
...Happy Reading...
Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika memandang kehidupan hanya hitam putih saja, maka kamu akan buta warna.
Jika kita memandang ujian dengan hati, maka ujian akan jadi sesuatu yang menguatkan, bukan malah menghancurkan.
Walaupun Broto bukan orang yang terlihat baik dan lembut, namun Broto sebenarnya pria yang penuh perhatian dan kasih sayang dengan istrinya, hanya saja dia tidak pandai berkata-kata dan bersikap manis layaknya pria bucin yang lainnya, karena Gendhis pun selalu berwajah masam ketika berbicara dengannya.
Bahkan sejak mereka pulang dari bulan madu, Broto sama sekali tidak pernah meninggalkan Gendhis sewaktu dia sakit, walau hanya sesaat saja.
Dia bahkan memilih mandi di kamar pasien, agar terus bisa memantau keadaan istrinya. Walau dia bukan dokter spesialis obgyn, tapi setidaknya dia bisa mengawasi perkembangan kesehatan istrinya, selama Sita sedang melayani pasien lain.
Rumah sakit itu memang punya keluarga Gendhis, namun yang boleh menangani Gendhis hanya Sita saja, karena hanya dia rekan yang ia percaya mampu menyembunyikan rahasia Gendhis yang sudah hamil duluan, dia tidak ingin aib dirinya menjadi bahan perbincangan publik.
" Uhuk.. Uhuk.."
Saat Gendhis terbangun dari tidurnya, Broto langsung berjalan mendekat dan duduk disamping ranjang istrinya.
" Apa kamu haus, mau minum?" Tanya Broto sambil membenahi selimut Gendhis.
Tadi dia memang sudah sadar, namun karena pengaruh obat Gendhis tertidur kembali dan baru bangun kali ini.
" Mas.. Mas Panji?" Orang yang dia tanyakan pertama kali tak lain dan tidak bukan adalah suami adeknya, yang paling Broto benci.
" Ckk... Apa setelah pingsan mata kamu jadi bermasalah?"
Saat baru mendengar nama rivalnya yang baru disebut saja Broto sudah langsung kesal, apalagi saat mengingat wajahnya yang selalu membuat dia naik darah.
Mood Broto yang tadinya ingin mencoba lembut langsung hilang begitu saja dan berubah menjadi judes kembali.
" Dimana mas Panji?" Gendhis terlihat gelisah dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Dia berpikir bahwa sudah pasti Panji khawatir tentangnya dan ikut menemani dirinya disana.
" Manalah ku tahu, kamu pikir aku bapaknya!" Jawab Broto dengan ketus, dia memang orangnya slengek an, apalagi jika seseorang sudah membuat mood nya turun duluan, walaupun itu istrinya sekalipun, bahkan wajahnya sudah berubah menjadi tidak enak di pandang.
" Apa sih Broto, aku kenapa? Aku dimana?" Tubuhnya yang tidak begitu kuat membuat dia tidak bisa meninggikan suaranya, walau hatinya terlalu sakit jika harus berdekatan dengan suaminya terus menerus.
" Ini di Rumah sakit, sudahlah jangan banyak tanya, istirahatlah dulu, aku panggilkan Sita sekarang, biar dia memeriksa perkembangan kesehatanmu." Broto langsung bangkit ingin pergi dari sana.
" Aku pengen ketemu sama mas Panji!" Dan ucapan Gendhis kembali membuat darah Broto seolah semakin memanas, dia langsung balik badan dan menajamkan kedua pandanganya ke arah Gendhis.
" Untuk apa? Dia sedang bulan madu dengan adekmu, bahkan mungkin mereka berdua sedang bercinta sekarang!" Broto langsung mengepalkan kedua tangannya sebagai pelampiasan dari kobaran api kemarahannya.
" Nggak mungkin, dia hanya menyukaiku, dia hanya cinta denganku, bukan yang lainnya!"
Sebenarnya hati Gendhis sendiri sudah mulai ragu sekarang, apalagi dia pernah melihat kejadian saat Panji mengeny*t dua gunung kembar milik Ratu persis seperti bayi tua.
Namun dia memilih pura-pura tidak mau tahu, karena pikirannya selalu menggangap bahwa Panji hanya mencintai dirinya seorang, dan akan menjadi miliknya suatu hari nanti, setelah bayi yang dia kandung itu lahir ke dunia ini.
" Hei Gendhis, apa aku perlu membawakanmu kaca yang besar, atau aku perlu memeriksa kedua matamu itu ke spesialis THT?" Broto kembali berbalik dan mendekati Gendhis dengan emosi kecemburuan yang memuncak.
