Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
64. Konten


__ADS_3

...Happy Reading...


Dibawah temaramnya lampu jalanan kota, Broto memilih menghentikan mobilnya, kepalanya sungguh terasa berat, tubuhnya seolah melemas, karena memang belum ada asupan makanan yang dia makan sampai selarut ini.


" Fuuhh... bisa tertawa nanti para netizen kalau aku mati sekarang hanya karena kelaparan."


Tak jauh dari tempat dia menghentikan mobilnya, terlihat masih ada satu kafe yang ramai di kunjungi pengunjung walau sudah tengah malam.


" Kalau aku hancur dan terpuruk sekarang, mungkin hanya Gendhis yang akan bahagia, lalu bagaimana dengan calon anakku nantinya, siapa yang akna merawatnya kelak?" Broto melangkahkan kakinya menuju kafe itu dengan berat, hatinya memang patah dan terluka parah, namun mentalnya memang sudah dia setting sekuat baja.


" Aku harus bertahan demi anakku nanti! Untuk sementara waktu aku akan ikut relawan dokter ke desa terpencil saja, sepertinya aku harus banyak melakukan kebaikan, agar Tuhan tidak menghukumku atas kesalahanku yang dulu."


Dengan tekad yang kuat Broto akhirnya memutuskan untuk mendaftar diri menjadi relawan dari rumah sakitnya.


Biasanya dia tidak tertarik sedikitpun untuk mengikutinya, karena tidak ada hal menyenangkan hidup di desa terpencil, namun saat ini lain cerita, hanya ini jalan satu-satunya agar dia bisa pergi jauh namun tetap bisa memantau Gendhis di rumah sakit, karena setiap harinya mereka pasti akan berkomunikasi dengan pihak rumah sakit.


Selain menjauh dari kehidupan Gendhis, dia juga ingin menenangkan diri disana, dengan ramainya gemerlap kota.


" Dokter Broto?"


Tiba-tiba saat dia masuk ke dalam cafe itu, dia langsung disambut oleh suara teriakan dari seorang gadis yang masih terlihat belia.


" Berlian? Ngapain kamu disini jam segini?"


Raut kesedihan di wajah Broto langsung berganti dengan senyuman saat melihat gadis itu.


" Biasa dok, buat konten dong, sebentar lagi aku live dok, manu nemenin nggak?" Sapa gadis itu dengan riang gembira.


" Masih lanjut jadi konten kreator kamu?" Broto langsung mengusap kepala gadis itu, mereka sudah cukup lama tidak bertemu, namun entah angin apa yang membuat mereka berdua bisa bertemu di tempat ini.


" Lanjut dong dokter, hasilnya lumayan bisa buat biaya cuci darah bulan depan, jadi ibuk nggak harus keluar uang banyak untuk itu."


Gadis ini adalah salah satu pasien kronis yang dirawat dirumah sakit tempat Broto bekerja, namun karena penyakitnya sudah mulai membaik, dia bisa rawat jalan dengan catatan, harus selalu cuci darah satu bulan sekali.


" Udah banyak nie subscribernya? Jadi tambah terkenal dong kamu?" Ledek Broto yang selalu tersenyum dihadapannya, walau hatinya sedang tidak karuan sekalipun.


Karena perjuangan gadis ini tidak main-main, dia bahkan sempat kritis, namun Tuhan punya rencana lain, dia dipertemukan dengan Broto yang memberikan semangat dan bantuan moril, sehingga gadis ini seolah mau berjuang kembali disaat dia sedang down.


" Hehe... Alhamdulilah, semua berkat dokter!" Gadis itu langsung memeluk lengan Broto, mereka memang sangat dekat layaknya kakak beradik, walau orang sering menganggapnya sepasang kekasih, karena tubuh Berlian memang sangat modis dan terlihat dewasa, walau baru saja tamat SMA.


" Ya enggaklah... Semua berkat kegigihan kamu, saya hanya ngasih jalan sedikit aja, ternyata kamu lebih cepat terkenal dari yang saya duga ya?" Karena mereka sering bercerita dan ngobrol bareng, Broto lah yang menyarankan Berlian untuk mencoba menjadi konten Kreator, awalnya untuk sekedar hiburan, agar dia tidak terlalu memikirkan tentang penyakitnya, namun tanpa disangka dengan modal yang seadanya dia bisa menghasilkan uang dari sana.


