
...Happy reading...
Hari ini keluarga Panji ingin mengundang semua keluarga besar mereka dan keluarga besar Ratu tentunya untuk memberitahukan kabar baik terbaru, karena Ratu akhirnya benar-benar hamil bahkan sudah jalan tiga bulan.
Dan Eyang lah orang yang paling heboh dengan berita ini, karena firasatnya sedari dulu memang Ratu lah jodoh Panji dan akan menjadi menantu di keluarganya, bahkan membawa aura positif kepada cucunya yang selama sering terkena nasip sial kalau sudah berhubungan dengan seorang wanita.
" Ratu.. kamu mau makan apa sayang?" Panji pun tidak lagi protes atas keinginan Ratu yang sering meminta makanan aneh-aneh dengannya.
" Aku belum lapar mas." Jawab Ratu dengan lemas, dialah satu-satunya orang yang tidak terlalu bahagia atas kabar ini, karena pikirannya kalau dia sudah punya anak nanti, dia tidak akan sebebas dulu lagi.
" Tapi kamu harus makan sayang, sedikit saja, nanti dedeknya kelaparan gimana hayow?" Panji langsung duduk jongkok dihadapan Ratu dan menciumi perut istrinya dengan gemas, seolah bangga dan ingin berucap 'ini loh hasil karya terbaikku'.
" Mas geli."
Ratu sebenarnya bahagia juga karena suaminya jadi selalu stand by dua puluh empat jam disampingnya saat ini, seolah dia tidak ingin melewatkan waktu sedikit saja bersama Ratu, bahkan menjaganya dengan ketat, karena dia paham kelakuan Ratu yang tidak bisa duduk dengan tenang sedari dulu.
" Heleh... Kalau saat buatnya aja kamu tarik-tarik kepala mas biar kesana!" Ledek Panji sambil mecubit gemas pipi istrinya yang semakin terlihat chubby itu.
" Ckk.. Apaan sih mas?" Ratu langsung melengos karena menahan rasa malu, kelakuannya memang sering di luar kendali kalau suaminya sudah olahraga diatas tubuhnya.
" Kenapa? Mau mas tengokin dedeknya?" Panji langsung sengaja meledeknya.
Disaat dia mengajar secara online seperti sekarang, dia mendapatkan berkah tersendiri, bahkan dia bisa memenuhi kebutuhan batin Ratu kapanpun dia mau.
" Nggak! Keluarga ku juga pasti sudah mau datang." Tolak Ratu dengan cepat.
" Biarkan saja mereka makan dulu nanti, kita sarapan yang mantep-mantep dulu mau?" Panji langsung mulai menggodanya.
" Nggak boleh terlalu sering mas, ingat kata dokter kemarin kan?" Ratu langsung mengalungkan tangannya di leher Panji.
" Tapi mood kamu jelek hari ini, nanti di kira keluargamu mas nggak nyenengin kamu, kita pemanasan sebentar yuk, pelan-pelan aja, biar mood kamu happy dan dedek pun ceria didalam sana, okey?" Panji pun paham dengan segala kondisi.
" Emm... Gimana ya?" Ratu pura-pura berpikir sejenak.
Sejak hamil memang Ratu yang sebenarnya selalu ingin duluan, bahkan moodnya langsung bagus setelah mereka selesai berhubungan, tapi saat mereka beberapa kali periksa, dia selalu diingatkan oleh dokternya agar tidak terlalu sering berhubungan karena bisa menimbulkan kontraksi pada janin yang masih sangat rentan pada umur kandungannya saat ini.
" Sudahlah ayok, lagian juga cuaca mendung, kita bisa cari yang hangat-hangat sebentar." Panji langsung merangkul tubuh istrinya dan membawanya beranjak dari sana.
" Mas... Aku pengen di kolam renang boleh nggak?"
" Hah? Jangan di kolam renang juga dong sayang? Nanti ada yang ngelihat gimana?" Panji kembali dibuat puyeng oleh keinginan istrinya yang memang tiba-tiba sering ekstrim begini.
