Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
20. Salah Orang


__ADS_3

...Happy Reading...


Walau sudah berada di jaman era modern, namun Eyang Panji masih mempercayai tradisinya pada jaman dahulu kala.


Dia sudah menyiapkan serangkaian kembang tujuh rupa untuk membuka aura cucunya dan menghilangkan nasip apes atau sial pada hubungan asmara cucunya itu.


" HAH? apa ini?"


Ratu langsung mengusap lengannya berulang kali, apalagi saat mencium bau dari bunga-bunga yang menurutnya terkesan mistis itu dan masih ditambah lagi ada bau bakaran Kemenyan juga disana.


" EYAAAAAANG, apa-apaan ini?" Panji yang ikut bermandikan bunga itu langsung menatap jengah kearah Eyangnya.


" Biar kalian berdua terbebas dari nasip sial dan hubungan kalian berdua bisa langgeng sampai maut memisahkan, nggak bakalan putus lagi ditengah jalan!" Ucap Eyang Panji dengan intonasi suara yang menggebu-gebu.


" Tapi Eyang.."


" Sudahlah, kalian berdua ikutin aja ritual dari Eyang, selain usaha apa salahnya kita ngikutin tradisi jaman dulu, siapa tahu manjur, okey cucu-cucuku tersayang!"


" Ada apa sih ini? kok ribut-ribut?" Kedua orang tua Panji akhinya muncul juga.


" Aku sengaja buat sesajen, biar hubungan mereka nanti sampai ke jenjang pernikahan!" Eyang Panji tetep kekeh dengan pendapatnya.


" Ya sudahlah Panji, apa salahnya dicoba."


Ibu Panji memilih mengalah saja, karena menentang Eyangnya juga tidak akan ada gunanya, hanya menambah dosa saja pikirnya.


" Tapi masalahnya Eyang, bukan ini kekasih Panji."


" HAH!"


Mereka langsung melongo dengan serentak.


" Selamat sore Eyang, Om dan Tante, perkenalkan, nama saya Gendhis, saya disini yang kekasihnya mas Panji." Ratu pun datang dengan membawa beberapa bingkisan yang dia ambil kembali dari dalam mobil tadi.


" Astaga, jadi dia?" Eyang Panji langsung menunjuk Ratu dengan perasaan bersalah.


" Aaaaaaaaaa... aku adeknya kak Gendhis Eyang, hiks.. hiks.."


Ratu langsung merengek seperti anak kecil, bahkan sampai menitikkan air mata, entah mengapa rasa ketakutannya malah semakin bertambah.


" Ssssssttt... kok malah nangis sih dek, nggak papa ini." Gendhis langsung menyenggol lengan Ratu yang terlihat bergetar.


" Aku takut kak, jangan-jangan ini kembang kuburan, trus kalau nanti malam aku didatengin para hantu gimana? aku kan tidur sendirian, hiks.. hiks.."


Bahkan deraian air mata Ratu semakin deras saja, saat Gendhis memeluk dirinya.


" Pfffttthhh... bahahaha."


Akhirnya semua orang yang ada disana tidak mampu lagi menahan tawa saat melihat ketakutannya sang Ratu.


" Itu bukan kembang dari kuburan nak, itu cuma dari pasar tradisional." Ibu Panji mencoba ikut menenangkan Ratu.


" Beneran tante? berarti mereka tidak akan datang kan?" Tanya Ratu kembali.


" Cih... kamu ini, sama dosen-dosen aja berani, tapi cuma sama bunga beginian takutnya setengah mati, sudahlah ayok kita masuk." Panji langsung berdecih saat melihat kepanikan Ratu.


" Baju aku basah pak."


Karena selain bunga tujuh rupa, Eyang Panji juga menambahkan air dalam taburan kembang tujuh rupa nya tadi.


" Mau pake baju tante nak?"


" Kalau ada boleh pinjam kaos saja tante." Ratu sudah gerah sendiri melihat baju-baju ibu Panji yang memang ala emak-emak.


" Wah.. baju tante begini semua nak atau mau daster saja?"


" Biar dia pakai kaos aku saja buk, ayo Ratu ikut bapak keatas, kamu pilih saja nanti yang kamu mau."


Panji langsung mengajak Ratu menuju kamarnya dan Ratu pun terpaksa mengikuti langkahnya, daripada dia masuk angin nanti, apalagi rumah Panji semua ber AC.


" Kalau begitu kita tunggu di meja makan saja ya nak Gendhis? mari silahkan nak."


" Terima kasih tante, owh iya... ini ada sedikit bingkisan buat Tante sekeluarga."


" Wah... kenapa mesti repot-repot segala sih nak?"


" Nggak repot kok tante, saya yang harusnya berterima kasih karena sudah diundang kesini." Jawab Gendhis dengan sopan.


" Kalian makan dulu, Eyang mau ke atas sebentar." Ada sesuatu yang seolah mengganjal dihati sang Eyang yang membuat dirinya sedikit merasa tidak tenang.

