Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
39. Tak Sebebas Merpati


__ADS_3

...Happy Reading...


Jangan terlalu keras pada diri sendiri, karena hasil akhir semua urusan di dunia, sudah ditetapkan oleh Alloh.


Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, kau tak akan bisa lari darinya.


Acara ijab Qobul sudah terlaksana, kedua pria itu sudah bergantian menjabat tangan pak Penghulu untuk melaksanakan Akad nikah, walau dengan deraian air mata yang menghiasi kedua ijab Qobul kakak beradik itu, namun acara itu bisa berjalan dengan lancar.


Dan akhirnya kedua pria itu sudah mendapatkan ucapan kata SAH dari para saksi dan juga sudah berganti gelar menjadi Suami atau Imam dalam keluarga kecil mereka masing-masing.


Acara mereka pun sebentar lagi berlanjut ke resepsi pernikahan, yang sudah dipersiapkan dengan begitu megah dan mewah oleh kedua keluarga.


Walau tak banyak senyum dan tawa dari kedua pihak keluarga, namun kedua orang tua masing-masing sudah terlihat lega.


Pihak Keluarga Broto hanya ada ibu dan kakak laki-lakinya saja yang hadir, tidak ada keluarga lain yang menemani, mungkin karena terlalu dadakan, tapi sebagai seorang pria, Broto bisa menikah sendiri walau tanpa wali sekalipun.


" Gendhis..."


Ayah Gendhis mendekat kearah putrinya yang masih duduk terdiam, setelah dia mendapatkan gelar sebagai seorang istri.


" Iya ayah."


" Kamu masih belum siap untuk melanjutkan acara resepsi?" Sebagai seorang ayah, menurutnya tanggung jawab seorang pria itu lebih penting, dari pada hanya mementingkan perasaan cinta saja, jadi walaupun dia tidak tega, namun hanya jalan ini lah yang memang harus putrinya tempuh.


" Bukannya yang penting itu acara ijab qobul nya aja yah, masalah resepsi itu tidaklah penting, biar Ratu saja yang bersanding dia atas panggung pelaminan itu."


Tenaga Gendhis seolah terkuras habis, karena sejak tadi dia terus saja menangis, bahkan Broto sampai jengah melihatnya, akhirnya setelah acara ijab qobul itu selesai dia memilih pergi keluar dari ballroom hotel yang sudah dihias begitu indah itu, untuk sekedar mencari angin segar di luar.


" Kamu masih belum rela menikah dengan Broto?" Tanya Ayah Gendhis.


" Ini bukan inginku yah, aku memang sangat menantikan pernikahan ini, tapi dengan mas Panji, bukan dengan pria lain."


" Gendhis, cobalah mengerti, ini yang terbaik untuk kamu dan janinmu nanti."


" Ayah.. Aku masih belum bisa menerima ini semua, apalagi harus melihat mas Panji menikah dengan Ratu, kenapa sih harus Ratu? Ayah tahu nggak perasaanku bagaimana?"


" Ini juga bukan keinginan Ayah atau pun Ratu."


" Lalu kenapa ayah menyetujuinya? Harusnya ayah menolak saja keinginan Eyang!"


" Ayah bisa apa nak? Coba katakan apa yang harus ayah lakukan? Mereka hanya ingin Ratu menjadi menantu mereka, tidak bisa ditukar dengan apapun, andai perkataan Eyang bisa ditawar, bahkan ayah rela memberikan rumah sakit itu kepada keluarga mereka sebagai kompensasinya, agar Ratu juga tidak harus menjadi tumbal dalam hubungan ini." Ucap ayah Gendhis dengan hati yang ikut tersayat.

__ADS_1


" Ayah kok malah belain Ratu sih?"


" Gendhis, bukan hanya kamu yang terluka dalam masalah ini, adekmu pun sama, dia bahkan lebih terluka darimu, dia yang tidak tahu apapun, tidak kena mengena dengan hubungan kalian, harus rela menikah bahkan diusianya yang masih belia."


Sebagai ayah yang baik, dia tidak membela salah satu diantara mereka, dua-duanya tetap anak kandungnya yang dia sayang.


" Ayah."


" Gendhis, sudahlah... Semua sudah terjadi, jangan hanya mementingkan perasaan cintamu itu saja, adekmu pun sama sekali tidak punya perasaan dengan Panji, bahkan ibumu bilang bahwa Panji itu dosen yang paling Ratu benci, jadi sudahi tangismu itu, terima saja Takdir Tuhan, cukup kamu benahi hidupmu, masalah cinta itu bisa dipupuk seiring berjalannya waktu, mengerti kamu?"


" Tapi Yah?"


