
...Happy Reading...
Jodoh, rezeki dan maut yang terjadi pada setiap diri manusia sudah digariskan, tidak ada tawar menawar disana, sebagai manusia kita hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan hati yang lapang dan ikhlas, walau itu sulit.
Flash back
" Sayang, tumben mau dijemput pulang cepat? Katanya besok baru mau pulang?" Arga menanyai istrinya saat mereka sudah berada didalam mobil saat perjalanan pulang.
" Nggak papa mas." Jawab istri Arga dengan singkat tanpa mau memandang ke arah suaminya, dia lebih memilih memeluk putranya dan menyembunyikan wajahnya disana.
Terlihat raut wajah kesedihan disana, namun dia mencoba menyembunyikan dengan suaminya.
" Trus kenapa kamu minta di jemputnya tadi di luar, biasanya juga nunggu di rumah kan, kenapa buru-buru sekali? Mas libur kok hari ini, tadi mas minta Panji yang menggantikan mas untuk mengajar, lagi pula besok akhir pekan, kita bisa santai sambil menikmati liburan disana kan?"
Kemarin rencana mereka memang seperti itu, namun entah mengapa semua jadi berubah haluan.
" Nggak usah mas, aku kayaknya lagi nggak enak badan." Jawab istri Arga yang langsung membuang arah pandangan ke sembarang arah.
" Apa kamu mau periksa ke dokter saja? Di dekat sini ada kok rumah sakit terdekat?" Arga langsung menawarkan periksa, karena menurutnya sehat adalah hal yang paling penting.
" Kita pulang saja mas, aku cuma perlu istirahat saja."
Karena sebenarnya bukan tubuh istri Arga yang sakit, namun hatinya yang terluka parah srtelah kedatangannya ke rumah orang tuanya sendiri.
" Kalau begitu kita mampir ke Apotik beli obat ya?" Arga tetap kekeh ingin istrinya periksa.
" Nggak perlu mas, aku tidak butuh obat!" Jawabnya dengan mata yang sudah memanas, dia berusaha memendam kesakitannya karena tidak ingin melihat suaminya yang begitu menyayangi dirinya dan keluarga kecilnya, kecewa hanya karena kejadian ini.
" Sayang, jangan begitu dong, mas nggak mau lihat kamu sakit, coba sini mas cek dulu, kening kamu panas nggak?" Arga menempelkan telapak tangannya ke kening istrinya sambil bergantian memperhatikan jalan.
" Hiks.. Hiks.."
Tiba-tiba istri Arga langsung menangis tersedu-sedu, dia sangat mencintai Arga, apalagi dari sikap dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga yang menurutnya tidak kurang satu apapun.
Walaupun keluarga mereka termasuk dalam golongan sederhana, tidak bergelimangan harta, namun semua kebutuhan keluarga mereka tercukupi, walau tidak bisa bergaya hidup mewah.
Namun menurut istri Arga, itu semua sudah lebih dari cukup, karena memang Harta dan kekayaan tidak bisa menjamin kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga.
Karena Arga memang bukan berasal dari keluarga yang kaya raya dan tidak pernah mengandalkan harta keluarga atau warisan semata, rumah sederhana yang mereka tempati dan mobil tua nya kini adalah hasil kerja kerasnya sebagai dosen selama ini, asalkan anak dan istrinya tidak kekurangan, itu sudah lebih dari cukup baginya, karena dia juga tidak suka berhutang, jika hanya demi kemewahan dan gaya sosialita.
" Sayang, apa terjadi sesuatu di rumah kamu?" Arga sudah mulai curiga sedari awal, apalagi tadi bahkan dia tidak diperbolehkan untuk menjemput istrinya dirumahnya, istrinya sudah menunggu kedatangan Arga didepan sebuah mini market sambil menggendong putranya yang tertidur.
" Tidak ada kok, semua baik-baik saja seperti biasanya." Dia menyeka air matanya karena dengan lancang mengalir begitu saja walau sudah dia tahan sedari tadi.
" Jangan bohong sayang, mas tidak pernah mengajarkan istri mas untuk berbohong, karena jika satu kebohongan sudah tercipta, akan ada kebohongan-kebohongan lain yang akan kamu lakukan untuk menutupinya."
