
...Happy Reading...
Tidak ada hal yang bisa menggambarkan betapa terlukanya hati dari seorang Panji saat ini, dia seolah masih belum bisa percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar saat ini.
Wanita yang sangat dia cintai, wanita yang sangat dia bangga-bangga kan didepan semua teman dan sanak saudaranya, kini tengah mengandung sebuah janin dan kenyataan yang paling pahit adalah anak itu bukan dari buah cintanya.
Dia yang selalu menjaga kedua tangannya agar tidak menyentuh area terlarang dari wanitanya itu, sebelum ada kata SAH terucap didepan Penghulu, Ternyata semuanya kini sudah tersentuh oleh tangan yang lain.
" Maafkan saya, tolong ampuni saya."
Sebenarnya bukan hanya Panji, Gendhis pun merasakan hal yang sama, namun dia tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang, dia berada di posisi yang serba salah bahkan dia tidak berani melihat ke arah wajah Panji sedari tadi.
" Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Jika memang kamu punya pria idaman lain, kenapa kamu harus memaksa aku untuk mengajak menikah saat itu? apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini? HANCUR GENDHIS!"
Air mata yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun, kini menetes membasahi rahangnya yang keras karena menahan emosi.
" JANGAN MEMBENTAKNYA!"
Entah mengapa Broto merasa tidak terima, saat calon ibu dari anaknya itu dibentak sebegitu kerasnya, bahkan isakan tangisnya semakin keras karenanya.
" Aku tidak punya urusan denganmu!" Teriak Panji yang langsung menatap Broto dengan tatapan bengis, karena menganggap dia lah puncak permasalahan dari semua ini.
" Tapi aku yang menghamilinya!" Jawab Broto dengan lantangnya.
Prok.. Prok.. Prok..
Panji langsung mengangkat kedua tangannya ke udara dan menepuk kedua telapak tangannya dengan keras.
" Woah, luar biasa! Apa kamu bangga karena telah menjadi orang ketiga! Apa tidak ada wanita lain yang bisa kamu dapatkan selain dia!" Panji masih tidak habis pikir kenapa ini semua bisa terjadi, ternyata kecurigaannya akhir-akhir ini terjawab sudah tentang pria yang menjadi rivalnya ini.
" Mas, aku tidak pernah berkhianat darimu, ini semua bukan keinginanku mas, tolong maafkan aku." Gendhis kembali membuka suaranya, walau sebenarnya dia sudah tidak punya tenaga untuk ini.
" Lalu kenapa ini bisa terjadi, KATAKAN!" Teriak Panji tidak tertahankan lagi.
" Kamu bisa nggak nanya pelan-pelan, dia sedang hamil, apa kamu lupa!" Broto yang berada disamping kiri Gendhis langsung mengusap bahu Gendhis perlahan.
" Jangan menyentuhnya!" Panji seolah masih tidak rela, dia belum terbiasa jika wanitanya itu disentuh oleh pria lain selain dirinya.
" Cih... Aku bahkan seudah melihat semuanya!" Umpat Broto yang membuat emosi Panji semakin memuncak.
" Hei kamu! Siapa nama kamu!" Akhirnya suara Eyang menengahi perdebatan mereka malam ini.
" Broto Suseno bin Joko Suseno." Jawab Broto dengan lengkap dan mantap.
" Joko Suseno apanya Joko Tingkir?"
" Pffftttthhhh!"
Pertanyaan Eyang mampu membuat semua orang disana menahan tawa, padahal awalnya suasana ruangan itu terasa mencekam, namun pertanyaan Eyang seolah menggelitik perut mereka.
" Eyang, ini bukan sebuah lelucon!" Hanya Panji saja yang tidak terpengaruh, bahkan mungkin ada badut yang lewat didepannya pun dia tidak bisa tersenyum.
__ADS_1
" Eyang kan cuma tanya saja, siapa tahu kita bisa ngombe dawet bareng ya kan? Seger loh disaat suasana panas begini." Jawab Eyang yang seolah tanpa punya beban hidup.
" Kalau Eyang tidak bisa serius, biar Panji selesaikan semua ini secara laki-laki di luar!" Panji bahkan sudah menggulung lengan kemejanya dengan amarah yang tidak terkendali, jiwa kelakiannya seolah terinjak-injak kali ini.