" Huft... Kalau kamu tidak mau melakukan acara resepsi ya sudah, biar Ratu dan Panji saja yang bersanding di panggung pelaminan itu, kamu bisa istirahat saja disini atau di kamar hotel, lagian juga entah kemana perginya si Broto tadi." Ayah Gendhis mengedarkan pandangannya sedari tadi, namun tidak menemukan Broto disana.


" Ayah?"


" Gendhis, kamu harus percaya dengan kehendak Tuhan, Dia tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya, jika itu terjadi kepadamu, berarti Tuhan percaya bahwa kamu mampu."


" Aku takut ayah, apa aku bisa menjalani hidupku dengan baik setelah ini."


" Anakku, bersabarlah.. tidak apa-apa, karena memang kita tidak bisa memaksa bintang untuk tetap tinggal, sementara langit berubah menjadi terang, percaya saja.. Langitmu akan tetap indah walau tanpa bintangmu." Ayah Gendhis mengusap air mata yang kembali jatuh menetesi wajah putrinya.


Hati orang tua mana yang tidak terluka saat melihat kedua putrinya bersedih, namun sebagai seorang ayah dan kepala keluarga dia harus tetap terlihat kuat, walau jauh di lubuk hatinya, dia pun hancur saat kedua putrinya terus saja bermandikan air mata.


♤♤♤


Sedangkan disudut ruangan lain, Ratu memilih pasrah saja ketika kembali di rias, mau berontak dan kabur juga dia tidak berani, harus berpikir ribuan kali, karena apa lah dirinya tanpa fasilitas dari orang tuanya.


" Happy Wedding Ratu Andara, cantik sekali kamu hari ini, terlihat anggun dan memukau dengan baju pengantinmu, mana bajumu panjang kayak ekor kuda lagi, wuidiih... Pasti mehong banget ini!"


Plak!


Ratu langsung saja memukul lengan sahabatnya yang terlihat heboh saat melihat dirinya kembali di rias untuk melanjutkan acara resepsi pernikahan.


" Mau cantik spek bidadari juga nggak ada gunanya, orang pake masker nantinya!"


" Kita kan bisa nanti foto sendiri didalam ruangan?"


" Ckk... Nggak mood gue!"


" Ratu."

__ADS_1


Setelah meledek, Melody langsung merangkul bahu Ratu, dia tahu kalau ini berat baginya, namun sebagai teman dia bisa apa.


" Hmm.."


" Aku tahu ini sulit, tapi aku yakin kamu pasti bisa menjalani hidup yang lebih baik setelah ini, kamu harus selalu berbaik sangka dengan kehendak Tuhan, berpikir yang baik, agar hasilnya pun yang baik-baik."


Entah kenapa air mata Ratu kembali menggenang dikedua pelupuk matanya saat mendengar ucapan sahabatnya yang terasa melow baginya.


" Setelah menikah aku masih bisa jalan sama kamu seperti dulu lagi kan Mel?" Ucap Ratu yang membuat kedua orang ini langsung berpelukan.


" Tentu Ratu, kita masih akan tetap seperti biasanya." Jawab Melody yang ikut sedih mendengarnya, diumur mereka yang sekarang ini memang masih waktunya untuk bersenang-senang menikmati masa muda mereka.


" Tapi aku pasti tak sebebas merpati seperti dulu lagi, setelah menjadi seorang istri, apalagi kalau aku punya anak, trus tubuhku melebar kayak karung beras, gimana dengan baju-baju seksi kita yang samaan itu Mel, Hiks.. Hiks.."


" Emang kamu sudah punya niatan mau punya anak?"


" Hah?"


" Berarti kamu sudah siap buat berkembang biak bersama pak Panji? Woaaah... ini sungguh tidak bisa dibayangkan, pasti ngeri-ngeri asoy ya kan?"


Baru saja terlihat sedih dan pilu, namun sesaat setelahnya mereka sudah kembali lagi ke mode biasanya, tapi memang begitulah mereka berdua kalau sudah bertemu.


" Melody!"


" Cie... Berarti nanti malam kalian sudah berencana belah durian dong?"


" Apaan sih!"


" Woah... Slebewww!"


" Bisa diem nggak luu, kenapa otak kamu menjurus kesana, hah!"


" Eh... Elu sendiri yang bilang punya anak, berarti kan pasti ada prosesnya sebelum jadi anak yakan, uhuy... Jangan lupa ceritain ke gue besok gimana rasanya ya gaes?" Ledek Melody.


" Melody, awas kamu ya!" Ratu langsung mulai mencincingkan gaunnya siap menghajar sahabatnya itu.


" Hei... Hei... Hei... Ratu! Jaga sikap kamu!"


Panji yang terlihat tampan dengan Tuxedo berwarna biru dongker itu langsung berjalan dengan gagahnya ke arah dua mahasiswinya, yang terlihat ingin berlari kejar-kejaran disana.


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2