Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
82. Tragedi Genting Bocor


__ADS_3

...Happy Reading...


Bukan Ratu namanya kalau tidak bisa bersikap santai seperti di tepi pantai, setelah pergelutan fanas dengan suaminya berhasil di pergoki oleh sahabat mereka masing-masing.


Bahkan setelahnya mood Ratu kembali membaik, karena memang Panji tahu betul cara membuat istrinya kembali semangat di tengah kehamilannya yang memang terbilang ekstrim.


" Ratu.. Wajah kamu Seger banget?" Ibu Panji melihat anak menantunya ini langsung terheran, namun dia paham karena mood seorang ibu hamil itu sering kali berubah-ubah.


" Iya dong bu, kan habis mandi tadi di kolam renang!" Jawabnya dengan santai.


" Mandi aja?" Ledek Ibu mertuanya sambil membawa minuman ditangannya.


" Mandi plus-plus lah pastinya, kayak nggak tau aja menantu ibu satu-satunya yang limited edition ini!"


Panji langsung ikut menjawabnya sambil membantu mengeringkan rambut Ratu dengan Handuk.


" Apaan sih mas!" Ratu langsung mendelik kesal ke arah suaminya.


" Maksudnya plus pake sabun, trus pake shampo juga Ratu, namanya juga orang mandi kan?" Panji langsung berpura-pura polos saja daripada istrinya ngambek.


" Aish... Kalian berdua ini sama saja, ya sudah sana, temui keluarga besan didepan, mereka sudah menunggu kalian sedari tadi." Ibu Panji tahu betul kelakuan keduanya, jadi dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pura-pura tidak tahu.


" Awas aja mas berani ngomong macem-macem ya, tidak akan aku biarkan mas nengokin dedek lagi, mengerti!" Ancam Ratu kembali.


" Mengerti ndoro ayu!" Panji lebih memilih mengalah, karena saat dia benar pun sudah pasti salah dimata istrinya yang merasa sok benar karena sedang hamil.


" Udah... Nggak usah dikeringin deh, nanti juga kering sendiri rambutnya, aku mau ketemu sama mama dan papa dulu." Ratu langsung saja melenggang pergi ke depan di ikuti oleh Panji dibelakangnya yang masih menenteng handuk kecil.


" Ratuuuuuuuuuuuu!"


Tiba-tiba terdengar suara Broto berteriak ke arah Ratu, dia yang baru saja muncul dari balik pintu ruang tamu bersama Gendhis sang istri langsung heboh saat melihatnya.


" Abaaaaaannnnngggggggg!"


Entah mengapa Ratu pun ikut heboh saat menyambut kedatangan Broto disana.


" Heh... Heh... Heh...!


Panji dengam sigap langsung menarik kerah baju istrinya saat dia ingin berlari medekat kearah Broto.


" Wow... Makin sem*k aja kamu sekarang ya dek?" Broto pun terlihat langsung berjalan cepat ke arah Ratu.


" Hei... Hei... Hei... Istri kamu itu aku, bukan adekku, jaga sikapmu!"


Gendhis pun tak kalah over protektif, dia langsung merangkul lengan suaminya agar langkahnya terhenti disana.


" Ya elah... Kalian berdua ini, kenapa sih pada baperan?" Ratu langsung melengos karenanya.


" Iya kan dek? Kita mau temu kangen ini dengan saudara ipar?" Jawab Broto yang memang sudah lama sekali tidak bertemu dan ngobrol seru juga gila-gilaan lagi dengan Ratu.


" Tenang aja mas, kak... Kami berdua ini pyur besti-an, nggak pake perasaan, emang kalian berdua apa? Yang kalau ketemu selalu melibatkan perasaan, ya kan bang?" Ratu seolah ber tos ria walau dari kejauhan, karena tubuh mereka diapit oleh pasangan mereka masing-masing.


" Tuuuuuullll... So jangan samakan hubungan kami dengan hubungan kalian!" Broto pun menyetujui akan hal itu.


" Nggak ada.. Nggak ada! Mau besti-an kek, mau iparan kek, kalian berdua nggak boleh deket-deketan, dan ingat satu hal Ratu, kamu sedang hamil anakku, nggak boleh capek apalagi lari-larian, ayo kita temui orang tua kamu dulu." Panji bahkan menekankan perkataan hamil agar mereka semua tahu kalau dirinya dan Ratu sudah menjadi pasangan harmonis seperti yang lainnya.


" Cih... Sombong! aku juga pernah menghamili istriku!" Umpat Broto tidak terima.