" Dengan senang hati, Loe jual gue Beli Bos!" Jawab Broto tanpa rasa takut sedikitpun.
" HEI.. DIAM KALIAN BERDUA! Tidak ada yang boleh melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini walau satu jengkal pun, duduk kalian berdua!"
Bahkan power suara Eyang masih ngebas saat ini, suaranya bahkan menggema diruangan itu.
" Kapan kalian melakukan hal ini!" Tatapan Eyang beralih kearah Broto kembali.
" Saat itu kami datang ke pesta ulang tahun rekan satu profesi kami, disalah satu hotel dan saat itu kami meminum beberapa gelas al ko hol untuk meramaikan pesta, namun tanpa sengaja semua itu membuat kami tidak sadar telah melakukan hal itu."
Broto mulai memerankan perannya malam ini dan Gendhis pun hanya bisa menundukkan kepala saja dengan tangisannya yang tiada henti.
" Benar begitu Gendhis?"
Namun Gendhis hanya menundukkan kepalanya, tanpa mengatakan iya atau pun tidak.
" Dan sekarang kamu beneran sudah positif hamil?" Tanya Eyang kembali.
Dan lagi-lagi, Gendhis hanya mampu menganggukan kepala tanpa bersuara, dia berada disituasi yang terjepit oleh ancaman dari Broto.
" Baiklah kalau begitu, tapi Eyang sudah tidak bisa lagi menerima kamu sebagai calon istri Panji saat ini."
DOR!
" Lalu kamu ingin menorehkan noda diatas nama baik keluarga kami, begitu?" Tanya Eyang yang membuat semua orang disana kembali bungkam.
" Bukan begitu maksud aku Eyang, tapi.." Gendhis tidak bisa berfikir banyak untuk itu, karena pikirannya pun kalut, apalagi dalam situasi terhimpit seperti ini.
" Eyang, jangan begini?" Panji ingin membela Gendhis walau dirinya pun sebenarnya bimbang dan ragu dengan hubungannya kini, apa masih pantaskah dia melanjutkan kedepannya nanti.
" Panji, sekarang mungkin kamu bisa menerima dia karena pikiranmu yang pendek itu, tapi setelah anak yang berada di perutnya itu lahir, apa kamu masih bisa menerima dia dengan sepenuh hati? Sedangkan kita semua tahu, bahwa ayah dari anak itu sekarang ada disini, coba kamu pikir masak-masak Panji, jangan hanya mengandalkan rasamu yang tidak seberapa itu!" Umpat Eyang yang sudah gemas sekali saat melihat kebucinan cucu satu-satunya itu.
" Tapi dia kekasihku Eyang, dia milikku!" Jawab Panji dengan lemah.
" Dia belum sah menjadi milikmu, kalian belum menikah bukan? Apa yang harus kamu beratkan!" Ingin sekali rasanya dia menjitak kepala Panji karena dia masih saja berkilah.
" Tapi Eyang?" Dia belum punya persiapan sedikitpun untuk berpisah dari orang yang sangat dia cintai kini.
" Panji, apa kamu ingin melawan kehendak Tuhan? Jika memang dia bukan jodohmu, sekuat apapun kamu memegangnya, dia tidak akan pernah bisa menjadi milikmu!" Akhirnya kaya bijak dari eyangnya pun keluar juga.
" Broto! Apa kamu bersedia menikahi Gendhis?" Akhirnya ayah Gendhis yang menjadi wali sahnya langsung angkat bicara agar masalah ini cepat menemukan titik temu yang terbaik.
" Aku tidak masalah." Jawab Broto dengan santainya, karena sedari awal dia memang tidak keberatan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
" Kalau begitu nikahi Gendhis besok, bawa orang tuamu kemari." Ucap Ayah Gendhis yang tidak terbantahkan.
Degh!
__ADS_1
Gendhis semakin tidak rela saja saat mendengar keputusan dari ayahnya, dia masih sangat membenci Broto saat ini, bagaimana bisa orang yang paling dia benci menikah dengan dirinya besok, pikirnya.
" Tapi ayah, Gendhis tidak mencintainya, kami tidak punya hubungan apapun kecuali rekan kerja, aku hanya mencintai mas Panji yah, tolong jangan begini ayah." Gendhis langsung duduk bersimpuh dikedua kaki ayahnya, memohon agar tidak menikahkannya dengan Broto.