" Tetap saja, tanpa dokter mungkin aku tidak bisa bertahan sampai sekarang." Ucap Berlian yang memang sangat kagum dengan Broto.


Pasien lain mungkin menggangap Broto ini seperti dokter yang slengek an dan suka main-main, namun saat Berlian ngobrol heart to heart dengannya, ternyata Broto orang yang sangat asyik dan menyenangkan bahkan dibalik tingkahnya yang seperti itu dia adalah seseorang yang berhati baik.


" Jangan ngomong gitu, saya kan cuma dokter umum, bukan yang merawat kamu kan?"


" Dokter memang tidak membantuku dalam hal medis, tapi dokter yang menyelamatkan aku dari segi mental dan juga materi tentunya."


" Saya senang melihat kamu bisa bertahan sampai sekarang, pokoknya kamu harus semangat untuk tetap sehat, kamu pasti bisa, right?" Broto menyunggingkan senyumannya sambil kembali mengusap kepala gadis itu.


" Owh iya... Besok aku ada jadwal rutin untuk check up, gimana kalau aku traktir dokter makan siang besok, aku pengen ngobrol banyak sama dokter."


" Gimana kalau malam ini saja kamu traktirnya?" Jawab Broto dengan ragu.


" Aku pengen ngobrol banyak sama dokter, kalau malam ini kayaknya nggak sempat deh, bentar lagi aku live dan harus segera pulang, kalau enggak mama bisa ceramah sampai subuh."


" Karena kamu memang harus banyak istirahat Berlian, nggak boleh bergadang, demi kesehatan kamu juga kan?"


" Iya, makanya besok siang kita makan siang bareng yuk dok, aku pengen banget mentraktir dokter dengan uang hasil ngonten aku."


" Tapi sepertinya kalau besok tidak bisa Berlian."


" Kenapa? Dokter tidak ada jadwal praktek ya? Kalau begitu kita makan diluar saja gimana?" Tanya Berlian yang tetap ngotot.


" Bukannya dokter menolak Berlian, tapi besok rencananya dokter mau ikut menjadi dokter relawan di desa terpencil, membantu memberikan perawatan bagi orang yang tidak mampu disana."


" Dokter memang keren! Tapi kapan dokter balik lagi kesini?" Tanya Berlian kembali.


" Hmm... Mungkin tiga atau empat bulan lagi?"


" Yaelah... Lama banget, nggak bis aseminggu sekali gitu?"


" Emang kenapa?"


" Ya kalau aku masih diberikan umur panjang, kalau tidak?"


" Hush... Kamu ini kalau ngomong ya?" Broto langsung mencubit pipi gadis itu.


" Ckk... Aku sudah pasrah aja dokter, cuci darah pun hanya memperpanjang umurku, tapi tidak menyembuhkan aku."

__ADS_1


" Berlian... Hidup mati seseorang itu tidak ada yang tahu, belum tentu orang yang sakit terus umurnya pendek, begitu juga sebaliknya, jadi selama kamu masih diberi kesempatan untuk melihat dunia ini, maka nikmatilah semua yang ada, jangan hanya memikirkan hal-hal negative, harus tetap semangat pokoknya!"


" Tapi kenapa dokter harus menjadi relawan di desa terpencil? bukannya dokter sudah punya tempat yang bagus di rumah sakit?"


" Emm... Pengen aja!"


" Pengen aja, atau sengaja menghindari seseorang hayow?" Berlian seolah tahu apa yang Broto alami.


" Cih... Kamu ini, masih kecil tau apa?"


" Apa dokter sedang patah hati? Putus cinta gitu ditinggalin kekasih dokter ya?" Berlian langsung menebak saja sesuka hatinya.


" Apaan sih dek!"


" Yaelah... Dokter ini kalau ngomong aja, yang semangatlah, jangan lemah lah, ehh... Dia sendiri patah arang, baru patah hati doang mau lari dari kenyataan gitu?" Ledek Berlian dengan fasihnya membalikkan perkataan Broto.


" Kamu ini kalau ngomong kayak bener aja, aku sudah menikah dek, sudah bukannya jamannya lagi mementingkan soal cinta, tapi lebih ke menjaga perasaan orang yang kita sayang, agar dia bisa bahagia, walau tanpa kehadiran kita."


