
...Happy Reading...
Hati yang terluka sering kali tidak bisa disembuhkan sekaligus. Itu lebih buruk lagi jika luka yang datang berasal dari seseorang yang engkau cintai.
Baru saja Broto ingin belajar bagaimana cara mengikhlaskan, namun tiba-tiba masalah didalam hubungannya seolah tambah rumit saja.
Dia hanya berharap bisa hidup dengan lebih tenang, dan kelak dia bisa membesarkan putra yang mungkin sekarang tidak di inginkan oleh istrinya itu, namun dia sanggup membesarkan putranya itu sendiri, hal itu tidak masalah baginya.
Tapi kenapa baru semalam saja dirinya pamit pergi dan hanya ingin menitipkan janin anaknya itu didalam kandungan istrinya bahkan tidak dengan cuma-cuma, karena dia sudah meninggalkan blackcard miliknya, namun sepagi ini dia sudah mendapatkan kabar bahwa calon anaknya sudah tiada bahkan, sebelum dia bisa melihat indahnya dunia.
Saat Broto sampai di depan pintu ruangan istrinya, dia mematung sejenak melihat istrinya terduduk lemah bersandarkan bahu ranjang pasien.
" Apa benar calon anakku sudah tiada?" Broto langsung melayangkan pertanyaannya seiring langkah kakinya.
" Broto?"
Kedua mata Gendhis yang baru saja menghentikan air matanya, tiba-tiba mulai berkaca-kaca kembali saat melihat orang yang dia harapkan kembali sedari kemarin untuk datang menemuinya.
" Tega kamu ya Ndis, kali ini kamu benar-benar berhasil membuat aku kecewa!" Broto masih mencoba menahan emosinya.
" Broto, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
Gendhis ingin menjelaskannya, namun bingung harus memulai dari mana dulu, saat raut wajah Broto seolah ingin mengintimidasi dirinya.
Dan memang inilah yang dia takutkan, sedari tadi dia histeris karena takut jika Broto mengamuk dan pergi meninggalkan dirinya karena calon buah hati mereka telah tiada, hingga tidak ada alasan lagi untuk bisa menahan Broto pergi dari dirinya.
" Apa kamu sudah puas sekarang?" Tanya Broto dengan suara yang memang sudah tidak mengenakkan untuk di dengar.
" Apanya yang puas Broto, aku pun sama sedihnya sepertimu." Jelas Gendhis yang berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi.
" Hah? Benarkah? Bukannya kamu memang sengaja dan pasti merasa bahagia saat semua itu terjadi, karena memang itu yang kamu harapkan selama ini bukan?" Nada yang keluar dari mulut Broto mulai meninggi, karena gemuruh di dadaanya semakin memuncak.
" Broto, ini kecelakaan, aku tidak sengaja jatuh dan terpeleset didepan rumah sakit tadi."
" Cih...itu hanya alasanmu saja, karena kamu memang sebenarnya tidak menginginkan anak itu bukan!" Teriak Broto semakin kesal.
Kebetulan Gendhis sendirian disana, karena ibunya sedang keluar sebentar untuk berbicara dengan suaminya.
" Bukan begitu Broto, sungguh!" Gendhis mencoba untuk meyakinkan suaminya.
" Sudah senang sekarang kamu Ndis? Apa lagi maumu setelah ini, biar aku kabulkan semuanya sekarang!" Emosi Broto seolah sudah tidak terkontrol, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua yang terjadi.
" Broto aku hanya ingin kamu datang menemaniku saat itu, tapi kamu..."
" Nggak usah banyak drama, katakan saja, kamu hanya ingin berpisah dariku bukan?" Broto malah beranggapan lain dengannya.
" BROTO tolonglah, jangan begini!"
Gendhis sebenarnya tidak punya kekuatan lebih untuk berdebat saat ini, namun Broto seolah sudah negative thingking dengannya.
" Kalau kamu memang menginginkannya saat ini juga, baiklah.. aku talak kamu sekarang!"
Duar!
" BROTO CUKUP! Apa yang kamu ucapkan!"
Air mata Gendhis langsung meleleh dengan derasnya, bukan begini yang dia inginkan sesungguhnya.
" Puas kamu sekarang!"
Dengan mata yang sudah memerah dan tangan yang sudah gemetaran, Broto sudah mengucapkan kata talak pertama yang sebenarnya tidak ingin dia ucapkan. Dan langsung melenggang keluar dari ruangan Gendhis.
