
...Happy Reading...
Sebagai sopir dan asisten sopir Speedboat yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pekerjaan mereka, sudah pasti bisa membedakan Speedboad mana yang bergoyang karena guncangan air laut dan mana yang bergoyang karena penghuni didalamnya.
Namun mereka bisa apa, dia disewa mahal untuk mengantarkan penumpang VIP nya kemanapun dia mau, jadi area mereka hanya sebatas ruang kemudi.
Dan kenyamanan penumpang adalah prioritas mereka yang utama, jadi kalau penumpang mereka nyaman melakukan apa saja dibelakang sana, sudah pasti sang sopir pun merasa senang.
Hal seperti ini memang belum pernah terjadi selama dia menjadi sopir, tapi mereka tidak berhak untuk melarangnya juga, karena selama disewa mereka bebas melakukan apapun.
" Huh... sabar ya bro, nanti kita ambil cuti sehari setelah ini!" Umpat Sang asisten yang melihat sopir utamanya terlihat gelisah saat duduk didepan.
" Mau cuti juga percuma bro, istri gue nggak bisa dipake, masih lampu merah!" Ucapnya dengan lemas.
" Pfffthhh... Sayang sekali, tapi tenang saja bro, tak ada istri pakai sabun pun jadi, hahahaha."
Akhirnya sopir dan asisten sopirnya hanya bisa tertawa, mencoba menghibur diri, sebenarnya dia tidak mau mendengarkan suara kasak kusuk dibelakang sana, namun karena mereka sudah berada ditengah lautan, suara ombak tak lagi terdengar dengan keras, jadi mau tidak mau mereka hanya pura-pura tidak dengar saja, walau sebenarnya burung peliharaan mereka seolah berontak, ingin berkicau di tempat ternyaman milik pasangan mereka masing-masing.
( Beberapa saat sebelum kedua sopir lemas tak berdaya.)
" Pake apa dong keriknya pak?" Sebagai seorang istri yang baik, Ratu patuh saja saat disuruh kerikin badan suaminya, padahal dia sama sekali belum pernah melakukannya, kalau dia masuk angin hanya sebatas minum obat tolak angin saja selama ini.
" Kamu punya lotion kan?" Tanya Panji yang sudah mencari posisi yang wuenak diruangan itu.
" Punya." Jawab Ratu yang langsung membuka tas slempang miliknya.
" Ya sudah, pake itu saja."
" Tapi aku nggak punya koin mas?"
" Kalau begitu pijit-pijit saja pake lotion itu, yang penting anginnya bisa hilang."
Panji tidak masalah menggunakan apapun, karena dia tidak betulan masuk angin, dia hanya mencari alasan saja untuk bisa mendapatkan haknya sebagai suami saat ini juga.
" Okey deh, tapi aku nggak bisa mijit juga."
" Trus kamu bisanya apa?" Panji langsung melepas kaosnya dihadapan Ratu.
Glek!
Apa ini, apa itu? Kenapa tubuhnya keren sekali, lengannya juga, wuidih... Berotot banget, astaga gimana ini, aku kok jadi gemetaran gini?
" Ratu? Hei?"
Panji akhirnya tersenyum riang, saat melihat tatapan mata istrinya tertuju ke dadaa bidang miliknya yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu tipis dan terkesan maskulin itu.
" Eherm... Emm... Ma.. Mana yang mau dipijit mas?" Tanya Ratu yang seolah mencoba untuk mengalihkan perhatian namun tidak bisa.
" Mana aja yang kamu suka?" Panji semakin merapatkan tubuhnya kearah istrinya.
" Aku suka semuanya." Jawab Ratu tanpa sadar.
" Hah?" Panji langsung membuang pandangannya untuk menahan tawa, ternyata iman istri bocilnya hanya setebal kertas yang mudah sobek dan luntur.
" Eeh... Maksudnya punggung aja ya mas." Ratu langsung ikut membuang pandangan kesembarang arah, karena merasa grogi saat Panji menatap wajahnya.
" Emm... Ratu, apa kamu mau?"
Panji langsung memeluk Ratu dari belakang dan perlahan memindahkan tubuh rampingnya kedalam pangkuannya.
