
...Happy Reading...
Pov Gendhis
Dengan perlahan aku menyeret kedua kakiku yang terasa berat itu, melangkah dari tempat dimana mahkota yang aku jaga selama puluhan tahun sebagai seorang wanita hilang begitu saja, hanya tinggal bekas noda, yang tidak akan pernah hilang seumur hidupku.
Pupus sudah semua harapan dan angan-angan manisku tentang sebuah jeritan, saat malam pernikahan dengan calon suamiku nanti, juga harapanku mendengar suara calon suamiku mengucap kata terima kasih karena menjadi orang pertama yang menyentuh sepenuhnya akan diriku.
Dan yang lebih pahitnya lagi, akan kah calon suamiku nanti bisa menerimaku saat dia tidak bisa menjadi yang pertama?
Itulah kerugian dari seorang wanita, dia akan dengan mudahnya diketahui jika sudah tidak perawan, lain halnya dengan seorang pria, mau dia berulang kali melakukannya juga tidak akan ada yang tahu kalau dia sudah tidak perjaka.
Setelah aku memesan sweater dengan salah satu karyawan hotel itu, aku langsung berjalan perlahan menyusuri ballroom hotel itu, namun hanya ada beberapa staf yang sedang membersihkan tempat itu dari sisa-sisa pesta Sita semalam.
Tidak heran jika mereka tidak mencariku, karena aku sudah menemui mereka duluan dan mengucapkan selamat, mereka pasti mengira aku menikmati pesta ini, karena memang tempatnya sangat luas dan dipenuhi para tamu undangan.
Sekarang untuk sekedar menghidupkan ponselku saja aku takut, tadi malam mungkin Broto sengaja mematikannya, bukan hanya keluargaku, mas Panji pun juga pasti sudah berulang kali menghubungiku, karena sedari dulu aku tidak pernah menginap diluar dan sampai saat ini aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk mereka.
Aku bingung harus bagaimana dan berbuat apa, hari ini memang aku sedang bercuti, bahkan aku sudah janjian dengan mas Panji, namun semua tak lagi sama, walau aku bisa membohongi mas Panji akan hal itu, namun hatiku tidak bisa berbohong, bahwa aku sangat terluka dengan kejadian ini, mungkin begitu juga dengan mas Panji jika mengetahuinya, walau bukan karena inginku, namun sebagai seorang pria dia pasti akan merasa sangat kecewa.
Tidak ada tempat tujuan lagi selain rumahku sendiri, walau terasa berat aku tetap melangkahkan kakiku untuk pulang, setidaknya rumahku adalah tempat teraman dan ternyaman untuk diriku saat ini.
" Selamat pagi nona." Sapa security yang membukakan pintu gerbang untukku.
" Hmm.." Bahkan untuk sekedar berkata-kata saja aku seolah tidak mampu.
" Biar saya parkirkan mobilnya nona, silahkan masuk kedalam rumah saja, tadi malam nona Ratu juga tuan dan nyonya besar mencari anda, mungkin mereka sudah menunggu nona Gendhis didalam sekarang."
Dugaanku ternyata benar, mereka pasti panik mencariku tadi malam, apalagi ponselku tidak aktif, Ya Tuhan... aku harus bagaimana, haruskah aku berbohong?
Tapi jika aku jujur sekarang pun tidak akan memperbaiki keadaan, semua sudah terjadi, dan ancaman Broto sepertinya tidak main-main, kalau semua dia beberkan di sosial media, namaku yang akan hancur lebih dulu, begitu juga dengan nama keluarga besarku dan bahkan nama rumah sakit keluargaku pun akan tercoreng nantinya.
" Nona... nona Gendhis?" Suara security itu kembali menyadarkan lamunan panjangku.
" Iya... nanti aku masuk pak, aku mau duduk dulu di taman samping pak, mau menghirup udara pagi dulu."
" Baik nona."
Aku memilih duduk dikursi taman, ditemani daun-daun yang turun berguguran, seolah menggambarkan tentang diriku yang sudah layu, dan tidak sesegar dulu lagi.
Hanya sinar matahari yang kini seolah menemaniku, menghangatkan tubuhku bahkan hatiku yang sudah hancur berkeping tidak bersisa.
Kata Andai langsung berlarian di otakku, andai... yang melakukan itu semua mas Panji, aku tidak akan seterpuruk ini, bahkan mungkin aku rela atau setidaknya andai bukan Broto yang melakukan ini, karena masih banyak dokter yang baik tapi kenapa harus dia? tapi kalau dokter baik juga pasti tidak akan melakukan hal ini kepadaku.
