
...Happy Reading...
Disaat keluarga besar Melody masih asyik bercanda dan mengobrol sana sini, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan pengakuan seorang anak kecil dan pria tampan disampingnya.
"Sayang... Ayo kita pulang."
Arga berjalan menuju ke arah Melody yang sudah menggendong Hugo sambil membuka kaca mata hitamnya.
Jangankan mata para wanita, sanak saudara Melody yang pria saja seolah terpesona dan mengagumi sosok Arga, dari postur tubuhnya yang tegak dan kekar, ditambah lagi dengan pakaiannya yang rapi dengan langkah kaki yang sudah seperti model yang berjalan di red karpet saja.
Bruk!
Dengan tanpa mengucap satu patah katapun, ibu Melody langsung terjatuh dan pingsan saat melihat dan mendengar mereka memanggil sebutan mama dan sayang kepada Melody.
Sedangkan Melody selama ini tidak pernah berbicara apapun tentangnya, jangankan suami, pacar saja dia bilang tidak punya, bahkan dia seolah sudah membanggakan Melody didepan sanak saudara lainnya tadi.
"Siapa dia Melody?"
Chandra langsung memicingkan kedua matanya, merasa kesal sendiri karena pria itu sudah datang dan menggangu kedekatannya dengan Melody. Padahal baru saja dia mau romantis-romantisan tadi pikirnya.
"Aku suami Melody." Jawab Arga dengan sikapnya yang selalu bisa tenang.
"Suami dari mana? Memangnya kapan dia menikah?" Cecar Chandra kembali.
"Satu minggu yang lalu dan kami sudah sah secara agama, kenapa? ada masalah?" Arga sama sekali tidak takut saat pria itu seolah menantangnya.
"Melody, jangan takut aku pasti akan membelamu, dia pasti hanya mengaku-ngaku saja kan? Dia pasti berbohongkan denganmu karena pria ini tidak laku kan?" Chandra seolah tidak percaya akan hal itu, karena dia sama sekali tidak mendengar kabar apapun tentang itu.
"Masak iya sih, ganteng-ganteng nggak laku, aku mau lah kalau begitu, sama aku aja gimana maszeh!" Ledek saudara wanita Melody yang lainnya.
"Dasar wanita, kenapa mudah sekali tergiur dengan wajah buaya seperti dia!" Umpat Chandra yang semakin kesal karena saudara lainnya tidak berada di kubunya.
"Apa? Kamu bilang aku apa? Buaya?" Arga langsung terbengong sendiri saat pertama kalinya dia disebut sebagai seorang buaya atau bisa dibilang playboy.
"Emang muka kamu itu mirip buaya kan!" Chandra bahkan menyenggolkan bahunya yang tak seberapa itu, ke lengan Arga.
"Hei... hati-hati kamu kalau bicara ya!" Emosi Arga pun langsung terpancing saat yang mereka bahas menyangkut tentang harga dirinya sebagai lelaki.
"CUKUP! Sudah jangan berantem, dia memang suamiku." Melody akhirnya memisahkan mereka berdua yang sudah mengikis jarak satu sama lain.
"Dengerin tuh!" Umpat Arga yang seolah penuh dengan kemenangan.
__ADS_1
"Hah? Emang kapan kalian menikah?"
"Sepekan yang lalu, tapi statusnya masih siri, jadi memang belum sempat memberitahu dengan kalian semua." Jawab Melody kembali.
"Tapi Melody?" Chandra seolah masih belum bisa terima, dan ingin kembali protes.
"Sudahlah, kita bicarakan itu nanti saja, aku mau lihat ibuk dulu, beliau pingsan itu."
Melody langsung berlari ke arah ibunya yang sedang diberikan pertolongan oleh saudara-saudara yang lainnya.
Setelah dipindahkan kedalam kamarnya, ibu Melody mulai bisa membuka kedua matanya kembali.
"Ibuk? sudah enakan belum? ayo minum dulu buk?" Melody langsung memberikan satu gelas air untuk ibunya.
"Huufth... apa ibu tadi cuma sekedar bermimpi, kalau kamu sekarang sudah punya suami dan anak?" Saat beliau terbangun pertanyaan pertama yang dia lontarkan adalah hal itu.
"Buk.. setelah kondisi ibuk baikan, baru kita ngobrol bareng ya?" Melody duduk dihadapan ibunya.
"Jadi kamu beneran sudah punya anak? dan pria itu benar-benar suami kamu!" Ibu Melody langsung kembali memegang dadanya yang mulai terasa sesak kembali.
"Dia dosen Melody di Kampus buk." Bisik Melody sambil memeluk tubuh ibunya.
"Ngomong yang benar, dia suamimu apa dosenmu!" Ibu Melody langsung menarik telinga putrinya dengan kesal.