" Tetep pakai baju kan bisa mas?" Rengek Ratu seperti biasanya.
" Di kamar aja ya? Atau di bath up kamar mandi kan hampir sama juga kayak di kolam renang, gimana?" Panji mencoba merayunya, walau sepertinya pasti akan gagal.
" Aaaaa... Maunya di kolam renang ayang!" Kalau dia sudah merengek seperti ini, Panji tidak bisa apa-apa selain mengabulkannya.
" Okey... Okey... Kita kesana, mas tutup dulu pintunya, mas pesan dulu sama bibi biar akses ke kolam renang di tutup ya, agar nggak ada yang kesana?"
" Okey!" Jawab Ratu dengan riang kalau keinginannya sudah tersalurkan.
Panji langsung mencari asisten rumah tangganya yang malah langsung senyum-senyum sendiri dan hanya mampu menggangukkan kepalanya.
" Mas... Hiks.. Hiks.."
" Kenapa lagi sayang?" Panji kembali mendekat kearah istrinya setelah dia selesai mengganti bajunya dengan pakaian renang.
" Baju renang aku nggak muat ini, gimana dong?" Ratu langsung kembali merenggek saat mencoba baju-baju yang diambilkan suaminya tadi tidak ada yang muat bagi tubuhnya yang sekarang, kalau muat pun terasa sesak di bagian perut.
" Ya sudah... Nggak usah pakai begituan, pakai aja pakaian dalam kamu kan bisa?" Panji hanya bisa tersenyum-senyum saja melihat istrinya seperti itu.
" Tapi yank... Ini kan nggak keren!"
" Apapun yang kamu pakai semua keren sayang, bahkan kalau kamu nggak pakai apapun lebih keren, tapi hanya boleh mas loh ya yang melihatnya?" Panji langsung memeluk tubuh istrinya.
" Beneran? Sebenarnya aku nggak gendut kan yank?"
" Enggaklah, kamu itu nggak gendut tapi mont*k dan seksih, mas suka, sudahlah ayok kita berenang pelan-pelan saja okey?"
Kalau Panji tidak ngomong seperti itu, sudah pasti mereka akan melewatkan acara makan-makan bersama keluarga besarnya begitu saja, karena sudah dapat dipastikan kalau Ratu akan seharian merengek hanya karena dia tambah gendut dan berisi.
" Mau sekarang?" Tanya Panji yang sudah mendapatkan kode keras dari Ratu.
" Hmm.."
Dengan gilanya Ratu meminta hal itu didalam kolam renang, Panji pun hanya bisa pasrah saja dan menarik Ratu di sudut kolam renang.
Dengan perlahan tapi pasti Panji dan Ratu melakukannya disana, dengan pemandangan alam terbuka dan suasana yang menenangkan dan juga sensasi yang mereka dapatkan pun luar biasa.
Dan akhirnya mereka berdua terus beradu de sah an di kolam renang rumah itu dengan penuh gelorah asmarah.
__ADS_1
" Bi... Ratu dimana?"
Melody yang semenjak Ratu hamil, beralih profesi menjadi pengantar aneka jajanan itu, kini sudah datang dengan membawa dua kantong kresek ditangannya.
Biarpun makanan enak cita rasa dari berbagai Nusantara sudah tersaji di rumahnya, namun tetap saja jajanan di pinggir jalan yang paling dia sukai dan diterima dengan baik oleh perutnya.
" Emm.. nona Ratu sedang berenang bersama den Panji non Mel." Jawab sang bibi yang langsung siaga.
" Ya sudah.. Biar aku bawa pesanan makanannya kesana saja." Melody langsung ingin beranjak pergi ke kolam renang namun langsung dicegahnya.
" Jangan non!"
" Loh kenapa? Nanti kalau aku telat bawa cemilannya dia ngamuk lagi nanti bik?" Ucap Melody yang merasa aneh, tidak biasanya bibi seperti ini pikirnya.
" Nanti saja nona, tadi den Panji sudah pesan jangan ada yang datang ke kolam renang begitu."
