
...Happy Reading...
Dengan gaya cool namun tetap elegan, Panji menunggu kelas Ratu berakhir sambil menyandarkan tubuh kekarnya diluar tembok ruangan itu, sambil memikirkan betapa mirisnya nasib percintaan yang harus dia lewati sampai di titik ini.
Namun dia tidak akan menyerah begitu saja, karena dia seolah ingin mematahkan sumpah serapah dari almarhum mantan kekasihnya yang masih sering terngiang-ngiang di kepalanya sampai saat ini.
" Ratu, bisa nggak kalau malam itu kamu belajar, suruh Melody ngajarin kamu, dia bukannya sahabat karib mu?" Arga mengakhiri kelas hari ini, namun masih menyisakan Ratu untuk sekedar memberikan nasihat kepadanya.
" Emang kenapa pak?" Tanya Ratu yang malah terlihat riang gembira saat dipanggil Arga untuk maju ke mejanya.
" Kenapa? kamu masih bertanya? nilai kamu paling jelek hari ini Ratu! apa kamu tidak menyadarinya?"
Arga bahkan sampai melongo melihat mahasiswanya yang menurutnya paling tidak perduli dengan nilai akademi nya itu.
" Sadar sih pak." Jawabnya masih dengan nada santainya, bahkan dia tersenyum-senyum karena bosa berduaan dengan Arga.
" Ratu kamu bisa serius nggak sih? kamu masih muda, tidak perlu memikirkan biaya kuliah, tapi belajar asal-asalan, diluar sana banyak tau nggak yang harus kerja partime demi bisa kuliah? sayang banget tau nggak!"
" Cie...bapak sayang sama aku ni ye, pake banget lagi, sweet banget deh pak Arga ini, aku jadi malu, hehe?"
" RATU!" Yang dimaksud apa, namun yang Ratu pikirkan malah lain cerita.
" Ada apa ini? kelas sudah bubar kenapa kalian berdua masih disini? pacaran kalian?" Saat Panji menunggu beberapa saat diluar, dia tidak menemukan Arga dan Ratu keluar dari kelas, jadi dia memilih masuk untuk memeriksanya.
" Mau nya sih begitu kakak ipar, hehe!" Ratu langsung tersenyum dengan manisnya.
" Ratu, jangan main-main, ujian semester sudah dekat, kamu mau apa ngulang ujian tahun ini!" Arga hanya bisa menautkan kedua alisnya, dia memang tidak bisa marah, apalagi sama Ratu, karena pasti hanya akan berakhir dengan sia-sia, hanya membuang tenaga saja.
" Mau, asal didampingi sama bapak!"
" RATU!"
" Hehe... kalau nilai ujianku bagus dalam semester ini, maukah bapak berkencan denganku?" Tantang Ratu dengan sungguh-sungguh.
" Pffftttthhhh."
Bukannya ikut marah, Panji malah merasa lucu, dia bahkan menahan tawanya sambil melengos.
" Apa kamu lupa, kalau bapak sudah menikah dan punya anak?"
" Tidak." Jawab Ratu dengan cepat.
" Jadi, se spesial apa kamu sampai harus membuat bapak menghianati keluarga bapak dengan berkencan dengan kamu!"
" Ya nggak sampai mengkhianati sih pak, cuma kencan biasa doang, nonton, jalan, trus makan-makan gitu aja, gimana?"
" Ini gimana konsepnya sih?"
Ingin marah, tapi dialah Ratu huru-hara yang tiada matinya.
" Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan omongan bocah gendeng yang satu ini!" Panji langsung menengahi pembicaraan mereka.
" Gimana pak? aku janji deh, nilai ujianku semester ini pasti bagus, tapi syaratnya kita harus kencan setelahnya."
" Haish... sudahlah, kamu ini masih kecil pikiranmu kencan aja, tau apa kamu hah!" Panji menyentil kening mahasiswa yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu.
" Dih... apaan sih pak!" Ratu langsung mengusapnya dengan kesal.
" Ayok ikut bapak, daripada ngoceh nggak jelas sama suami orang!"
" Nggak mau, males aku sama bapak!"
" RATU, jangan melawan kamu!" Panji langsung memiting leher Ratu bahkan merangkul tubuhnya agar dia segera mengikuti dirinya.
" Aaaaaa... pak Arga, aku pergi dulu ya, ingat syarat dariku, aku bahkan akan menjadi mahasiswa yang terbaik di kampus ini!" Teriak Ratu sambil memberontak, namun tenaganya tidak seberapa untuk melawan lengan kokoh Panji yang melilit di tubuhnya.