Sedangkan Arga yang berdiri dibelakang Melody langsung tersenyum dan tersipu malu, saat dirinya dipuji istrinya, bahkan langsung di hadapan sang ibu mertua.
"Huh.. Kamu tidak perlu sok manis begitu Mel!"
"Emang anak ibu ini manis kok, gimana? Udah enakan belum? kalau belum coba lihat senyuman suami Melody dulu buk, namanya Arga, dia dosen terfavorit di kampus kami tau buk."
"Perkenalkan buk, saya Arga, dosen sekaligus suami Melody."
"Astaga, apa kamu benar-benar sudah menikahi putriku! Kenapa tidak meminta restu denganku dulu, kamu pikir semudah itu menikahi putriku, hah?"
"Ibu, jangan memarahinya, ini bukan salah suamiku sepenuhnya, emm... kami sengaja menikah siri agar tidak menimbulkan fitnah buk, daripada pacaran-pacaran nggak jelas begitu, cuma nambahin dosa aja kan buk?"
"Bapak! urus dulu anakmu ini, kepala ibu sakit sekali!" Ibu Melody memilih kembali meringkuk diatas tempat tidurnya, seolah belum bisa menerima jika putrinya sudah menikah.
"Siapa nama kamu tadi?" Ayah Melody yang sedari tadi memilih diam saja karena takut jika nanti malah memperkeruh suasana dan memperburuk keadaan istrinya.
"Nama saya Arga yah, maaf saya belum sempat meminta restu dengan ayah dan ibu, karena Melody tidak memberikan kesempatan kepada saya, dia bahkan meninggalkan saya sampai sepekan lamanya setelah menikah." Bahkan Arga langsung memanggilnya dengan sebutan ayah.
__ADS_1
"Kenapa kalian berdua bisa sampai menikah? Aku tahu siapa Melody, dia tidak akan sembarangan mengambil keputusan sebesar ini tanpa memberitahu orang tuanya terlebih dahulu." Ayah Melody langsung menutup pintu kamarnya, agar orang lain tidak mendengar apa yang mereka bicarakan terlebih dahulu.
Dan Arga langsung menoleh kearah Melody untuk meminta persetujuan darinya.
"Kami kena grebek warga yah!"
"Uhuk..uhuk..!"
Ayah Melody bahkan langsung terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.Dia begitu terkejut saat mendengar alasan putrinya.
"Minum dulu yah, jangan buruk sangka dulu!"
"Melody, kenapa tidak kau bunuh saja aku dan ayahmu ini, daripada kamu harus mencoreng wajah kami berdua." Ibu Melody kembali emosi karenanya.
"Maaf buk kalau saya lancang, kami berdua tidak melakukan zinah buk, ini semua salah paham."
"Salah paham bagaimana maksud kalian, tidak mungkin kan kalian digrebek warga kalau cuma duduk berdua saja."
"Iya... Itu memang kesalahan kami berdua, tapi saat itu kami hanya tertidur, walau memang tidak menggunakan baju." Jawab Aega dengan jujur.
"APA!" Ayah dan Ibu Melody sontak berteriak bersamaan.
"Ayah, ibuk... dengerin dulu penjelasan kami, jangan langsung emosi begitu dong!"
Melody langsung angkat bicara saat kedua orang tuanya mendelik kesal ke arah Arga yang bahkan belum selesai menjelaskan duduk perkaranya.
"Saat itu saya membantu Melody membetulkan genting kontrakannya yang bocor, sehingga baju saya basah semua, jadi mau tidak mau saya lepas dan dikeringkan oleh Melody, tapi setelahnya kami tertidur berdua dan tanpa sadar kami berpelukan karena hujan memang masih sangat deras saat itu."
"Apa kamu yakin kalau burungmu itu tidak berkicau saat cuaca dingin dan kamu bahkan berpelukan dengan lawan jenismu!" Sebagai pria ayah Melody tahu benar bagaimana situasinya jika sudah begitu.
"Yakin Ayah, sungguh saya selalu bisa menjaga burung peliharaan saya dengan yang tidak halal bagi saya." Jawab Arga dengan yakin.
"Astaga kenapa jadi ngomongin burung sih? Apa nggak ada topik pembicaraan lain?" Ucap Melody sambil menatap mereka secara bergantian.
"Ini burung lain istriku, letaknya ada tepat disamping wajah kamu, makanya kalau sudah menikah itu jangan langsung main kabur aja, mengerti kamu sayang!"
Bisik Arga yang memang sedang berdiri disamping Melody saat ini. Dan posisi Melody pun memang sedang duduk disebuah kursi, jadi saat dia menoleh ke samping, wajahnya memang akan berpapasan langsung dengan benda pusaka milik Arga satu-satunya itu.
Ya ampun... apa maksud pak Arga adalah...?
Walau ragu, namun tanpa sadar Melody melirik juga kearah topik pembicaraan ayah dan suaminya itu tadi.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...