
...Happy Reading...
Hari ini entah mengapa mood dari si Panji berubah drastis, bahkan saat beberapa anak didiknya lupa mengerjakan tugas, dia tidak semarah seperti biasanya.
Panji hanya menyuruh mereka kembali mengerjakan tugas saat jam istirahatnya, tanpa memberikan hukuman apalagi sanksi seperti biasanya.
" Eits... what's wrong with you? ada angin apa ini, tumben wajahnya terlihat sedih?" Arga yang melihat perubahan itu langsung mendatangi meja rekannya itu dengan tingkah konyol jika sudah ngobrol berdua saja.
" Mana ada sedih? bahkan aku lagi senang! aneh kamu ini!" Umpat Panji yang langsung menghentikan aktifitasnya.
" Nah... justru itu yang membuat gue merasa aneh? tumben kamu seneng gitu?"
" Dasar teman durhaka, jadi kamu maunya aku terus menerus menderita begitu!" Panji langsung mengangkat satu buku ke udara.
" Eits... jangan marah dulu! coba cerita dulu, apa yang sebenarnya terjadi?" Dan Arga langsung menangkisnya seperti biasa.
" Hmm... gue lagi.."
" Jatuh cinta?" Arga dengan mudahnya menebak suasana hati kawannya itu.
" Hehe... bisa dibilang begitu juga!"
" Woah... woah... cinta memang gila, bisa membuat seorang Panji jadi murah tersenyum, sekarang katakan siapa gadis yang kurang beruntung itu?" Arga langsung duduk dan memasang kedua telinganya dengan seksama.
" Sialaan kamu ya! harusnya dia itu wanita paling beruntung karena aku pilih!"
" Hahaha... iyalah tuh! siapa coba?"
" Jangan kaget ya?"
" Jangan bilang kakaknya si Ratu?"
" Kenapa kamu bisa tahu?"
" Waaaaarrrrrbiasah! akhirnya, tanpa aku harus capek-capek bergerak, kalian berdua sudah paham!"
" Maksudnya?"
Panji tidak tahu kalau kemarin Arga dan Ratu sudah berkompromi untuk menjadi mak comblang diantara mereka, namun ternyata semesta alam sudah membantunya.
" Nothing, lanjutkan! aku setuju dengan keputusanmu!"
" Hmm.."
" Jangan tunggu lama-lama, kalau kamu rasa klik, langsung hantam saja bos!"
" Kamu kira dia gadis apaan main hantam saja!"
" She is beautyfull Njul, dokter lagi kan profesinya? kurang apa lagi coba, kalau kamu lambat, sudah pasti disambar orang, apalagi pria berseragam, itu akan menjadi saingan terberat bagi elu!"
" Ckk, sok tahu kamu, kalau dia memang jodohku kan sudah pasti dia jadi milikku, walau pria-pria berseragam bolak-balik mondar mandir dihadapannya." Ucap Panji dengan tingkat kepercayaan diri penuh.
" Jangan salah, kalau mereka sudah beraksi geger dunia!"
" Elu sih kebanyakan nonton infotaiment!"
" Gerak cepat sana, jam mengajarmu sudah selesaikan, buruan jemput dia kek, ajak makan atau ajak jalan kemana gitu!"
" Kemana ya enaknya?"
__ADS_1
" Ke kasurlah!"
" Astaga, otak kamu ya Ga! menjurus kearah kuda-kudaan aja!"
" Ya ngapain elu nanya gue, kalau gue sih yang paling enak di kasur, kalau elu kan Jodi, jangan tanya gue dong!"
Jomblo ditinggal mati adalah julukan bagi Panji yang abadi sejak hari dimana mantan kekasihnya meninggal dunia kala itu.
" Sekali lagi elu ngatain gue Jodi, gue sumpahin elu bernasip sama!"
" Woiii... ati-ati kalau ngomong dong, gue mana bisa hidup tanpa istri kesayangan gue!"
" Elu juga tadi yang mulai!"
" Tapi kan elu kenyataan!"
" Pak Arga, pak Panji? ada apa ini, kayak ada obrolan seru gitu, ramai banget cuma dua orang saja?"
" Eh... enggak bu Sri, ini lagi ngobrol santai aja."
" Owh... begitu ya, padahal pengen banget ikut gabung tadi, emm... pak Panji, ini aku bawakan menu makan siang spesial, ada rendang daging khas Padang juga loh, sama cemilan juga, makan siang bareng yuk?"
" Emm... terima kasih sebelumnya bu Sri, tapi saya ada acara diluar, kalau begitu makan siang aja sama pak Arga, dia juga belum makan siang."
" Tapi Njull... eh, Panji!"
" Selamat makan siang bu Sri, eh... Arga, senyum dulu, biar aku abadikan kemesraan kalian berdua, hihi." Panji langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
" Panji!"
Cekrik... cekrik!
