itu terasa sulit.
" Ratu... Pagi ini kamu bolos aja ya?"
" HAH? Astaga? kerasukan syaiton dari mana kamu mas? Tumben banget nyuruh aku bolos?"
Mulut Ratu langsung menganga, dosen yang paling killer dan dulu sering menghukumnya karena sering bolos, hari ini menyuruhnya untuk bolos dengan terang-terangan.
Hal itu bahkan ibarat menemukan pohon buah strawberi di hamparan padang pasir yang panas dan gersang.
" Apa kamu bilang! Berani kamu doain mas kerasukan syaiton begitu!" Panji langsung memeluk istrinya dengan paksa.
" Bukan begitu, tapi tumben banget gitu loh mas, kena sawan atau bagaimana sih?" Ratu seolah masih belum percaya dengan kata-kata bolos keluar dari mulut suaminya.
" Ya nggak papa, lagian juga suami kamu ini kan dosen, bisa ngajarin kamu materi pelajaran kelas kamu hari ini." Panji langsung mengungselkan wajahnya di leher Ratu, seolah mencari kehangatan disana.
" Ogaah... Kenapa sih, mas lagi nggak enak badan ya?" Ratu langsung menempelkan punggung tangannya ke kening suaminya untuk memeriksa suhu badannya.
" Enggak... Cuma kemarin kata pak Rektor mas disuruh ngajar dari rumah aja."
Woah... pantesan, ternyata ini konsekwensinya?
" Ngajar dari rumah? Maksudnya gimana?"
" Ngezoom kan bisa, jaman sekarang semua serba bisa kan Ratu?"
" Tapi kenapa? Apa mas dipecat dari Kampus?" Ratu belum begitu paham juga kisah mereka setelah ini.
" Entahlah, aku rasa enggak, mungkin mas cuma dirumahkan sementara sampai gosip kita mereda, jadi sebaiknya kamu bolos saja, nanti biar mas yang jadi dosen privat kamu."
Mampus dah gue, kalau diajarin dia privat dirumah bisa botak kali kepala gue, mana gue nggak bisa nyontek sama Melody lagi nanti, Aduh...nggak boleh jadi ini!
" Aaaaaa... Ini semua gara-gara mas sih, tapi tenang aja, nanti biar aku bicara sama paman, kalau cuma digosipin doang aku sih biasa aja, nggak perlu didengarkan omongan orang, lagian juga yang ngejalanin hidup kita kok, biar aja mulut mereka sampai berbusa, gue sih makin tenar malahan."
Ratu langsung melepaskan diri dari pelukan suaminya dan menuju ke meja makan.
" Biar ajalah Ratu, bukannya kamu senang kalau bolos, dulu aja satu minggu kamu cuma datang berapa kali, dalam mata pelajaran mas kamu absen aja kan?"
Hedeh... Ketahuan deh gue!
" Tapi nggak enak belajar di rumah, nggak ada temen ngobrolnya?"
" Jadi kamu itu kalau ke kampus niatnya mau belajar apa ngobrol?"
" Dua-duanya lah, kan sambil menyelam minum air?"
" Cih... Yang ada kamu kembung nanti! Pokoknya kamu bolos aja beberapa hari ini, biar mas yang gantiin ngajar kamu dirumah, titik!"
" EYANG! Mas Panji ngajarin aku buat bolos eyang!" Saat melihat Eyang Romlah lewat, Ratu langsung menjerit memanggilnya.
" Heleh... pake acara ngadu segala, Eyang itu Pro sama aku, yang cucunya kan aku!" Umpat Panji sambil tersenyum miring.
" Ada apa ini?"
" Eyang, mas Panji nyuruh aku bolos ke kampus, marahin dia Eyang, dulu aja Ratu sering sekali dihukum sama dia, kadang lari lapangan, kadang disuruh sikat WC dan membersihkan kamar mandi, tapi sekarang di suruh bolos, nggak konsekwensi banget kan Eyang?"
" Benarkah itu Panji? Tega sekali kamu menganiaya cucu menantu kesayangan Eyang ini?"