" Untuk apa, aku tidak punya gangguan dengan itu semua, lagian spesialis mata itu namanya Ophthalmologis, apa kamu lupa?" Tanya Gendhis yang memang memilih bersikap masa bodoh.
" Bodo amatlah, yang jelas untuk melihat wajahmu itu, yang sekarang sangat terlihat menyedihkan itu!" Umpat Broto yang tidak habis pikir, dia memang tahu kalau Gendhis ini sedari dulu memang susah dia takhlukkan, itu mengapa dia sangat tertarik dengannya, namun kenyataannya dia selalu diacuhkan begitu saja, dan itu membuat jiwa cassanova Broto seolah memberontak.
" Broto, jangan ngawur kamu!" Gendhis terlihat ingin duduk bersandar namun terlihat kesusahan.
" Sebenarnya sebesar apa sih nilai harga dirimu itu, heran deh gue?" Walau dia berbicara dengan nada judes, namun tangannya langsung sigap membantu istrinya untuk duduk bersandar.
" Apa-apaan sih kamu Broto, kamu mau merendahkan istrimu sendiri!" Saat mereka berada dalam jarak terdekat, Gendhis sengaja mengeraskan suaranya disamping telinga suaminya yang sebenarnya memang tidak pernah dia anggap.
" Ckk... Jadi kamu masih ingat kalau aku ini suamimu? Kalau begitu apa masih pantas seorang istri menanyak seorang pria yang sudah menjadi milik orang lain? Aku rasa kamu bukan mencintainya, tapi hanya terobsesi dengannya!" Umpat Broto yang terlalu jengah melihat sikap istrinya itu.
" Tahu apa kamu tentang kami?" Tantang Gendhis yang membuat Broto malah tersenyum miring.
" Aku tidak tahu dan aku juga tidak mahu tahu, namun satu yang pasti, seburuk-buruknya aku ini dimatamu, tapi aku tidak pernah merendahkan diri sendiri demi sebuah obsesi, kayak nggak laku aja jadi orang, cih... Memalukan sekali!" Broto berbicara dengan nada mengejek setelahnya.
" Hayoo... Ribut-ribut soal apa kalian berdua ini, ingat nggak banyak pikiran, pikiran harus rileks, agar tubuh kamu nggak ngedrop lagi Ndhis?" Tiba-tiba Sita masuk dengan membawa alat check up kesehatan dan beberapa obat disana, setiap jam dia memang selalu memantau Gendhis walau tanpa disuruh, karena dia sudah diberi wewenang khusus oleh ayah dan ibu Gendhis untuk merawat putri kesayangan mereka.
__ADS_1
Dialah satu-satunya rekan dokter yang tahu pasti kisah keduanya, yang lain beranggapan bahwa Gendhis menikah dengan Panji bukan dengan Broto.
" Temanmu ini lah, hari gini masih aja Gamon, dih.. Nggak banget deh!" Broto langsung mempersilahkan Sita untuk memeriksa istri dan janinnya.
" Gendhis, mulai hari ini kamu jangan terlalu banyak aktivitas, kalau kamu sering ngedrop begini, bisa-bisa kamu akan bedrest sampai bayi dalam kandunganmu sembilan bulan dan lahir, apa kamu mau?" Sita mulai memeriksa Gendhis dengan telaten.
" Sita, tapi kamu tahu sendiri, bukan aku yang menginginkan bayi ini." Dia akhirnya kembali mengibarkan bendera perang dengan Broto.
" Cih... Dia mulai kumat lagi!" Broto sebagai pihak terdakwa langsung melengos saat mendengarnya.
Sampai sekarang dia masih sangat pusing, kenapa istrinya ini susah sekali menerima kenyataan dan takdir hidup, walaupun itu berawal dari sebuah kesalahan, tapi semua sudah terjadi, seharusnya menerima Takdir itu lebih baik daripada harus terus-terusan menentang, karena hanya akan membuat diri tersiksa sendiri.
" Jangan begitu Gendhis, nanti kalau Tuhan marah gimana hayow? ini sudah jalanmu Ndhis, bahkan saat kamu hampir buta mata dan ingin menghilangkan nyawa janinmu kemarin, Tuhan yang akhirnya menyelamatkan bayi itu kan lewat suamimu? Berarti memang Dia ingin kamu menjaganya, itu amanah Gendhis." Ucap Sita tanpa menghentikan pemeriksaannya.
" Tulll.. Pasang tuh telinga baik-baik, jangan cuma buat pajangan aja!" Broto langsung menyetujuinya.
