Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
6. Mak Jomblang


__ADS_3

...Happy Reading...


Sebenarnya Panji tidak pernah menutup diri dalam hal cinta, namun karena hubungannya yang sering kali berakhir dengan tiba-tiba, terkadang dia sering merasa malas untuk mengenal orang baru, atau memulai kembali suatu hubungan yang baru.


" Emm... bapak, eh... aku panggilnya enaknya apa nih, bapak atau nama aja?" Gendhis yang memang sudah terbiasa ramah dengan para pasiennya, tidak sulit untuk membuka suatu obrolan, walau baru kenal sekalipun.


" Terserah aja, gimana enaknya." Jawab Panji dengan datar seperti biasa.


Wah... sepertinya menarik ini, aku malah suka yang dingin-dingin begini, lebih menantang gitu daripada yang lebay, yang pentingkan wajahnya tetep terlihat adem banget, hehe...


Entah mengapa dari pandangan pertama Gendhis sudah merasa tertarik dengan pria itu.


" Kayaknya kita seumuran deh, tapi lebih enakan panggil mas aja, owh iya... bagaimana Ratu kalau di kampus, apa dia bandel? sering bolos kuliah nggak?" Tanya Gendhis dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari raut wajahnya.


" Emm... dia, gimana ya ngomongnya." Panji melirik kanan kiri, dia merasa tidak enak hati jika harus berkata jujur dengan sikap si empunya acara malam ini pikirnya.


" Jujur aja mas, soalnya aku jarang dirumah, jadi kurang begitu tahu aktifitas keseharian Ratu."


Dia memang selalu sibuk dengan seragam dinasnya itu, kalaupun pulang badan sudah terasa capek, jadi tidak sempat ngobrol santai, karena tidur adalah keinginan utamanya setelah keluar dari pintu rumah sakit.


" Dia emang cukup ya... bisa dibilang Bandel banget, nilai sering merah, sering nggak ngumpulin tugas, setiap minggunya pasti bolos lagi." Mungkin ini saatnya dia mengingatkan kebaikan demi anak didiknya pikirnya.


" Astaga Ratu... hehe, maaf ya mas, bocah itu memang kurang pengawasan, karena orang tua kami juga sibuk dalam pekerjaan mereka masing-masing." Antara malu dan menyesal Gendhis membuka obrolan mereka dengan topik Ratu.


" Hmm... lain kali, luangkan waktu untuk menasehatinya, sayang kan masih muda harus menyia-nyiakan kesempatan dalam mencari ilmu." Jiwa Dosennya langsung keluar seketika.


Astaga Ratu, malu-maluin banget sih kamu!


" Baik mas, nanti biar aku ngobrol sama orang tua ku juga, hehe..." Namun dia hanya mampu mengumpat adiknya didalam hati.


" Kamu beneran dokter?" Tanya Panji yang seolah meragukan profesinya, hanya karena adeknya Gendhis yang tidak pernah berprestasi, sedangkan yang namanya sekolah kedokteran memang butuh kecerdasan yang lebih.


Woah... apa karena Ratu bandel jadi sekarang dia meragukan kecerdasanku? benar-benar deh si Ratu, bikin marwah gue anjlok aja deh.


" Iya... saya dokter bedah, di salah satu rumah sakit swasta didaerah sini, bisa tanya Ratu aku dinas dimana." Jawabnya dengan bangga.


" Wow... sudah dokter spesialis juga? padahal kamu masih tergolong muda kan?" Panji langsung terlihat kagum dengan gadis dihadapannya itu.

__ADS_1


" Ya... nggak muda-muda banget sih mas, cuma kadang-kadang sering bergaya menolak tua aja, untuk sekedar menghibur diri, hehe..."


Asyik juga ni kakaknya si bandel itu, beda banget sama keadaan adeknya yang kecerdasannya amburadul nggak jelas itu.


" It's okey, yang penting kita tua tapi berguna bagi nusa dan bangsa, ya kan?"


" Waduh... berat banget omongan mas, tapi memang sih, kalau kita bisa membantu seseorang itu rasanya adem banget loh mas, apalagi kalau melihat pasienku bisa sembuh dari sakit yang tergolong parah, ada kepvasan tersendiri ketika melihat mereka bisa tersenyum bahagia karena bisa pulang kerumah dengan sehat walafiat."


" Sudah berapa banyak pasien yang kamu selamatkan?"


" Emm... tak terhitung sih mas, tapi berkat kerja sama dengan dokter-dokter lain juga, saling membantulah, pokoknya keselamatan pasien adalah misi utama kami."


" Menarik juga."