" Dasar bocah Sableng, untung imanku kuat kan, kalau enggak kan bisa bahaya!"
Arga hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengemasi mejanya dan ingin segera pulang kerumah melihat istri tercinta dan anaknya, sebelum ada setan lewat yang membuat dia menyetujui syarat dari salah satu mahasiswa termalas di kampusnya, namun paling cantik juga.
" Pak, mau kemana sih?"
" Pergi ke Butik." Jawab Panji dengan datar sambil memaksa Ratu masuk kedalam mobilnya.
" Ngapain lagi sih pak, bajuku sudah banyak dirumah, nggak perlu repot-repot beliin aku baju deh."
" Dih... jangan ge er kamu! emang siapa yang mau beliin kamu baju, kayak nggak ada pekerjaan lain saja!" Panji langsung melengos kesal saat mendengarnya.
" Trus ngapain ngajak aku kesana?"
" Cukup diam, dan duduk saja disana!"
" Malas, aku mau pulang sendiri saja!"
" RATU!"
Degh
Dengan seperskian detik Panji langsung menghimpit tubuh Ratu, saat dia ingin keluar dan membuka pintu mobilnya.
" Ba... ba... bapak mau ngapain?"
Saat wajah mereka saling bertemu, bahkan tinggal menyisakan beberapa centimeter saja, tiba-tiba detak jantung Ratu menjadi tak menentu, apalagi bau parfum Panji seolah membuat angan-angannya terbang melayang merasakan sensasinya, karena jarak mereka begitu dekat.
Klik
Panji memasangkan sabuk pengaman untuk Ratu, agar dia tidak jadi keluar dari mobilnya.
__ADS_1
" Duduk diam disana, ini perintah dari dosen, sekaligus calon kakak ipar kamu, mengerti!"
Glek
Bahkan bau mint dari nafas Panji pun dapat Ratu rasakan, dan itu mampu membuat pikirannya ngeblank seketika.
Apa ini, ada apa denganku? apa aku sedang tidak baik-baik saja?
Ratu langsung memalingkan wajahnya, saat Panji tersenyum licik dan mulai menjalankan mobilnya.
" Kamu kenapa? apa yang kamu pikirkan? ingat aku Panji bukan Arga!" Ledek Panji dengan senyum manisnya, apalagi dengan kumis tipisnya yang lupa dia cukur, namun malah menambah kesan maskulin dari dirinya.
" Hidih... ya jelas beda lah, bapak sama pak Arga itu bagai langit dan bumi, maap-maap aje ni ye!" Ratu langsung kembali sadar ke dunia nyata saat nama Dosen Favoritnya itu disebut.
" Memang iya, tapi yang pasti Arga tahu bedanya yang halal sama yang haram, kamu pun sama, bagai Surga dan Neraka jika dibandingkan dengan istri tercintanya, mengerti!"
Skak!
Kali ini Ratu yang tidak mampu membalikkan ucapan dari dosen killer yang menjadi musuh bebuyutannya itu.
Hingga akhirnya mereka saling diam tanpa banyak bicara, sampai mobil Panji berhenti di salah satu pelataran sebuah Butik yang cukup besar.
" Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah satu karyawan di butik itu.
" Saya ada temu janji dengan desainer kalian." Jawab Panji yang langsung to the poin.
" Atas nama bapak siapa?"
" Panji."
" Owh.. kebetulan sekali, pak Panji dan calon istrinya sudah ditunggu Mbak Bella di ruang kerjanya pak, mari saya antar kesana."
" Hedeh... gue masih jomblo dikira calon istri orang, jatuh dah pasaran gue!" Umpat Ratu yang langsung melangkahkan kakinya dengan lemas.
" Cih... gaya mu itu!" Panji hanya berdecih saja saat melihatnya.
" Selamat siang mas Panji, eh.. mbak Gendhisnya mana?"
" Loh... ini bukan mbak Gendhis? owh... kalau begitu maaf mbak, saya kira mbaknya tadi calonnya pak Panji, soalnya serasi banget." Karyawan yang mengantarkan mereka keruangan bos nya langsung meminta maaf, takut jika membuat pelanggan itu merasa tidak puas dengan pelayanan mereka.
" Sudahlah, tidak apa-apa." Panji pun memaklumi akan hal itu, siapa sih yang tidak salah sangka, pergi ke butik pengantin berdua, apalagi warna baju mereka kebetulan sama.
" Apa mbak Gendhis berhalangan datang lagi? tapi dia mirip juga dengan mbak Gendhis?" Tanya Bella, dialah desainer yang dipercaya Gendhis untuk merancang busana impiannya sejak dulu.
