Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
30. Long time no see?


__ADS_3

...Happy Reading...


Kini, tak ada lagi semangat dari diri Gendhis untuk mempersiapkan pernikahan megah yang sudah dia idam-idamkan sejak dia masih muda dulu.


Pernikahan yang mewah bagai putri dari negri dongeng di angan-angannya seolah runtuh satu persatu, dan hanya tinggal menunggu kapan saatnya kehancuran dalam hubungan mereka.


Semua jadwal operasi dia batalkan hari ini, dengan alasan sakit kembali, tubuhnya seolah tidak mampu untuk berdiri tegak dengan situasi yang seperti ini.


Hingga deringan ponsel miliknya menghentikan sejenak tangisan yang sedari tadi tak kunjung berhenti.


Calon Misua is calling...


Bahkan baru melihat nama yang tertera di ponselnya saja tangisannya kembali pecah, apalagi jika harus menceritakan tentang apa yang menimpa dirinya kepada calon suaminya kini, sungguh tidak ada daya di dirinya untuk melakukan hal itu.


Semua serba salah, mau jujur sekarang dia belum siap dengan konsekwensinya, namun jika tidak jujur waktu terus berjalan, karena rencana pernikahan mereka sudah hampir seratus persen beres.


Gendhis belum bisa membayangkan jika harus berpisah dengan Panji, hari-hari yang dia lalui dengan segala angan-angan tentang calon suaminya yang tampan itu seolah tidak rela jika harus sirna saat ini, dia benar-benar belum menyiapkan mental untuk itu.


Semua sosok dari pria idamannya ada pada diri Panji, semua terasa sempurna baginya, namun kenyataan terasa begitu pahit untuknya.


" Eherm... iya mas Panji."


Karena dalam keadaan apapun kecuali dalam ruang tindakan Gendhis pasti menjawab panggilan telpon dari tunangannya itu, jadi Panji tidak akan berhenti sampai panggilannya terjawab.


" Hai sayang, selesai jam berapa nanti? mas jemput skalian aja ya?" Ucap Panji dengan suara yang terlihat semangat.


Ya Tuhan... baju pernikahan kami? apa yang harus aku lakukan sekarang?


Gendhis berusaha menahan air matanya, namun saat mendengar suara lembut tunangannya tetesan air mata itu kembali mengalir dengan lancangnya.


" Sayang? are you okey? kok diam aja?" Terdengar kembali suara Panji saat Gendhis hanya diam saja, karena dia memilih membungkam mulutnya sendiri untuk menahan isakan tangisnya.


" Eherm... ma.. maaf mas, kepalaku pusing banget." Hanya itu alasan yang bisa dia berikan, karena tidak mungkin dia bertemu dengan Panji dalam keadaan terpuruk seperti itu.


" Astaga? mas kesana sekarang ya, pantesan suara kamu kayak beda gitu, kamu nangis sayang, apa sakit sekali?" Panji langsung ingin segera menemui wanitanya saat suara Gendhis terdengar mengkhawatirkan.


" No! aku nggak papa kok mas, mending sekarang mas pergi aja ke Butiknya, pihak desainer sudah menghubungiku berulang kali tadi." Gendhis langsung menghalangi niatan Panji.


" Tapi kamu kan lagi sakit sayang? apalah arti dari sebuah baju pengantin, yang penting kan kamunya sehat sayang."


Ya Tuhan... kenapa pria ini begitu baik denganku? bagaimana caranya aku jujur dengannya, aku sangat menyayanginya, aku tidak sanggup jika harus kehilangan dia,Tuhan tolong aku...


Dada Gendhis bahkan terasa semakin sesak mendengar ucapan Panji yang begitu manis terhadapnya.


" Tapi aku sudah istirahat kok mas, palingan juga tidur sebentar udah sembuh."


" Kamu sudah dirumah?" Tanya Panji yang sudah terlihat panik.


" Sudah." Jawab Gendhis berbohong, padahal dia masih ada diruang kerjanya, dia baru akan bersiap-siap untuk pulang.


" Trus mas gimana ini jadinya?" Panji jadi serba salah, padahal dia ingin sekali bertemu dengan Gendhis sedari tadi, namun selalu saja ada halangannya.


" Mas datang aja ke Butik duluan, mereka kan tinggal finishing baju kita aja, bilang aja ukurannya masih sama, atau tambah sedikit di bagian perutnya."


" Bagian perut?" Panji menaikkan kedua alisnya, takut salah dengar.


Aish... apa dia curiga?


