
...Happy Reading...
Akhirnya hari pernikahan Gendhis dengan Panji pun sudah bisa dihitung dengan jari, lusa mereka akan menikah, semua persiapan sudah sembilan puluh persen dikerjakan, pernikahan mereka akan digelar besar-besaran, karena memang kedua keluarga itu orang yang berada semua, jadi tidak pernah memperhitungkan biaya yang keluar.
Asalkan mereka suka semua dipesan, Panji pun sampai beberapa kali ijin tidak mengajar, karena ingin benar-benar memastikan pesta pernikahannya nanti bisa berjalan dengan lancar.
Hari ini hari terakhir Gendhis berangkat ke rumah sakit sebelum dia meminta cuti panjang untuk acara pernikahannya.
Sore itu dia berjalan terburu-buru keluar dari rumah sakit, bahkan dia menggendarai mobilnya ugal-ugalan, seperti orang yang mempunyai nyawa double.
Saat di lampu merah, tanpa sengaja Ratu melihat mobil kakaknya berada disampingnya, namun Gendhis seolah tidak sadar.
" Eh... bukannya itu mobil kakak?"
Saat lampu kuning baru menyala, Gendhis sudah langsung menekan pedal gasnya, untung saja jalanan tidak begitu ramai, jadi tidak terjadi sesuatu yang berbahaya.
" Astaga kak Gendhis? nggak sayang nyawa apa dia? besok lusa udah mau nikah loh dia, sebenarnya dia mau kemana sih?"
Karena penasaran Ratu pun menambah kecepatan mobilnya, karena ingin membuntuti kemana perginya mobil kakaknya itu.
" Woah... sepertinya dia terburu-buru, tumben banget biasanya dia paling ribut kalau aku mengendarai mobil terlalu cepat, okey kak... kita test drive sekarang, siapa tahu bisa jadi pembalap Internasional ye kan?"
Ratu malah terlihat kegirangan, dia kembali mempercepat laju kendaraan mobilnya dan menggangap jalanan umum itu seperti lintasan balap mobil.
" Lah? ini bukan jalanan menuju ke rumah loh? aish... pake ada acara lampu merah lagi sih?"
Namun sayangnya Ratu terhenti di lampu merah, sedangkan mobil kakaknya sudah terlihat samar-samar dari kejauhan.
" Dikejar juga percuma, banyak cabang jalan didepan sana, daripada muter-muter nggak jelas mending pulang saja!"
Ratu akhirnya lebih memilih jalan menuju kerumahnya saja, dia beranggapan mungkin kakaknya sedang ada keperluan mendadak, karena pernikahannya memang sudah dekat pikirnya.
Saat dia baru saja ingin masuk ke dalam rumahnya tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti dihalaman rumahnya.
" Siapa itu?" Ratu menyipitkan kedua matanya, karena sepertinya dia sudah pernah melihat mobil itu sebelumnya.
" Ratu!"
Tiba-tiba seorang pria berkaca mata hitam turun dari mobil dan berlari kearahnya.
" Eh... dokter Broto ya? hai dokter?" Ratu langsung menyambutnya dengan riang, entah kenapa dia merasa klop dengan dokter yang dibilang kakaknya resek ini.
" Hai, apa kakakmu sudah pulang kerumah?" Broto terlihat panik, nafasnya pun terlihat tersengal.
" Kak Gendhis?"
" Emang kakakmu ada berapa, mana dia sekarang?" Tanya Broto yang bahkan tidak tersenyum sedikitpun, tidak seperti biasanya saat bersikap dengan seorang gadis cantik.
" Entahlah?"
" Apa kamu juga baru pulang? tolong cepat masuk dan panggil kakakmu kemari, buruan Ratu!"
" Kakak belum pulang."
" Kamu jangan bohong, kamu aja belum masuk kenapa bisa bilang dia belum pulang, buruan Ratu, saya ada keperluan penting dengannya."
" Apa masalah rumah sakit?"
" Hmm.." Dia mengiyakan saja daripada terlalu banyak pertanyaan dari Ratu.
" Tapi beneran dokter, kalau kak Gendhis belum pulang, tadi sebelum aku belok kearah jalan pulang, kak Gendhis melajukan mobilnya cepat sekali, tadi sempat mau aku kejar, tapi terhalang traffic light, jadi kehilangan jejaknya."
" Gendhis pergi ke arah mana Ratu? cepat katakan!" Broto kembali terlihat panik.
" Nggak tahu dokter, kami tadi baru dari arah jalan tol, trus tadi di depan traffic light disana kan ada yang banyak cabang jalan besarnya, jadi entah kakak belok kemana, aku pun tak tahu."