" Sudahlah, ayo kita duduk disana!" Gendhis langsung menarik lengan suaminya saat dia sudah mulai menjelingkan matanya ke arah Panji.


" Lanjut mas... sono, berantem lagi sana bang Broto!" Ratu langsung berkacak pinggang ke arahnya.


" Ampun yank... Apa kita lanjut season kedua aja setelah di kolam renang tadi?" Panji langsung ketakutan duluan, karena kalau Ratu sudah berulah dia juga yang ketar-ketir.


" Ha.ah... Lanjut aja sono! Biar aku viralkan video kalian!"


Tiba-tiba Arga datang dengan membawa Hugo di ikuti oleh Melody dibelakangnya yang masih belum mengerti dengan karakter dosennya yang satu ini.


" Sembarangan aja kamu kalau ngomong!" Panji langsung menjelingkan matanya kearah mereka.


" Kalian berdua sekongkol ya buat ngintipin kita?" Tanya Ratu sambil berkacak pinggang.


" Ngintipin apa nih?" Eyang pun ikut muncul diantara mereka.


" Eh... Eum... Nggak ada eyang, mereka berdua ini sering kompak iseng aja, hehe!" Panji langsung memilih mengalihkan perhatian eyang nya saja, karena bisa di bully habis-habisan kalau beliau sampai tahu yang sebenarnya.


" Ya jelas dong kompak, mereka kan pasangan baru, wajarlah semua hal dilakukan bersama-sama terus?"


" Hah? Siapa yang pasangan baru?" Ratu seolah tidak percaya saat mendengarnya.


" Mereka berdua inilah, selamat ya... Pokoknya langgeng sampai maut memisahkan dan bisa menjadi mama terbaik buat Hugo, ya kan nak? Yuk ikut eyang, nanti eyang kasih makanan terenak disini, mau?"


Eyang langsung menunjuk Arga dan juga Melody dengan embel-embel sebuah doa dan harapan dibelakangnya.


" Mau eyang!" Jawab Hugo yang langsung meminta turun dari gendongan daddynya.


" Jadi kalian berdua sudah pacaran? Sejak kapan?" Panji pun sempat terkejut karena memang tidak tahu menahu.


" Kalian ini, masih percaya aja sama omongan eyang?" Arga malah tersenyum menanggapinya.


" Karena omongan eyang tidak pernah salah!" Celetuk Ratu yang entah mengapa tiba-tiba jadi melow.


" Ngomong apa sih luu?" Melody langsung mencubit lengan Ratu.


" Jangan sentuh aku, kamu bahkan merebutnya dari aku yang tidak pernah bisa memilikinya!" Jawab Ratu yang membuat Melody langsung membelalakkan kedua matanya karena terkejut.


" Ckk... Gila kamu ya, udah dapet yang perfect masih aja kurang, dasar bumil!" Melody bahkan kembali mencubitnya tanpa rasa takut sedikitpun


" Bagaikan tertusuk duri, kulalui semua masa sulit ini, ku ikhlaskan dirimu yang telah pergi, ketabahan hati dalam hidup ini, hancur lebur harapanku.. Kau tinggalkan diriku yang menyayangimu, ku hanya bisa berdoa untukmu semoga bahagia selalu." Dan kebiasaannya menyanyikan lagu ambyar masih saja sering dia lakukan


" Pffftthhh!"


Dan Arga tidak merasa marah atau segan sama sekali, dia bahkan tersenyum-senyum sendiri melihat Ratu bernyanyi sambil menepuk dadaanya sendiri dan meresapi, seolah dia benar-benar menjadi wanita yang tersakiti karena idamannya memilih sahabatnya sendiri.


" Apaan sih kamu yank, kamu masih mengharapkan duda yang satu ini!" Panji langsung saja protes karena tidak terima.


" Andai dulu dia sudah jadi duda, sudah pasti aku akan lebih mudah untuk mendapatkannya!" Ratu bahkan menatap wajah Arga dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Ahahahahaha!"


Bahkan Arga tergelak keras karenanya, dia sungguh-sungguh tidak merasa bersalah akan hal ini, bahkan menggangap sekua ini sebagai hiburan gratis.


" Ratu, awas kamu ya! Mau mas hukum kamu disini sekarang juga!" Teriak Panji yang langsung naik darah.


" Aaaa...Nggak mau!" Ratu langsung berjalan cepat ke arah ruang dimana keluarga mereka berkumpul.


" Sini kamu, siapa suruh main-main sama mas!" apanji langaung mengejarnya.


" Yaelah... Bercanda kali mas, haha!" Ratu langsung mempercepat langkahnya.