" Werk!" Ratu langsung menjulurkan lidahnya kearah suaminya yang langsung melotot kearahnya.
" Masalahnya, Panji sementara dirumahkan Eyang, hubungan kami ketahuan sama pihak Kampus dan mungkin sudah tersebar diseluruh penghuni kampus, jadi biar nggak terjadi keributan untuk sementara kami di pisahkan dulu di kampus."
" Ow... Begitu, ya sudah kamu bolos aja Ratu, bukannya malah enak kalian bisa bebas dirumah aja? Belajar sama suami kamu kan bisa?"
Itu dia masalahnya eyang, aku malas belajar sama mas Panji?
Namun Ratu hanya bisa protes didalam hati, karena ternyata Eyang satu pendapat dengan cucunya.
__ADS_1
" Ckk.. tapi Ratu pengen ke kampus Eyang."
" Untuk sementara saja, daripada nanti kamu dikerubungin netizen-netizen yang julid sama kamu, capek sendiri nanti kamu nak?"
" Tuh... Dengerin kalau Eyang bilang!"
" Aish... Ya sudahlah."
" Kalian sarapan aja dulu ya? Setelah itu belajar dan sorenya nanti kita pergi ke rumah orang tua kamu, katanya kakak kamu ngerayain ulang tahun dirumah kalian, seperti tahun-tahun yang sebelumnya."
Haish... Malas banget gue, tapi nggak mungkin juga gue nggak datang diacara kakak gue, bodo amatlah?
" Ayok kita sarapan, sebentar lagi kelas Arga sudah akan dimulai, aku tadi meminta dia untuk melakukan zoom dari kelas kalian, jadi kamu tidak akan ketinggalan materi."
" Halah..."
" Kok halah sih, bagus apa, mas akan ngawasin kamu dan ngajarin kamu nanti, kalau ada yang sulit bisa tanyakan dengan mas."
Habislah riwayat gue, mending gue berangkat ke kampus aja, nanti Melody yang ngerjain, aku tinggal copy paste doang, kalau begini mah ribet urusannya, aduh... Apes banget dah nasip gua!
" Sini Ratu, kelas kamu sudah mau dimulai." Panji menjentikkan tangannya agar Ratu mendekat ke arahnya.
Panji bahkan sudah menyiapkan segala keperluan Ratu, bahkan kamera laptopnya sudah terhubung dengan kelas Ratu pagi ini dengan Arga sebagai dosennya.
Astaga, mana bisa berkutik kalau begini caranya? Aduh... Pengen kabur aja lah gue?
" Sebentar mas, aku haus, boleh ambil minum dulu nggak?" Ratu mulai berulah, padahal dia hanya malas saja jika harus didampingi oleh Panji.
" Ckk... Bukannya tadi udah minum setelah makan? Ini Arga sudah mau mulai kuis, nanti kamu ketinggalan!"
" Bentar aja mas atau mas aja yang ngambilin ya?"
" Haish.. biar bibi yang mengambilkan, nggak usah banyak drama kamu, cepat duduk dan kerjakan kuis!" Panji langsung menarik lengan Ratu dan mengajaknya duduk lesehan di ruang tamu mereka.
" GNP negara Z tahun 2017 adalah Rp300 Triliun, dan pada tahun 2016 adalah Rp280 Triliun. Pertanyaannya, berapa persen besarnya pertumbuhan ekonomi di negara Z tersebut?"
Terdengar dengan jelas suara Arga disana, sedang membacakan soal kuis pagi itu.
Mampus gue, kenapa otak gue kayak nggak jalan ini?
" Sst... Jawab Ratu, itu soalnya bukannya sulit kan, nih... Mas kasih kertas buat menghitung." Panji langsung menyodorkan kertas dan pulpen kepada istrinya.
" Mas... Aku kebelet ini, pengen pipis dulu boleh?"
" Apa sih Ratu, jawab dulu ini?"
" Kebanyakan minum mas, boleh ya, nanti bisa ngulang lagi daripada aku ngompol disini kan?"
" Masak cuma pipis doang ditungguin sih mas?"
