
...Happy Reading...
Malam pernikahan Melody terasa sangat memilukan, walau memang ini semua tidak terencanakan, namun Melody tidak mengira jika air matanya seolah terkuras habis malam ini.
Setelah mendengar rintihan hati suaminya, dia sangat merasa bersalah, bukan hanya dengan Arga, namun juga dengan almarhum mantan istri Arga, seolah foto-foto almarhum saat mereka sedang berkumpul bertiga yang ada di kamar Hugo, terlihat hidup dan menyalahkan dirinya.
Walau pun kamar Hugo lebih luas dan lebih berwarna dari kamar di kontrakannya, namun tetap saja dia merasa asing dan akhirnya hanya bisa memejamkan matanya dalam beberapa jam saja, itu pun karena matanya sudah sembab karena terlalu banyak menangis, bahkan seperti digigit serangga.
Akhirnya dia memilih bangun pagi-pagi dan mengompres kedua matanya, setelah sedikit membaik dia memilih memasak sarapan untuk suami dan anak sambungnya nanti.
Dia membuat bubur ayam dan juga gulai ayam, karena hanya ada beberapa bahan itu saja di dalam kulkas milik Arga.
Entah suka atau pun tidak suka tapi Melody tetap memasaknya, sebagai rasa tanggung jawabnya menjadi seorang istri. Setelah matahari mulai meninggi, Melody sudah rapi dan bersiap untuk pergi.
" Selamat pagi Melody."
Sapa Arga yang terlihat kaku, seperti saat dia memasuki kelas dan ingin mengajar.
" Pagi pak Arga." Jawab Melody yang juga ikut kaku, bahkan dia hanya meliriknya sekilas dan memilih pura-pura menali sepatu miliknya saja, padahal tadi sudah rapi.
" Kamu kok udah rapi? Kelas pagi kan masih nanti? Ini baru jam berapa?"
Arga langsung duduk dibahu kursi sofa tempat dimana Melody duduk sambil membenahi tali sepatunya.
" Emm... Saya mau mampir ke kontrakan dulu pak, ada yang mau saya ambil." Jawab Melody tanpa mau melihat kearahnya.
" Kita bareng aja berangkat ke kampusnya, nanti aku anterin kamu ke sana."
" Nggak usah pak, aku bisa sendiri, bapak juga belum jemput Hugo kan?"
" Owh iya... Hugo masih di rumah eyang ya?" Arga langsung kembali mengingat putranya itu.
" Kalau begitu saya pergi duluan pak, tadi saya sudah buatkan sarapan buat bapak sama Hugo, itu pun kalau bapak berkenan, saya memang tidak terlalu pandai memasak, tapi tadi saya cicipi rasanya lumayan kok, hehe.."
Melody memilih merendah, padahal dia jagonya kalau masak makanan rumahan, karena ibunya dulu sering mengajarkan dirinya untuk selalu bisa mandiri tentang apapun itu.
" Kamu sudah sarapan?" Arga mengusap rambut Melody yang sudah tertata rapi.
" Sudah pak."
" Kenapa nggak panggil bapak? Kita kan bisa sarapan bareng? Suami istri itu harus ada kebersamaan, biar ada chemistry kalau orang jaman sekarang bilang."
" Emm... Maaf pak, soalnya saya mau ke kontrakan pagi-pagi, jadi takut kesiangan, nanti telat ke kampus."
__ADS_1
" Okey... Lain kali kalau sarapan atau makan malam, usahakan makan bersama ya?" Karena itu memang kebiasaannya sejak dulu dengan istri pertamanya juga.
" Iya pak, kalau begitu saya pamit dulu." Melody langsung menundukkan kepalanya dan ingin pergi, namun Arga langsung mencegahnya.
" Ehh.. kamu nggak mau salim dulu?" Arga menyodorkan tangan kanannya.
" Owh iya, maaf lupa." Melody langsung menyambut tangan suaminya dan memilih menempelkan di keningnya.
" Eits... Kok nggak di Sun dulu? Tadi malam aja mau bobok bisa, masak mau pergi nggak bisa, hayow?" Ledek Arga yang sengaja tidak mau melepas genggaman tangannya dengan ditambah senyum tipisnya.
" Saya buru-buru pak, kang Ojol udah nunggu didepan."
Melody langsung menarik paksa dan ingin berlari, namun Arga langsung menarik tubuh Melody dan memeluknya.
Grep!
" Ehh... kenapa pak?" Jantung Melody seolah langsung berlarian kesana kemari saat merasakan hangatnya pelukan Arga, ditambah aroma wangi maskulinnya sehabis mandi, terasa sangat menyegarkan.