__ADS_1


" Pokoknya tidak ada ampun bagimu!"


" Ahahaha... ibuk!" Teriak Ratu yang semakin membuat heboh disana.


" Siapa yang mau menghukum adek iparku tadi, sini dek, sama abang aja!" Broto pun kembali bersuara, hingga membuat Panji semakin emosi.


" Ratu sini kamu, jangan main-main sama mas!" Kesabaran Panji seolah habis, dia langsung menangkap Ratu dan mendekapnya.


" Kamu mau apain Ratu hah?" Broto sengaja membumbui drama Ratu kali ini, agar suasana semakin tegang.


" GENDHIS! Amankan suamimu ini, atau aku patahkan tulang belulangnya hari ini juga!" Panji langsung melotot kearah Broto.


" Kamu apaan sih mas?" Gendhis langsung menarik tubuh suaminya dengan tatapan mengancam.


" Hehe... Hanya bercanda pemiersa! Jangan terlalu diambil hati, ayo mas... Hukum saja aku, tapi di kamar ya!" Ratu langsung menarik lengan suaminya yang ternyata malah marah sungguhan.


" Ternyata orang hamil nggak asyik!" Setelah menjadi penonton setia, Melody memilih berjalan keluar saja.


" Kamu mau kemana Mel?" Arga langsung memanggilnya.


" Pulang!" Jawab Melody dengan lemas, jika Ratu sudah kembali masuk ke dalam kamar, mereka sudah tidak dapat dipastikan lagi akan keluar jam berapa, jadi dari pada bengong kayak sapi ompong, pulang adalah jalan terbaik bagi Melody.


" Ya sudah... Ayo bapak anterin!"


Karena Panji benar-benar dibawa Ratu menuju kamarnya, Arga pun merasa tidak nyaman berada ditengah-tengah acara keluarga Ratu yang memang tidak terbiasa.


" Hugo... Ayo kita pulang dulu nak!"


" Nggak mau, Hugo mau sama Eyang!"


" Besok lagi ya Hugo, sekarang kita anter mama Melody pulang okey?"


" Daddy aja sono sendiri, aku masih mau main sama Eyang!" Hugo bahkan memeluk kaki Eyang.


" Sudahlah Arga, sana kamu antar dia sendiri saja, biar Hugo main disini!" Eyang pun tidak keberatan sama sekali jika harus menjaga Hugo.


" Ya sudah.. Maaf merepotkan ya eyang!"


" Kamu ini kayak sama siapa saja, sudah sana pacaran aja kalian! Hugo aman sama Eyang!"


" Terima kasih Eyang!"


Selama kepergian Ibunya, Hugo memang lebih sering bermain dengan Eyang, karena mereka bertetangga dekat, sedangkan orang tua Arga sudah kembali rumahnya.


Jika Arga ingin tinggal kembali dirumah orang tuanya jaraknya terlalu jauh dari kampus dan juga sekolahan Hugo, jadi mereka memutuskan untuk tinggal berdua saja di rumah itu.


" Apa tidak apa-apa Hugo ditinggal sendiri di rumah Eyang pak?" Tanya Melody saat mereka sudah dalam perjalanan.


" Dia tidak sendiri, banyak orang dirumah itu!"


" Maksud saya Hugonya, kan nggak ada bapak disana?"


" Walaupun nggak ada aku, Hugo pasti senang tinggal disana, karena semua keluarga Eyang menyayangi Hugo, bahkan menggangap dia sebagai cucu sendiri." Jawab Arga dengan yakin.


" Owh begitu... Baguslah, ternyata Hugo dikelilingi orang-orang baik."


" Mau makan dulu nggak? Kita tadi kan belum sempat makan?"


" Nggak usah deh pak, aku biasa masak dirumah."


" Kamu bisa masak?"


" Hebat dong?"


" Terpaksa, karena makan di luar mahal, hehe!" Melody langsung terkekeh karenanya.


" Kenapa kamu memilih tinggal sendiri? Tidak dengan orang tuamu?" Tanya Arga yang ingin tahu.


" Mereka ada di luar kota pak, sedangkan aku memang mengincar kampus ini sedari jaman sekolah dulu, jadi ya... Resikonya harus bisa mandiri."


" Padahal wanita itu bukan hanya butuh mandiri saja ya kan?"


" Lalu?" Tanya Melody dengan wajah penasaran.


" Mereka juga mau Bri, bca dan teman-temannya!"


" Haha... Ternyata bapak bisa ngelawak juga ya!"