Arga memang sosok suami yang terbuka, dia tidak pernah menutup-nutupi masalah apapun dalam dirinya, semua kelakuan baik buruknya, istrinya sudah tahu semua.
" Maaf mas, maafkan istrimu ini." Akhirnya istri Arga kembali menangis tersedu-sedu setelahnya.
Dia pun tidak ingin berbohong seperti ini, namun dia takut dan juga tidak ingin jika hanya karena masalah ini suaminya jadi berubah, apalagi sampai meninggalkan dirinya, karena dia sangat mencintai Arga sepenuh hati.
" Kita istirahat dulu sebentar di rest area sana ya?" Arga ingin bicara heart to heart dengan istrinya.
" Nggak usah mas, aku pengen cepet pulang saja!" Jawab Istri Arga yang terlihat ngotot.
" Sebentar saja sayang, kamu cerita dulu, setelah itu kita lanjutkan perjalanan pulang okey?" Arga mencoba tetap tenang, agar tidak terjadi kekacauan di tengah jalan yang memang ramai lalu lintas kendaraan.
" Tapi aku pengen cepet pulang saja ke rumah mas, aku pengen pulang, hiks.. hiks.."
Entah kenapa istri Arga jadi tidak sabaran seperti ini, padahal biasanya dia sosok wanita yang penurut, penyabar dan penuh kelembutan.
" Baiklah, tapi kamu jangan menangis begitu dong, mas jadi panik mau lanjut nyetir lagi, mas gemeteran kalau lihat kamu nangis sayang."
Selama menjalani pernikahannya, sebisa mungkin dia menjaga sikap dan perkataannya agar tidak membuat wanita yang sangat dia sayangi itu menangis karena dirinya, jadi saat istrinya terlihat terluka seperti itu Arga sudah gemetaran dan ketakutan duluan. Dia yang begitu menjaganya, malah orang lain yang membuat istrinya sedih.
Arga hanya bisa mengusap kepala istrinya perlahan, dia serba salah namun sebagai suami dia lebih baik mengalah dan menuruti kemauan istrinya saja untuk saat ini.
Tulilut... Tulilut...
__ADS_1
Ponsel istri Arga berdering, namun hanya dilihatnya saja, dia bahkan menaruhnya kembali didalam tas.
" Siapa yang menelpon sayang, kok nggak diangkat?" Tanya Arga perlahan.
" Nggak penting mas, biarkan saja!" Jawab Istri Arga yang raut wajahnya terlihat kesal.
" Kenapa sih yank, coba sini mas lihat." Arga mengambil ponsel itu dengan satu tangannya.
" Nggak usah diangkat mas." Istrinya langsung melarang.
" Kenapa sih yank, ada yang kamu sembunyikan dari aku? Apa yang menelponmu itu seorang pria?"
Sebenarnya Arga yakin kalau istrinya itu tidak pernah mendua, karena dia selalu stand by dirumah menjaga anak selama ini, namun dia sengaja agar istrinya mau bercerita dengannya.
" Astaga bukan mas, aku tidak pernah mengkhianati mas, bahkan berpikir saja aku tidak pernah mas." Jawab Istri Arga dengan jujur, karena hatinya sudah dipenuhi dengan nama dan seluruh kasih sayang dari Arga, apalagi Arga sangat menjaga dirinya demi keluarga.
" Kalau begitu angkat telponnya sekarang juga." Pinta Arga.
" Tapi mas?" Istrinya terlihat enggan saat ingin mengangkatnya saja.
" Angkat sayang, jangan bikin mas marah okey?"
" Huft... Okey!"
Dengan berat hati istri Arga menggeser tombol hijau di layar ponselnya, namun sebelumnya dia menghela nafas panjangnya terlebih dahulu, seolah mengumpulkan kesabaran pada dirinya.
" Apa lagi?" Pertanyaan pertama yang istri Arga ucapkan sebagai kalimat pembuka dari perbincangan di ponsel itu.
" Di loud speaker sayang!" Arga ingin mendengar siapa orang yang membuat istrinya sekesal itu.
" Kakak kemana? Diajak mama makan bareng itu?"