" Kamu itu yang kenapa? Mata kamu sembab, tadi malam kamu menangis ya?" Arga pun paham, mungkin istrinya pun belum siap merubah statusnya, apalagi ini semua terlalu mendadak, tanpa persiapan sedikitpun.
" Owh.. Enggak pak, ini cuma kurang tidur aja, hehe." Melody memilih berbohong saja, karena tidak ingin Arga khawatir tentangnya.
" Kamu pasti bohong kan?" Arga langsung menempelkan kening mereka, agar Melody mau jujur dengannya.
" Enggak... Enggak... Soalnya aku kan belum terbiasa tidur di tempat yang baru, jadi emang kek gini pak, hehe." Melody langsung menundukkan kepalanya, tidak ingin melihat tatapan mata suaminya yang seolah mematikan.
Cup
Arga langsung mengecvp kening Melody dengan cukup lama, untuk sekedar menenangkan hati istri kecilnya itu.
Mampus gue, kenapa pak Arga ini sweet banget, pantes aja dulu Ratu tergila-gila dengannya? Ini gimana ceritanya mau lepas? Baru menikah sehari aja, aku sudah dibuat meleyot dengan semua perlakuan manisnya?
Melody memilih memejamkan matanya sambil mengepalkan kedua tangannya, untuk menahan jantungnya agar tetap baik-baik saja
" Melody... Bapak tau, ini semua tidak mudah bagi kamu, bahkan bagi bapak juga, namun sering berjalannya waktu semua pasti akan baik-baik saja, kamu jangan menyerah ya?"
" Hmm..."
Melody hanya menggangukkan kepalanya saja, karena hidungnya pun sudah memerah, matanya pun mulai berair, karena semua yang dikatakan Arga memang benar adanya, namun memang masih berat terasa.
" Jangan merasa terbebani dengan status baru kamu, anggap saja kita pacaran tapi sudah sah, jadi tidak harus menimbulkan dosa karenanya, kamu mengerti?"
" Iya pak."
__ADS_1
" Mewek lagi? Sini bapak Sun dulu." Arga kembali meledek istri kecilnya
" Pak?" Melody memundurkan wajahnya karena merasa malu.
" Sini dong, ini pahala Melody, emm... Mauya di bibiir tapi kok kamu nangis terus."
Arga langsung menghujani kecvpan dikedua pipi Melody dengan gemas, dia bahkan menggangapnya seperti pipi Hugo, karena wajah istrinya masih baby face sekali.
" Maaf pak, aku harus segera berangkat, kasian kang ojolnya nungguin dari tadi." Melody sebenarnya ingin lebih, tapi dia sadar diri dan tidak ingin larut dalam bayangan semu ini.
" Hehe... Okey, nanti siang kamu ada kelas bapak kan?"
" Hmm.."
" Sampai jumpa nanti siang ya, emm... Nanti kamu duduk paling depan ya? Deket meja bapak?"
" Nggak mau!"
" Kenapa?"
" Sa... Saya lebih nyaman duduk ditempat biasa, hehe." Melody langsung mencari alasan.
" Mulai sekarang biasakan diri, untuk bisa selalu nyaman didekat suamimu, mengerti istriku?" Arga langsung mengacak rambut istrinya.
Menikah dengan anak gadis yang umurnya terpaut lumayan jauh darinya memang terasa menyenangkan menurutnya, apalagi saat melihat ekspresi malu-malunya, ada rasa lucu bercampur gemas yang sulit di ungkapkan.
Berrr!
Saat dipanggil istriku, hati Melody seolah berdebar tak menentu, ada rasa suka namun dia takut tidak bisa melalui itu semua.
" Saya pamit duluan pak, assalamu'alaikum!"
" Wa'alaikumsalam."
Akhirnya Arga melepas tubuh Melody dengan senyum tipisnya, dia pun belum terbiasa, masih terasa canggung dengan adanya Melody, namun dia memilih untuk memperlakukan dia dan berusaha menumbuhkan rasa sayang dan rasa cinta kepada Melody.
Walaupun pernikahan mereka karena alasan terpaksa dan baru nikah Siri, namun Arga sama sekali tidak punya niatan untuk berpisah, bahkan secepatnya dia akan meresmikan hubungannya dengan Melody kalau dia sudah benar-benar siap menerima segalanya.
Terasa berat memang harus berusaha tetap kuat meski hidup tak memberimu harapan yang diinginkan. Namun, terus menerus meratapi hidup yang pahit bukan solusi terbaik.
Seseorang boleh mengalami pahit getirnya perjalanan hidup. Tetapi dia tak boleh berhenti dan tak boleh kehilangan impiannya.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1