" Nanti kamu pasti sengaja dilama-lamain kan? Mas udah tahu akal bulusmu itu!"
" Apaan sih? Suudzon aja mas ini sama aku!"
" Buruan atau mas tungguin nanti didalam!" Ancam Panji dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.
Apes dah, nggak sempat baca materi tiba-tiba ada kuis, mana ngerti gue?
" Soal yang tadi bisa kamu ulang nanti, sekarang lanjutkan pertanyaan selanjutnya."
" Mas mau dipangku?" Rengek Ratu dengan manja.
" Ratu kamu sedang ngezoom loh, nanti kalau ada yang lihat makin heboh satu kampus, sudah duduk baik-baik disitu, mas ada disamping kamu, okey?"
" Ckk... Tapi mau dipeluk dari belakang, lagian laptopnya juga terarah sama papan tulis, mana ada yang lihat." Ratu hanya mencoba mengalihkan perhatian Panji saja.
" Astaga, ya sudah sini, tapi kamu konsentrasi loh ya? Kamu sudha terlewatkan satu pertanyaan tadi."
" Iya, ehh... parfum mas wangi banget, boleh civm sedikit nggak?" Ratu sengaja mengoda suaminya, agar tidak memaksa dia untuk mengerjakan kuis itu, bahkan tangannya mulai menggerayangi wajah suaminya.
" Ratu, jangan begini, kerjakan dulu soalmu, baru nanti kamu mau ngapain aja sama mas, terserah dah!"
" Ckk... Suami macam apaan mas ini, masak istrinya minta di civm aja banyak alasan, padahal nggak bayar aja pelit, kalau dia yang lagi pengen aja asal nyosor sesuka hati, giliran istrinya yang minta nggak dikabulin.
C U P
C U P
C U P
Walau dengan helaan nafas yang panjang, akhirnya Panji memilih mengalah dan mengecvp pipi istrinya bahkan langsung berkali-kali.
Panji memang sosok orang yang mementingkan hal akademi, jadi jika sedang belajar dia maunya Ratu fokus dulu, setelahnya bebas mau ngapain aja, tapi dia juga tidak bisa apa-apa jika istrinya sudah merengek seperti itu.
" Cukup ya, kamu bahkan sudah terlewat dua pertanyaan lagi kan?"
" Mau di bibiir loh mas, nggak kerasa kalau cuma di pipi doang mas?" Ratu semakin menggila, karena sebenarnya dia sama sekali tidak tahu jawaban dari kuis yang diberikan Arga kepadanya, bahkan materinya pun dia tidak punya, karena dia kebanyakan ambil cuti liburan kemarin.
__ADS_1
" Ratu, kamu jangan bercanda deh, serius sedikit bisa nggak?"
" Kiss sebentar doang Ayang, yaelah.. Cuma gitu doang perhitungan amat, sebenarnya mas itu sayang nggak sih sama aku?"
" Ya Rabb, ampunilah dosa istrimu ini." Umpat Panji sambil memejamkan kedua matanya untuk menahan emosinya.
Kalau bisa digambarkan bahkan kepala Panji sudah berasap kali ini, padahal menuritnya soalan itu tidak begitu sulit.
" Emm... Hmpth!"
Karena terlalu kesal, Panji langsung saja menyosornya dan mengexplore rongga mulut istrinya dalam sperskian detik saja.
" Lagi Ayang."
" Ratu, kamu mau ngerjain kuis itu, atau mau mas yang buatin kamu kuis sendiri? Tapi double, gimana?"
" Ckk... Ya sudah, aku kerjain ini." Ternyata pendirian Panji sangat sulit dia robohkan walau sudah dengan berbagai cara dengan hal-hal yang paling disukai suaminya.
" Cara pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cara menyusun pengeluaran lebih besar daripada penerimaan negara disebut kebijakan?" Arga kembali melanjutkan pertanyaannya.
Kebijakan apalagi ini? Aku nggak ngerti, Melody please help me bestie...
" Kebijakan apa Ratu, masak kamu nggak tahu? Sekarang mungkin satu kampus sudah tahu kalau suami kamu itu adalah dosen, apa kamu tidak malu jika pertanyaan begitu saja kamu nggak bisa jawab?"