__ADS_1




" Kamu pilih saja kaos yang muat buat kamu, tapi awas jangan diberantakin ya!" Panji langsung membukakan pintu lemari miliknya dan terlihat jajaran berbagai macam kaos yang tersusun rapi disana.



" Pak... beneran kan, nanti malam mereka nggak pada datang, ini bau bunganya masih menyengat sekali loh pak, mana dari tadi kedua lenganku masih merinding terus ini pak? gimana dong?"



" Atau jangan-jangan..." Panji sengaja ingin menakut-nakuti mahasiswa paling bandel dikampusnya itu.



" Jangan-jangan apa pak, jangan nakut-nakutin saya dong pak?"



" Jangan-jangan mereka ada dibelakangmu!"



" Awwww... bapak!"



Brugh!



Ratu langsung saja berlari dan melompat kearah tubuh Panji dan memeluknya dengan erat.



" RATU, turun kamu!" Panji langsung ikut syock sendiri, dia tidak menyangka jika Ratu akan sepanik ini.



" Nggak mau, suruh dulu mereka pergi pak!" Ratu tetap aja nangkring dengan nyamannya didalam gendongan tubuh Panji yang memang kekar dan memberikan sebuah kehangatan.




" Nggak perduli, suruh dulu mereka pergi pak, hua... hua...!" Teriakan tangisan Ratu semakin kencang.



" Ya Salam... bapak cuma bercanda Ratu, kenapa kamu sebegitu takutnya?"



" Jangan main-main dong pak, ada enggak sebenarnya, lenganku masih merinding ini, aaaa... ibuk, tolong Ratu buk!"



" Heh... sini dengarin bapak dulu."



Panji langsung menatap wajah Ratu yang memerah karena dia memang benar-benar menangis ketakutan.



" Aaaaa... aku mau pulang aja pak, disini banyak hantu!"



Dia bahkan menyembunyikan wajahnya didadaa bidang Panji sambil menggelengkan kepalanya.



" Ratu, dengerin bapak ngomong dulu!" Akhirnya Panji menangkupkan kedua tangannya diwajah Ratu agar dia menatapnya.



" Aaaaa... mana masih bau kemenyan juga ini pak!"

__ADS_1



" Nggak ada hantu disini Ratu, bisa tenang enggak kamu!"



" Serius pak?"



" Seriuslah, bapak cuma bercanda tadi, mana ada hantu jam segini, masih tidur nyenyak mereka ditempatnya, lagian juga mereka nggak akan mendatangimu, kayak nggak ada kerjaan aja, mereka juga pasti males datangin orang kayak kamu itu!"



" Bohong dosa loh pak."



" Cih... kamu aja sering bohong!"



" Mana ada!"



" Ckk... cepat turun kamu, berat ini, bapak mau mandi!" Panji bahkan memukul kaki Ratu yang masih asyik nangkring didalam gendongannya.



" Awas bohong, aku suruh ibu dan ayahku memecat bapak jadi kandidat calon mantu!" Akhirnya Ratu turun perlahan dari gendongan Panji.



" Hidih... sok ngancem, kamu pikir aku takut?"



" Woo... beneran ini ya? aku telponin ayah sama ibuku sekarang nih!" Ratu langsung mengeluarkan ponsel disaku celananya.



" Telpon saja sono, biar nanti tengah malam aku suruh mbak Kunti dan temen-temennya datang kerumah kamu dan mengeroyok kamu, werk!" Ledek Panji dengan jahilnya.



" Paaaaaaaaak!" Teriak Ratu dengan kesal.



" Hahaha... coba aja kalau berani!" Tawanya bahkan menggelegar diruangan itu.



" Dasar Dosen Jahat! semoga hari bapak senin terus, dan suatu saat nanti pas beli roti coklatnya nempel di plastik semua, aki motor matic bapak habis ditengah jalan, trus kaca helmnya naik turun dan selalu dibelakang truck ayam, sampe rumah tetangga bapak motong keramik dan uang kembalian bapak permen semua!" Umpat Ratu sambil berteriak asal-asalan tiada jeda.



" Bodo amat, bapak mau mandi dulu, awas.. itu ada siapa dibelakangmu!" Panji langsung berlari menuju kamar mandi dan segera menutup pintunya.



" Aaaaaaaaaaa... pak Panji, aku benci kamu!" Ratu langsung menggedor-gedor pintu kamar mandi yang ada didalam kamar Panji itu.



Dan kelakuan mereka berdua tak luput dari pantauan sang Eyang, yang memang sedari tadi sengaja berdiri diujung pintu untuk melihat kedekatan mereka didalam sana.



*Pilihlah Dia yang sederhana, namun menjadikanmu istimewa*.



*Dia yang bercanda hanya untuk melihatmu tertawa, namun serius dalam membimbingmu menuju Surga*.



YOK... VOTE NYA DITUNGGU YA BESTIE😘

__ADS_1


__ADS_2