" Apa saat ini rasa cintamu itu masih penting? Apa kamu tidak kasihan jika anak yang kamu kandung itu nanti lahir?" Walau Pedih, namun itulah keputusan yang terbaik untuk semua, mau sebenci apapun putrinya dengan pria itu, dia tetaplah ayah kandung dari janinnya.
" Aku tidak menginginkannya ayah, aku benci dia!" Gendhis tiba-tiba histeris dan ingin memukul perutnya.
" Gendhis."
Broto langsung memeluk tubuh Gendhis untuk menahan tangannya, dia masih tidak rela jika calon babynya kontraksi awal karena kejadian ini.
" Lepaskan dia!" Panji kembali tidak terima saat melihat aksi Broto.
" Diam kamu Panji, dia lebih berhak atas diri Gendhis saat ini." Eyang langsung melotot kearah Panji.
Dan tidak ada yang bisa membela siapapun disini, bahkan Ratu huru-hara saja hanya terlihat menyimak sedari tadi, karena dia juga tidak punya wewenang untuk ikut campur dalam semua masalah yang terjadi.
" Tapi karena sanak saudara dari keluarga besar kami, juga tetangga-tetangga kami pun sudah mendapatkan undangan itu dan tidak mungkin kita mampu membatalkan semua dalam semalam, jadi kita tidak mungkin juga membatalkan pernikahan Panji." Ucap Eyang kembali yang mampu menyita perhatian mereka.
" Lalu maksud Eyang bagaimana? Eyang sudah memisahkan hubunganku dengan Gendhis, tapi Eyang masih tetap ingin pernikahanku berlangsung, aku hanya punya Gendhis Eyang." Panji hanya bisa menjambak rambutnya sendiri, dia seolah begitu prustasi dengan kenyataan pahit ini.
" Aku kan juga tidak mau nama baik keluarga kita tercoreng Panji, apa kata mereka jika pernikahanmu gagal dimalam sebelum pernikahan kalian berlangsung coba dan ini semua bukan kesalahan dari kamu?" Ucap Eyang dengan tenang sekali.
Karena Eyanglah pihak paling santai saat mendengar berita mengejutkan malam ini, karena memang firasatnya sedari awal Gendhis bukan jodoh Panji sang cucu kesayangannya itu.
" Jadi apa yang Eyang inginkan?" Ayah Gendhis pun dengan legowo ingin menerima semua syarat dari pihak keluarga Panji, yang memang telah dirugikan oleh kejadian ini.
" Aku memang menolak Gendhis untuk menjadi calon menantu di rumah kami, tapi tidak dengan adeknya, karena sedari awal aku memang lebih menginginkan Ratu menjadi pendamping hidup Panji."
DUAR!
Dan itu sontak membuat semua orang disana melongo mendengarnya, bagaikan ada petir disiang bolong, seolah tiada mendung hujan pun turun, bahkan pikiran mereka tidak ada yang sampai kesana.
" Uhuk.. Uhuk.. Uhuk!"
Ratu langsung terbatuk karena merasakan sesak didadaanya saat namanya disebut.
" Minum dulu Ratu, pelan-pelan saja nak!" Ibu Ratu langsung mengambil dan membukakan satu botol air mineral yang memang disediakan oleh hotel itu.
" Jadi besok, Panji juga akan menikah dengan Ratu."
" Uhuk.. Uhuk.. Hoerrkkk!"
Bahkan setelah Ratu menenggak air mineral satu liter itu, dia langsung muntah ketika sang Eyang kembali melanjutkan perkataannya.
Kita semua adalah para pejuang yang berjuang di lintasan masing-masing.
Kita semua berusaha untuk mencapai tujuan masing-masing, meski bentuknya tidak sama, tapi percayalah kita pasti punya kesulitan masing-masing dalam Takdir kita.
Kita hanya sedang ditempa menuju kualitas yang lebih baik lagi, kita hanya sedang ditempa menjadi pribadi yang lebih hebat.
__ADS_1
Barangkali itu membuat kita Letih, adalah kita yang berusaha memenuhi standar kebahagiaan orang lain dan lupa dengan ukuran bahagia kita sendiri.