" Ingat Ndis... Masih banyak loh diluar sana pasangan suami istri yang berusaha dan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan keturunan, kamu dimudahkan kenapa malah ingin kufur nikmat, dosa loh!"
Sita sebagai dokter kandungan berusaha untuk terus menenangkan sahabatnya demi kesehatan dirinya sendiri dan bayinya juga, karena dia tidak boleh stres larena akan berdampak langsung dengan kondisi tubuhnya.
" Dengerin tuh, jangan bisanya cuma mengharapkan suami orang aja, milik adeknya sendiri lagi, jadi kakak tertua itu seharusnya rela memerikan kebahagiaan denan adek kandungnya, bukan malah ingin menghancurkannya!" Sindir Broto dengan begitu jelas.
" Broto sudahlah, kamu jangan memancing emosinya!" Sita yang akhirnya menjadi penengah diantara mereka, dia langsung melotot kearah Broto saat nada bicara Broto sedikit menyakitkan hati seorang wanita.
" Aku capek dengerin dia merengek ingin bertemu dengan Panji dari tadi, sedangkan aku yang selalu ada untuknya, padahal mungkin dia lagi memadu kasih dengan istrinya di villa itu tanpa adanya dia sebagai penggangu!" Broto kembali menajamkan kedua matanya ke arah Gendhis yang hanya menundukkan kepalanya.
" Broto, jangan fitnah kamu!" Gendhis langsung protes.
" Mereka memang masih menginap disana saat aku dan Sita membawamu kesini menggunakan helikopter, apa kamu tahu apa yang mereka lakukan sekarang, mungkin mereka masih tidur berpelukan dan saling memadu kasih!"
" Tidak mungkin!" Teriak Gendhis yang langsung menutup kedua telinganya seolah enggan mendengar.
" Hei.. aku juga pria, bahkan tanpa cinta pun aku dengan enjoy bisa menikmatinya, apa kamu pikir Panji selurus itu? apalagi adekmu terlihat santai aja menikah dengannya,adekmu bahkan bisa menerimanya dengan seolah tiada beban."
" Broto sudahlah, kamu ini jangan memancing emosinya terus menerus, cepat suruh dia minum obat ini, aish... Aku malah jadi ikutan pusing berada dalam problema rumah tangga kalian." Sita langsung membereskan perlengkapannya medisnya.
" Anggap saja sudah, karena kesehatan istrimu itu tergantung dengan sikap kalian berdua, jangan lupa obatnya harus diminum sekarang juga, aku pergi dulu!"
Sita langsung melenggang pergi keluar dari kamar VIP itu, dia ikut sakit kepala sendiri saat melihat mereka bertengakar seperti itu.
" Ini minum obatnya." Broto mengambilkan dua buah pil yang sudah Sita siapkan walau hatinya masih dongkol, tapi kesehatan istrinya adalah yang utama.
" Nggak!" Tolak Gendhis.
" Minum Gendhis, apa kamu tidak mendengar nasihat Sita tadi, kamu harus minum obat!" Broto tetap menyodorkan obat itu.
" Aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Masalah sehat atau tidaknya itu kan urusanku!" Gendhis masih saja keras kepala, belum bisa menerima segala ketetapan dari-Nya.
" Aish.. Wanita ini benar-benar menjengkelkan!"
Broto langsung memasukkan dua pil itu kedalam mulutnya sendiri dan....
C U P
Broto langsung menarik tengkuk Gendhis dan menempelkan bibiirnya ke dalam mulut istrinya.
" Hmpt!" Gendhis mencoba menutup bibiirnya dengan paksa namun sulit karena ini terjadi begitu cepat.
" Fuuuh!"
Namun Broto tidak kehabisan cara, dia sedikit menggigit bibiir istrinya agar mulutnya terbuka dan akhirnya dia semburkan dua kapsul obat itu tadi ke mulut istrinya. Hanya itu cara ekstrim untuk memaksa tanpa harus melukai.
" Uhuuk!" Akhirnya dua kapsul itu tertelan dengan paksa.
" Minum!"
Broto langsung mengambilkan air putih dan meminumkannya dengan senyum liciknya terukir disana.
" Broto.. Uhuk.. Uhuk.. Kamu sudah gila ya!" Gendhis sampai mengibaskan tangannya didepan wajahnya yang sudah memerah karena terkejut.
__ADS_1
" Iya, dari dulu sudah aku bilang kan, kalau aku ini gila karenamu!"
" Broto!"