" Okey, kalau begitu saya permisi ya, terima kasih infonya."
" Eh... dokter Broto mau kemana? woi.. dokter?"
Ternyata teriakan Ratu tidak mempan bagi Broto,dia langsung kembali berlari kedalam mobilnya dan langsung menancap pedal gas dengan kecepatan penuh.
" Bodo amatlah, urusan rumah sakit memang ribet begitu, makanya aku males jadi dokter, mending molor aja yok, besok harus bangun pagi buat bantuin ibu ngecek hotel tempat resepsi nantinya." Celoteh Ratu sambil mengumpat kakaknya sendiri dan memilih untuk tidur dikamar mewahnya.
♤♤♤
Dengan memaksa bahkan sedikit mengancam rekan kerja mereka di rumah sakit yang bernama Sita, akhirnya Broto bisa tahu keberadaan Gendhis sekarang dan Sita memberikan tahu alamatnya lewat pesan.
Akhirnya mobil Broto sampai disebuah desa yang lumayan terpencil disana.
" Ngapain lagi si Gendhis datang ke tempat ini sih?" Bahkan jalan yang mereka lalui begitu sempit dan lumayan terjal.
Broto berulang kali melihat alamat yang dikirim tadi, takut jika salah tempat, namun memang nama desa nya tertulis dengan jelas disana.
Setelah bertanya-tanya dengan warga sekitar, akhirnya Broto sampai di sebuah rumah yang sederhana dan terlihat ada beberapa orang yang mengantri disana.
" Tukang urut? jangan-jangan dia beneran mau menggugurkan bayinya!"
Broto langsung saja nyelonong masuk kedalam rumah itu.
Tadi saat dirumah sakit, dia sengaja ingin masuk kedalam ruangan Gendhis untuk memberikan susu ibu hamil, karena kasihan kalau dia tidak doyan makan apa-apa kecuali rujak, bisa gizi buruk anaknya nanti pikirnya.
Namun saat ingin membuka pintunya, dia sedikit mendengar topik pembicaraan mereka tentang dukun Urut.
__ADS_1
Rasa curiga mulai bersarang di otak Broto, karena ibu hamil kan setahu dia tidak boleh di urut, apalagi di perut. Kecuali Gendhis yang sengaja ingin menghilangkan nyawa calon baby mereka.
Namun karena masih ada beberapa pasien, mau tidak mau Broto menyelesaikannya terlebih dahulu, dan ternyata Gendhis sudah pergi duluan.
" Maaf pak, antri dulu didepan!" Ucap Beberapa orang disana yang terlihat protes dengannya karena sudah mengantri terlebih dulu.
" Saya hanya mencari seseorang, bukan mau urut!" Ucap Broto dengan santai.
" Heleh... alasan saja itu, pasti dia mampu bayar lebih, jadi didahulukan!"
Terdengar dengan jelas suara kasak kusuk warga yang sepertinya mendapatkan gelar Nyai Julid, karena tidak takut apapun jika sudah menggosip.
" Gendhis? apa yang kamu lakukan disini!"
Akhirnya Broto menemukan Gendhis yang terduduk di sudut ruanganseperti orang yang sedang gugup dan ketakutan.
" B... Bro... Broto? ngapain kamu disini?" Gendhis semakin tersiksa jika melihat wajah Broto dihadapannya.
" Gendhis ayo kita pulang!" Broto langsung berjongkok didepan Gendhis dan berbisik kepadanya.
" Enggak mau, kamu saja yang pulang sana!" Gendhis langsung melengos, tidak perduli banyak mata memandang kearahnya.
" Gendhis, apa kamu berniat untuk menggugurkan bayi kita?" Broto langsung mencengkeram lengan Gendhis bahkan membuat Gendhis meringis saat menahannya.
" Ini bukan bayi kita, kamu yang menginginkannya, tapi aku tidak!" Jawab Gendhis yang sudah gemetaran, air matanya pun sudah menggenang dipelupuk mata.
Bugh!
" GENDHIS!"
Broto langsung meninju tembok tepat disamping wajah Gendhis, karena terlalu kesal.
" Maaf, jangan ribut-ribut disini!" Terlihat seorang perempuan keluar dari ruangan tempat dukun itu praktek.
" Ayo kita pulang!"
Broto langsung menarik paksa lengan Gendhis agar dia mengikutinya.
" Nggak mau, aku nggak mau pulang, aku sudah mengantri dari tadi disini."