" Iya, dia kan adiknya." Panji langsung mengiyakan saja.
" Huft... sungguh nasipku yang malang." Umoat Ratu perlahan.
" Pantesan sama-sama cantik, jadi dokter juga?"
" Enggak mbak, bahkan tidak minat!" Jawab Ratu dengan cepat.
" Ini jas nya, kamu coba disana."
" Punya Gendhis biar dia saja yang mencobanya, trus tadi dia request bagian perutnya agak dilonggarin saja, soalnya berat badannya naik katanya."
" Begitu ya, baiklah."
" Haiish... kakak ini, mau nikah bukannya jaga body malah digedein."
" Itu maknanya dia bahagia mau menikah denganku!"
" Heleh, bahagialah konon, masak bahagia malah sakit-sakitan, jangan-jangan dia makan hati lagi mau nikah sama bapak."
" Ngomong apa kamu!" Panji langsung menoleh kearahnya.
" Ahaha... cuma bercanda kakak ipar!"
" Coba kamu hubungi Gendhis, mau berapa centimeter tambahnya, trus tunjukkan juga gaun itu kepadanya, apa yang menurutnya masih kurang, karena aku harus segera memasang payet untuk finishing baju kalian."
" Okey, tunggu sebentar ya."
Panji langsung mengambil ponsel di saku celananya dan mulai mendail nomor Gendhis.
Sekali, dua kali, tiga kali bahkan sampai berkali-kali, namun panggilan telponnya sama sekali tidak diangkat.
" Ratu, kakak kamu kemana sih?"
" Manalah ku tahu, aku kan belum pulang ke rumah, lagian kak Gendhis berangkat kerja tadi kan?"
" Katanya dia sudah pulang, nggak enak badan lagi katanya, coba kamu yang telpon."
" Apa bedanya sih?" Ratu langsung cemberut, namun dia telpon juga kakaknya.
Sama seperti nasip Panji, berulang kali dia menghubunginya namun tak satupun dijawab.
" Nggak diangkat juga?"
" Enggak, coba deh aku telpon bibi ya, mungkin kakak gue ketiduran."
" Hmm.. ide yang bagus, tumben kamu pinter." Jawab Panji menyetujuinya.
" Dih... Sepele! hallo bi..."
Dia langsung mengibaskan rambut panjangnya dan berbicara kepada bibi yang tidak selang beberapa saat langsung mengangkatnya.
" Iya nona, ada yang bsia saya bantu?"
__ADS_1
" Bi, kak Gendhis masih tidur ya?"
" Nona Gendhis belum pulang nona."
" Masak sih? dari tadi pagi belum pulang?"
" Belom nona."
" Coba bibi cek dulu."
" Tidak ada nona, soalnya saya dari tadi ada didepan, bantuin mamang bersih-bersih halaman rumah."
" Ya sudah kalau begitu, makasih ya bi."
Ratu langsung menaikkan kedua bahunya didepan Panji yang terlihat sangat kecewa, seolah dirinya dan pernikahan mereka tidak berharga sama sekali, apalagi ditambah sebuah kebohongan, padahal jelas-jelas Gendhis tadi bilang bahwa dia sudah dirumah.
" Bella, kamu kira-kira saja tambahnya, terserah juga mau model apa dan seperti apa, yang penting saat hari H sudah jadi aja." Ucap Panji yang memang terlihat kecewa.
" Tapi mas?"
" Sudahlah, kami pulang duluan, saya percayakan baju ini kepada kamu, nanti aku transfer sisanya."
" Baik mas."
" Ayo Ratu, kita pulang!"
Panji langsung berjalan mendahului mereka, bahkan Ratu hanya bisa diam saja, walau dia tidak suka dengan dosennya yang satu itu, tapi dia tidak tega juga melihatnya kali ini.
" Pak Panji, are you okey?"
" Hmm." Jawab Panji yang seolah tidak punya tenaga.
" Pak, mungkin kak Gendhis ada kepentingan mendesak tadi?"
" Tapi saat bapak telpon tadi dia bilang sudah ada dirumah, dan bibi tadi bilang Gendhis bahkan belum pulang sedari tadi pagi kan?"
" Jangan sedih pak, mungkin kak Gendhis punya alasan tersendiri kan, nanti coba bapak tanya baik-baik, okey?" Ratu memberanikan diri untuk menghibur dan menepuk bahu Panji perlahan yang sudah duduk di kursi kemudi, tapi belum ada niatan untuk menjalankan mobilnya.