Terdengar suara perempuan yang ternyata adalah adek kandung istrinya sendiri.
" Aku pulang!" Jawabnya dengan nada ketus.
" Nggak!"
" Jadi naik bis? Ya ampun kak, kenapa tadi nggak bilang, aku kan bisa menyuruh sopir pribadi aku nganterin kakak, jauh banget loh, dari pada harus bayar kan, mending buat beli susu anak ya kan?" Sekilas terdengar seperti sebuah perhatian, namun menurut istri Arga itu sebuah kalimat yang merendahkan.
" Cih... Walau aku tidak sekaya kamu, tapi anakku tidak pernah kekurangan gizi asal kamu tahu!"
Bahkan jawaban itu membuat Arga memicingkan kedua matanya, tidak biasanya istrinya bisa ngomong seperti itu.
" Kak, sudahlah kenapa kakak jadi sensitif begini?" Ucapnya kembali.
" Kemana kakakmu?" Terdengar juga sahutan suara mamanya didalam panggilan telpon itu.
" Pulang mah." Jawab Adek dari istri Arga.
" Ngapain dia pulang, hadiah darimu tadi masih didepan, mana banyak banget, bagus-bagus nak, ber merk semua, kamu beruntung punya suami yang kaya raya, pengusaha sukses dan nggak pelit sama kamu kan, kalau datang berkunjung ke rumah mama nggak cuma bawa buah sama makanan doang, selalu ada saja barang branded keluaran terbaru yang kamu bawakan." Ucapnya dengan suara yang lantang, bahkan membuat istri Arga memejamkan kedua matanya.
" Haish... Matikan saja telponnya!" Dia seolah sudah tidak tahan lagi.
" Tunggu sayang, nggak sopan matiin telpon, mama kamu masih bicara." Arga langsung mencegahnya, sebenarnya dia pun terluka, namun dia hanya ingin mencari tahu alasan kenapa istrinya kesal tadi.
Istri Arga langsung tersenyum miring mendengarnya, secara tidak langsung mamanya sudah melukai harga diri suaminya, karena kemarin dia memang hanya membawa buah dan makanan saja saat pulang kesana, berbeda dengan adeknya yang datang dengan sejuta barang branded di mobil mewahnya.
" Hadiah buat aku mama ambil saja, aku tidak butuh itu semua." Istri Arga langsung menyahutnya kembali, agar mamanya berhenti pamer.
" Kenapa, bagus loh, tas kamu saja sudah jelek tadi kan, nggak bermerk lagi!" Sahut mamanya kembali.
" Aku tidak perlu barang bermerk ma!"
" Ini harganya satu bulan gaji suamimu juga belum dapat, ambillah nak." Dan kata-kata itu membuat tingkat kesabaran istri Arga semakin menipis.
" Ma.. Sudah aku bilang berapa kali, aku tidak butuh barang branded, yang aku butuhkan hanya hidup dengan tenang bersama mas Arga, itu sudah lebih dari cukup."
" Dih... Kamu ini, jaman sekarang modal cinta saja nggak cukup nak, coba kamu dulu mau menerima jodoh pilihan dari mama, pasti kamu bisa hidup senang seperti adekmu!"
__ADS_1
Dan disinilah Arga paham, kenapa istrinya itu memilih pulang lebih awal, bahkan dengan mood marah dan kesal.
" Maaf ma, aku tidak butuh itu semua!" Ucapnya kembali dengan kesal.
Tut.. Tut...
Istri Arga langsung mematikan ponselnya bahkan langsung melempar ponselnya ke kursi belakang karena terlalu emosi.
" Sayang, nggak boleh ngomong kasar begitu dengan orang tua." Akhirnya Arga mulai berbicara.
" Tapi dia susah menghina keluarga kita mas, sudah berapa kali aku bilang, kalau aku sudah bahagia dengan keluargaku, mereka masih saja pamer, hanya dengan barang branded saja, cih... Apa faedahnya coba!"
" Sayang, kebahagiaan orang kan beda-beda, biarkan saja mereka berpendapat dengan pendirian mereka masing-masing."