Dukun disana terkenal serba bisa, jadi bukan hanya pasien yang berniatan seperti Gendhis yang datang.
Gendhis sengaja ingin pergi ke dukun, agar statusnya sebagai dokter tidak dipertanyakan, selain itu kalau dia melakukan a borsi dirumah sakit sudah pasti ada rekam medisnya, dan itu bisa mencemarkan nama baik dirinya dan juga rumah sakit keluarganya, jadi jalan pintasnya dia pergi mencari dukun yang bisa menggugurkan janinnya.
Pikirannya sudah kalut, bagaimana tidak? besok pagi dia akan menikah dengan pria yang dia cintai, sudah berhari-hari dia memikirkannya, dan semakin dia pikirkan, semakin Gendhis tidak sanggup jika harus berpisah dengan Panji.
" Gendhis, apa kamu lupa apa tujuan kita sebagai dokter!" Karena amarah Broto sudah memuncak, dia sengaja menaikkan intonasi suaranya.
" Biarkan saja!" Umpat Gendhis dengan ketus.
" Diam kamu!" Gendhis sebenarnya merasa tidak nyaman ketika semua pandangan pasien lainnya memandang kearah Gendhis.
" Hah? dia dokter?"
" Dih.. masak dokter pergi ke dukun?"
" Iya.. ya... buat apa sekolah mahal-mahal kalau akhirnya pergi ke dukun?"
" Kalau dilihat dari penampilan mereka sepertinya orang berkelas, masak tidak mampu membeli obat ya kan?
" Mau ngapain ya dia kesini kira-kira?"
Kasak kusuk itu kembali terdengar, bahkan terasa lebih pedas dari sebelumnya.
" Ayo kita bicara diluar!" Broto kembali menarik Gendhis ke luar rumah itu, dan memilih memasukkan Gendhis kedalam mobilnya.
" Broto lepas, tanganku sakit!" Gendhis tidak bisa melawannya, karena kekuatannya tidak sebanding dengan Broto.
" Cih... itu tidak seberapa sakitnya jika dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku!" Jawab Broto yang terus saja memaksa Gendhis.
" Siapa yang memberitahu kamu kalau aku disini?"
" Itu tidak penting, yang pasti aku tidak rela jika kamu ingin menggugurkan anak kita!"
" Ini anakmu, bukan anakku, kamu yang sudah memaksaku tanpa seizinku, aku benci kamu Broto!"
Akhirnya tangisan Gendhis pecah disana, dia bahkan sudah hampir gila karena kejadian ini, sedangkan rasa cintanya kepada Panji semakin besar.
" Apa kamu ingin menjadi seorang pembunuh?"
" Hiks.. hiks... ini bukan kemauanku!" Isakan tangis Gendhis terdengar juga akhirnya.
" Ini jelas kemauanmu Gendhis, kamu sengaja datang ke dukun itu untuk menggugurkan janin itu bukan?"
" Aku mau menikah besok Broto! dan hanya ini yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa hidup tanpa mas Panji, mengerti kamu!"
" Heleh... mantan-mantan aku juga dulu sering bilang gitu, aaa... sayang, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, jangan tinggalkan aku, tapi kenyataannya sampai sekarang mereka masih hidup, masih bisa ketawa-ketiwi sesuka hati, mulut orang itu tidak bisa dipercaya!" Broto bahkan mempraktekkan gaya bicara mantannya dengan faseh.
" Tapi tidak denganku Broto, aku sungguh-sungguh mencintai mas Panji, jika kamu tidak merusakku malam itu, mungkin aku sekarang orang yang paling bahagia karena besok akan menikah!"
" Ckk... apa sih kelebihan dia daripada aku?"
" Kamu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dia!"
__ADS_1
" Cih... kalau cuma ketampanan, aku jelas lebih terbukti, ratusan perempuan menginginkanku, kalau cuma harta, aku juga punya!"
" Dia lebih punya moral daripada kamu!"
" Maksud kamu moral yang bagaimana? aku juga berpendidikan tahu, nilaiku juga selalu bagus, dulu saat kuliah aku lulus sebagai sarjana kedokteran Camlaude asal kamu tahu, hanya aku saja yang malas melanjutkan sekolah dibagian spesialis, tapi kalau kamu menginginkannya aku bisa melanjutkan sekolah lagi!"
" Tapi aku tidak mencintaimu Broto!" Gendhis langsung memukul dadaa bidang pria itu.
" Halaah... kenyataannya nggak pake cinta juga bisa jadi anak!"
" Itu karena kamu memperko saku!"