" Aaaaaaaaaaaaaa... Broto tunggu! Jangan pergi, aw... aw!"
Gendhis meringis kesakitan saat dia menarik paksa selang infus ditangannya sampai terputus untuk mengejar suaminya.
" Broto, jangan pergi, aku membutuhkan kamu, Brotoooo!" Teriak Gendhis dengan sisa-sisa kekuatan yang dia punya.
Dengan berjalan tertatih-tatih Gendhis mengejar langkah Broto, bahkan tanpa memperdulikan pergelangan tangannya yang sudah meneteskan da rah-da rah segar miliknya dari bekas selang infus yang dia cabut paksa.
" HEI... APA YANG KAU LAKUKAN!"
Panji dan Ratu berjalan cepat ke arah lorong tempat mereka berdua berjalan, saat tadi mereka melihat Gendhis yang berjalan sempoyongan sedang mengejar Broto dari kejauhan.
" Jangan ikut campur dalam urusan rumah tanggaku!"
Broto menepis tangan Panji yang sudah menarik kerah bajunya dari belakang.
" Aku tidak akan masuk campur dalam urusanmu, tapi apa kamu masih punya hati sekarang?" Teriak Panji yang ikut emosi melihatnya.
" Cih... Hatiku sudah hancur karena mantan kekasihmu itu!" Cibir Broto dengan ekspresi ketusnya.
" Broto... Asal kamu tahu, aku sudah merelakan dia untukmu dan berharap kamu bisa menggantikan aku untuk menjaganya, tapi apa yang kamu lakukan sekarang, hah?"
__ADS_1
" Cih... Aku tidak pernah memaksa kamu untuk meninggalkan dia demi aku bukan?" Jawab Broto dengan santainya.
" BROTO, jaga mulut kamu ya!" Panji semakin kalap mendengarnya.
" Kenapa? Kamu masih mengharapkan dia? Ambil saja kalau dia mau, aku tidak akan melarangmu!" Jawab Broto yang tidak merasa takut sedikitpun.
" Langit e peteng udane soyo deres klebus tekan atiku... Cedak e karo aku nanging atimu dinggo wong liyo." Ratu langsung melengos dan memilih pergi dengan nyanyian syahdunya, apalagi saat itu gerimis pun ternyata hadir menemani perdebatan dua pria tampan ini.
" RATU TUNGGU!" Panji langsung berteriak memanggil Ratu saat dia berjalan mundur dari pijakan kakinya tadi, namun dirinya seolah belum berniat untuk menyudahi duelnya dengan Broto.
" Wis dalane dadi pelarian dinggo sliramu sing lagi butuh hiburan.. Aku sing sayang aku sing berjuang.. Bagianmu koyo biasane.. bagian sing nglarani aku wae."
Ratu tidak mau menolehkan kepalanya kembali ke belakang, dia memilih meneruskan langkahnya untuk pergi meninggalkan perdebatan mereka berdua, masih dengan lagu sendu yang tanpa sadar keluar dari mulutnya.
" Broto, satu yang perlu kamu ingat, aku sudah tidak ada niatan sedikitpun untuk kembali dengan Gendhis, tapi bisakan kamu bicarakan masalahmu ini baik-baik dengannya, apa kamu tega melihat Gendhis kesakitan disana seperti itu?"
Panji kembali menarik kerah baju Broto sambil mengeratkan barisan gigi putihnya, dia ingin segera mengejar istrinya, namun dia juga tidak ingin Broto menyakiti Gendhis begitu saja.
" Aku sudah tidak perduli lagi dengannya!" Ucap Broto walau hanya omongan belaka.
" Apa kamu tidak kasihan melihat tangannya sampai berdarah begitu, hati kamu ini terbuat dari apa Broto, kamu lihat dia sekarang!"
Panji sengaja memegang kepala Broto dan mengarahkan kepalanya kearah Gendhis yang terduduk di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang terus mengeluarkan darah bekas dari selang infus yang dia cabut paksa tadi.
" Aku sudah men talak satu dirinya!" Teriak Broto dengan kesal.
Duar!
" Itu bukan urusanku sekarang Broto, yang aku mau, bicarakan baik-baik permasalahan dirimu dengan dia, duduk berdua, apa mata kamu sudah tidak bisa melihat lagi, dia sedang kesakitan Broto!"
Walau sesungguhnya didalam hati, Panji pun ikut terkejut saat mendengar ucapan Broto, namun dia tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah mereka, dia sudah berjanji akan menjaga hati Ratu sampai kapanpun.
