Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
41. Pengen Bulan Madu


__ADS_3

...Happy Reading...


Meja besar yang terbuat dari kayu pilihan dirumah utama keluarga Andara, yang sering digunakan untuk family time itu sudah didatangi dua penghuni baru sekaligus, yaitu Panji dan Broto.


" Kami ucapkan selamat datang di keluarga Andara, apapun yang terjadi dengan kisah kalian, ayah harap kalian bisa menjadi pasangan yang membawa kebaikan sampai di Surga nanti."


Setelah Resepsi pernikahan itu berakhir, sang ayah dari kedua mempelai pria memang sengaja mengundang mereka semua untuk makan malam dirumah besar mereka.


" Ibu juga berharap, kalian bisa saling mengerti, saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing." Ibu mereka pun turut memberikan sebuah wejangan, sebagai orang tua mereka pun ingin anaknya hidup bahagia sesuai dengan pilihannya, namun mereka juga hanya manusia biasa, yang tidak bisa melawan kehendak Sang Pencipta.


Tidak ada yang menjawab ataupun berkomentar diantara kedua pasangan itu, mereka tetap makan dalam diam, apalagi Gendhis, dia hanya menatap dan mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya.


" Emm... Apa kalian ada yang mau berbulan madu? Ayah akan memfasilitasi apapun yang kalian butuhkan, sebagai kado pernikahan dari ayah dan ibu."


Namun lagi-lagi tidak ada yang berminat atau merasa gembira dengan hadiah dari orang tua mereka.


" Gendhis, kamu nggak mau pergi bulan madu? dulu katanya pengen ke Negeri Sakura? Mau ibu booking kan trip kesana?" Dulu Gendhis pernah bercerita ingin meminta cuti panjang karena ingin berbulan madu kesana, tapi saat itu belum ada Broto yang hadir dalam hubungan mereka.


" Tidak bu, Gendhis sudah tidak berminat lagi untuk berbulan madu." Jawab Gendhis dengan tatapannya yang kosong, entah mengapa sampai saat ini, dia masih merasakan sakit di ulu hatinya.


Apalagi mengingat kejadian tadi, dia seolah masih belum rela, jika mantan kekasihnya itu dimiliki oleh orang lain, apalagi sang pemiliknya adalah adeknya kandungnya sendiri.


" Kalau kamu Ratu? Kamu tidak mau pergi bulan madu?" Tanya sang Ayah, dia sebenarnya merasa lebih iba melihat kisah Ratu.


" Ckk... Malaslah, aku kan hanya pengantin pengganti!" Jawab Ratu sambil terus mengunyah makanannya, apapun yang terjadi janji perutnya kenyang, kepalanya nggak akan jadi pusing karena harus memikirkan hidup yang terasa begitu kejam baginya.


" Sepertinya memang tidak perlu ayah, karena Ratu juga pasti akan banyak tugas akhir-akhir ini, karena sebentar lagi ada ujian semester." Panji pun terlihat menolaknya.


" Emm... Kalau begitu ayah titip Ratu ya Panji, tolong didik dia saat di kampus agar nilainya tidak turun terus dan saat dirumah ajarkan dia menjadi seorang pendamping hidup yang baik dan benar, karena dia masih terlalu belia, dan memang belum punya persiapan untuk masuk dalam jenjang pernikahan."


" Baik ayah."


Panji terlihat menggangukkan kepalanya yang terasa berat, di kampus saja dia sering kuwalahan saat mengajar Ratu, apalagi ditambah dirumah, sepertinya dia harus menyediakan energi ekstra untuknya.


" Ehh... Ayah, Ratu berubah pikiran." Sahut Ratu tiba-tiba, yang membuat semua orang disana menoleh ke arah Ratu.


" Hmm... Maksudnya?"


" Aku mau pergi bulan madu, hehe.."