" Em... berat badanku kayaknya naik deh mas, mungkin karena akhir-akhir ini kebanyakan tidur kali ya?"


" Owh... bisa jadi sih yank, tapi nggak papa, biar tambah gemuk yang penting sehat kan?" Panji dengan santai saja menjawabnya, dia tidak terlalu mengutamakan soal fisik, karena menurutnya wanita itu terlihat cantik dalam pandangan yang berbeda-beda.


" Maaf ya mas... hiks.. hiks.." Tangisan itu kembali muncul, entah berapa banyak stok air mata yang Gendhis punya, yang pasti tidak akan habis walau keluar tujuh hari tujuh malam sekalipun.

__ADS_1


" Kenapa lagi ini, jangan nangis terus dong sayang, mas nggak suka denger kamu nangis, hati mas ikut sakit saat mendengar isakan tangismu itu."


" Maaf mas." Lagi-lagi hanya kata maaf yang terucap.


" Ya sudahlah.. mas kerumah saja, biarkan saja desainer itu buat baju pernikahan kita sejadinya, cuma dipakai sehari aja ya kan?"


" Jangan mas, aku sudah baikan kok, cuma butuh waktu untuk istirahat saja, nanti kita dikira menyepelekan orang loh, soalnya aku sudah janji tadi atau mas ajak Ratu saja, ukuran bajuku sekarang pasti sama dengan Ratu."


" Huft... Ratu lagi... Ratu lagi, sebenarnya mas itu sudah pusing ngladenin dia." Panji mengacak rambutnya sendiri saat baru membayangkan saja, tingkah Ratu yang memang tengil itu.


" Maaf mas, ini semua aku yang salah."


" Jangan begitu sayang, tidak ada yang salah diantara kita, hanya keadaan saja yang sedikit mempersulit, anggap saja ini sebagai ujian, kata orang kan kalau mau menikah ada saja halangan yang menghadang kan?" Panji mencoba berpikir secara positif.


" Hmm.."


" Yang semangat sayang, kita pasti bisa melewatinya, tinggal dua minggu aja kok."


" Iya mas."


" Ya sudah, nanti sepulang dari Butik mas langsung kerumah kamu ya, mau dibawain apa sayang?"


" Cukup mas datang aja aku sudah senang, melihat mas saja sudah lebih dari cukup di hidup aku."


" Kamu ini yank, udah pinter ngegombal ya sekarang, diajarin sama Ratu ya?" Panji malah terkekeh sendiri saat mendengar ucapan tunangannya yang dia pikir gombal itu, padahal itu adalah jeritan dari hatinya yang paling dalam.


Kuat Gendhis... kamu harus kuat, tahan... kamu pasti bisa!


Gendhis berulang kali menghela nafas panjangnya, bertahan agar isakan tangisnya tidak terdengar diseberang sana.


" Hmm... kalau begitu aku tutup ya? mas hati-hati dijalan, sekali lagi maafkan aku mas."


" It's okey sayang, sampai ketemu nanti ya, love you."


Ingin sekali rasanya Gendhis menjerit saat itu, jauh didalam lubuk hatinya dia tidak tega membiarkan kisah ini berlarut-larut, namun dia sungguh belum siap untuk merasakan luka hati karena mungkin harus berpisah, hatinya benar-benar belum siap sekarang.


Tok.. tok..


Sebuah ketukan pintu membuat Gendhis mengusap paksa kedua pipi lembutnya, bahkan sampai memerah karena usapannya terlalu keras.


" Maaf.. saya sedang tidak menerima pasien hari ini." Gendhis menjawabnya dari dalam ruangan.


" Kalau pasien hati, terima nggak?"


Tiba-tiba Broto langsung nyelonong masuk dan memutar sebuah sebuah kursi untuk duduk santai sambil memandang wajah cantik Gendhis.


" Ngapain kamu kesini!" Ucap Gendhis sambil melengos, dia seolah tidak sudi melihat wajah Broto kembali.


" Long time no see?" Broto bahkan memangku wajahnya dengan kedua tangannya sambil tersenyum kearah Gendhis.


" Pergi kamu!"


" Ngak mau!" Jawab Broto dengan cepat.


" Masih berani kamu menunjukkan wajah burukmu itu didepanku!" Umpat Gendhis yang seolah jijik melihat wajah pria itu, padahal Broto pun sebenarnya tak kalah tampan dari Panji.


" Tampan gini kok dibilang buruk, hampir semua perawat disini tergila-gila denganku, mereka seolah menunggu giliran untuk berkencan denganku, asal kamu tahu saja!"


