Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
45. Penguji Kesabaran


__ADS_3

...Happy Reading...


Malam pun terlihat semakin larut, suara deburan ombak di tepi pantai pun seolah terdengar berirama, menemani Panji yang memilih duduk sendiri di sebuah kursi didepan Villa.


Setelah perdebatannya tadi, tidak mungkin dia bisa tidur dengan nyaman satu kamar dengan Broto, bahkan untuk melihat wajahnya saja seolah dia enggan walau hanya sekilas saja.


" Ratu lagi ngapain ya?"


Tanpa dia sadari, kemarahan dia kepada Broto bukan lagi karena Gendhis, melainkan karena adeknya.


Rentetan memori saat-saat dia berdua bersama Ratu, dengan segala tingkah jahilnya seolah tayang kembali di pikirannya.


Dari baju pengantin yang mereka pesan berdua, cincin tunangan dan yang lebih membuatnya terngiang-ngiang adalah saat mereka mengikuti lomba hanya demi jam tangan couple gratisan, semua hal itu mampu membuat Panji seolah melupakan rasanya kepada Gendhis.


Kenangan Panji dengan Gendhis memang terasa manis, namun mudah terlupakan begitu saja, lain hal nya saat dengan Ratu, walau sering cek cok, tidak pernah satu jalan, namun selalu berkesan bahkan membekas dihati dan pikiran.


" Sebenarnya hatiku ini untuk siapa? Aku mencintai Gendhis, namun aku tidak bisa kalau tidak melihat Ratu walau sekejab saja, dia memang nyebelin, ngeselin tapi aku selalu merindukan dia dengan segala tingkah gilanya itu?"


" Atau mungkin aku sudah menyukainya? Tapi sejak kapan?"


" Apa mungkin karena aku sering tanpa sengaja melakukan hal berdua dengannya? Atau sejak aku mendapatkan imun susu malam itu?"


" Woah... Ternyata merk susu cap Ratu sangat berbahaya, saat malam tiba kepalaku seolah terkontaminasi dengan bentuk dan rasa kenyalnya, aisshh... Apa aku sudah gila?"


" Aaaaaa... Ratu, tanggung jawab kamu!"


Panji langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ponsel istri bocilnya. Namun sudah beberapa kali panggilan tidak ada satupun yang di jawabnya.


" Kemana dia? Apa sudah tidur? Baru jam berapa ini, dasar Kebo!"


Umpat Panji yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Ratu dan Gendhis.


Tok.. Tok.. Tok...


Panji langsung saja mengetok pintu itu, daripada dia uring-uringan di tepi pantai sendiri kayak orang gila, mendingan dia mencari orangnya langsung, lagipula dia punya hak khusus sebagai sang suami.


" Mas Panji?"


Ternyata yang membukakan pintu kamar itu Gendhis, bahkan dia terlihat sumringah sekali saat wajah Panji muncul didepan pintu kamarnya.


Gendhis berharap kedatangan Panji malam ini untuk menemui dirinya atau sekedar melepas rindu yang masih membara di dalam dada.


" Ratu mana?"


Bahkan tatapan mata Panji langsung terarah kedalam kamar itu, mencari sosok Ratu disana, tanpa berminat untuk sekedar basa-basi atau menyapa Gendhis duluan.


" Mas, dia sedang...."

__ADS_1


" RATU, kamu dimana?" Teriak Panji yang sudah tidak sabaran, bahkan tidak memperdulikan ucapan mantan kekasihnya itu.


" Astaga ada apa sih pak, udah malem loh ini, hoby banget teriak-teriak, nggak capek apa?" Ratu langsung muncul dari kamar mandi dengan handuk yang masih menggantung di lehernya.


" Ayo kita ke Counter Ponsel!" Panji langsung melewati tubuh Gendhis yang berada ditengah-tengah pintu itu begitu saja.


" Ngapain sih pak?"


" Ponsel kamu rusak kan?"


" Enggak, itu ponselku!"


" Trus kenapa aku telpon tidak kamu angkat!"


" Ya ampun, orang baru ke kamar mandi, ada apa?"


" Cepat angkat telponku!"


Panji langsung berjalan keluar begitu saja, bahkan tanpa menoleh kearah Gendhis saat melewatinya, dan itu cukup membuat hati Gendhis hancur, karena dulu tatapan mata itu selalu terarah kepadanya.


" Aduh gusti, tinggal ngomong aja apa susahnya sih? Kenapa musti di telpon, lihatlah mantan kakak itu, reseknya kebangetan, aku heran kenapa kakak sampai tergila-gila dengannya." Umpat Ratu yang malah jadi sewot sendiri.


" Dia sudah berubah." Gendhis langsung menundukkan pandangannya dan terlihat mengusap matanya dengan cepat.


" Apanya yang berubah, perasaan dari pertama ketemu sebagai dosen dulu sampai sekarang dia tetap saja nyebelin terus deh." Akhirnya Ratu hanya bisa mengumpat perlahan saat melihat kakaknya langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Tulilut... Tulilut...