Sepanjang perjalanan mereka habiskan waktu dengan bercanda ria, sudah lama Arga tidak senyaman dan seseru ini ngobrol dengan seorang wanita.Hingga akhirnya mereka sampai disebuah rumah kontrakan tiga lantai disana.


" Boleh bapak numpang ke kamar kecil di tempatmu?"


" Boleh pak, silahkan, tapi cuma kecil ya pak?"


" It's okey, tapi bersihkan?"


" Iya dong."


Melody tinggal disebuah kontrakan di lantai paling atas, cuma ada satu ruangan yang dibagi menjadi tiga bagian, kamar tamu, kamar tidur dan dapur sekaligus kamar mandi.


Sreeeeengg!


Karena sudah diantarkan pulang, Melody jadi segan kalau tidak menghidakan sesuatu kepada dosennya, apalagi sepertinya tadi dia lapar karena mengajaknya makan.


Jadi karena kemarin dia baru belanja bahan makanan dia langsung saja membuatkan nasi goreng, makanan yang mudah di masak dan nggak perlu ribet.


" Waah... Baunya harum, kamu masak apa?"


" Nasi goreng sea food pak, emm... Bapak alergi nggak makan sea food?" Tanya Melody tanpa melihat kearahnya.


" Enggak."


" Kalau begitu, silahkan tunggu di ruang depan, biar saya selesaikan dulu nasi gorengnya, bapak nggak buru-buru kan?"


" Enggak kok, lagian juga Hugo pasti belum mau diajak pulang."


Gleeeeerrrrr!


Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, bahkan terdengar suara guntur yang cukup menggelegar disana.


" Haduh pak... Hujannya deras banget!"


Melody langsung lari kedepan membawa tiga buah ember ditangannya.


" Loh... Ngapain kamu bawa ember segala? Air di kamar mandi habis kah?"


" Bukan, ini diruang tamu sering bocor kalau hujannya sampai deras begini, tuh kan?"


" Owh iya... Gentingnya sepertinya kegeser itu?" Arga pun ikut sibuk menaruh ember.

__ADS_1


" Iya pak, dari kemarin belum ada tukang yang benerin, padahal udah bilang sama yang punya kontrakan."


" Kamu punya tangga?"


" Ada dibelakang, buat apa?"


" Biar bapak benerin!"


" Nggak usah pak, udah hujan juga ini!"


" Cepat tunjukkan mana tangganya, daripada rumah kamu banjir nanti kemasukan air, lebih ribet lagi urusannya."


Akhirnya Arga naik ke atap dan membetulkan beberapa genting yang memang tergeser dari tempatnya.


" Aduh pak, baju bapak jadi basah semua? Mana aku nggak punya baju cowok lagi?"


Melody terlihat kasian melihat Arga yang basah kuyup, apalagi hujannya masih deras sekali, pasti masih lama terangnya.


" Kamu punya mesin cuci nggak?" Tanya Arga yang mulai kedinginan.


" Punya, atau saya cucikan sebentar pak, nanti diangin-anginkan sebentar pasti kering."


" Boleh juga, tapi kamu punya jaket atau kaos yang besar nggak?"


" Aku punya kain batik yang bisa dijadiin sarung pak, mau pakai itu dulu?"


" Boleh deh!"


Akhirnya Arga sekalian mandi di kontrakan milik Melody, walaupun kontrakannya kecil namun sangat bersih dan nyaman ditingali, bahkan disaat malam hari dihalaman depan rumahnya memiliki view pemandangannya sangat bagus sekali, seperti di film-film luar negri yang dihiasi lampu-lampu, apalagi dia tinggal di lantai paling atas, lampu-lampu jalanan kota seolah memperindah suasana malam hari.


" Pak.. dimakan dulu nasi gorengnya, tapi makan di kamar nggak papa ya pak, soalnya didepan masih basah kena air tadi."


" Okey... Tidak masalah!"


Arga langsung keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut sarung batik dan handuk untuk mengusap rambutnya yang basah.


Glek!


Gilak, he is perfect person!


Saat berbalik badan dan muncul Arga disana, Melody langsung memaku ditempat melihat tubuh Arga yang sispek dan masih sedikit basah dengan percikan air.


" Kenapa? Apa masih ada busa sabun diwajahku?" Arga malah berpikiran lain.


" Tampan!" Ucap Melody tanpa sadar.


" Apa Mel?" Arga samar-samar mendengarnya.


" Owh.. Tidak.. tidak ada, silahkan makan nasi gorengnya pak, maaf cuma seadanya." Melody langsung menepuk-nepuk wajahnya untuk menyadarkan diri dari lamunannya.


