
...Happy Reading...
Cuaca ekstrim masih terjadi di wilayah perkotaan, terkadang panas terik, namun tiba-tiba turun hujan, bahkan angin pun berhembus seperti orang yang sedang ingin mengajak ribut.
Namun sebagai dokter profesional Gendhis dan Broto tetap menjalankan tugas mereka, mau hujan ataupun badai mereka tetap berangkat ke rumah sakit.
" Gendhis... nanti sehabis pulang kerja aku lanjut kuliah ya?"
Mereka biasanya berpisah di tempat parkir mobil, karena ruangan mereka beda.
" Kuliah apaan?" Gendhis langsung memicingkan kedua matanya.
" Em... Aku sudah memutuskan untuk meneruskan kuliah dan mengambil jurusan spesialis."
Yaelah... Kalau dia masih kuliah sampai malam, aku sama siapa dong di rumah? Mana kami belom sempat malam kedua lagi? Dia lupa apa pura-pura lupa sih, ini kan sudah hampir sebulan, masak dia nggak ngajak-ngajak?
" Emang siapa yang nyuruh kamu ngambil jurusan spesialis?"
Gendhis sebenarnya kurang setuju, namun dia tidak berani juga melarangnya, karena hal itu sebenarnya bagus juga untuk karier suaminya kedepannya nanti.
" Kenapa? Emang kamu takut tersaingi?"
" Bukan dong, aku bahkan sudah jauh lebih dulu menjadi dokter spesialis, capek loh yank, lebih banyak menguras tenaga dan pikiran, kenapa nggak jadi dokter umum saja, lagian nyaman juga jadi dokter umum kan?" Padahal Gendhis hanya tidak ingin berpisah dari suaminya lama-lama.
" Kamu kenapa sih? Dulu aja kamu sering membanding-bandingkan aku karena aku hanya dokter umum kan?" Sindir Broto.
" Jangan bahas masa lalu terus dong sayang, itu kan sudah berlalu?" Gendhis langsung melengos jika Broto sudah begitu.
" Tapi rasanya itu masih membekas di hati!"
" Yaelah yank... Mau ngajak berantem nih?"
" Enggaklah... Aku cuma mengingat luka itu saja, sudahlah aku mau keluar duluan, sampai jumpa nanti pulang kerja ya?"
" Nggak boleh!"
Gendhis langsung mengambil kunci mobilnya dan mengunci nya kembali.
" Gendhis... Ini sudah siang, kamu mau telat apa gimana?"
" Jangan mentang-mentang aku sudah baik sama kamu, terus sekarang jadi ayang yang jadi jutekin aku ya? Aku nggak terima pokoknya!"
" Apa sih Ndis, emang siapa yang cuekin kamu?"
" Emm... Sayang... Mau kiss dulu!" Rengek Gendhis sok manja, sebenarnya dia hanya tidak ingin suaminya marah.
Senjatanya kali ini adalah bersikap manja kepada suaminya agar dia melupakan kesakitan yang pernah dia rasakan selama ini.
" Kuta bisa telat Gendhis, nanti kalau kita sudah pulang ke rumah okey?"
Benar saja, Broto langsung tersenyum ke arahnya sambil menautkan rambut Gendhis ke belakang telinganya.
" Masak dimintain gitu aja pelit, dulu aja waktu aku masih cuek sering nyosor? Kenapa sekarang udah dibuka pintunya jadi malah jarang!"
" Aduh sayang... Kenapa kamu jadi menggemaskan seperti ini, hah?" Broto langsung menangkupkan kedua tangannya diwajah Gendhis yang terlihat imut kalau bertingkah manja seperti ini.
" Mas... Aku sebenarnya udah selesai..."
Tulilut.. Tulilut...
Ponsel Broto langsung berbunyi disaat Gendhis belum selesai bicara.
" Sebentar ya yank... Aku angkat telpon dulu!"
" Ckk... Nyebelin deh!" Umpat Gendhis namun dia tempelkan juga telinganya disamping kepala suaminya untuk menguping, begitulah kodrat wanita, kepo nya luar biasa.
" Baiklah... Saya akan segera datang ke ruangan ayah sekarang juga."
" Ckk... Ada apa yank?"