" Dia sudah tidak seperti dulu lagi, apa karena aku hamil? Hiks... Hiks... Mas Panji, aku rindu kamu yang dulu."


Gendhis hanya bisa menangis dibawah selimut, hatinya begitu hancur saat pria yang sangat dia sayangi itu seolah sudah mengabaikan dirinya.


♡♡♡


" Hallo, ada yang bisa dibanting!"


Ratu langsung menjawab panggilan telpon dari Panji, padahal dia sudah ada dibelakang tubuhnya.


" Aish... Kamu ini menggagetkan aku saja!" Panji langsung melotot kearah Ratu.


" Lagian bapak aneh deh, sudah ketemu juga, ngapain pake acara telpon segala, tinggal ngomong doang apa susahnya!" Ratu pun sekarang sudah tidak begitu takut lagi dengan sosok Panji, karena seolah dia sudah terbiasa melihatnya ketika marah-marah setiap hari.


" Temani aku ngopi!" Panji langsung menarik lengan Ratu dan membawanya pergi kesebuah kafe kecil di sebrang Villa.


Ada beberapa Villa di pulau kecil itu dan ada sebuah kafe kecil yang disediakan untuk sekedar ngopi dan menikmati suasana malam di tepi Pantai.


" Aku nggak begitu suka kopi pak!" Ratu ingin menolak namun sudah tidak bisa, cengkraman tangan Panji begitu kuat.

__ADS_1


" Emang siapa yang nyuruh kamu minum kopi, aku kan cuma menyuruh kamu nemenin aku minum kopi saja?"


" Woah... Anda luar biasa sekali ya pak dosen, jadi cuma nyuruh aku menjadi penonton aja? Bayaran kagak nih?"


" Iya, mulai bulan depan, gajiku semua kamu yang pegang, kemarin aku belum sempat buatin kartu baru untukmu!" Jawab Panji dengan santainya.


" Hah?"


" Hah, heh, hah, heh aja kamu ini, seorang suami kan wajar ngasih semua penghasilannya ke istri, tugas seorang istri yang mengatur keperluan rumah tangga, tapi awas aja kalau sampai kamu pergunakan buat foya-foya nongkrong di kafe, aku bekukan kartu itu nanti!"


Ada rasa senang pada diri Ratu, namun dia masih seolah tidak percaya saat mendengarnya, dia saja masih ragu menjalani hubungannya ini, namun Panji bahkan sudah ingin menunaikan tugasnya sebagai seorang kepala rumah tangga baginya.


" Kamu mau pesan apa?" Tanya Panji saat mereka sudah sampai di Kafe.


" Apa aja deh pak, yang penting anget!" Jawab Ratu yang memang terlihat kedinginan karena angin laut yang terasa kencang, apalagi rambutnya yang masih sedikit basah karena baru selesai mandi keramas tadi.


" RATU!"


Saat mereka baru saja duduk di kursi Kafe dan ingin memesan minuman, tiba-tiba teman SMA nya dulu datang menyapanya.


" Edward?" Ratu pun seolah tidak percaya saat melihatnya.


" Yes, kamu apa kabar, woah.. Tambah cantik aja kamu, nggak salah ayah ibu kamu ngasih nama kamu Ratu ?" Edward langsung duduk saja tanpa permisi, bahkan mengacuhkan Panji yang sedari tadi sudah melotot kearahnya.


Cih...dia berani memuji istriku langsung didepanku?


Panji hanya bisa memejamkan matanya untuk menahan emosi didada, karena tidak ingin membuat keributan disana.


" Aku baik, kamu bisa aja deh, predikat kamu sebagai raja gombal emang nggak pernah hilang ya? Hehe... Owh ya.. kok kamu ada disini?" Tanya Ratu dengan exited juga, karena sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu.


" Kakak aku besok pagi menikah, mereka buat acara pestanya di Villa yang diujung sana, jadi kami sekeluarga menginap disini malam ini kalau kamu menghadiri acara juga disini?"


" Hmm... bisa dibilang liburan juga lah kurang lebihnya."


" Owh iya, kamu sama siapa? Bapak kamu ya? Tadi kamu panggil dia bapak?" Tanya Edward dengan ragu, karena pria itu masih terlihat muda pikirnya.


Sialaaan bocah yang satu ini, memangnya aku setua itu, bahkan aku lebih tampan darinya?


" Owh... Bukan, dia..."


" AKU SUAMINYA!" Panji seolah sudah tidak tahan lagi melihatnya, dan ingin segera pergi dari sana.


" Hah, suami? Kapan kamu menikah Ratu?" Tanya Edward yang seolah tidak percaya.


" Emm.. Itu.. Anu..."


" Maaf, kami tiba-tiba ada keperluan lain, permisi!"

__ADS_1


Panji langsung merangkul pinggang Ratu dan membawanya pergi dari sana. Entah kenapa akhir-akhir ini seolah banyak sekali yang menguji kesabaran dirinya karena Ratu, hatinya selalu merasa tidak terima jika ada yang mengusik istri bocilnya itu, bukan karena Gendhis atau karena hal yang lainnya.


TO BE CONTINUE...


__ADS_2