" Eits... Tunggu.. Tunggu, kapan dokter nikah? Kenapa aku nggak di undang, jahat sekali dokter ini, cepat sekali sudah menikah aja, katanya hari itu jomblo, dasar pembohong!"


" Hehe... Siapa suruh kamu mau ditungguin nggak mau, aku ajak nikah juga nggak mau kan hari itu, jadi sekarang salah siapa hayow?"


" Ckk... Dokter mah nggak bisa kalau diajak ngomong serius, lagian juga aku tidak mau menikah, kasian nanti pasanganku harus duda di umur yang masih muda."


" Berlian, kamu ini kalau dibilangin susah ya, jangan sering-sering ngomong begitu, nggak baik!"


" Ckk... Aku sudah pasrah dok, lagian kasian juga orang tua aku, mereka pasti capek ngurusin aku."


" Heh... Tuh kan, mulai lagi kamu ini, bukannya sekarang kamu sudah terkenal? Ayo dong tunjukkan aksimu, jangan menyerah begitu saja!"


" Fuhh... Kalau begitu, sekali-kali boleh dong dokter ikut andil dalam konten aku?"


" Tapi aku tidak bisa ngonten loh dek."


" Bisalah... Konten aku malam ini cuma nyanyi aja kok, kita duet nyanyi yuk dok."


" Nggak bisa aku dek, nanti video kamu berkurang lagi viewers nya, gimana hayow?"


" Nggak akan, kalau pun berkurang setidaknya aku punya kenangan ngonten sama dokter kebanggaanku, ayo dok please!"


" Astaga, tapi...?"


Berlian langsung saja menarik lengan Broto dan membawanya naik ke atas panggung.


" Piwwitt! Pasti cowoknya tuh?" Semua pengunjung ikut bersorak disana, apalagi pengunjungnya cowok-cowok yang sedang ngopi, sudah pasti heboh kalau lihat yang seger-seger.


" Namanya dokter Broto!" Berlian langsung saja memperkenalkannya.


" Hai... Selamat malam." Sapa Broto dengan canggung.


" Emm... Mungkin malam ini adalah malam terakhir dokter kebanggaan aku ini ada disini, karena besok beliau mau pergi jauh, sedih banget sih nggak bisa jumpa beliau, tapi karena untuk misi kebaikan, jadi apa mau dikata, karena banyak orang lain disana yang membutuhkan pertolongan dokter sehebat dia."


" Terima kasih Berlian."


" Selamat bertugas dokter, hati-hati dalam perjalanan, semoga sehat selalu."


" Pasti, kamu juga jangan lupa jaga kesehatan."


" Cieeeee?" Pengunjung disana menggangap mereka seperti sepasang kekasih, karena terlihat sama-sama perhatian.


" Hehe... untuk malam ini spesial aku mau duet bernyanyi sama dokter Broto, apa kalian setuju?"


" Setuju!" Teriak semua pengunjung yang ada disana.


Tidak disangka Like dan komentar pun datang membanjiri konten Berlian, karena dia sengaja melakukan siaran langsung malam itu.


" Woah... Banyak yang nonton video live ku dok, memanglah dokter Broto ini selalu saja membawa keberuntungan untukku?" Bisik Berlian kepada Broto dengan senyum yang merekah.


" Benarkah? Woah... bisa jadi artis dong kita?"


" Haha... ayo kita mulai dok, nanti jangan lupa di like dan share biar semua orang-orang tahu suara dokter yang bagus ini, ya dok!"


" Siap dek!"


Berlian langsung memberikan microfon itu kepada Broto dan mengajaknya duduk berdampingan di panggung cafe malam itu.


Suara Berlian memang sangat merdu, itu kenapa Broto menyarankan dia untuk menjadi konten kreator, yang tidak membutuhkan modal banyak untuk bisa menghasilkan uang, apalagi wajah Berlian good looking, jadi pasti banyak yang akan memfolow dirinya di akun sosial media.


" Let's sing a song, dokter Broto!"


Berlian langsung memberikan giliran untuk Broto menyanyikan lagu yang dia bawakan dengannya.

__ADS_1


" Bukan cuma hati yang kau sakiti, juga hidupku, diriku ini pasanganmu bukannya musuhmu tak perlu kau siksa aku..."