" Entahlah, kita disuruh ke ruangan ayah kamu sekarang."
" Tapi..?"
" Sudahlah, kita lanjut nanti ya, nanti ayah kamu marah kalau nunggu kita terlalu lama."
" Haish... Ganggu aja ayah ini."
" Hehe... Apa sih Ndis? Aku tambah ganteng ya? Kok kamu jadi ngebet begini? siapa suruh dulu kamu jual mahal!" Ledek Broto sambil merangkul bahu istrinya dan berjalan menuju ruangan ayahnya.
" Apaan sih, pede banget kamu ini!"
" Coba kamu sadar dari dulu, pasti anak kita sudah lima!"
Anak? Ya ampun... Aku sudah pernah hamil tapi belum pernah merasakan proses buat anak, kasian sekali gue kan? Mana dia ngga peka lagi, gue udah selesai ini masa nifasnya? Masak iya gue yang harus mulai duluan?
Gendhis kembali mengumpat suaminya didalam hati.
" Mana ayah? Katanya mau ketemu?" Broto memasuki ruangan ayahnya namun tidak ada orang disana.
" Aku tanya sama suster di luar sebentar ya, kamu tunggu dulu disini!" Broto langsung kembali keluar dan menemui suster jaga hari ini.
Setelah beberapa saat namun Broto pun tak kunjung kembali dan Gendhis pun akhirnya memilih keluar untuk mencari suaminya.
__ADS_1
" Haish... Susah kalau pria mantan play boy, ditinggal bentar doang sudah tebar pesona sama para suster, awas kamu ya mas!" Gendhis langsung berlari ke arah suaminya.
" Sayang... Lama banget sih, kenapa nggak masuk-masuk dari tadi?" Gendhis sengaja mengeraskan suaranya.
" HAH? SAYANG?" Suster itu langsung terkejut saat mendengarnya.
" Iya.. Dokter Broto ini sudah beristri dan sayalah istri sah nya." Gendhis seolah menegaskan bahwa Broto adalah miliknya.
" Pffthh!" Broto hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah Gendhis yang terlihat cemburu.
" Benarkah? Tapi saya tadi cuma..."
" Sudahlah, nggak penting, ayo sayang kita tunggu ayah didalam saja, okey?" Gendhis langsung menggandeng lengan Broto dengan manja.
" Ya sudah... Kamu kirim saja laporannya ke dokter umum yang lainnya, tolong gantikan saya sebentar, soalnya ada urusan penting sebentar."
" Baik dokter, mari dokter Gendhis." Sapa Suster itu dengan sopan.
" Cemburu ya?" Broto menoel dagu istrinya dengan gemas.
" Cih... Dasar keganjenan!" Gendhis langsung menepisnya.
" Apa sih Ndhis? Orang cuma bahas pasien aja, banyak tadi yang sudah mengantri katanya."
" Heleh... Bohong kamu!"
" Beneran?"
" Mas... Aku mau es cream." Ucap Gendhis tiba-tiba.
Setelah sampai didalam ruangan ayahnya kembali, Gendhis langsung mengunci pintu ruangan itu.
" Es cream rasa apa, biar nanti aku belikan?" Jawab Broto dengan santainya.
" Bukan es cream yang itu loh, kalau begitu terong aja deh?"
Dan perkataan Gendhis semakin membuat Broto kebingungan.
" Kamu ini ngomong apa sih Ndis?" Broto lebih memilih duduk diranjang pasien di ruangan ayah mertuanya.
" Yang ini loh yank!"
Dengan santainya Gendhis menunjuk benda berharga milik suaminya.
" Hah? Jangan bercanda kamu Ndis?" Sontak Broto langsung mendekap sangkar burung berharga miliknya karena terkejut.
" Kenapa? kamu udah nggak mau lagi dengan istrimu, apa karena suster di luar tadi!" Gendhis langsung berprasangka buruk tentangnya.
" Bukan begitu, bukannya kamu belum boleh berhubungan?" Broto tiba-tiba merasakan suhu di ruangan itu panas seketika, saat Gendhis mengalungkan kedua tangannya di leher miliknya.
" Owh ya? Aku beneran lupa sayang?" Senyum Broto langsung terbit dengan cerah sekali.