" Mau apa pak, eh mas? Aku nggak mau apa-apa kok, beneran deh!" Otak Ratu sudah traveling kemana-mana, pikirannya belum sampai, bahkan seperti menolaknya, namun tubuhnya tidak bisa menolak sentuhan dari Panji. Apalagi saat Panji mulai menghujani kecvpan di leher Ratu.
" Pak dosen yang terhormat, jangan dong pak, aku masih kecil!"
" Kenapa jangan, kakak kamu kan sudah baik-baik saja, kita nggak perlu risau lagi, dan apanya yang kecil, udah pas gini kok dipegang." Dengan santainya Panji mengvsap apa yang ada didepan mata tanpa segan, hilang sudah rasa gengsinya gara-gara racun susuu cap Ratu.
" Nggak mau, kita kan lagi ditengah laut, emang mas mau ngapain sih?"
" Mau minta hak mas lah, tadi malam kan nanggung, kita baru setengah perjalanan."
" Dih... Nggak mau aku mas, masak disini sih, ada pak supir dua didepan sana loh." Ratu langsung ingin beringsut mundur, namun Panji tidak membiarkan Ratu jauh-jauh darinya.
Selagi ada kesempatan, dia terus memepetnya sebisa mungkin.
" Mereka nggak akan tahu, kalau kamu nggak teriak-teriak Ratu, jadi kamu cukup diam saja, biar mas yang memulainya okey?"
Panji langsung memutar tubuh Ratu, agar dia menghadap kearahnya.
" Mas mau ngapain aku lagi?" Ratu sudah mulai gelisah saat tangan Panji mulai meraba dan menyentuh pinggang rampingnya.
C U P
__ADS_1
Panji tidak perduli dengan umpatan Ratu, entah mengapa keinginannya seolah menggebu saat baru mencivm wangi parfum istri belianya itu tadi, akhirnya dia langsung menyumbat mulut Ratu dan mulai mengeksplore rongga mulutnya dengan penuh penghayatan.
" Mas... Jangan disini mas, aku takut loh, ntar kalau ada ikan hiu gimana?" Tanya Ratu dengan pikirannya yang sudah melalang buana entah kemana-mana.
" Biarkan saja, dia juga punya pasangan, kalau perlu kita duet bareng sama mereka, malah keren kan judulnya?" Jawab Panji dengan asal, dia tidak akan membiarkan ritualnya kembali putus ditengah jalan.
" Apa sih mas, nggak mau aku!"
" Ratu!" Panji langsung melotot kearah istrinya saat dia terus saja berontak.
" Mas, tolong jangan perko sa diriku, aku belum siap sekarang!"
" Emang siapa yang mau perko sa kamu, aku hanya meminta hak ku saja, masak nggak boleh? Kamu lupa ya pelajaran tentang hak dan kewajiban sebagai manusia dan istri?"
" Sudah lupa!" Ratu paling malas jika harus mengungkit-ungkit soal pelajaran sekolah.
" Makanya, sebagi guru yang baik, aku ingetin kamu sekarang, tapi dengan cara yang berbeda okey?"
" Mas... Ish."
Ratu mulai merasakan geli, saat tangan suaminya mulai merayap masuk kedalam kaos dan mencari-cari kedua benda kenyal favoritnya itu.
" Ratu, aku boleh manggil kamu sayang kan?" Wajah Panji sudah berubah menjadi nepsong, dia teringat dengan kelakuan Arga sahabatnya, yang saat itu menjerit dengan sebutan sayang saat mencapai pelepasan, yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri semua, jadi dia ingin mencobanya juga.
" Nggak usah, diih mas geli tauk... Udah dong, jangan sekarang okey?"
Apapun jawaban Ratu dia tidak perduli, karena dia hanya ingin membuat Ratu menjadi milik dirinya sepenuhnya hari ini juga.
Nyot
Nyot
Nyot
Saat tangannya sudah berhasil melepas pelindung sumber air murni itu Panji langsung memasukkan kepalanya didalam kaos istrinya dan mulai menikmati kedua buah ranum yang sudah beberapa kali dia cicipi itu.
" Mas.. Jangan kuat-kuat, nanti bocor itu, nggak bisa ditambal lagi!"
" Tenang saja, ini elastis sayang."
Kalau sedang ada maunya, kata sayang pun lancar keluar dari mulut Panji dibawah sana.