" Tapi aku tidak suka melihat mama selalu membanding-bandingkan keluarga kita dengan keluarga adek, bahkan dia selalu menyalahkan aku dengan pilihanku, yang menjalani hidup berumah tangga kan aku, hidup begini saja juga sudah lebih dari cukup bagiku, aku sudah bahagia dengan pilihanku, kenapa mereka masih sibuk dengan urusan hidupku!"
" Sudahlah sayang, mas nggak papa kok?"
" Tapi aku yang kenapa-kenapa, aku tidak suka mereka menghina kamu mas, ya jelas bedalah orang menantu bontotnya itu hidup mewah dengan mengandalkan harta keluarganya, kalau hidup mandiri juga entah jadi apa dia, orang modelnya begajulan kek gitu kok, hanya bisa mengandalkan harta warisan keluarga saja bangga, dih... Kesel banget aku mas!"
Istri Arga benar-benar tersakiti kali ini, apalagi saat harta kekayaan suaminya dan adek iparnya dibanding-bandingkan, jelas beda, karena latar belakang keluarga mereka memang jauh berbeda.
" Kita putar balik ke rumah mama mertua saja."
" Nggak usah mas, mulai sekarang kita tidak perlu lagi datang ke rumah mama, jika hanya ingin dibanding-bandingkan harta kekayaannya saja, biarkan saja anaknya yang dibangga-banggakan itu yang kesana, walaupun hanya setahun sekali."
" Sayang, namanya juga orang tua, itu kan hanya harapan mereka saja, walau bagaimanapun juga dia yang sudah mengandung dan melahirkan kamu."
" Karena alasan itulah mas aku tidak mau kesana lagi, karena aku nggak mau cari ribut, lagian kan dulu kita setiap bulannya pasti kesana, mungkin dia bosan dengan kedatangan kita."
" Jangan begitu, nggak baik sayang, pokoknya kita putar balik, biar mas yang jelasin ke orang tua kamu."
" Jelasin apa, nggak ada gunanya mas."
" Mungkin orang tua kamu menginginkan sesuatu dari mas?"
" Nggak usah mas, mama itu sudah dibutakan oleh sogokan menantu kaya rayanya itu, sudah nggak usah balik lagi."
" Tapi mas tetap mau ngomong dengan mama mertua." Arga ingin putar balik, namun tangan istrinya menarik-narik lengannya.
" Nggak!"
" Sayang!"
Arga mencoba sabar, namun dia tidak ingin maslah ini berlarut-larut dan membuat hubungan istri dan orang tuanya hancur.
" Jangan mas..." Dia kembali menarik lenannya agar tidak jadi putar balik.
" Sayang jangan ganggu konsentrasi mas dong." Arga pun tetap kekeh dengan pendiriannya.
" Nggak usah balik pokoknya!"
" Tapi yank.." Arga bahkan lupa tidak meperhatikan jalanan.
" Aaaaaaaaa.... Awas mas!"
CEKIIIIIITTTT!
BRAAAAKKK!
" Telah terjadi laka lantas di jalan XX sore ini, dengan kronologi sebuah mobil yang diduga hilang keseimbangan setelah mengambil jalur lain dan dari arah lawan mobil truk melintas dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak bisa mengendalikan laju truck yang dia bawa dan akhirnya menabrak mobil itu dan terseret kurang lebih satu kilo meter. Untuk sementara korban masih dalam tahap evakuasi dan sudah dibawa ke rumah sakit terdekat." Ucap salah seorang anggota kepolisian yang sedang melakukan olah TKP di tempat kejadian Arga, istri dan anaknya mengalami sebuah kecelakaan.
Flash back off
Nilai seorang laki-laki bukan hanya terletak pada muka nya yang menawan, apalagi hanya dengan harta kekayaannya. Akan tetapi dengan bagaimana cara dia menghormati dan menyayangi seorang wanita di hidupnya.
Hai bestie2kuh... Othor mulai up setiap hari lagi ya, walau jamnya nggak pasti, bulan kemarin banyak hal-hal mendesak yang harus dikerjakan, jadi nggak bisa rutin.
Wes pokok'e jangan lupakan like dan hadiahnya ya, semoga kita semua sehat selalu dan bisa berjumpa di novel iniš„°
__ADS_1