" Mau nggak nih?" Gendhis dengan malu-malu menawarkan pahala kepada suaminya, karena dialah orang yang paling penasaran bagaimana rasanya.
" Mau dong sayang, tapi..."
Bruk!
" Nggak ada tapi-tapian!"
Gendhis langsung mendorong tubuh suaminya hingga dia terlentang di ranjang pasien itu. Kalau Gendhis sudah ada maunya, dia tidak akan segan-segan memulai duluan.
" Sayang... nanti kalau ayah kamu lihat gimana?" Broto pun sama sekali tidak keberatan, karena memang itu keinginannya, namun jika harus melakukannya di ranjang pasien dia ragu juga.
" Sudah aku kunci pintunya, hehe!" Gendhis bahkan menindih tubuh Broto duluan.
" Nggak mau nunggu di rumah saja?" Broto masih terlihat bimbang, namun tangannya juga seolah sudah gatal ingin melihat onderdil istrinya.
" Kita pemanasan dulu disini, bentaran doang!" Ucap Gendhis yang sudah memasrahkan dirinya mau diapain aja oleh suaminya.
" Siap sayang, jangan menyesal ya? Siapa suruh kamu menggoda aku duluan!"
Broto langsung mengubah posisinya, jangankan pemanasan, sampai finish pun dia tidak keberatan.
Broto yang notabenya mantan seorang player sudah faseh tata cara bongkar onderdil mesin tanpa harus ribet.
Saat ini dia bahkan sudah berhasil membuat Gendhis merem melek karena menahan sensasi yang dia berikan.
Emh... Broto benar-benar bisa membuat aku menggila, walau sebenarnya kalau ingat kelakuannya dulu kesal juga, tapi kalau dia jadi berpengalaman begini rasanya gimana gitu, kayak nagih banget.
Karena terlalu terbuai dengan suasana Gendhis dan Broto bahkan sudah lupa kalau mereka ada di rumah sakit.
Slep!
" Emh.. Sayang, apa itu!" Gendhis langsung tersentak karena ada sesuatu yang menerobos tubuhnya.
" Katanya mau es cream?" Disaat Gendhis masih asyik dalam angan-angan syahdunya, ternyata Broto sudah berhasil menerobos gawang lawan.
" Tapi ini?" Gendhis yang baru kali ini merasakan dalam alam sadarnya, merasa ada yang aneh.
" Ini Es Cream rasa terong sayang, gimana enak nggak?"
" Enak sih, tapi emh!" Gendhis masih merasakan sedikit ngilu, karena memang baru kedua kalinya Broto menerobosnya.
__ADS_1
" Tahan sayang, lama-lama kamu akan terbiasa!" Broto langsung memulai sesi push up ditempat terindahnya.
Dan ranjang besi itu pun mulai bergoyang mengikuti setiap hentakan dari gerakan Broto, Gendhis pun kini sudah mulai menikmatinya, dia bahkan memeluk punggung suaminya dengan erat seolah tidak ingin rasa itu segera berakhir.
Grek!
" Loh... Gendhis? Broto? Apa kalian di dalam? Kenapa pintu ruangannya terkunci?"
Tiba-tiba suara ayahnya menggangu aktifitas mereka.
" Sayang, gimana ini?" Broto langsung memaku ditempat.
" Teruskan saja, biar aku yang menjawabnya!" Bisik Gendhis yang tidak mau disela.
" Tapi kan yank?"
" Emh... Nanggung yank kalau dilepas, baru enak-enaknya ini." Jawab Gendhis yang tidak rela.
" Yank?" Broto pun sama, mereka berdua hampir sampai di puncak destinasi, tapi dia takut juga kalau ayah mertuanya curiga.
" Bentar yah... Baru kejepit ini!" Teriak Gendhis dari dalam ruangan, yang membuat ayahnya menggerutkan keningnya.
" Kejepit? Siapa yang kejepit?" Tanya nya kembali.
" Emh... Aku yah, tunggu bentar ya!"
" Ssstt... Masak kejepit sih Ndis, emang nggak ada alasan lain?"
Dan ayahnya pun seolah mengerti, dia tidak lagi bersuara setelahnya.
" Udah buruan, tancap gasnya yank!"
