Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
13. Tampang Angry Bird


__ADS_3

...Happy Reading...


Ketika malam Minggu tiba, biasanya begitu identik dengan pasangan yang melakukan quality time berdua.


Namun terkadang saat malam Minggu tiba seringkali menjadi momen yang membuat para jomblo hanya bisa gigit jari.


Tapi itu tidak berlaku dengan gadis yang satu ini, dia bahkan sudah melakukan kesepakatan bersama untuk menjadi mak comblang dosen di kampusnya dengan kakak perempuannya sendiri.


Dengan menggunakan kemeja panjang berwarna biru dongker yang digulung sampai lengan dan dipadukan dengan celana jeans dan juga sniker berwarna putih, Panji datang dengan membawa satu buket bunga mawar berwarna merah ditangannya.


" Piwwitt... cie yang mau apel?"


Karena mereka sudah kong kalingkong, jadi Ratu sengaja menunggu Panji didepan rumahnya sambil bermain smartphonenya hanya dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong saja.


Dia tidak pernah menggangap kalau malam minggu adalah hari yang spesial, karena menurutnya dia belum pernah benar-benar menemukan pria spesial yang mampu membuat hatinya benar-benar bergetar dan takut akan kehilangan dirinya.


" RATU!"


Panji langsung memelototkan kedua matanya saat anak didiknya itu seolah meledek dirinya.


" Hayow... bukannya kemarin kita sudah deal, agar bapak tidak memasang tampang angry bird denganku? ingat pak, kalau mau mulus jalannya, harus baik-baikin adeknya, atau mau aku jelek-jelekin bapak didepan kak Gendhis nih?" Ancam Ratu seketika.


" Ratu, jangan main-main kamu!"


" Aku tidak main-main, tapi kalau bapak selalu memasang tampang galak denganku, bukan hanya aku yang takut, tapi kak Gendhis juga loh, jadi mau pedekate nggak nih?"


" Siapa juga yang galak, orang saya biasa aja kok." Selain melihat kaca, seseorang memang tidak bisa melihat telinganya sendiri.


" Biasa menurut bapak, tapi menurut kami semua sangat mengerikan." Umpat Ratu perlahan.


" Kamu ngomong apa tadi?"


" Eh.. enggak kok! bapak bawa apaan tuh?" Ratu memilih mengalihkan pembicaraan daripada emosi dosennya itu kembali meledak.


Bunga mawar merah, satu tanda cinta, yang berarti bahwa ku cinta padamu Gendhis, hehe... asyeekk!


" Bunga Mawar Merah." Jawab Panji sambil bernyanyi didalam hati dan mengamati buket bunga yang baru saja dia beli tadi.


" Dih... ini sih cerita lama pak, sebenarnya bapak itu mau ngapel atau mau ziarah kubur sih, ngapain bawa kembang segitu banyaknya?" Bukan Ratu kalau pemikirannya sama seperti orang lain pada umumnya.


" Kan biasanya gitu? bukannya wanita suka kalau dikasih bunga?"


" Hedeeeh... itu sih jaman purbakala, kalau cewek jaman sekarang tuh lebih suka dibawain makanan, contohnya nih, nasi goreng kambing, seblak, atau mungkin bakso isi kepala kambing yang terkenal diujung sana tuh, baru keren namanya!"


" Nggak sekalian bakso isi kepala Unta, biar sama gerobaknya sekalian dibawa kesini?"


" Seriusan ini pak, tapi kalau ada ya bagus juga tuh idenya, kita bisa mukbang bakso bareng kan, hehe.."

__ADS_1


" Ckk... itu sih mau kamu, sekarang dimana kakakmu?" Dia tahu benar bagaimana bandelnya si Ratu, jadi dia malas menggubris rengekannya.


" Cie... yang udah nggak sabaran amat, udah ngebet banget nih pak dosen?"


" Berani ngledek saya, besok senin saya kasih tugas dobel kamu!"


" Yaelah pak, mau ngapel juga yang diomongin tugas, bosen tau pak!"


" Cepat panggil kakakmu trus kerjain tugas dari saya tadi pagi, buruan sana!"


Dasar Dosen nyebelin, lihat saja.. aku kerjain bapak sekarang, hehe..


" Okey! Ayaaaaaaah... ibuuuuuu... pacarnya kak Gendhis datang ini!" Teriak Ratu dengan suaranya yang menggelegar.


" Hah? ayah dan ibu kamu ada dirumah? kenapa nggak ngomong dari tadi kamu Ratu!" Panji langsung kelabakan sendiri, melihat bagaimana penampilan dirinya ada yang salah atau tidak.


" Hehe... surprize!"


" RATU ANDARA!" Umpat Panji sambil memejamkan kedua matanya sekilas, akhirnya dia pusing sendiri bekerja sama dengan mahasiswinya yang satu ini.


" Ayo pak, silahkan masuk, ayah sama ibu sudah turun tuh." Ratu menaikkan kedua alisnya dengan senyum jahilnya.


