
...Happy Reading...
Tidak ada senyum kebahagiaan yang hadir di acara detik-detik menjelang pernikahan dua kakak beradik ini, yang ada hanya kisah sendu dan pilu yang menghampiri.
Isak tangisan tidak lagi terdengar, bukan karena mereka sudah bisa menerima keputusan yang telah ditetapkan, tetapi karena seolah rasa sedih dan lara hati mereka sudah berubah menjadi rasa pasrah, karena memang semua sudah terjadi dan waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali.
Selain Gendhis, orang yang paling kecewa saat ini adalah Ratu Andara, dia yang tidak ada kena mengena dan sangkut pautnya dengan masalah ini, seolah ikut menjadi Tumbal dari kehamilan Gendhis.
" Ratu, mbak periasnya sudah datang, kamu sudah mandi kan?" Ibu Ratu pun sebenarnya tidak tega melihat Ratu yang hanya bisa terdiam sedari tadi malam, dengan pandangan kosong dan tidak tentu arah.
Tidak ada seorang pun yang berani membantah keputusan Eyang, apalagi keluarga Gendhis, karena kegagalan pernikahan Panji dan Gendhis secara tidak langsung adalah kesalahan dari pihak Gendhis.
" Buk... Boleh nggak kalau aku menolak pernikahan ini?" Ratu menatap wajah ibunya dengan tatapan sendu.
" Maaf sayang, maafkan ibu karena tidak bisa membantumu."
Ibu Ratu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, keluarganya memang harus menerima konsekwensi ini, akhirnya hanya pelukan lah yang bisa ibu Ratu berikan sebagai orang yang telah melahirkan dia ke dunia.
" Kenapa Ratu juga harus menikah buk, masih banyak hal yang ingin Ratu lakukan, masih banyak keinginan Ratu yang belum terlaksana sebelum menikah, dan mungkin tidak akan pernah bisa Ratu lakukan saat sudah menjadi istri orang.
" Ratu, kamu percaya dengan perihal Takdir kan? Bahkan nama jodoh kamu pun sudah tertulis semenjak kamu belum lahir."
Walau Ibu Ratu tidak selalu bisa menemani Ratu setiap harinya, tapi hati seorang ibulah yang paling bisa mengerti dan merasakan kekecewaan dari putra-putrinya, karena dia sudah mengandung selama sembilan bulan lebih, bahkan mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan mereka ke dunia.
" Tapi Ratu kan masih kuliah buk? Masak nikah sama dosen sendiri? Apalagi dosen paling killer di Kampus, apa kata teman-teman Ratu coba, lagian emang boleh nikah sama dosen saat kita masih menimba ilmu di kampus yang sama."
" Itu bisa diatur nak, pernikahan kamu bisa dirahasiakan, sampai kamu jadi sarjana nanti."
__ADS_1
" Gimana mau dirahasiakan, orang pernikahannya aja besar-besaran kok!" Ratu sudah tidak bisa lagi membayangkan pesta resepsi ini nantinya, walau dari temannya hanya Melody lah yang hadir, karena sedari awal memang ini bukan pesta pernikahannya.
" Nanti kalian bisa menggunakan masker atau cadar, lagian walau pandemi sudah berakhir, tapi dalam perhelatan besar seperti ini juga masih disarankan untuk memakai masker kan? Jadi semua aman, kami sudah membahas tentang hal ini sayang, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, okey?"
Hanya itu solusi yang bisa di ambil, memang selalu ada hikmah disetiap musibah, walau pandemi datang pun bisa menjadi pertolongan kepada dua pasang pengantin itu untuk menutupi rasa malu mereka dengan menikah menggunakan masker wajah, karena mereka terpaksa harus berganti pasangan.
" Asal ibu tahu aja, dosen yang paling aku benci itu pak Panji tahu buk, nilaiku selalu jelek dimata pelajarannya, bukan karena aku tidak bisa, tapi karena memang pak Panji itu tidak suka denganku, coba ibu bayangkan apa yang akan terjadi setelah kami menikah nanti?" Ratu sengaja memburuk-burukkan dosennya, karena memang bukan dialah calon pendamping idaman menurutnya.
" Ratu, kamu jangan menakut-nakuti ibu, masak Panji sejahat itu, selama ini ibu lihat Panji orangnya baik kok, sama kakak kamu aja sayang banget?" Ibu Ratu seolah tidak percaya.
" Itu kan sama kak Gendhis, mereka saling mencintai, kalau sama aku kan beda."
" Sayang, cinta itu bisa dipupuk seiring berjalannya waktu, yang penting kamu bersikap baik dan patuh kepada suami, ibu yakin rasa sayang itu akan muncul dengan sendirinya, apalagi sering bertemu setiap hari kan?"
