
...Happy Reading...
Tiada hal terindah bagi sepasang kekasih yang baru saja merajut kasih, selain untuk bertemu menyalurkan seutas rindu yang sangat menggebu.
Padahal belum ada dua puluh empat jam mereka berpisah, namun pagi-pagi sekali Gendhis sudah menghubungi kekasih barunya itu untuk mengajak jogging bareng disebuah Alun-alun Kota.
Pagi ini cuaca sangat mendukung, matahari mulai muncul diantara kabut dan awan dengan warna orange yang cerah, secerah harapan dua insan yang sedari awal bertemu itu terus saja menampilkan senyum terbaik yang mereka punya.
" Sayang, kamu setiap pagi selalu jogging disini?"
Serrr!
Sayang?
Ada rasa sejuk dihati Gendhis, saat dia dipanggil dengan sebutan sayang tanpa harus diminta, karena hubungannya yang dulu selalu saja dia yang menggebu-ngebu memanggilnya dengan sebutan sayang.
Memang hanya sesuatu yang simple, namun terkadang hal sepele seperti itu saja sudah mampu membuat hati seorang wanita tersanjung.
" Hmm... soalnya aku harus selalu fit mas, karena aku nggak punya banyak waktu buat nge Gym, so... hanya olahraga inilah yang aku bisa, untuk selalu menjaga kebugaran tubuh."
" Kita istirahat dulu yuk sebentar, ngobrol sambil lari susah." Ucap Panji sambil mengatur nafasnya yang mulai ngos-ngosan.
" Okey, kita sudah keliling alun-alun beberapa kali putaran juga kok tadi, sepertinya sudah cukup olahraga pagi ini, yang penting gerak dan dapat keringat, itu sudah cukup." Gendhis pun menerima handuk yang dibawakan oleh Panji untuknya.
" Ternyata seorang dokter juga harus bergaya hidup sehat ya, kirain cuma teori saja, ternyata praktek juga kan?" Panji menatap takjub wajah kekasihnya.
Yang namanya cinta masih anget-angetnya, semua terasa indah, bahkan bau kentut pun serasa aroma bunga kasturi.
" Kalau dokter aja nggak sehat, gimana mau nyembuhin pasien dong mas?" Jawab Gendhis dengan pesona malu-malu kucing.
" Kalau nggak bisa nyembuhin pasien juga nggak papa, yang penting kamu bisa nyembuhin hati mas."
Sedikit demi sedikit, Panji berusaha bersikap romantis, dia sering kilas balik kehubungannya masa lalu yang sering diprotes karena katanya kurang romantis.
Dan dia menggangap bahwa alasan hubungannya sering kandas ditengah jalan karena itulah salah satu penyebabnya.
" Hidih... emang mas Panji sakit hati?" Ledek Gendhis yang seolah tidak percaya, makhluk tampan yang terlihat perfect tenyata bisa sakit hati juga.
Padahal ibarat kata nih, dengan modal tampang dan profesinya sekarang saja gampang untuk mencari pasangan, mungkin tinggal petik jari sudah berhasil mengantongi seorang gadis cantik masa kini.
" Sekarang sih enggak, kan sudah ada kamu dihati mas."
" Slebeeewww!"
Tiba-tiba terdengar suara cempreng yang sangat mereka hafal, dari belakang kursi taman yang mereka duduki saat itu.
" Astaga, kenapa adekmu itu seperti hantu? dimana-mana muncul aja dia." Ucap Panji yang langsung lemas.
Mau heran tapi itulah Ratu, tanpa disengaja pagi-pagi tadi dia teringin sekali makan bubur yang sering mangkal di alun-alun itu, makanya dia langsung menghubungi teman baiknya untuk menemani sarapan disana.
" Cihuyy... pepet teroooss, jangan kasih kendor!" Melody langsung ikut menyindir mereka.
" Tumben kalian berdua jam segini sudah dimari? jogging juga kalian?" Tanya Gendhis dengan wajah penuh keheranan.
" Hidih... kalau kita berdua nih ya, tanpa jogging juga sudah sehat, yang penting pikiran kita sehat, dompet kita sehat, sudah pasti semua sehat, ya nggak Mel?" Ucap Ratu setelah menghabiskan satu mangkok bubur ayam bahkan ludes tak bersisa.
" Tullll..!" Melody langsung sigap menjawabnya.
__ADS_1
" Trus ngapain kalian berdua sudah nongkrong disini sepagi ini?"
" Pacaran juga dong, emang cuma kakak doang yang bisa pacaran pagi-pagi, kami juga bisa dong?" Ledek Ratu dengan tampang yang memang terlihat ngeselin.
" Emang kamu sudah punya pacar? sejak kapan?" Tanya Gendhis yang langsung kepo.
" Emang kalau aku punya pacar wajib lapor sama kakak? dih... gue juga punya privasi tahu!"
" Gaya loe itu ya, mana pacar loe? kakak mau lihat!"
" Tuh.. kang bubur! kang... buburnya nambah satu mangkok lagi ya, jangan lupa banyakin sambel, suiran ayam sama kerupuknya juga!" Teriak Ratu yang langsung mendapat acungan jempol dari kang bubur.
" Ya ampun Ratuuuuuuuu!"
" Selain Tengil dia juga pemakan segalanya ya, padahal sudah dua mangkok disampingnya itu?" Panji hanya bisa melongo melihat kelakuan mahasiswanya itu.