" Ya sudahlah, emang nanggung banget sih!"
Broto langsung saja menggendong tubuh istrinya dan menyandarkannya di dinding, karena kalau dia menggarap istrinya di ranjang besi itu suaranya pasti akan sampai di telinga ayah mertuanya.
Setelah sekian purnama akhirnya Broto dan Gendhis bisa mencapai kata ahh bersama, walau dengan arang melintang yang berliku tajam, namun mereka berhasil melaluinya, hingga akhinya doa mereka menjadi Amin yang sama.
C U P
" Terima kasih sayang, kamu akhirnya menunaikan kewajibanmu sebagai istriku!" Broto memberikan hadiah sebuah kecvpan di kening istrinya, setelah mereka berhasil menyelesaikan hajatnya dan membetulkan kembali kancing baju juga resleting yang terbuka.
" Hmm... tapi masih kurang!" Gendhis bahkan menggoyangkan bahunya dengan manja.
" Setelah ini kita izin pulang saja, lanjut trabas di rumah kita, okey?" Broto menempelkan keningnya di kening istrinya dengan gemas.
" Mau kiss lagi?" Rengek Gendhis dengan manja.
" Dih... Kalau udah tahu rasanya saja, maunya nambah terus, dari dulu kemana aja kamu?" Ledek Broto yang membuat Gendhis langsung melotot.
" Kamu ini sukanya bahas masa lalu terus deh, nggak asyik tauk!"
" Hehe... Ya sudah, kita temui ayah kamu dulu, nanti dia nunggunya kelamaan lagi, nanti sampai rumah kamu boleh minta apapun yang kamu mau, aku pasrah jadi tawanan kamu deh."
" Okey, siapa takut!"
Akhirnya mereka berdua berjalan sambil bergandengan keluar dari ruangan ayahnya dengan hati yang berbunga-bunga.
Ceklek!
" HAH? Ayah kenapa duduk di lantai?"
Mereka berdua sontak kaget saat melihat ayah mereka duduk dilantai bersandarkan tembok rumah sakit.
" Apa sudah selesai kegiatan jepit menjepitnya? Enak nggak? Atau masih kurang?" Tanya Ayah Gendhis dengan wajah yang sudah lemas.
" Pffthh... Tadi itu anu yah, beneran kejepit loh!" Gendhis ingin tertawa tapi takut dosa.
Ayahnya pasti menahan sesuatu, hingga akhirnya dia memilih duduk dilantai, padahal kursi tunggu kosong tidak berpenghuni.
" Apanya yang kejepit, burung suami kamu kan yang kejepit? Perlu ayah periksa nggak, ayah udah berpengalaman ini?"
" Janganlah yah, itu punyaku, apa ayah lupa kalau aku juga seorang dokter? Aku juga bisa memeriksanya sendiri." Jawab Gendhis dengan santainya.
" Astaga sayang.. Kenapa ngomongnya gitu!" Broto langsung menyenggol istrinya.
" Hahaha... Iyalah tuh, terserah kalian saja, beneran nih ngak mau nambah? Kalau mau ayah tinggal pergi lagi nih?"
" Ya sudah sana." Jawab Gendhis yang merasa tidak bersalah sama sekali.
" Gendhis, kamu ini? Emm.. Ayah maaf sudah menunggu lama ya." Broto yang merasa tidak enak hati.
" Ya... Lumayanlah, sampai kalian teriak ahh bersama."
Duar!
Ayah Gendhis langsung melenggang masuk ke ruangannya terlebih dahulu, meninggalkan Gendhis dan Broto yang saling memandang, karena sudah pasti kegiatannya tadi didengar oleh ayah mereka, sampai-sampai ayahnya bisa bilang begitu.
" Pfffthhh... Hehe!"
Namun akhirnya bukan kata sesal yang mereka rasakan, senyum mereka bahkan masing-masing terbit dengan indahnya, tak perduli dengan sindiran dari ayah mereka, karena rasa bahagia sudah tercipta diantara keduanya.
Allah tidak pernah mengatakan bahwa jalan hidup akan mudah. Tapi, Dia mengatakan 'Aku akan bersama dengan mereka yang mau bersabar.
__ADS_1
Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan pasti akan datang kemudahan.