C U P
Sudah lama sekali dia tidak merasakan kembali bibiir istrinya setelah kejadian gila yang dia lakukan di hotel malam itu.
" Hmpt.. Aaaaaaa... Broto, apa yang kamu lakukan sih!" Gendhis langsung mengusap bibirnya dengan kasar.
" Obatnya pahit banget tadi, jadi kamu harus menyerahkan bibiirmu sebagai penawarnya, aku kan sudah membantumu tadi." Ucap Broto dengan tingkah gilanya.
" Jangan ngawur kamu!" Gendhis langsung melengos.
" Gendhis, coba kamu bisa membuka sedikit saja jalan untukku, pasti kamu tidak akan sesakit itu, aku bisa menjadi apa yang kamu mau, jika kamu mau mencoba menerimaku." Ucap Broto dengan lirih.
Namun Gendhis hanya memilih diam saja, dia pun tidak ingin begini, namun seolah seluruh hatinya masih dipenuhi nama Panji yang menjadi tahta tertinggi di kerajaan cintanya.
" Cobalah buka hatimu walau sedikit saja, berikan celah itu kepadaku, asal kamu tahu saja, bagaimana sikap dan perilakuku itu tergantung dengan kamu, jika kamu baik denganku, aku pun bisa begitu, namun jika kamu terus begini, aku pun bisa lebih nekad dari yang kamu pikirkan atau kamu sebut sebagai pria gila!"
" Tapi Broto, aku..."
" Pilihan ada ditanganmu, jika kamu tetap bersikap seperti ini dengan suamimu ini, kamu yang akan semakin tersiksa karena sikapku, kamu pasti tahu aku!" Broto terlihat mengancam walau dnegan nada pelan.
" Ckk.."
" Pejamkan matamu!" Broto mengusap kepaka istrinya dengan perlahan.
" Ngapain?"
" Pejamkan saja, apa susahnya, bukannya aku suruh bayar juga kan!" Ledek Broto yang kembali berulah.
" Hiss... Kamu ini, selalu saja memaksakan kehendakmu!"
Akhirnya Gendhis mencoba mengalah, dia memilih memejamkan kedua matanya perlahan.
Broto terlihat mengambil nafasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan stock kesabarannya dan langsung memiringkan kepalanya perlahan dan mulai mendekatkan wajahnya.
" Gendhis... izinkan aku untuk mencintaimu dan menjaga jiwa dan juga ragamu." Bisik Broto dengan lembut.
Broto paham bahwa dia bukan orang baik, namun apa salahnya jika dia berusaha ingin menjadi lebih baik, dia hanya perlu dukungan, bukan sebuah Cacian.
" Hah?"
Gendhis sontak langsung membuka matanya, namun ternyata wajah Broto sudah berada satu centimeter tepat didepannya.
Dia ingin menjauh namun tubuh sudah terbentur dengan bantal rumah sakit, ingin menghindar tapi dia terhimpit.
Akhirnya mau tidak mau, untuk yang pertama kalinya dia menatap kearah seorang pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
C U P
Broto menempelkan bibirrnya ke kening Gendhis, kemudian turun ke hidung mancungnya, lalu berpindah ke pipi kanan kemudian beralih ke pipi kiri dan akhirnya turun ke bibirr Gendhis yang masih terngaga karena terkejut dengan aksinya.
Semakin lama, entah mengapa tubuh Gendhis seolah menjadi kaku ditempat, dia tidak bergerak sedikitpun dan tidak lagi menolak atas perbuatan Broto yang seolah penuh penjiwaan.
Apalagi saat Broto memperdalam civmannya yang syahdu itu, seolah Gendhis terbawa suasana dan tanpa sadar Gendhis membalas civman dari suaminya.
Suasana ruang rawat inap VIP itu memang tidak seramai ruangan bangsal pada umum, sehingga tidak ada yang mengganggu aktifitas mereka.
Broto tidak menghentikan aksinya begitu saja, apalagi kedatangan hatinya kali ini disambut baik oleh istrinya, walau pada awal mulanya tidak diterima.
Andai hati bisa berbicara, mungkin semua orang disana akan tahu jika hati Broto kali ini seolah berbunga-bunga, inilah yang dia inginkan selama ini.
Mata bisa salah memandang, mulut bisa salah berucap. Tapi, hati tak pernah salah dalam memilih.
Setiap apa yang kita pandang kepada orang lain, itulah cerminan hati kita, jika kita memandang orang lain buruk, berarti hati kita lah yang kotor.
Bencilah pada Dosa nya, bukan pada Pendosa nya.
__ADS_1