
...Happy Reading...
Malam pertama bagi Panji dan Ratu berakhir begitu saja, Sesajen dari Eyang ternyata hanya mampu membuat sepasang pengantin baru ini sampai ke tahap icip-icip saja.
Bahkan endingnya kepala Panji harus benjol karena terhantuk sudut mejanya di kamarnya sendiri, namun itu tidak masalah baginya, karena Panji akhirnya bisa merasakan hal yang selama ini Arga pamerkan kepadanya.
" Selamat pagi semua."
Ratu berjalan sempoyongan menuju ruang makan, sudah hampir tujuh kali sang asisten rumah tangga keluarga Panji membangunkan Ratu, namun panggilan ke terakhir baru bisa membangunkan tidurnya sang Ratu.
" Lihatlah, menantu pilihan Eyang, jam segini baru bangun, udah mandi belum kamu cil.. Bocil!" Ledek Panji yang sudah menikmati sarapan nasi gorengnya dengan nikmat.
" Udah dong, maaf aku bangun kesiangan, soalnya pesta kemarin bikin seluruh badanku pegel semua, owh ya.. tadi malam bapak digigitin nyamuk nggak pak?"
Ratu dengan santainya duduk disamping Panji, tidak ada rasa segan atau apapun itu saat dia bangun kesiangan, karena menikah saat ini bukan pilihan hatinya, jadi dia tidak perduli dengan penilaian keluarga Panji, toh mereka yang menginginkan dirinya menjadi menantu di keluarga ini pikir Ratu.
" Emang ada nyamuk di kamar kalian?" Ibu Panji langsung menaikkan kedua alisnya, selama dia tinggal disana, kebersihan rumah itu selalu terjamin, jangankan nyamuk, lalat juga tidak diperbolehkan masuk rumah mewah itu.
" Mana ada, dia aja tidur kayak kebo, nyamuk pun ogah sepertinya nempel ke kulitnya." Panji langsung tersenyum miring melihat Ratu yang seolah kebingungan.
Dia mengingat tingkah Ratu saat tidur, terkadang seperti mayat hidup, terkadang gerak-gerak sendiri, bahkan menyepak sesuka hati, jadi Panji memilih tidur di sofa kamarnya, selain lebih aman, dia juga takut jika tergoda kembali oleh dua benda kenyal yang terasa nikm@t baginya, walau sebenarnya tidak ada rasanya sama sekali, apalagi keluar asi nya, karena memang belum waktunya.
" Masak sih pak, atau sprei kamar bapak yang belum diganti ya?" Ratu masih kekeh dengan pendapatnya.
" Nggak mungkin, sebelum kalian pulang, Eyang sudah menyuruh bibi untuk mengganti sprei kalian kok." Eyang langsung ikut berkomentar, karena memang dia yang menabur bunga setaman dan membakar kemenyan disana.
" Trus kenapa tubuhku merah-merah, kalau nggak digigit nyamuk atau kutu kasur, trus digigit apa dong?" Tanya Ratu dengan heran.
" Mana sih nak, coba ibu lihat, nanti biar ibu kasih salep biar nggak gatel." Ibu Panji seolah merasa tidak percaya juga, namun dia kasihan juga jika memang benar adanya.
" Tapi herannya kan buk, yang merah-merah itu cuma di sekitar sini aja." Ratu langaung ingin membuka kancing bajunya untuk menunjukkan kepada ibu mertuanya bagian tersembunyi yang ada bekas berwarna merah.
Krompyaangg!
Tiba-tiba Panji langsung menyingkirkan piring dihadapannya bahkan sampai jatuh dan pecah berhamburan ke lantai, saat dia mengingat aksi gilanya tadi malam, kepalanya memang cukup lama tenggelam di antara dua bukit kembar itu, bahkan tanpa sadar dia meninggalkan banyak bekas disana karena terlalu menikmati hidangan alaminya.
" JANGAN RATU!" Panji langsung menahan tangan Ratu, saat satu kancing bajunya sudah terlepas.
" Astaga Panji, kamu kenapa? Lihat itu berantakan sarapanmu!" Ibu Panji langsung melotot kearah putranya yang terlihat tegang dan panik.