" Kenapa? mantap nggak rasanya?" Panji menjeda sejenak, dan mulai menyandarkan Ratu di kursi yang ada di hadapannya.
" Mantap sih, tapi eeh... Enggak deh, biasa aja, tapi sudah ya mas, nanti ada yang lihat." Ratu seolah trauma dengan kejadian kepergok tadi malam.
" Sudah aku tutup pintunya, nggak akan ada orang yang mengintip apalagi ikan." Panji berada dalam posisi gemas namun juga kesal.
" Emang ikan bisa mengintip, eumm?" Ratu semakin tak karuan saat Panji memaikan ujung bukit kembarnya.
" Bisa, matanya kan ada dikanan kiri, kalau nyebrang lagi dia pandai, nggak harus menoleh kanan dan kiri kan?"
Panji sengaja mengalihkan rasa gugup Ratu dengan mengobrol sesuatu yang sebenarnya tidak penting, namun tangannya sudah berhasil melepas celdam milik Ratu yang kebetulan saat itu hanya menggunakan rok plisket dibawah lutut.
" Tapi itu, emh... Wah.. Wah... Siapa yang ngajarin pak Dosen kayak begini, dih... Dosa tau pak Dosen!" Ratu langsung membekap mulutnya sendiri saat tangan Panji berhasil foreplay di pusat inti miliknya dibawah sana.
" Dosa itu kalau kayak gini sama istri orang, kalau sama istri sendiri malah dapat berkah, tapi enak nggak?" Ledek Panji sambil menghujani kecvpan diwajah Ratu.
" Mas, eum... Enak sih, tapi udah dong mas, kakiku lemes ini, mas... jangan dong!" Ratu tidak bisa lagi mengungkapkan kata-kata karena kerajinan tangan Panji yang tidak dia sangka.
" Jangan berhenti gitu maksud kamu?" Panji langsung tersenyum miring saat melihat Ratu merem melek karena ulah tangannya.
Disaat Ratu lengah, Panji langsung membuka resleting celananya dan mengeluarkan burung peliharaannya untuk segera menjebol gawang lawan.
" Eh.. Apa ini mas?" Ratu langsung menaikkan kedua alisnya saat ada sesuatu yang mengganjal di area bawahnya.
" Obat biar kamu nggak masuk angin, kamu tahu proses menggunakan alat Bekam kan, ini hampir mirip dengan itu!"
" Apa itu Bekam?"
" Kalau Bekam itu, menusukkan jarum ke kulit kita untuk mengeluarkan da rah kotor, nah ini semacam itu, tapi jarumnya lain, lebih keren dan kokoh, dan da rah yang dikeluarkan juga segar, biar kamu sehat sayang, tadi malam kan kita bergadang, kamu nggak mau sakit kan?"
" Enggak."
" Ya sudah, kalau begitu nurut aja, jangan menolaknya, cukup kamu rasakan saja, okey?" Panji mengusap rambut Ratu saat dia terlihat bingung.
" Hmpth... Umm.. Aaw.. Sakit mas.. Aduh.."
Saat Panji mulai menekankan Lontong Sate miliknya ke dalam gerobak yang sudah dia beli dengan kata SAH, Ratu langsung meringis kesakitan, seolah bagian bawahnya terhantuk sesuatu yang keras, panjang dan berotot.
" Sabar Ratu... Sebentar lagi ini." Panji memajukan tubuhnya perlahan sambil memegangi tubuh Ratu agar tidak menghindar darinya.
__ADS_1
" Aw.. Aw.. Perih mas, aku nggak mau!" Rasanya sungguh tidak bisa dibayangkan, sakit dan perih namun enaknya juga ada.
" Ssh... Nanggung Ratu, sabar ya sayang.. Euh!" Panji terus saja menghentakkan miliknya walau masih meleset ke kanan dan kekiri.
" Aw... Mas mau menyiksaku ya, aku bilangin ayah nanti loh!"
" Hehe... Mana ada mas nyiksa kamu sayang, mas mau ngasih kamu kenik matan loh, kamu ini sudah gede mau ngadu aja ke orang tua."
" Nikmat apanya kalau begini!" Ratu ingin menghindar, namun tubuhnya sudah berada dalam kungkungan Panji dengan badan kekarnya.