" Ratu, kamu punya banyak tugas, lagian temen-temen kamu di kampus kan belum ada yang tahu kalau kamu menikah kecuali Melody, apa kata mereka kalau kamu libur berhari-hari?" Panji langsung menatap jengah istri belianya itu.


Justru karena itu, aku males ngerjain tugas, hahay!


" Owh.. pak dosen yang terhormat, setelah aku pikir-pikir nih ya, bulan madu itu penting, apalagi kita kan harus mengenal satu sama lain lebih privasi lagi ya kan?" Ratu langsung berubah pikiran saat mendengar kata tugas.


" Ratu?"


Hanya Panji lah satu-satunya orang yang tahu akal bulus Ratu disana, karena dia sempat memberikan alasan tugas sebagai penolakan.


" Ayolah pak, apa salahnya kita bulan madu di awan biru? lima hari aja deh, ya?"


" Nggak!"


" Empat deh!"


" Nggak ada!"


" Ya udah tiga hari aja deh, masalah teman di kampus itu gampang deh, mereka nggak akan curiga, mau ya pak?"


" Nggak usah Ratu, kamu sudah terlalu banyak ijin dan menelantarkan tugas-tugas Kampus, apa kamu mau menjadi mahasiswa abadi disana?" Panji bahkan menarik kursi Ratu agar mendekat kearahnya, agar tatapan tajam kedua bola matanya tidak terlihat oleh ayah dan ibu mertuanya.


" Emm... Sepertinya tidak masalah nak Panji, apalagi cuma tiga hari, masalah tugas bisa menyusul nantinya, kalian memang harus banyak quality time berdua, agar bisa mengenal satu sama lain."


" Benar itu kata ibu kalian, pergilah bulan madu, ayah akan menyiapkan fasilitas semuanya untuk kalian berdua." Jawab Ayah Ratu yang langsung tersenyum, seolah itu adalah ide yang bagus.


" Siapa tahu kalian pulang trus udah bawa bibit cucu juga kan? Pasti tambah ramai rumah ini dapat cucu dua sekaligus?"


" Uhukk... Uhukk... Uhuukk!"


Bukan Ratu yang tersedak karena terkejut, tapi malah Gendhis yang merasakan sesak didadaanya.


" Minum dulu, kamu ini makan juga enggak, kenapa bisa tersedak?" Broto langsung dengan cekatan memijit tengkuk Gendhis dengan perlahan, setelah Gendhis menenggak satu gelas air.


" Kakak mau ikut kami?" Ratu langsung merasa tidak enak hati, dia lupa jika kakaknya itu adalah orang yang masih menyimpan seribu rasa untuk suaminya.


" Emm.." Gendhis terlihat masih berpikir.


" Ikut saja kak, sepertinya kakak memang perlu refresing, biar suasana hati lebih tenang dan dedek bayi juga pasti senang."


Ratu memang sama sekali tidak keberatan jika Gendhis ingin ikut bersama, dia menikah bukan dengan orang yang dia cinta, jadi dia pun berfikir jika bulan madu mereka tidak akan seindah pasangan yang menikah karena rasa cinta.


Ratu ingin pergi bulan madu karena hanya ingin menghindari tugas-tugasnya yang menumpuk saja.


" Bagaimana Gendhis? Benar juga kata Ratu, ibu hamil itu nggak boleh stres, siapa tahu kamu disana bisa sedikit rileks, lupakan masalah rumah sakit, biar ayah dan ibu yang handle."


" Baiklah Yah, Gendhis ikut mereka saja."


" Cih.. maaf, aku nggak bisa ikut!"


Broto langsung melengos dan tersenyum miring mendengarnya, entah mengapa dia merasa begitu kesal melihat istrinya yang seolah masih ingin terus berkepit kemanapun Panji pergi, karena terlihat jelas sekali, tadi dia menolak tapi tiba-tiba ikut berubah pikiran.

__ADS_1


" Gimana ceritanya pergi bulan madu tapi pengantin prianya tidak ikut!"