" Awas pak, ini merah-merah, ntar kalau menjalar kemana-mana gimana? ibu mertua mau lihat dulu!" Ratu langsung mencubit tangan Panji agar segera menyingkir dari tubuhnya.
" RATU!" Panji memelototi dirinya untuk memberikan kode, namun Ratu tidak tahu maksud dari tatapan suaminya itu.
" Apa sih Panji, kembali ke tempatmu sana!" Ibu Panji langsung menjewer telinga Panji agar segera menyingkir dari tubuh istrinya.
__ADS_1
" Ini loh buk, merah-merah sampai kayak gini, tapi nggak gatel loh, aku takut buk, ini bukan gejala penyakit berbahaya kan buk?" Pikiran Ratu bahkan sudah sampai ke penyakit kronis yang bisa menyerang bagian wanita yang satu itu.
" Astaga Ratu!" Panji hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar, saat Ratu benar-benar membuka dua kancing baju itu setelahnya.
" Pffffffttttthhhhh!"
Akhirnya ibu Panji langsung menahan tawanya, tadi dia sempat khawatir, namun saat melihat merah-merah itu ternyata bekas kiss mark, rasa panik itu berubah menjadi tawa.
" Buk, kok malah ketawa sih, ini bahaya enggak? Aku pernah digigit nyamuk, tapi bekasnya nggak sebanyak dan seperti ini loh bentuknya?" Tanya Ratu dengan wajahnya yang terlihat risau.
Gaya pacaran Ratu selama ini terbilang normal, kalau civman sekitar area wajah saja dia pernah melakukannya, namun kalau area leher kebawah dia memang belum berani mencobanya.
" Haha... tenang saja nak, itu tidak berbahaya, emang kalian ngapain aja tadi malam, bergadang ya?" Ibu Panji langsung kembali duduk ditempatnya setelah melirik wajah Panji yang sudah lemas karena menahan malu.
" Enggak kok buk, aku langsung tidur, capek banget soalnya!" Jawab Ratu dengan polosnya.
" Bisa jadi itu beneran digigit nyamuk-nyamuk nakal nak." Ibu Panji kembali meneruskan sarapannya, entah mengapa dia merasa senang bahkan lega saat melihatnya.
" Beneran nggak bahaya buk, atau aku perlu minta obat ke klinik nanti?" Ratu pun sempat terkejut saat mandi tadi, dia fikir itu kotoran sisa make up, namun saat dia gosok-gosok pake sabun pun tidak bisa hilang, jadi dia menyimpulkan itu digigit oleh hewan.
" Hahaha... Nggak usah nak, dua atau tiga hari lagi juga hilang sendiri itu." Bahkan ibu Panji sampai memegangi perutnya, dia juga tidak menyangka jika Ratu masih sepolos itu.
" Yakin buk!" Tanya Ratu yang masih belum percaya begitu saja.
" Ratu kamu bisa diam nggak, makan itu sarapanmu, jangan ngoceh aja pagi-pagi udah kayak burung beo kamu." Panji kembali melotot ke arah istrinya yang masih terlihat cuek.
" Apa yang nggak lihat, orang aku yang... Emm... Itu.. Anu... Sudahlah!" Panji hampir saja keceplosan bicara kalau dia yang membuat hasil prakarya itu.
" Hahaha... Aduh, Eyang.. Eyang.. Lihatlah cucumu yang satu ini, Katanya nggak cinta, tapi doyan juga, bahkan beraksi dengan lahap loh Eyang." Ibu Panji bahkan sampai menghentikan sarapannya, karena merasa lucu melihat pasangan pengantin baru itu, yang satu polosnya kebangetan, yang satu jaimnya nggak ketulungan.
" Emang itu merah-merah kenapa sih?" Eyang yang sedari tadi menyimak langsung ikut penasaran jadinya.
" Bekas gigitan macan kehausan lah!" Ledek Ibu Panji kembali.
" Maksudnya?" Eyang langsung mencerna dengan cepat ucapan ibu Panji.
" Nostalgia saat dia masih jadi bayi lah Eyang, tapi korbannya ganti bininya, haha.."
" HAH?"
Ratu langsung menjeling ke arah ibu mertuanya, pikirannya masih loading, mencoba mencerna apa yang dikatakan olehnya.