Panji langsung tersenyum pvas saat bisa balik menjahili rekannya itu, apalagi bisa melihat tampang kesalnya itu, karena bu Sri adalah dosen janda tergenit di kampus itu.
Setelah melakukan banyak pertimbangan, Panji akhirnya memberanikan diri datang ke rumah sakit tempat Gendhis bekerja, karena dia masih punya banyak pasien dan ingin makan siang di kantin rumah sakit saja katanya.
" Eh... mas Panji, kamu sudah datang?"
" Hmm... kamu masih banyak pasien?"
Setelah tanya ke security rumah sakit, akhirnya Panji berhasil menemukan ruangan Gendhis praktek hari ini.
" Enggak kok, cuma tinggal tiga pasien lagi, mas nggak keberatan kan nunggu sebentar?"
" Okey, lanjutkan saja dulu pekerjaanmu."
" Okey, tunggu ya mas."
Bukan hanya Panji, hati Gendhis pun tak kalah berbunga-bunga, karena sepertinya perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, karena Panji pun seolah welcome dengan semua tentangnya.
Gayung bersambut, itulah kata lain dari perasaan mereka yang memang singkat namun berkesan, mereka selalu nyambung saat menceritakan tentang kecerdasan mereka masing-masing dalam bidangnya, apalagi Gendhis yang memang ramah, selalu bisa menemukan topik obrolan yang membuat Panji terhanyut dengan perasaannya.
Karena sebenarnya, walau dari luar nampak keras, namun hati Panji mudah tersentuh dan gampang luluh, dengan kata-kata lembut dan juga perhatian yang tulus dari seorang wanita.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Gendhis keluar sambil menenteng jas putihnya.
" Sudah selesai?" Tanya Panji yang langsung bangkit dan mengantongi ponsel yang sedari tadi menemani dirinya.
" Sudah, maaf menunggu lama ya mas?" Gendhis langsung menunjukkan senyuman sejuta pesona dari dirinya.
__ADS_1
" It's okey, kita langsung makan siang yuk, ini sudah telat kalau menurut jadwal kan?" Panji melirik jam mahal ditangannya.
" Hehe... okey, karena hari ini aku yang membuat mas menunggu, kita makan di kafe depan aja yuk, biar aku traktir."
" Nggak usah, aku tidak terbiasa ditraktir seorang wanita."
" Anggap saja sebagai tanda kedekatan kita ya kan?"
" Hah?"
" Emm... maksudku, tanda sebagai perkenalan singkat kita tapi berujung manis ya kan?"
" Hmm... kalau begitu ikut ajalah, tapi lain kali aku ngak mau kalau ditraktir lagi."
Yes... ada lain kali lagi, hehe...
" Besok kita makan didekat kampus kamu mau nggak mas, disana ada restoran enak loh?"
" Boleh juga."
" Owh ya... gimana dengan si Ratu, apa dia bolos lagi hari ini?"
" Tidak, aku sempat lihat dia tadi, tapi kalau tugas jangan salah, dia selalu mengerjakannya dadakan di kampus."
" Ckk... maaf loh mas, aku juga bingung harus bagaimana menghadapi tingkahnya itu, padahal dulu waktu kecil dia cerdas loh mas, sering juara kelas saat SD, tapi semakin besar semakin malas dia."
" Itulah kenapa pada awalnya aku sempat tidak percaya kalau dia adekmu?"
" Hehe... sekarang mas sudah yakin kalau aku ini seorang dokter?"
" Ya iyalah, orang kamu beneran ada dirumah sakit."
" Hehe... kalau masih nggak percaya lagi, lain kali jadilah pasienku mas."
" Nggak maulah!"
" Kalau pasien hatiku, mau nggak?"
" Hmm... kalau itu lain cerita."
Yes.. yes.. yes.. yes..
Keduanya langsung tersenyum bahagia, sambil melirik wajah masing-masing dengan tatapan malu-malu.
" Woah... sepertinya sebentar lagi akan ada pajak jadian ini kan?"
" Ssst... jangan keras-keras pak, nanti ketahuan sama mereka!"
Ternyata ada dua orang yang sedang mengintai mereka secara diam-diam dari belakang meja, tanpa mereka sadari.
Semua orang punya cerita, tentang rumitnya perjalanan hidup dan dahsyatnya badai ujian di dunia.
Likuan terjal kerap kali mematahkan langkah kaki. Namun nyatanya, hingga kini segalanya masih bisa terlewati.
Kuncinya hanya satu, jalani saja. Apapun itu, semua sudah ada porsinya dan Alloh maha tahu jika kita mampu.
Apapun itu, VOTE, LIKE dan HADIAHNYA, selalu othor tunggu bestie-bestieku tersayang.
JANGAN LUPA JUGA TEKAN TOMBOL FAVORIT (๐) BIAR ADA NOTIFIKASI UPDATE SETIAP HARINYA.
__ADS_1