" Aaargh!"
Tiba-tiba saja aku ingin menjerit, melampiaskan kekesalan dipagi ini, ingin rasanya aku protes, tapi pada siapa?
Jika aku marah dengan Tuhan, apa aku pantas? sedangkan aku masih sering lalai dalam menjalankan segala perintah-Nya.
" Astaga kak Gendhis gula jawa! kakak disini rupanya? apa dari tadi malam? apa kakak terkunci diluar? tapi kan ada pak security disana? kami semua panik nyariin kakak tahu, apalagi pak Panji, berulang kali dia nelponin aku, sampai panas telingaku, capek juga mulutku ini bilang kalau aku tidak tahu kakak dimana? kenapa ponsel kakak nggak aktif? kita bahkan pergi ke hotel tempat pesta itu berlangsung, tapi sudah bubar?"
Segala pertanyaan adikku semakin membuatku terpuruk, ingin rasanya aku menumpahkan air mata kesedihanku disini, tapi aku takut jika nanti mereka jadi lebih khawatir.
" Kak, woi... kenapa kakak diem aja? kakak kemana tadi malam? seharusnya kaka memberikan kabar ke orang rumah kalau nggak pulang, jadi kami kan nggak panik nyariin kakak?" Ratu kembali membombardir banyak pertanyaan untukku.
" Eherm... tadi malam kakak nggak enak badan dek."
" Trus kenapa nggak pulang aja?"
__ADS_1
" Kakak takut nggak kuat nyetir nanti, jadi kakak menginap di hotel itu."
" Astaga... kenapa nggak bilang, kalau nggak kuat nyetir bisa bilang sama aku, walau dengan berat hati juga aku pasti akan menjemput kakak, atau hubungilah pak Panji, punya pacar buat apa, masak nggak ada gunanya sama sekali?" Dia selalu saja begitu, kalau ngomong sesuka hatinya saja.
" Ponsel kakak habis batre dek, lupa nggak bawa powerbank juga, lagian kakak tertidur setelahnya."
Hanya alasan itu yang aku punya saat ini, kepalaku sudah terlalu pusing memikirkan kelakuan bejat si Broto.
" Sayaaaaaaaang!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah pagar rumah, suara yang selalu aku rindukan setiap malam, bahkan mungkin setiap saat, namun kali ini seolah suaranya membuat hatiku terasa teriris pilu.
" Wuidiiih...gercep juga tuh dosen, pagi-pagi sudah sampai disini aja?"
Ratu kembali berceloteh, aku tahu mas Panji itu adalah dosen yang paling tidak dia sukai di Kampus, sudah pasti dia akan mengumpat mas Panji seperti itu.
" Sayang, are you okay?"
Pria kesayanganku ini langsung berlari untuk memelukku dan membawa kepalaku kedalam pelukannya, terlihat sangat jelas dia begitu khawatir, aku sangat bersyukur ternyata sesayang itu dia denganku.
Tapi saat mengingat kembali apa yang Broto lakukan tadi malam, aku jadi merasa tidak tega dengan mas Panji, orang sebaik itu, setulus itu dalam menyayangiku, harus mendapatkan sisa dari Broto yang br€ngs€k itu.
" Hiks.. hiks.."
" Sayang, apa ada yang sakit? kenapa kamu malah menangis?"
Aku sungguh tidak mampu menahan air mataku, saat berada didalam pelukan mas Panji, apalagi saat merasakan rasa hangat dari tubuhnya, bahkan tangannya tidak berhenti mengusap kepalaku.
" Maaf mas, maafkan aku." Perasaan bersalah itu kembali muncul dan menghantuiku.
" Kenapa kamu malah minta maaf? mana yang sakit sayang? apa kita perlu ke dokter sekarang?"
" Woi... dia kan juga dokter pak Panji! gimana sih ini judulnya, dasar dosen bucin."
Mereka kembali berdebat, memang seperti itulah jika sudah bertemu, padahal aku menangis karena takut mengecewakan mas Panji, bukan karena sakit.
" Mas... sudahlah, aku mau istirahat saja dulu, aku sedikit tidak enak badan saja, mungkin masuk angin."
" Pantesan kamu pakai jaket tebel begini?"
Dia kembali memelukku, menyandarkan kembali kepalaku yang memang terasa berat kali ini, padahal aku memakai jaket itu karena ingin menutupi bekas bibiir pria b*ngs*t yang telah berani menodaiku.
" Maaf ya mas, sepertinya aku tidak bisa keluar dengan mas hari ini, maaf ya mas... maafkan aku sudah mengecewakanmu."