" Siapa yang memperko sa, aku tidak memaksamu saat itu, kamu yang pasrah diam saja, salah sendiri kamu tidak menolakku!"
" Gimana caranya aku bisa menolak, kalau kamu meracuniku!"
" Hehe... siapa suruh kamu menghinaku!"
" Siapa yang menghinamu!"
" Kalau tidak bercermin, bagaimana orang bisa tahu?"
" Aaaaaaa... BROTO!"
" Iya sayangkuh."
" Dih!"
Terjadi perdebatan sengit diantara mereka, namun Broto selalu bisa mengimbanginya dengan gaya bicara yang selekeh tanpa beban.
" Sudahlah Ndis, kalau cuma cinta gampanglah itu, nanti seiring berjalannya waktu kamu juga bisa mencintaku, aku ini pria multitalenta, bisa apa saja, bahkan membuat kamu yang sekarang membenciku bisa berbalik mencintaiku!"
" Cih... percaya diri sekali kamu!"
" Beri aku waktu, aku akan membuktikannya."
" Tapi aku besok mau menikah Broto!"
" Aku akan jujur kepada calonmu itu, asal kamu tidak menjebloskan aku ke penjara saja, tapi kalau kamu mengingkarinya, aku bisa lebih gila daripada ini."
" Maksud kamu!"
" Hmm... adekmu itu manis juga, sepertinya dia tertarik denganku, hehe!"
" Broto! jangan main-main kamu, jangan mengusik adikku!" Dia tidak bis amembayangkan jika Ratu akan bernasip sama dengannya.
" Gendhis, asal kamu mau menurut denganku, aku tidak akan pernah mempermainkanmu, kalau lelakimu itu memang benar-benar mencintaimu, dia seharusnya bisa menerima kamu apa adanya."
" Kalaupun mas Panji bisa menerimaku, kamu pikir keluarganya akan menerimaku dalam keadaan begini?"
Apalagi saat mengingat eyang, Gendhis merasa semakin stres saja, bahkan dulu seolah Eyang tidak begitu ikhlas merestui hubungan mereka.
" Sudah aku bilang berapa kali, aku mau menerimamu jika dia menolakmu!"
" Tidak segampang itu Broto, apa kamu tidak memikirkan perasaanku?"
" Aku tidak perduli, orang aku juga mau bertanggung jawab kok, kamu saja yang menolakku!"
" Broto!"
" Iya sayang... kita pulang yuk?"
" Nggak mau!"
" Gendhis!"
" Aku tidak mau bayi ini!" Gendhis langsung memberontak dan ingin keluar dari mobil Broto.
" Hei... Gendhis!" Broto langsung memeluk tubuh Gendhis yang memang terlihat mulai berisi itu.
" Aku benci kamu Broto! aku benci kamu!" Dia memukuli tubuh Broto sekuat yang dia bisa.
" Iya sayang, kamu boleh membenciku, tapi biarkan anak kita tetap hidup, aku memang bukan orang yang baik, namun jika kamu membunuh bayi itu, kamu bahkan menjadi orang yang lebih buruk dariku, jadi aku titip dia ya, kalau kamu tidak suka biar aku yang merawatnya jika dia besar nanti."
" Aaaaaaaaaaa.... mas Panji, maafkan aku, hiks.. hiks..!" Gendhis semakin histeris saja.
" Iya, dimaafkan!" Sahut Broto dengan cepat.
" Kamu bukan mas Panji!"
" Kalau nggak ada dia kenapa kamu teriak-teriak memanggilnya, kamu ikut saja denganku, kalau perlu aku yang akan menikahimu sekarang!"
" Aku tidak mau menikah denganmu!"
" Kalau tidur denganku mau? aku pengen jenguk si dedek kita, kira-kira lagi ngapain dia didalam sana ya?"
" BROTO SUSENO!"
Broto seolah tidak perduli dengan kemarahan Gendhis, dia malah dengan asyiknya mengusap perut Gendhis yang memang sudah padat berisi, walau belum terlalu terlihat menonjol.
Fisik memang bisa membuatmu senang dikala menatapnya, tapi tak jarang hal itu membuatmu tergila-gila, lalu mengesampingkan akhlak dan agama, lantas salah pada akhirnya dan perpisahan adalah solusi satu-satunya.
Oleh karena itu, berhati-hatilah, menikah bukan hanya perkara Cinta dan Rupa, tapi tentang ibadah seumur dunia, sampai dia bisa membuatmu bahagia seHidup-seSyurga bersama.
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN UNTUK EPISODE YANG PANJANG INI BESTIE😊