" Apanya yang menarik, mas tidak berminat jadi pasienku kan?"


" Ya enggaklah, mana ada orang yang minta sakit, apalagi dibedah olehmu!"


" Hehe... kirain mas mau jadi pasienku, biar bisa ngobrol setiap hari gitu." Gendhis langsung mulai memancing keadaan.


" Kalau mau ngobrol apa harus jadi pasien dulu?"


" HAH?"


Antara percaya atau tidak mereka bisa mengobrol sejauh ini.


" Eh... bercanda mas, serius amat, kayak tegang banget wajahnya, itu pun kalau mau ngobrol aja loh, kalau enggak ya nggak papa, siapa tahu Tuhan mempertemukan kita kembali di waktu dan kesempatan lain kan?"


Aish... kenapa dia nggak maksa minta sih? kalau gue langsung kasih nomor gue kan harga diri juga? entar dia malah nganggep gue cowok gampangan lagi kan?


" Hmm..."


Walau sebenarnya ingin, namun Panji lebih mementingkan gengsinya, padahal baru pertama kali ini dia berkenalan dengan seorang gadis dan langsung nyambung saat ngobrol tanpa merasa boring.


" Cie... cie... udah serius aja nih, ngobrol apaan hayo?" Ratu langsung datang bersama Arga dengan sejuta rencana sesuai kesepakatan mereka.


" Apaan sih dek, udah mau dimulai belom acara potong kuenya?" Gendhis langsung terlihat sedikit malu-malu.

__ADS_1


" Nggak mau diganggu niye? pak Arga kita ke panggung aja yuk, nemenin saya potong kue?"


" Emm... bapak lihat dari sini aja kali ya, sama temen-temen kamu aja potongnya, bapak sudah terlalu tua untuk ikut acara begituan, okey?" Arga langsung menolaknya dengan halus.


" Sssttt... gimana sih pak, jadi jomblangin mereka enggak nih?" Bisik Ratu yang mulai modus.


" Jadi, tapi bapak nggak mau naik panggung." Bisik Arga yang memang masih menjaga diri sebagai suami orang.


" Hidih... bapak nggak asyik deh!" Jiwa anak mudanya yang menggebu-nggebu seketika langsung down, padahal dia pengen banget ngasih potongan kue pertama untuk dosen favoritnya itu.


" Maaf ya, bapak memang sedikit nggak nyaman soal itu, tapi kita bisa tukaran nomor ponsel, biar bisa ngatur pertemuan mereka, gimana?" Bisik Arga kembali.


" Ya udah deh, nggak ada rotan akar pun jadi."


" Apanya?"


" Owh... enggak, berapa nomor bapak?"


" Kita lanjut planningnya besok aja ya, bapak masih ada keperluan lain, jadi sekarang kami pulang dulu." Setelah menunjukkan nomor ponselnya dia langsung pamit undur diri saja, daripada istrinya mencari dirinya karena pulang terlalu larut malam.


" Loh... kok udah mau pulang sih, acaranya kan baru mau dimulai pak?"


" Bapak sudah terlalu tua untuk itu, so... kalian enjoy, no mabok no miras okey? besok kalian harus ngampus? Owh iya, besok ada jam mata kuliah pagi dari saya, jangan sampai telat, ada tugas juga kan dari saya, jangan sampai lupa mengerjakannya okey?"


" Hedeh... mau di kampus mau di dalam acara party juga tetep aja Tugas yang diomongin, pasti nggak asyik kalau punya suami dosen, kalau kayak gini minatku punya suami dosen jadi tiba-tiba berkurang." Umpat Ratu sambil membuang pandangannya ke sembarang arah sambil mengoceh sendiri.


" Kamu ngomong apa Ratu? kenapa bisik-bisik, bapak nggak dengar."


" Fuuh... nothing, terima kasih sudah datang diacara birtday partyku pak, kalau mau pulang hati-hati dijalan, bye!"


Ratu langsung memilih melenggang pergi meninggalkan mereka yang bertanya-tanya, tentang mood Ratu yang tiba-tiba berubah menjadi suram.


Nalarmu terbatas, sedangkan skenario Alloh tanpa batas.


Pikiranmu sempit sedangkan rezeki Alloh sangat luas.


Jangan batasi doamu dengan menggunakan nalar dan pikiranmu.

__ADS_1


Karena yang kamu anggap mustahil, bisa dengan mudah Alloh mewujudkannya.


LIKE DAN HADIAHNYA OTHOR TUNGGU LOH BESTI-BESTIKU YANG TERSEGALANYA🤗


__ADS_2