Adanya Panji disampingnya, bukan membuat otak Ratu semakin encer namun seolah malah semakin tersumbat saja, pikirannya ngeblank, selain gagal fokus dia juga memang belum mempelajari tentang materi itu.
Bagaimana ini? Aku harus apa?
" Emh... Ayang, aku kok tiba-tiba pengen ya?" Ratu tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan aji-aji pamungkasnya.
" Pengen apa lagi, Ratu?" Ingin rasanya Panji berteriak dan ngomel dengan Ratu, namun Panji sadar istrinya ini bukan anak kecil yang pantas di omelin.
" Ayang... Tadi malam kita kan nggak gitu-gituan, kalau sekarang aja gimana? Kuisnya dijawab nanti atau besok aja nggak papa kan?"
" NGGAK, POKOKNYA KAMU HARUS... Emh... Awh!"
Panji langsung lepas kendali saat Ratu sengaja memencet tombol kendali milik suaminya.
" Kita pindah kamar yuk Ayang?"
" Ratu... Emh, tapi ini zoom nya belum selesai."
" Kalau begitu kia lanjut aja disini!"
Ratu langsung menyingkap kaos milik suaminya dan memeluknya dengan erat.
" Ratu, apa nggak bisa ditahan sebentar lagi?"
C U P
" Aku kangen sama kamu, emm... mas sebenarnya sayang nggak sih sama aku?" Ratu langsung menghujani kecvpan di seluruh wajah suaminya dengan berkata-kata dengan manja sambil terus melakukan gerakan-gerakan untuk menggoda suaminya.
Sekarang bahkan Ratu sudah membalikkan tubuhnya kearah suaminya dengan menumpukan kedua lututnya ke lantai sambil memeluk leher suaminya.
" Emh... sayang dong Ratu."
Salah satu titik sensitif Panji selain di bagian intinya adalah dibelakang telinganya, apalagi saat Ratu sengaja meniup-niup disana, suaminya pasti sudah langsung merem melek.
" Bohong nggak?"
" Ya enggaklah, kamu segalanya buat mas Ratu."
" Buktinya apa?"
" Apapun yang kamu mau sayang?"
" Aku pengen itu sekarang, nggak mau nanti!" Pinta Ratu dengan sok manja, daripada dia harus pusing kepala memikirkan kuis hari ini lebih baik dia cari yang mantap-mantap saja pikirnya.
" Okey sayang!"
Dengan sigap, tangan Panji langsung mulai bergerilya ke tempat-tempat favoritnya dan langsung melupakan sesi pembelajaran mereka.
Walaupun dia dosen paling killer di kampusnya, namun kalau sudah berduaan dengan Ratu, dia seolah lemah dan tidak punya kekuatan untuk menolaknya.
" ASTAGFIRULLOH PANJI! RATU KALIAN SUDAH GILA YA!"
Terdengar suara Arga melengking dari laptop mereka, bahkan wajah Arga seolah memenuhi layar laptop milik Panji dengan mata yang seolah sudah akan keluar dari cangkangnya.
" Ckk... Ada penggangu, kita pindah ke kamar yuk sayang." Dan akhirnya imin Panji pun sudah Goyah, saat istrinya sudah menemukan titik kelemahannya.
" Hmm... Ayok, udah nanggung banget ini."
Ratu pun dengan santainya mengganguk saat Panji menggendong tubuhnya didepan, layaknya sedang menggendong anaknya.
Dan itu semakin membuat emosi Arga meledak, apalagi dia sudah tidak punya pelampiasan sekarang, karena saat ini status dirinya adalah JODI, jomblo ditinggal mati.
Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tetapi tentang menghargai apa yang kamu miliki.
__ADS_1
Berdoalah, Allah pasti mendengarmu. Bersabarlah sebab Allah akan menjawab doamu pada waktu yang tepat.
Allah selalu menjawab doamu dengan tiga cara. Pertama, langsung mengabulkannya. Kedua, menundanya. Ketiga, menggantinya dengan yang lebih baik untukmu.