" Entah mengapa akhir-akhir ini kakak kamu seperti menghindariku, seolah ada yang salah denganku."
" Mungkin itu perasaan bapak saja, biasalah pak kalau mau nikah memang sering di uji kan?"
" Ckk... diuji sama disepelekan itu beda jauh Ratu, kakakmu itu tidak semangat seperti diawal mula dia ngajak bapak menikah, kalau memang dia tidak niat, kenapa harus meminta hubungan yang langsung serius? bahkan seolah sampai mengancam, kalau tidak mau serius menikah, bahkan untuk berteman saja dia tidak mau, tapi kenapa akhirnya seperti ini?"
Panji mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat.
Yaelah... si dosen killer ini ternyata bisa melow juga kalau sudah menyangkut tentang masalah hati, kasian juga melihatnya kecewa seperti itu, kakak ini kenapa harus bohong segala sih? semua yang diawali dengan kebohongan kan pasti berimbas dengan sebuah kepercayaan.
Hmm... apa kak Gendhis tidak tahu, kalau seseorang bisa pergi bukan hanya karena luka, tapi karena kecewa yang sudah terlalu mendalam, hingga dia malas untuk sekedar mengenangnya saja.
" Sabar ya pak, nanti aku bantu marahin kak Gendhis deh ya, padahal biasanya dia tidak, pernah berbohong loh pak, pasti ada alasan lain, bapak percaya saja ya?"
" Tidak perlu kamu memarahinya Ratu, dia sudah terlalu dewasa untuk bisa mengetahui mana yang salah maupun tidak."
" Pak Panji, emm... ketika sesuatu itu tidak sesuai dengan harapan kita, kita pasti selalu bertanya; kenapa bisa seperti ini? kenapa hasilnya selalu buat kecewa, kenapa tidak sama seperti yang kita harapkan."
" Iya juga sih?" Baru kali ini Panji seolah setuju dengan pemikiran Ratu.
" Kita terlalu sibuk bertanya tentang kenapa dan kenapa, hingga kita lupa, jika hakikatnya kita hanya bisa berencana, sedangkan yang menentukan adalah Alloh. Bisa atau tidaknya menggapai itu semua, itu hak Alloh dalam menentukannya, ya kan pak?"
" Terkadang kamu itu nyebelin, tapi kadang manis juga." Ucap Panji dengan jujur.
" Eh... bapak memujiku?" Ratu malah terkejut sendiri.
" Emm... enggak juga!"
" Cie... bapak diam-diam pasti kagum kan denganku?"
" Diamlah, ayo kita pulang!"
" Hahaha... coba sini aku lihat dulu wajah merah bapak, ulululu... imut sekali kalau sedang malu-malu begini?" Ratu sengaja meledek Panji sambil menoel-noel lengan Panji dengan ujung jarinya.
Sebenarnya dia hanya ingin menghibur Panji karena merasa prihatin juga atas perlakuan kakaknya, padahal dia terlihat begitu tulus menyayangi Gendhis namun seolah Panji malah diabaikan begitu saja.
" Ratu, bisa diem nggak, atau mau aku sentil kening kamu itu biar tambah njenong!" Ucap Panji sambil melotot kesal.
Selama ini tidak pernah ada yang berani meledeknya, bahkan kali ini Ratu pun terbilang cukup berani.
" Eits... coba aja kalau berani?" Dia malah terlihat menantang.
" Ratu, awas kamu ya!"
" Haha... nggak kena.. nggak kena, werk!" Ratu langsung mundur dan mencoba menghindar.
" Ratuuuuu!"
Karena merasa tertantang dengan ledekan mahasiswanya yang paling tengil itu, Panji sungguh-sungguh ingin menyentilnya, namun tanpa sengaja tangannya menekan kuat benda yang membuat kursi Ratu turun ke bawah, dan itu sontak membuat Ratu reflek menarik tubuh Panji sebagai pegangan.
Dan akhirnya...
C U P
Kedua bibiir itu kembali bertabrakan tanpa sengaja dan anehnya lagi, mereka malah seolah terpaku dan terdiam dengan posisi yang masih sama, saling pandang memandang dalam diam.
Jalani saja apapun skenario Alloh untuk hidup kita, tak perlu berfikir terlalu jauh tentang masa depan.
Sadarilah... bukan kita yang menggengam waktu dan juga keadaan, tapi Alloh yang mengatur dan juga menggerakkan.
__ADS_1
Maka ikhlaslah dalam menjalani takdir yang sekarang, sampai semua indah pada waktunya..