" Eh sayang... Coba dengar ada suara ikan hiu datang itu!" Panji kembali mengibuli istrinya.
" Hah? Mana?"
" Coba kamu diam sebentar, rasakan, dia ada dibelakang kita?"
" Owh ya, masak sih?"
Ratu dengan polosnya menurut saja, bahkan dia menyipitkan kedua matanya dan memasang kedua telinganya baik-baik, mencoba mendengar suara dari luar speedboat itu dengan seksama.
Sleep!
" Aaaaaaaaaaaa.... Apa ini, hmpt.. Argh!
Saat tubuh Ratu terdiam, Panji langsung menghentakkan benda pusaka nya, ternyata dia tadi sengaja mengalihkan perhatian Ratu untuk mengambil aba-aba dan mulai melakukan tendangan maut yang akhirnya berhasil menjebol gawang perawan.
" Yess... Go.. Go.. Ale.. Ale.. Yank!" Panji seolah puas dengan hasil bidikannya yang tidak lagi meleset.
" Aaaaaaa... Dasar dosen killer, Bekam model apa ini!" Ratu bahkan mencakar punggung Panji karena merasakan perih yang teramat sangat.
" Akhirnya hilang sudah predikat JODI ku, terima kasih Ratuku sayang."
Panji langsung melakukan push up ria disana, dengan tubuh Ratu sebagai matras dan tumpuan hidupnya.
" Mas.."
Cvp
" Mas... Eum, udah mas."
Cvp
Saat posisi Panji turun ke matras hidupnya, dia meninggalkan kecvpan dibibiir istrinya itu berulang-ulang kali, bahkan membuat Ratu tak kuasa menahan segala rasa yang tercipta.
" Kalau segini aja udah, kamu besok mas kasih tugas banyak, mau kamu!" Ancam Panji sambil terus melakukan gerakannya.
" Enggak mau!"
" Enakan ini apa ngerjain tugas?"
" Emm... sebenarnya lama-lama enakan ini sih!" Jawab Ratu tanpa sadar.
" Ya sudah, orang enak kok nggak mau, nikmati saja, cukup pejamkan matamu, dan rasakan semuanya!"
" Tapi, mas kan belum pernah bilang I Love You sama aku, kenapa melakukan ini? Kalau seperti ini pemer kosaan namanya!"
" Cih... Dasar bocil, nggak ada hubungannya itu!"
" Pokoknya aku nggak mau, kalau mas belum bilang I Love You!"
Dugh!
Panji langsung mencabut Pedang pusakanya dan menghentikan pacuan kudanya, saat Ratu tiba-tiba mendorong dan menendang tubuh suaminya kebelakang.
" Aww... Kamu apa-apaan sih Ratu!"
Bahkan tubuh Panji menghantuk dinding Speedboad itu dengan cukup keras, karena ternyata tendangan Ratu memang cukup kuat.
Mau tidak percaya, tapi itulah Ratu, dia yang memang masih belia terkadang pikirannya masih kekanak-kanakan dan menganggap bahwa ungkapan cinta itu hanya dengan kata I love You saja, padahal dari sikap dan perbuatan seseorang itu yang lebih penting.
" Maaf Tuan dan nona, tolong pelan sedikit ya maennya, nanti kalau Speedboat kita Oleng malah nggak jadi ke Surga Dunia kalian, yang ada kita bisa karang dan tenggelam ditengah lautan."
Tiba-tiba terdengar dengan jelas suara dari sopir Speedboat itu, karena ternyata dia sudah berada didepan pintu ruangan itu.
Rasa malu? Jangan ditanyakan lagi, bahkan Panji sudah memejamkan mata sambil mengumpat keras istri Belia yang ada dihadapannya kini.
Jika memang sudah berjodoh, percayalah, seasing apapun kalian sekarang, suatu hari nanti dialah orang yang pertama kamu lihat ketika membuka mata.
Tidak ada yang sia-sia atas sebuah Do'a, tidak ada yang percuma dari hasil sabar dan legowo.
Jika sudah Takdir-Nya, sejauh apapun jaraknya, kalian pasti akan dipertemukan dan disatukan dengan jalan yang tidak pernah kamu sangka dan kamu duga.
__ADS_1