" Mantep!" Berlian langsung mengacungkan jempolnya.


" Aku berhenti sayang... Ku tak bisa lanjutkan, kisah ini bersamamu, aku takkan mampu." Broto kembali melanjutkan lirik lagunya dengan penuh penjiwaan.


" Wuhuyy... mana tepuk tangannya buat dokter Broto dong, ternyata keren banget suaranya ya?" Berlian langsung bersorak setelah mereka mengakhiri duet nya.


" Terima kasih semua, maaf saya bukan penyanyi."


" Hmm... Spertinya lagu nya ngenak banget di hati dokter ya, ckk... jadi penasaran, siapa sih wanita yang pernah menggoreskan luka di hati dokter, bodoh sekali dia ya kan? Tapi ya sudahlah... mungkin keberuntungan tidak ada pada dirinya, tapi pada diri Berlian, hehe..."


" Kamu ini bisa saja!" Umpat Broto walau memang benar-benar terluka.


" Begini gaes.. Ketika hidup memberi kita seratus alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa kamu punya seribu alasan untuk tersenyum. Saat kita dirundung masalah, biarkan bibir tidak mengetahuinya agar ia tetap menebar senyum." Berlian langsung melanjutkan kontennya dengan kata-kata bijak kehidupan.


" Setuju banget!"


" Ikhlas bukan melepaskan sesuatu dengan air mata, tapi bisa merelakan sesuatu dengan senyuman." Lanjut Berlian kembali.


" Huhuy!" Sorak mereka dengan serempak.


" Pokoknya buat dokter dan buat semua yang sedang menonton live streaming aku malam ini, tetap semangat ya, masih banyak orang baik diluaran sana, jangan terpuruk hanya karena seseorang yang sengaja ingin menghancurkan diri kita, okey?


" Cih... Bocah yang satu ini kalau ngomong sama prakteknya beda." Cibir Broto walau tetap tersenyum karenanya.


" Hehe.. Kalau begitu, mungkin cukup sampai disini video live aku malam ini, terima kasih sudah menonton, terima kasih juga buat kalian semua yang ada disini, semoga konten saya bisa menghibur, saya Berlian dan dokter Broto pamit undur diri, see you and Bye.. Bye!"




Sedangkan malam itu Gendhis terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi, orang hamil memang sering buang air kecil tak mengenal waktu.



Setelah dia selesai dari kamar mandi dan ingin tidur kembali, tanpa sengaja kedua bola matanya melihat sesuatu di atas meja.



" Apa itu?" Dengan perlahan Gendhis meraih sepucuk surat itu.



" Blackcard milik siapa ini? Mana ditempelin pin nya juga lagi, kalau diambil orang tidak bertanggung jawab gimana coba?"



Gendhis langsung menghidupkan lampu utama kamar itu, sehingga tulisan itu terbaca dengan jelas olehnya.



" Aish... Lelaki tak guna! Aku menunggunya datang kemari sedari tadi, kenapa dia malah ingin pergi!"



Gendhis langsung mencari-cari kunci mobil milik ibunya di sana, namun tidak kunjung dia temukan.



" Broto! Kamu mau kemana!"



Gendhis mengobrak-abrik semua barang disana karena tidak menemukan kunci mobil milik siapa pun disana.



" Broto, jangan pergi, aku membutuhkanmu!"



Karena kunci itu tetap tidak kunjung ia temukan, akhirnya Gendhis memilih nekad pergi, dia langsung mengambil dompet milik ibunya karena dia tidak membawa apapun saat dia dibawa ke rumah sakit tadi.



Gendhis bergegas untuk melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamar itu dengan masih menggunakan baju pasien untuk mencari keberadaan Broto Suseno sang suami.



*Berakting pura-pura bahagia adalah yang paling berat. Karena pura-pura bahagia itu butuh pengorbanan yang diawali dengan membohongi perasaan sendiri. Bahagia itu gampang, yang susah itu lagi bersedih tapi harus pura-pura bahagia*.

__ADS_1



*Sulit untuk berpura-pura mencintai seseorang saat tidak merasakannya, tapi lebih sulit berpura-pura bahwa Kamu tidak mencintai seseorang saat Kamu benar-benar merasakannya*.


__ADS_2