" Sudahlah, ayo Ratu kita harus segera berangkat!" Panji langsung menarik lengan Ratu saat dia masih terbengong, karena sudah ketahuan oleh ibu dan Eyangnya,masih baik ayahnya sudah berangkat kerja, kalau tidak habis Panji dibully satu rumah.
" Eh.. Tunggu, aku belum selesai sarapan pak!" Ratu malah jadi tambah bingung.
__ADS_1
" Nanti kita sarapan dijalan aja." Umpat Panji sambil mengeratkan barisan gigi putihnya.
" Tapi mau kemana?"
" Ke Kampus, banyak tugas kampus menantimu!"
" Nggak mau, kita kan rencananya mau bulan madu hari ini, apa bapak lupa?"
" Cieeeee... Bulan madu kemana nak?" Ledek ibu mertuanya dengan heboh, seolah jiwa mudanya kembali bergejolak.
" Masih belum tahu buk, ayah yang akan mengurus semua trip bulan madu kami nanti."
" Mau Eyang buatkan jamu nggak Panji? Biar bisa tujuh putaran, siapa tahu langsung top cer nantinya." Sang Eyang pun tak kalah heboh saat mendengarnya, tidak sia-sia dia membuat sesajen kembang tujuh rupa pikirnya.
" Aish... apa sih kalian, ayo Ratu buruan!" Panji lansung memaksa Ratu agar segera pergi dari sana.
" Tapi pak, ehh... ini gimana sih ceritanya?" Otak Ratu yang memang kurang encer semakin tersumbat saja karena belum berpengalaman apa-apa dalam hal ranjang bergoyang.
" Semangat nak! jangan lupa oleh-olehnya cucu aja ya, dua skalian biar seru!" Ibu Panji bahkan seolah mengobarkan semangat kepada mereka.
" Emang cucu bisa dibeli apa? Emang ada yang jual? sebenarnya ngomong apa sih ibu sama Eyang bapak itu!" Ratu berfikir sambil berjalan terburu-buru karena tangannya ditarik oleh Panji.
" Makanya jangan sembarangan ngasih tahu aib sendiri kamu!" Umpat Panji sambil melotot ke arah Ratu yang terlihat masa bodoh itu.
" Aib apaan? Orang aku nggak ngapa-ngapain kok!" Dia masih belum sadar juga, karena tadi malam dia memang tidak merasa melakukan hal apapun, bahkan saat dia terbangun saat tengah malam, dia tidak melihat Panji ada disampingnya.
" Aduuhh... bocil yang satu ini memanglah!"
" Apa sih pak, dari tadi sewot mulu deh, kayak orang kebanyakan masalah aja!" Ledek Ratu dengan senyum sinisnya.
" Dih... kamu itu yang bermasalah!" Panji merasa gemas sendiri melihat Ratu yang terlihat cuek-cuek saja."
" Owh suamiku... Lupakan masalahmu, ambil kopimu, mlaku ke depan, cari pemandangan yang wuueenakk, sebul kopimu, tuangkan neng lepek, Ucrut... Ucrut... Ucrut... Serupuuuuut, Jooooooosssshhh!"
" Ratuuuuuuuuuuuuu!"
" Bahaha.."
Ratu langsung berlari kabur duluan menuju mobil, sebelum dosen killer yang telah resmi menjadi suaminya itu mengamuk dengan dirinya karena ledekannya tadi.
Panji hanya bisa mengacak rambutnya sendiri dengan kesal, karena bingung mau menjelaskan seperti apa dan bagaimana, namun satu yang pasti, rasa malu didepan ibu dan Eyangnya sudah tidak terbendung lagi, karena dia sudah ketahuan meminum susuu murni langsung dari sumber mata airnya.
Suatu saat nanti kamu pasti akan ditemukan dengan seseorang yang rela mengalah demi mempertahankan kisah cintanya denganmu.
Rela mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaanmu, rela menangis demi melihatmu tersenyum.
__ADS_1
Percayalah, seleksi alam sedang bekerja, jadi cukup jalani saja takdirmu hari ini, masalah esok hari, serahkan saja kepada Sang Pencipta Alam, karena Dia sudah mengatur segalanya.