" Ratu, pagi-pagi nggak boleh makan sambel banyak-banyak!" Sebagai salah satu ahli gizi didalam keluarganya, dia langsung memberikan peringatan.
" Nggak papa kak, nggak pedes kok, masih pedes juga hujatan mantan ya kan Mel!" Selalu saja ada jawaban yang keluar dari mulut Ratu.
" Yoi cuy." Melody yang satu server dengannya langsung saja mengiyakan semua kata-kata sahabatnya itu.
" Kamu kayak orang nggak pernah dikasih makan aja sih, emang bibi belum masak dirumah?"
" Lagi pengen makan bubur aja, lagian apa salahnya kita membantu melarisi dagangan akang bubur, dia kan juga butuh penghasilan, kalau nggak ada yang jajan kasian juga dong, gimana dia mau menafkahi keluarga mereka coba?"
" Mantep sob!" Teriak Melody kembali.
" Tambah lagi Mel, biar kenyang sampai siang, entar pulang kita tinggal mandi, trus langsung otewe ke Mall aja, hari ini ada film bioskop terbaru, aku sudah beli tiketnya untuk kita berdua." Ucap Ratu dengan nada semangat empat lima.
" Ashiap boskuh!"
" Temen-temen kita juga nanti sore mau kesana kok?"
" Benarkah? yes.. kita bisa seru-seruan bareng dong?"
" Tapi mobilmu katanya baru diservice tadi?"
" Aku sudah minta sama ayah buat beliin mobil baru, bentar lagi juga palingan sudah ada di garasi rumah, santai aja bestie!"
Mereka berdua asyik dengan obrolan masing-masing tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap ke arah mereka.
" RATUUUUUUUUUUUUUUUUUU!" Teriak Gendhis dengan geramnya.
" Apalagi sih orang tua ini!" Celoteh Ratu dengan cuek.
" Kamu ya dek, main aja kerjaan kamu!"
" Tugas kalian sudah dikerjakan belum? hari minggu itu tidak harus digunakan untuk holiday seharian, nanti kalau kecapekkan otak kalian nggak bisa dipakai untuk berpikir secara jernih, kalian tahu kenapa orang males jika sudah hari senin?" Sang Dosen oun langsung ikut berkomentar.
" Entahlah." Ratu langsung menaikkan kedua bahunya.
" Karena hari minggunya terlalu banyak acara, sehingga tubuh kalian sudah merasa lelah."
" Mel... cabut yuk, nggak disini nggak dikampus tugas aja yang diomongin, gimana mau mempertahankan jiwa kewarasan kita ya kan?"
Tulilut.. tulilut...
__ADS_1
Saat mereka masih asik saling berunjuk rasa, bunyi ponsel milik Gendhis mengalihkan perhatian mereka.
" Ya... ada apa sus?"
" Tapi ini kan hari minggu sus, apa tidak ada dokter jaga yang lainnya?"
" Astaga... okey, baiklah saya kesana sekarang juga!"
Gendhis hanya bisa menghela nafasnya berulang kali, karena pasiennya kritis dan harus segera ditangani sekarang juga.
" Mas... maaf, tapi aku harus pergi sekarang!"
" Apa hari minggu itu kamu juga praktek?"
" Kalau ada yang emergency seperti ini aku harus datang mas, karena rumahku yang paling dekat dengan rumah sakit, lagian juga dia pasien yang memang dalam pengawasanku."
" Hmm... begitu ya? atau mau aku anterin saja?"
" Nggak usah mas, entar pulangnya malah ribet harus nyari taksi."
" Ya sudah, kalau begitu hati-hati ya sayang?" Panji mengusap lengan kekasihnya dengan lembut.
" Cieee... yang udah panggil sayang?" Ledek Ratu dan Melody dengan kompak.
Kwak... Kwak!
Tatapan kedua mata Panji sudah berubah seperti burung pelatuk yang siap menerkam mangsa yang ada dihadapannya.
" Eherm... kalau begitu kami juga permisi pak, kami mau... itu... emm... anu!"
Saat dosen yang menurutnya paling killer itu menatap dirinya, Ratu langsung kelabakan sendiri, seolah otaknya langsung delay dan ngeblank seketika.
" Kalian berdua ikut ke mobil saya!"
" Mampus kita Mel!"
" Elu sih... pake acara ngeledek segala, nyari mati kan kalau sudah begini!"
" Cepat masuk!" Teriak Panji kembali.
"Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan jauhkan kami dari saiton-saiton terkutuk yang ingin menyakiti kami." Umpat Ratu perlahan yang hanya bisa didengar oleh Melody yang berada didekatnya.
" Sssttt... maksud loe pak Panji yang jadi saitonnya?" Bisik Melody seketika.
" Ngomong apa kalian berdua!" Panji kembali menoleh kearah mereka dibelakang.
" Engga kok pak Sai.."
" Hah, sai?" Melody yang malah terkejut lebih dulu.
" Sai... tonirojim, pffftthhh!"
" Bahaha!"
Walau awalnya ragu, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut saja, karena tidak mungkin pria itu akan berbuat jahat dengan mereka pikirnya, karena selain dosen dia juga calon kakak iparnya.
..."Patience is the mark of true love. If you truly love someone, you will be more patient with that person."...
__ADS_1
...(Kesabaran adalah tanda cinta sejati. Jika kamu benar-benar mencintai seseorang, kamu akan lebih sabar dengan orang itu.)...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN HADIAHNYA SELALU OTHOR TUNGGU YA BESTIEš„°