" Nggak apa-apa sayang, kamu tidak pernah mengecewakan mas, kan kamu sakit, coba mas tadi malam nemenin kamu, pasti tidak akan seperti ini kan?"
Lagi-lagi dia tidak memarahiku padahal aku sudah berulang kali mengecewekan dirinya, aku semakin tidak tega melihat lelaki yang sangat aku sayangi ini.
" Mas yang seharusnya minta maaf, karena tidak bisa menemani kamu." Bahkan dia yang malah terlihat menyesal sekarang.
Kalau tahu aku sudah tidak perawan, apa aku masih tidak mengecewakan kamu mas?
" Ini bukan kesalahan mas, aku yang salah, sudah tidak enak badan tapi masih memaksakan diri untuk menghadiri pesta, jadinya tumbang deh."
Aku mencoba untuk tersenyum walau perih, aku tidak ingin membuatnya tambah khawatir dan merasa bersalah, karena dia memang tidak punya salah denganku.
" Lain kali kalau ada apa-apa hubungi mas segera ya, mas sampai nggak bisa tidur karena mengkhawatirkan kamu?"
" Maaf... ponselku mati mas, kepalaku pusing jadi langsung tidur."
__ADS_1
" Okey, kalau begitu hari ini mas temenin kamu dirumah saja ya?"
" Nggak usah, mas kan harus ngajar hari ini?"
" Nggak apa-apa, mas bisa cuti emergency hari ini."
" Cakep tuh!" Dan kata-kata itu mampu membuat Ratu yang langsung terlihat kegirangan, karena mungkin hari ini dia ada jam kelasnya mas Panji.
" Tapi kamu harus tetap datang ke kampus! atau aku kasih tugas double untukmu hari ini."
" Yaelah... tugas lagi... tugas lagi, lier kepala urang mah!"
" Ngomong apa kamu Ratu!"
" Nggak ada pak, aku kan cuma bilang pusing itu kepala si udang, hehe..."
" Berani mengumpat bapak, aku tambahin lagi tugas untukmu!"
" Ckk... ingin sekali aku memecatnya sebagai nominasi kakak iparku, aish... tapi mungkinkah?"
" RATU!"
" Ya.. ya.. ya.. terserah bapak saja."
Ratu memilih melenggang pergi, meninggalkan kami berdua saja di taman itu.
" Adikmu itu memanglah, nakalnya bukan main."
" Maaf ya mas."
" Apa sih sayang, kenapa kamu minta maaf terus sedari tadi, sudah mas bilang kalau kamu kan tidak salah."
" I love you mas."
" I love you too sayang, kalau begitu mas gendong kamu sampai kamar ya?"
" Nggak usah mas, aku berat loh!"
" Masih berat juga adekmu itu!"
" Hah?"
" Emm.. maksud mas kalau dilihat dari postur tubuhnya kan gemukan adekmu itu, apalagi dia makannya banyak kan?"
" Kirain mas pernah gendong Ratu!"
" Hehe... sudahlah, ayok mas gendong, kamu harus istirahat sekarang, pokoknya mas temenin kamu seharian hari ini, okey sayang."
Senyumnya terlihat begitu lebar, aku sangat menyukainya, aku sangat mencintainya, bahkan aku sangat ingin menjadi pendamping hidupnya sampai rambut kami memutih nanti.
Namun aku takut jika dia tidak bisa menerimaku, setelah tahu bahwa aku sudah pernah ditiduri oleh pria lain, bahkan saat sudah resmi menjadi tunangannya.
Tuhan... jika memang ini adalah cobaan terberat untukku, aku mohon jangan pisahkan kami, karena sepertinya aku tidak sanggup jika harus berpisah darinya...
POV END
Ada yang terlihat tenang, namun dia sedang tidak baik-baik saja. Ada yang memilih diam, namun sebenarnya dia sedang dihantam berbagai masalah. Ada yang terlihat kuat, tapi sebenarnya dia sedang terpuruk.
Namun tersadar bahwa tidak semua orang bisa mengerti, kebanyakan mungkin hanya ingin tau saja, dan semua orang juga pernah memiliki keadaan tidak baik, namun mereka berhasil menutupinya.
__ADS_1
Hanya Tuhan lah yang mengerti bagaimana sulitnya menahan sabar, tanpa harus bercerita panjang lebar.
Yang ikut bersedih atas keadaan Gendhis, jangan lupakan like, vote dan hadiahnya ya😁 pokok e jempolmu semangatkuh👍🏻