Yang ingin Panji luruskan saat ini, bahwa dia sudah tidak ada lagi rasa cinta kepada Gendhis, namun dia juga tidak sampai hati jika harus melihat Gendhis sampai sebegitu kejamnya diperlakukan oleh Broto, didepan kedua matanya sendiri.
" Aish.. Hwaittt!"
Broto langsung ingin memukul Panji sebagai pelampiasan, namun Panji dengan sigap langsung menepisnya dan berganti memelintir tangan Broto hingga ke belakang tubuhnya sendiri.
" Aw... Aw!" Broto langsung merintih kesakitan karenanya.
" Kembali sana, bicarakan baik-baik dengan istrimu, kamu pria atau bencong sebenarnya, apa gunanya kejantanan kamu itu!"
Bahkan setelah Panji menarik satu tangan Broto ke belakang, dia langsung mendorong tubuh Broto yang sudah melemah ke arah dimana Gendhis saat ini berada.
Broto sebenarnya juga tidak tega saat melihat wajah Gendhis yang sudah berlumuran air mata, namun rasa sakit dihatinya seolah membutakan segalanya.
Panji langsung berlari mencari keberadaan istrinya, dia memang sudah tidak menyimpan rasa dengan Gendhis, namun dia juga tidak bisa membiarkan kakak iparnya tersiksa seperti itu oleh mantan rivalnya.
Sedangkan kemarin dia sempat beranggapan kalau Broto memang sebenarnya sangat menyayangi Gendhis, buktinya saat dia mengatakan kalau Gendhis masuk rumah sakit, dia langsung bergegas untuk pulang.
" Ratu... Sayangggg!"
Panji langsung memperkencang larinya, saat dia melihat Ratu berjalan mencari taksi.
" Maaf anda siapa ya? Tolong jangan ganggu saya, soalnya saya sedang marah, mohon dimengerti bapak!"
Ratu langsung melengos sambil bersidekap, mulai berakting seperti orang asing dihadapan Panji.
" Mbak nggak nyanyi lagi ya? Padahal tadi aku mau ikutan nyawer kalau lagunya dibuat koplo, perlu tambah gendang nggak!"
" Haish... Manusia yang satu ini, menyebalkan sekali!"
Ratu langsung kembali mendengus kesal, dia bernyanyi agar tidak terbawa emosi, namun ternyata malah jadi bahan ledekan suaminya.
" Hehe... Ratu sayang, cemburu ya?" Panji langsung mengikis jarak diantaranya.
" Dih... Maap-maap ni yak, aku sudah mati rasa!"
Nyor!
Panji ingin menyosor Ratu dihadapan umum untuk meredakan kemarahan istrinya, namun Ratu sepertinya sudah mengantisipasi, alhasil wajah suaminya hampir saja terkena tembok disisinya.
" Ratu... Kamu ini kasar sekali, berani kamu kayak gitu sama suami." Umpat Panji yang sebenarnya malu karena banyak pasang mata yang melihatnya.
" Cih...bodo amat, setelah ini kamu juga pasti balikan sama mantan kamu kan, secara dia udah on the way single lagi!"
" Kamu ini ngomong apa sih Ratu?" Panji ingin memegang lengan istrinya namun langsung ditepis kembali.
" Don't touch me, right!"
Ratu langsung menghindar saat suaminya ingin memeluk dirinya, walaupun dia bukan ahli pencak silat, namun dia berhasil menghindar dari segala serangan suaminya kali ini.
" Huh... kenapa sih kamu nggak percaya sama suami kamu ini yank, kurang bukti apa lagi coba, biar kamu percaya kalau mas sekarang hanya ingin denganmu, mas hanya milik kamu seorang Ratu!"
__ADS_1
Jangan lemah Ratu, tinggikan tembok pertahananmu, agar kamu tidak mudah tertindas oleh pria model apapun!
" Mas ngomong kayak gitu karena ada maunya kan?"
" Iyalah."
" Tuh kan?"
" Karena mas emang maunya kamu sayang, salahnya dimana coba?"
" Trus kalau kak Gendhis jadi Janda, mas mau merangkap dia sekaligus kan?" Ratu sudah berpikir buruk tentangnya.
" Astaga Ratu, kenapa pikiranku sampai sana, doakan yang terbaik buat kakak kamu, semoga rumah tangga mereka baik-baik saja, kenapa malah ngomong kayak begitu, nggak baik Ratuku."