" Emm.. Gendhis kan yang butuh refresing, lagian saya punya banyak janji temu dengan pasien saya."


" Untuk masalah pasien dirumah sakit, kamu tenang saja, banyak dokter umun yang bisa menggantikan kamu."


" Tapi saya beneran nggak butuh refresing ayah, biar Gendhis saja yang pergi."


" Kalau kamu tidak mau pergi, Gendhis pun tidak usah pergi." Ucap Sang Ayah dengan tegas.


" Tapi Yah aku memang butuh refresing?"


" Gendhis, kalau kamu mau refresing, bujuklah suami kamu, kalau suami kamu tidak bisa pergi, kamu pun tidak akan ayah ijinkan pergi."


" Astaga, kenapa jadi ribet begini sih?"


" Makanya nggak usah pake acara bulan madu segala Ratu." Panji langsung mencubit lengan Ratu dengan gemas.


" Enak saja, apapun yang terjadi tidak boleh gagal."


" Ratu, kamu memanglah!"


" Owh... pak dokter Broto... Ikutlah pak, nanti kita bisa nongkrong bareng!" Ratu yang memang duduk disebelah kiri Broto langsung menggeser kursinya agar lebih dekat dengannya.


" Malas." Broto menyadarkan punggungnya dengan santai.


" Ssst... Ayoklah pak, jadi dokter kok baperan banget, jangan lemah jadi cowok, masak gitu aja ngambek!" Ratu bahkan memdekatkan kepalanya ke tubuh Broto dan berbisik kepadanya.


" Emang siapa yang lemah!" Broto pamgsung terpancing emosi, seolah harga dirinya terinjak oleh bocah dihadapannya ini.


" Pak dokter lah, cemen banget jadi cowok!" Ratu sengaja menjatuhkan marwah Broto, agar dia merasa tertantang dan menyetujui bulan madu mereka.


" Hidiih.. Sory ya, aku bukan cemen atau lemah, aku hanya malas!" Bahkan Broto meletakkan tangannya diatas kepala Ratu dengan gemas.


" Bilang aja bapak takut kena saing, huuu... dokter Broto Payah!" Mereka bahkan saling duduk berhadapan, Ratu dengan senyum liciknya sedangkan Broto dengan senyum kekesalannya.


" Haissh... Okelah kalau begitu, kita pergi bulan madu besok!" Karena merasa tertantang, akhirnya Broto menyetujuinya.


" Mantabek, Toss dulu kita pak!"


" Malas!"


" Kalau begitu kita berjabat tangan saja, sebagai tanda persetujuan kita, okey!" Karena menolak ber tos ria, Ratu langsung menarik tangan Broto dan menjabat tangannya.


" Terserah deh!"


" Cuusss... biar nanti aku yang booking tempat, biar nanti ayah transfer, emm.. sepuluh digit aja cukuplah ya, hehe!"


" Halah.. Nggak asyik banget pak dokter ini, jadi mau kemana?" Ratu bahkan menopangkan kakinya di kursi Broto.


" Kemana aja, yang penting nggak usah jauh-jauh." Jawab Broto yang seolah tidak keberatan juga, karena sedari awal dia melihat Ratu dia selalu bisa tersenyum dibuatnya.


" Korea ya?"


" Ogah!"


" Malaysia!"


" Nggak!"


" Ckk... Itu udah yang paling dekat pak dokter, orang ditawari gratisan kok milih yang dekat, dih... Gemes aku!" Ratu bahkan mencubit lengan pria yang sudah resmi menjadi kakak iparnya itu.


" Ratu, jaga sikap kamu!" Kesabaran Panji seolah sudah habis, saat istrinya terlihat lebih dekat dengan kakak iparnya.


" Pak dokter ini yang nyebelin pak!" Ratu akhirnya berbalik menoleh kearah Panji yang ada disampingnya juga, karena Ratu bersda ditengah-tengah kedua pria itu.