" Ini sudah cukup, wah... Kamu juga bisa buat wedang jahe bakar ini!" Arga tersenyum melihat wedang jahe dihadapannya, karena sangat cocok dengan suasananya.


" Hehe... Iya pak, resep emak, tapi nggak tahu sesuai atau tidak di lidah bapak!"


" Is good, terima kasih!" Arga langsung menggangukkan kepalanya saat menyeruputnya.


" Saya yang harusnya bilang terima kasih, karena sudah merepotkan bapak, sampai benerin genting atap segala."


" Tidak masalah."


Akhirnya mereka selesai makan, namun hujan pun tak kunjung reda.


" Hoahemm..."


Berulang kali Melody dan Arga menguap disana, perut kenyang, cuaca dingin, dan diluar hujan semakin lebat, sudah pasti paling enak tidur.


" Kalau kamu ngantuk tidur aja, kamu punya laptop nggak, bapak pinjam mau buat materi untuk besok." Ucap Arga yang kasian melihat mata kusut Melody.


" Itu ada diatas meja, nanti kalau bapak mau pulang bangunin aku ya pak?" Karena sudah terlalu mengantuk akhirnya dia menyetujuinya juga.


" Hmm.."


Melody langsung saja memejamkan mata diatas sprigbed miliknya dan Arga memilih membuat tugas dan duduk lesehan di lantai tepat disamping tempat tidur Melody, karena memang tidak ada kursi lain selain di ruang tamu.


Satu jam berlalu, namun langit seolah tidak ingin menunjukkan sinarnya dan mendung hitam masih menghiasi angkasa dengan deraian air hujan.


" Hoahem... Kenapa belum terang-terang juga ya?"


Arga memijit kepalanya yang mulai terasa berat, selain karena mengantuk, juga efek dia karena hujan-hujanan tadi.


" Aduh... Kenapa dingin sekali."


Arga memejamkan kedua matanya sambil menyandarkan kepalanya di kasur milik Melody, angin pun berhembus cukup kencang, apalagi pintu depan sengaja tidak di tutup karena ada tamu masuk, jadi anginnya masuk kedalam, ditambah Arga tidak menggunakan pakaian, karena bajunya masih dikeringkan tadi.


Berrrrr!


Berulang kali angin kencang seolah menusuk tulang belulang Arga,hingga tanpa sadar dia berpindah keatas kasur untuk kongsi selimut dengan Melody.


" Hmmh... Dingin sekali."


Melody yang tidak tahu kalau ada seseorang disampingnya, menggangap Arga adalah bantal guling dan memeluknya dengan erat bahkan menaikkan satu kakinya di atas perut Arga.


Karena badan capek, perut kenyang dan mata mengantuk, Arga pun tidak terusik sama sekali, malah tubuhnya terasa hangat dan membuat tidurnya semakin nyenyak.


Hingga tanpa terasa waktupun cepat sekali berlalu, sedangkan mereka berdua masih terlelap di alam mimpi dengan syahdunya.


" Pak ErrrrTeeeee! Lihat pak... Melody sudah berbuat zinah di lingkungan kontrakan kita!"


" Astaga, Melody!"


" HAH?"


Arga dan Melody langsung terbangun dengan gelagapan dan bangun-bangun seperti mimpi, karena sudah ada beberapa orang berdiri dihadapannya.


Entah kapan mereka datangnya, namun Arga dan Melody sama sekali tidak menyadarinya.


" Sudah seret saja mereka ke keliling kontrakan, dan nikahkan paksa mereka saja!" Teriak salah seorang warga terjulid disana.


" HAH? Pak buk... Ini tidak seperti yang anda pikirkan?" Ucap Arga, namun siap yang akan percaya, sedangkan dia hanya memakai sarung ditambah lagi tadi dia tidur berpelukan dengan Melody.


" Sudahlah... Arak saja mereka ke rumah pak RT, kita sidang mereka berdua, masih muda sudah berani-beraninya berbuat mesvm di lingkungan ini, ayoookk... Bawa mereka!"


Arga dan Melody dengan terpaksa mengikuti warga setempat untuk di sidang. Tiada pilihan lain selain menurut, karena jika sudah menyangkut masalah warga memang sulit dan pasti panjang urusannya.


Apapun yang terjadi dalam harimu yakinlah bahwa semuanya adalah kehendak dan rencana Allah untuk kebahagiaanmu.


Jangan risaukan apa yang tidak kita miliki, tapi risaukan hati, saat tak bersungguh-sungguh mensyukuri setiap pemberian-Nya.


Allah memang tidak menjanjikan hidup mudah, tapi Allah menjanjikan di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

__ADS_1


__ADS_2