" Dih.. nggak usah sok bijak deh!" Umpat Ratu kembali.
" Bagi mas di dalam hidup ini kita hanya menjalankan hidup satu kali saja, maka bagi mas tidak ada yang namanya mendua."
" PREEET!" Celoteh Ratu dengan cepat.
" Ratu.. Dunia mas itu terlihat monokrom saat belum mengenalmu dan ketika jauh darimu, dan terasa berwarna setelah berada di pangkuanmu, jadi nggak mungkinlah mas mau selain kamu."
" Heleh!"
" Kenapa sih kamu nggak bisa percaya sama mas? Harus dengan cara apa lagi mas buktiin ke kamu kalau mas cuma sayang sama kamu sekarang, kakak kamu hanyalah masa lalu mas, dan kamu adalah masa sekarang dan masa depan mas, apa mas perlu berteriak i love you disini, biar kamu malu?"
" Dih... Niat nggak sebenarnya sih mau ngomong?"
" Ya kalau kamu nggak malu, aku teriak ini?" Ucap Panji dengan ragu, karena sudah pasti mereka akan menjadi pusat perhatian disana.
" Haish... Sudahlah!"
Ratu ingin pergi meninggalkan Panji disana, namun tangannya langsung ditarik kembali oleh suaminya.
" Baikan dong sayang, jangan begini." Pinta Panji yang tidak lagi memasang tampang datar jika sudah berhadapan dengan Ratu.
" Fuuhh... Okey, tapi dengan satu syarat!"
" Apaan?"
" Jangan menyentuhku, apalagi sampai membegal diriku, saat aku sedang tidur, pokoknya tidak ada jatah buat mas,sampai marahku reda!"
" Yaelah... Mana boleh kayak gitu sayang, dosa tau nolak suami."
" Tuh kan, mas tu pandai ngomong kayak begitu karena cuma mau merayu biar dapat jatah kan, aish... Sayangnya mas itu cuma sebatas napsv doang, mbelgedees lah!"
" Ya ampun Ratuku, mas tuh ngomong dari hati, masih aja nggak percaya, okey deh.. Akan aku buktikan, mas nggak akan minta jatah malam ini, tapi semalam aja ya!"
Hmm... Kenapa nggak gue kerjain aja nih laki gue kan, sekalian aku buktikan cintanya itu dari hati atau hanya sekedar nafsv belaka?
" Satu hari satu malam, titik nggak pake nawar!"
" Ckk... Besok kan masih libur Ratu, gimana kalau mundur besoknya aja, rencananya mas mau ngajak kamu nginep di villa."
" Okey, kita berangkat ke Villa, tapi tetap tidak boleh menyentuhku, satu hari satu malam."
" Kamu sengaja mau nyiksa mas ya?"
" Terserah, kalau nggak mau ya sudah, aku pulang saja ke rumah ayah dan ibuku!"
" Ratu?"
" Bye!"
" Deal, tapi janji ya cuma sehari semalam doang? Setelah itu mas bebas ya, mau ngapain kamu kayak apa saja!"
" Tergantung."
" Apalagi sih yank?"
" Tergantung mas lolos apa enggak ujian satu hari satu malam itu?"
" Pasti lolos lah, mas aja perjaka sampai umur tiga puluhan kok, santai aja!"
" Cih.. Perjaka tua aja bangga!" Ledek Ratu dengan senyum sinisnya.
" Biarin, yang penting dapat daun muda, hehe!"
Cih.. Terserahlah, tunggu aja pembalasan dariku, mau sampai salto sambil jungkir balik juga aku nggak akan mau nyerah begitu saja besok.
Ratu langsung berjalan kembali ke dalam rumah sakit dan ingin memastikan keadaan kakaknya, dia hanya kesal saja tadi, karena seolah-olah dua pria tadi memperebutkan kakaknya dan mengabaikan dirinya dan perasaannya, sebenarnya Ratu tidak bermaksud untuk meninggalkan kakaknya begitu saja dalam keadaan sakit.
Apapun masalah kita dengan saudara kita, tidak baik jika harus berlarut-larut, apalagi hanya karena seorang pria yang tidak satu da rah dengan kita. Sesayang apapun kita dengan seseorang, jangan sampai harus memutuskan tali persaudaraan sebuah keluarga.
__ADS_1
..."Keluarga seperti ranting di pohon. Kita tumbuh di arah yang berbeda namun akar kita tetap satu."...
Mari kita tunggu aksi Gokil dari Ratu selanjutnya..