" Kamu sudah selesai makan kan? Kemasi barangmu, kita pulang, Eyang juga sudah nungguin kita dirumah." Ucap Panji dengan tegas dan tidak terbantahkan.


" Nginep aja disini pak, sehari aja, kak Gendhis juga masih tidur disini kok malam ini." Ratu seolah belum rela meninggalkan kamar kesayangannya yang sudah menemani dirinya sedewasa ini.


" Lain kali saja, kita harus pulang malam ini." Panji tetap tidak mau tinggal disana.


" Ratu... Sebagai seorang istri, kamu harus menurut dengan perkataan suami, kemanapun dia ingin pergi kamu harus ikut dengannya, mengerti kamu!" Ayah Ratu langsung angkat bicara saat putrinya menolak ajakan suaminya.


" Iya.. iya.. Gitu aja marah-marah, nggak sabaran amat dah, kayak mau ngapain aja."


Panji langsung tersenyum licik, saat melihat istrinya yang seolah lemah tak berdaya jika ayahnya sudah ikut berbicara membela dirinya.


Ratu langsung naik tangga menuju kamarnya untuk mengemasi bajunya dan juga barang-barang kesehariannya untuk pergi ke kampus.


" Pak... Bantuin bawa tas nya, berat ini!" Teriak Ratu dan memanggil Panji yang memang sudah menunggunya.


" Astaga Ratu, kamu kan bisa bawa sedikit saja untuk keperluan kamu beberapa hari aja, nggak perlu bawa satu koper begini?"


" Ini juga cuma buat beberapa hari aja, tapi keperluan wanita itu banyak pak, apa bapak lupa, kalau istri bapak ini selain bernama Ratu, dia juga Ratu di kampus kita!"


" Cih... Ratu huru hara saja bangga kamu!"


" Biarin, bentar pak masih ada yang kurang." Ratu pura-pura mengecek isi koper miliknya.


" Kurang apalagi Ratu!"

__ADS_1


" Kurang panggil sayang, haha!"


Ada rasa lain saat mendengarnya, namun panji masih belum bisa menyimpulkan artinya.


" Heh... Kamar kamu nggak ada kacanya ya?" Akhirnya kata itu yang terucap.


" Dih... Punya dong, masak iya Ratu sosialita nggak punya kaca dikamar, gede banget noh!" Ratu langsung menunjuk kaca besar di depna meja rias miliknya.


" Ya udah, ngaca sono, sudah pantaskah kamu dipanggil sayang?" Umpat Panji dengan senyum nylenehnya.


" Woah... Bapak kalau ngomong ya, nggak pake basa basi, dasar dosen killer!"


" Heh, ngomong apa kamu!"


" Haha.. Aku mandi sebentar pak! Siapa tahu kalau udah wangi bapak mau panggil aku sayang?"


" Dih.. Malas banget!" Panji langsung memalingkan wajahnya, yang sudah terasa memanas.


" Katanya mau jadi ahli Syurga, masak begitu saja nolak!"


Akhirnya Ratu punya kebiasaan baru, ternyata meledek suaminya adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Melihat suaminya sewot seperti itu ternyata menjadi imun tersendiri baginya, yang bisa membuatnya dirinya tertawa dan melupakan lara dihatinya.


" Cepatlah mandi, sudah jam berapa ini, ngoceh aja kamu bisanya, nggak habis-habis kayak burung Beo yang lagi pengen buat anak!"


" Mas Panji!"


" APALAGI RATUKU SAYANG! DAH... PUAS HATI KAMU!" Karena terlalu gemas, Panji bahkan menaikkan intonasi suaranya.


" Aku Gendhis mas."


Degh!


Saat dia kembali menoleh kebelakang, ternyata sosok wanita yang bahkan saat ini masih singgah dihatinya terlihat menatap dirinya dengan tatapan sayu dan pilu, hidungnya pun sudah memerah, seolah mendung diwajahnya akan berganti dengan hujan air mata.


" Eherm.. Eh kamu Ndis, ada apa?" Jawab Panji dengan salah tingkah.