" TAPI TIDAK DENGANKU, PERGI!" Gendhis bahkan sedikit meninggikan suaranya.


" Wuidiiih... semakin galak kok aku semakin suka ya? kamu nggak rindu apa denganku, setelah malam itu bahkan tidurku seolah tidak nyenyak karenamu?"


" Nggak sudi!" Gendhis terus berkata-kata dengan ketus.

__ADS_1


" Aku mencarimu berulang kali, namun kamu selalu tidak ada diruangan kerjamu, katanya akhir-akhir ini kamu sering sakit?"


" Bukan urusanmu!"


" Apa jangan-jangan?"


" Diam kamu!"


" Woah... apa saham yang aku tanam malam itu berhasil tumbuh dengan baik sayang?" Broto seolah mendapatkan jackpot hari ini, entah mengapa dia sama sekali tidak takut kalau ternyata dia menghamili Gendhis.


" PERGI KAMU DARI SINI!" Gendhis menekankan setiap perkataanya dengan tatapan penuh amarah.


" Utututu... sepertinya dugaanku benar sekali, top cer juga ternyata kecebongku ya kan? jadi kamu sudah percaya kalau aku ini perkasa kan?"


" Jadi ataupun tidak, bukan urusanmu! sekarang kamu pergi dari sini, sebelum aku berteriak!"


" Sayang... jangan galak-galak dong, kasian nanti baby kita tertekan batin didalam sana, apa kamu mau melihat baby lucu kita punya dua taring karena kamu sering marah-marah?" Ledek Broto dengan wajah santainya.


" Jangan mimpi kamu!"


" Gendhis sayang... jangan pernah menyepelekan seorang pria, karena kalau dia sudah berulah, kamu hanya bisa mende sah!" Broto berusaha mendekat dan ingin mengusap wajah wanita itu.


" Jangan sentuh aku!" Namun Gendhis langsung menangkis tangannya dan memilih mundur.


" Ckckck... nggak usah jual mahal, bahkan setiap jengkal ditubuhmu itu sudah aku cicipi semuanya sayang, haha..."


" Pergi kamu dari sini Broto! sebelum kesabaranku habis!"


" Gendhis... apa kamu tidak mau melihat baby itu lahir dan memanggil kita dengan sebutan ayah dan ibu, pasti lucu dan menggemaskan nantinya?"


" Diam kamu!" Untuk membayangkannya saja Gendhis seolah tidak sudi.


" Asal kamu tahu saja, mana ada calon suami yang mau menerima wanitanya yang sudah kotor, apalagi ada janin yang bukan hasil karyanya, lambat laun dia juga pasti akan tahu kalau itu bukan anaknya."


" Pergi!"


" Dan satu lagi, apa kamu yakin mau menikah dengan pria lain dalam keadaan hamil, dan bukan dengan ayah dari janin itu, apa suamimu akan terima nanti? kok aku nggak yakin ya?" Broto sengaja menakut-nakutinya.


" Pergi!"


" Apa dia sebodoh itu mau menerima hasil karya orang lain?"


" Broto, cepat keluar dari sini!"


" Yakin, kamu nggak mau menikah denganku? really?"


" Aku tidak sudi menikah dengan pria bej*t sepertimu!" Hardik Gendhis kembali.


" Padahal aku rindu dengan segala yang ada pada dirimu? tubuhmu begitu candu buatku sayang, apa kamu tidak menyesal?"


" SECURITY!" Teriak Gendhis yang sudah tidak tahan lagi mendengar suara Broto yang seolah menyayat seluruh jiwa dan raganya.


" Oke... oke... fine! aku pergi, jika kamu berubah pikiran temui aku, mari kita mende sah sama-sama, dalam keadaan Halal, bye-bye Gendhis sayang..."


Broto meninggalkan ruangan itu dengan senyuman yang semakin mengembang, menyisakan Gendhis yang semakin terisak dengan tangisannya.


Hatinya yang sudah rapuh seolah tambah remuk redam dengan kedatangan pria yang merupakan ayah dari janin yang dia kandung saat ini.


Bagaimana pun sulitnya hidup, harus tetap kita jalani, meski kaki sudah terluka berkali-kali.


Meski air mata selalu mengalir setiap waktu, hingga kering kerontang. Meski hati hancur lebur sampai-sampai hati tidak berfungsi lagi.


Karena seperti itulah sebuah takdir kehidupan, tapi satu yang perlu kamu ingat, bahwa Tuhan tidak akan membebankan ujian kepada hamba-hambanya diluar batas dan kemampuannya.

__ADS_1


__ADS_2