" Kenapa emangnya bik? Mereka sedang apa sih?" Semakin dilarang, dia semakin curiga
" Tidak tahu non, mungkin sedang berenang, jadi nggak boleh ada yang kesana." Ucap Bibi yang juga tidak berani berasumsi sendiri.
" Maaf non, pintunya di kunci juga dari luar!"
" Astaga... Tu bocah benar-benar ya, yoweslah.. bibi taruh cemilannya di meja dapur aja ini, nanti bilang sama Ratu ya bik." Melody langsung menyerahkan saja dua kantong kreseknya itu.
" Baik nona." Bibi itu langsung berlalu dari hadapan Melody.
Dan...
Bukan Melody kalau nggak penasaran, semakin Ratu menyembunyikan sesuatu darinya maka semakin dia dilanda ribuan rasa kepo nya. Karena selama ini tidak pernah ada yang ditutupi darinya.
" Cih... Kalau cuma renang doang kenapa harus dilarang kesana? Bukannya wajar lihat orang berenang?" Melody langsung menoleh ke kanan dan kiri sesaat.
" Ahaay... Sepertinya balkon didekat kamar Ratu bisa melihat ke arah kolam renang kan? coba gue lihat lah, ngapain sih mereka, lebay amat!"
Melody langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai atas dengan semangat yang membara karena diliputi rasa penasaran yang tinggi.
" Sedang apa ya mereka?"
__ADS_1
Melody bahkan berlari ke arah balkon didekat ruang keluarga di lantai atas.
Degh!
Dan saat dia sudah berpegangan pada pagar besi, tiba-tiba tangannya bergetar hebat dan kakinya pun sudah memaku di tempat.
Walau dia tidak mendengar dengan jelas suara de sah an Ratu dan Panji dibawah sana, tapi posisi mereka yang tumpang tindih membuat Melody tahu pasti apa yang sedang mereka lakukan.
Glek!
Sebenarnya Melody tidak ingin menodai mata sucinya, namun adegan itu bahkan sudah seperti di film-film barat, sangat menarik sekali, jadi dia penasaran juga gaya apa yang mereka lakukan selanjutnya.
Dan ternyata mereka pun mengganti gaya dengan posisi Panji terlentang di tepi kolam renang dan Ratu duduk diatasnya dan mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan.
" Astaga... Ya ampun... Itu eh... Anu.."
Melody semakin keringat dingin saat kedua kepala suami istri itu saling menengadah ke atas dan menantang langit karena merasakan sensasi indahnya surga dunia yang tiada terkira.
" Mati gue, mending gue pergi aja sekarang, daripada stres gue lama-lama karena nggak ada lawan!"
Melody langsung menggelengkan kepalanya, walaupun sebenarnya dia tidak rela meninggalkan film asoy ini secara live, namun demi akal sehatnya lebih baik dia segera pergi saja pikirnya.
Bugh!
Namun saat dia tiba-tiba berbalik badan, wajahnya menabrak tubuh seseorang yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya.
*Duh Gusti... Apa aku bermimpi? Kenapa ini wangi sekali*?
Bahkan tanpa sadar Melody mengendus-endus parfum yang berasal dari dada bidang seseorang.
*Ya ampun... Apa ini hadiah untuk aku yang sedang terdzolimi oleh kelakuan mereka? Aduuh...Terima kasih Tuhan*?
Melody seolah enggan membuka matanya, takut jika moment ini segera berlalu, dan tanpa sadarpun Melody mengalungkan kedua tangannya dan memeluknya dengan erat.
" MELODY!"
Tiba-tiba suara itu menggema di kedua telinganya dan seketika membuat Melody segera membuka kedua bola matanya dan tersadar dari lamunan gilanya.
Wakwaaooooooo!
*Cinta sejati bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan, bukan apa yang kamu lihat tetapi apa yang kamu rasakan, bukan bagaimana kamu mendengarkan tetapi bagaimana kamu mengerti, dan bukan bagaimana kamu melepaskan tetapi bagaimana kamu bertahan*.
__ADS_1
*Karena Celahmu akan dianggap sempurna oleh hati yang memang ditakdirkan untukmu*.