" Kami kalau bertemu saja berantem terus buk, gimana mau sayang coba? Andai pak Arga yang dijodohkan denganku, aku pasti senang sekali." Umpat Ratu dengan khayalan tingkat tingginya.
" Arga itu siapa? Adeknya Panji? Bukannya dia itu cucu satu-satunya Eyang, apa ada lagi?" Ibu Ratu berfikir kalau dia adeknya bisa diganti tidak apa-apa, yang penting dari keluarga Panji ada yang menikah menggantikan dia pikirnya.
" Yaaa... Kirain adeknya?" Ucap Ibu Ratu dengan helaan nafas panjangnya.
" Lagian dia itu udah punya istri dan anak tante, jangan dengarkan rengekan putri tante yang satu itu deh."
Tiba-tiba Melody muncul dari arah pintu, dia pun sempat terkejut saat diberitahu Ratu tadi pagi, makanya dia sengaja bangun pagi dan buru-buru datang ke hotel tempat pesta ini berlangsung, karena semua keluarga Ratu juga menginap di hotel itu semua.
" Astaga Ratu, jangan pernah punya niatan menjadi perusak rumah tangga orang, nggak baik tahu!" Ibu Ratu langsung menjewer telinga putrinya yang memang sedikit bandel itu.
" Cie... Yang mau nikah? Sama dosen paling ganteng lagi di kampus, deg-degan nggak loe!" Ledek Melody dengan senyum khasnya, walau sebenarnya didalam hati dia turut prihatin juga atas kejadian ini, namun sebagai sahabat dia hanya ingin menghibur saja, karena mau menolak pun mereka sudah tidak bisa.
__ADS_1
" Ckk... Sialaaan loe!" Ratu langsung melempar bantal yang masih sedikit basah dengan air mata kesedihannya sejak dari tadi malam.
" Tuh paling ganteng kata si Melody, jadi kamu nggak usah sedih ya sayang, buruan siap-siap, ijab Qobulnya sudah akan di mulai sebentar lagi."
" Aaaaaaaaaaaa... Kenapa harus Ratu yang jadi Tumbal sih buk, kenapa nggak ibu saja!"
" Hush... Kamu ini kalau ngomong ya, kalau ibu sih mau-mau aja dapet daun muda, hehe... tapi kalau ayahmu dengar kamu ngomong kayak gini, bisa hilang semua fasilitas dari ayah untuk kamu, mau apa jadi gembel dijalanan nggak bisa makan kamu?" Ancam Ibu Ratu.
" Nggak mau, tapi kan aku masih muda buk!" Rengek Ratu kembali.
" Ya sudah, menikah saja apa susahnya, ganteng begitu kok ditolak, suatu saat nanti kamu pasti akan bersyukur karena menikah muda, menikah itu menyenangkan tau nak, Tidur ada yang nemenin, nggak perlu kerja juga udah ada yang nyariin duit, pokoknya asal kamu bersyukur semua pasti akan terasa menyenangkan." Ibu Ratu mencoba menenangkan, walau terkadang kenyataannya menikah tidak semudah itu.
" Tapi buk?"
" Sudahlah, cepat siap-siap, dan kamu Melody... Tolong temenin Ratu ya, kalau sampai dia kabur, kamu yang tante cari untuk menggantikan dia menikah dengan dosen kalian itu."
" Dih... aku sih ogah, siap tante, aku jagain dia pokoknya!" Jawab Melody yang langsung memegangi lengan Ratu.
" Aaaaaaa... Ibuk, lihatlah Melody aja ogah nikah sama pak Panji, apalagi aku, merana lah hidupku nanti, hiks.. hiks.."
" Ibu keluar dulu, mau lihat persiapan kakak kamu, baik-baik ya nak, ibu sayang kamu."
Ibu Ratu langsung keluar dari ruangan itu, sambil mengusap air matanya yang jatuh, sebenarnya hatinya pun ikut terluka saat putrinya seolah tidak bahagia dengan pernikahan paksanya, dia pun sebenarnya ingin putrinya menikah dengan orang yang dia cintai, karena pedomannya sedari dulu menikah itu satu kali dalam seumur hidup.
Namun apa daya, dia hanya bisa pasrah dengan yang Maha Kuasa, karena tidak ada daya dan upaya bagi dirinya untuk melawan, jika memang ini sudah kehendak-Nya.
Bahkan satu helai daun yang berguguran pun sudah Tuhan gariskan, kapan dia akan jatuh ke Bumi yang fana ini.
__ADS_1
Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, kita tidak pernah saling menunggu, tidak pernah sengaja datang, tapi kita sengaja dipertemukan oleh Sang Pencipta Alam.
Entah untuk saling duduk berdampingan, atau saling memberi pelajaran. Entah untuk saling memberi undangan pernikahan atau duduk bersama di Pelaminan.