Mampus gue, ngomong apa ya nanti? mana aku nggak bawa apa-apa lagi buat mereka, gimana mau cari perhatian orang tuanya, aish... Ratu, awas kamu nanti ya!


" Emang Gendhis sudah punya pacar? kok ibu baru tahu nak?" Ibu Ratu langsung mempercepat langkahnya karena tidak sabar ingin melihatnya dari jarak dekat.


" Owh ya? namanya siapa?" Ayah Ratu pun langsung ikut penasaran jadinya.


" Selamat malam Om dan Tante, perkenalkan nama saya Panji Abisatya, saya memang dosennya Ratu di kampus." Panji langsung menyalami kedua orang tua Ratu dengan sedikit ketar-ketir, apalagi ayah Ratu adalah salah satu penyumbang dana terbesar di kampusnya, dan kampus itu pun juga milik keluarga besar Ratu.


" Hmm... begitu ya, bagaimana dengan Ratu kalau di Kampus nak?"


" Emm... cu... cukup baik Om."


" Hanya cukup saja?"


" Pffthhh.." Ratu malah menahan tawa saat melihat wajah Panji yang terlihat kebingungan saat menjawabnya.


" Ya.. lumayan Om."


" Katanya sering merah? berarti bapak bohong ya kemarin?" Ratu sengaja menambah kepanikan sang dosen.


Aish... bocah yang satu ini benar-benar mengujiku!


" Merah? emang nilaimu sering merah Ratu?"


" Hmm.. mata pelajaran pak Panji tuh yang sering dibuat merah." Celoteh Ratu yang berhasil membuat Panji hanya bisa mengumpatnya didalam hati dan menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


" Dibuat merah apa memang nilai kamu merah?"


" Emm... ada beberapa nilai Ratu yang merah Om, tapi hanya sebagian saja, yang lainnya lumayan bagus kok." Mau tidak mau Panji memilih sedikit berdusta, karena dia merasa segan dengan orang tua Ratu, berbeda saat ngobrol dengan Gendhis, dia bisa lebih jujur dan santai.


" Syukurlah kalau begitu, saya sengaja menerima dosen-dosen terbaik disana, agar mereka bisa mengajar dengan baik, dan mampu mencerdaskan setiap anak didiknya, saya juga sengaja memberikan gaji mereka lebih tinggi daripada yang lain, agar mereka bisa membuat siswa yang tidak pintar menjadi pintar, bukan hanya sekedar mengajar saja."


" Iya pak."


" Dengerin tuh pak."


Ratu yang seolah sudah memegang kartu Panji sekarang, menjadi lebih berani, dan rasa ketakutannya juga sudah berkurang, tidak seperti dulu lagi.


Ratu... habis kamu besok bapak buat ya!


Panji hanya bisa tersenyum sambil melirik kearah Ratu dengan kesal.


" Kalau begitu selamat datang dikeluarga Andara, baik-baik ya sama Gendhis, pesan Tante nanti jangan keluar sampai larut malam ya?"


" Baik Tante, terima kasih."


Ada rasa lega dan juga bahagia disaat kehadirannya diterima dengan baik oleh keluarga Ratu dan Gendhis, karena ternyata mereka tidak seburuk yang Panji bayangkan tadi.


" Om dan Tante ada acara diluar, kalau begitu kami tinggal dulu ya."


Saat mengetahui kekasih putrinya adalah salah satu dosen di kampus keluarganya, dia sedikit merasa tenang, setidaknya dia bisa tahu tentang seluk beluk dan latar belakang Panji dengan mudah.


" Silahkan Om dan Tante, hati-hati dijalan."


Akhirnya Panji bisa tersenyum dengan tenang, saat satu rintangan dalam perjalanan asmaranya bisa dia lalui dengan mudahnya, seolah dunia berpihak dengan kisah cintanya kali ini.


" Ratu sini kamu!" Saat mereka sudah berlalu, Panji langsung menggeratkan giginya dan menjerit memanggil Ratu.


" Weeerrkk! kejar aku dong pak, sini kalau bisa, haha..."


Ratu langsung berlari menjauh dengan segala ejekan yang membuat rasa kekesalan didiri Panji semakin bertambah kali lipat.


" Awas kamu ya Ratu!"


Entah dapat dorongan darimana dia, sehingga Panji malah sempat-sempatnya meladeni kelakuan Ratu yang seolah bertingkah layaknya anak-anak yang sedang bermain adegan 'kejar daku kau ku tangkap'.


" Mas Panji! kamu kesini mau ngapelin Aku apa Ratu!"


Tiba-tiba terdengar suara Gendhis dari arah tangga mewah didalam rumahnya, dengan tatapan yang seolah tidak suka, saat melihat mereka berdua seperti asyik bersenda gurau dan berlari kejar-kejaran.


Semakin dewasa kita harus semakin paham, bahwa mencari pasangan bukan hanya ketika dia asyik saat diajak pacaran saja.


Tapi mencari yang bisa diajak belajar bersama untuk tumbuh lebih baik, punya pemikiran yang open minded dan bisa saling support.

__ADS_1


__ADS_2