" Apa mas secepat itu menerima Ratu dihati mas?"


Entah mengapa Gendhis merasa tatapan Panji tidak lagi terarah dengannya, apalagi saat Panji melihat Ratu merayu Broto agar mau diajak bulan madu tadi, dia seolah merasa aneh dengan tatapan pria yang sangat dia cintai itu, seolah dia merasa cemburu melihat Ratu dekat dengan Broto.


" Gendhis, mau tidak mau, cepat atau lambat mas juga harus tetap menerima Ratu, karena dia sudah sah menjadi istriku sekarang."


" Mas... Tahukah kamu, bahwa mas adalah cahayaku, aku yang selalu merasa bisa hidup dengan harapan cahaya darimu mas, hanya kamu."


" Gendhis?"


" Sekarang Cahaya itu seolah sudah mulai redup mas, apa mungkin akan hilang secepat itu? Kamu tau nggak mas, cahaya cinta kamu yang dulu, adalah harapan paling dalam dariku." Gendhis kembali mengungkapkan isi hatinya.


" Gendhis, jalan kita sekarang sudah berbeda, kita tidak bisa lagi seperti dulu, ini memang sebuah kesalahan, tapi kita harus mencoba menerima Takdir-Nya, entah bagaimanapun itu caranya."


" Aku pun tidak ingin mendustai sebuah Takdir mas, tapi kenyataannya cahayamu memang mulai menghilang dari hidupku, padahal tanpamu aku hanyalah bayangan, dalam kegelapan."


" GENDHIS, SINI KAMU!"


Broto yang mendegar itu semua tiba-tiba langsung meninggikan suaranya dengan mata yang sudah memerah.


" Sana, temui suamimu itu!" Panji langsung menujuk Broto dengan dagu lancipnya.


" Tapi mas!"


" Gendhis, apa kamu tidak punya telinga?"


Broto seolah tidak terima, jika istrinya seolah masih meminta belas kasihan kepada pria yang menjadi masa lalunya.


" Ratu, sudah belum sa.. Sayang!" Teriak Panji yang langsung kembali masuk kedalam kamar Ratu, dan sengaja memanggilnya dengan sebutan sayang untuk mengalihkan pandangan Gendhis terhadapnya.


" Gendhis, ikut aku!" Pinta Broto dengan emosi.


" Iya." Gendhis langsung memejamkan kedua matanya perlahan dan mulai mengikuti langkah Broto.


" Apa kamu tidak malu menjadi pengemis cinta seperti itu?" Tanya Broto saat dia sudah berada di pojokan ruangan.


" Apa sih Broto, sudahlah... Aku lelah, mau istirahat dulu."


" Gendhis, mungkin kamu memang belum bisa menerimaku untuk saat ini, tapi jangan merendahkan dirimu itu didepan suami orang."


" Aku seperti ini karena dirimu Broto!"


" Fine, tapi ingatlah.. jangan terlalu keras pada diri sendiri, karena hasil akhir semua urusan di dunia bukannya sudah ditetapkan oleh-Nya?"


" Tau apa kamu!"


" Jika memang dia ditakdirkan untuk menjauh darimu, sampai kapanpun dia tidak akan pernah mendatangimu, dan jika seseorang sudah diakdirkan untuk bersamamu, kamu tidak akan pernah bisa lari darinya, Think Smart Ndis, jangan permalukan diri sendiri!"


Perkataan itu seolah menusuk relung hati Gendhis, memang ada benarnya kata-kata suaminya itu, namun dia masih belum terbiasa dengan kenyataan pahit yang mendera hidupnya.


Kamu boleh mencintai siapapun yang kamu cintai, tapi ingat kamu pasti akan berpisah suatu saat nanti.


Kamu juga boleh berbuat baik dan berbuat buruk sekehendak hatimu, tapi ingat semua pasti ada balasannya.


Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, tapi ingat kamu akan mati.

__ADS_1


__ADS_2