Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)

Hasrat si JODI (Jomblo Ditinggal Mati)
49. Perang Dingin


__ADS_3

...Happy Reading...


Rasa kesal?


Itu sudah pasti Panji rasakan saat ini, bagaimana tidak? Dia ibarat menjadi seorang pendaki, melintasi dua gunung dengan jalan yang terjal, melewati lembah yang berliku, bahkan di aliri air yang bisa membuat langkahnya meleset ke kanan maupun ke kiri dan harus bisa mengatur keseimbangan agar bisa berjalan di jalur yang tepat, hingga akhirnya dia bisa menyentuh pintu Surga Dunia.


Namun saat dia baru mencicipi aroma Surga kenik matan dan disaat angan-angannya terbang melayang ke Angkasa, tiba-tiba datang petir yang menyambar-nyambar langkahnya, disertai hujan badai yang membuat dia jatuh terpental, sebelum kata Ahh keluar dari mulut Panji.


Mau kembali memaksa Ratu pun Panji sudah tidak punya muka, saat mengingat sopir speed boat itu hampir saja memergoki dirinya dengan istri nakalnya itu sedang melakukan proses produksi di ruangan belakang.


Hingga akhirnya, dengan langkah gontai Panji memilih pindah duduk ke bagian tengah setelah membenahi celananya dan juga menidurkan Singa yang sudah seperti roti panggang setengah mengembang karena oven didalam tubuh Panji tiba-tiba dihentikan aliran listriknya.


Dia meninggalkan Ratu yang malah menjadi sedikit iba, karena melihat tampang suaminya yang tidak bisa lagi digambarkan.


" Astaga, apa tendanganku begitu kuat ya, apa aku sudah menyakiti tubuhnya?" Ratu menjadi sedikit merasa bersalah, dia sebenarnya hanya ingin mendengar tiga kata itu saja, karena menurut dirinya, melakukan seperti itu harus atas dasar cinta, kalau tidak kebelakangnya dia sendiri yang akan terluka, seperti nasip kakaknya.


" Sebenarnya tadi enak banget sih, kedua lututku bahkan hampir lemes dibuatnya, selama ini aku belum pernah merasakan sensasi gila seperti itu, tapi... Mas Panji kan belum cinta sama aku? Sia-sia dong aku melakukan hal itu dengannya, apa jangan-jangan dia menganggap aku kak Gendhis saat melakukan itu? Hiks... I'm so sad."


Setelah memakai kembali pakaian yang tadi sempat dilempar Panji, Ratu memilih tidur meringkuk sambil mengumpat suaminya, karena saat dia ingin beranjak berdiri, dia sedikit merasakan nyeri di bagian pusat intinya.


" Tapi aku sudah tidak perawan sekarang, aduh... kenapa aku bodoh sekali? Kalau nanti mas Panji ninggalin aku dan kembali sama kak Gendhis gimana?" Rasa penyesalannya baru muncul belakangan.


" Aaaaaa... Kenapa tadi aku nggak kepikiran sampai sana, ini semua salah pak dosen gilak itu, aku terlena dengan kedua jari nakalnya itu, awas saja nanti kalau dia pergi ninggalin aku, akan aku patahkan kedua jari tengahnya itu."


Ratu langsung mengeratkan giginya, merasa menyesal sendiri dengan dirinya yang mudah terlena dengan kerajinan tangan suaminya, yang membuat dirinya lupa daratan.


Bahkan setelah mereka sampai di dermaga, pasangan suami istri ini masih perang dingin, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka.


" Tuan dan Nona, kita sudah sampai, silahkan turun." Ucap asisten sopir speed boat itu dengan sopan.


" Baik pak, terima kasih untuk semuanya dan ini tips untuk bapak dan rekan bapak." Panji menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ke saku kemeja asisten sopir itu, karena merasa tidak enak hati juga karena mereka sedikit menggangu konsentrasi sopir itu.


" Wah... Sebenarnya tidak perlu repot-repot tuan, tapi terima kasih banyak tuan, semoga rejeki tuan double dan bisa langsung top cer juga rejeki anaknya." Ucapnya kemudian.


" Top cer?" Panji langsung menaikkan kedua alisnya.


" Owh.. Hehe... Maksudnya rejeki kan bisa datang dari arah mana saja gitu, bukan hanya berwujud uang saja kan."


Astaga, jadi mereka beneran tau kalau aku sedang jebol gawang dibelakang? Aish... Gara-gara Ratu ini, sembarangan aja nendang orang, jadi ketahuan kan sekarang, awas aja kamu bocil nakal!


" Emm... Apa di speed boat ini ada CCTV nya?" Tanya Panji yang langsung waspada, apa kata orang kalau sampai dia viral pecah telor hanya disebuah kapal, walau memang mewah sebenarnya tapi kan kurang etis pikirnya, apalagi ada oang lain disana.


" Tidak ada tuan, karena ini speedboat VIP pelayanan khusus, jadi kami sengaja tidak memasang kamera CCTV demi kenyamanan pelanggan, jadi tuan dan nona bisa tenang." Asisten sopir itu seolah bisa membaca pikiran Panji dalam diam.


" Owh.. Bukan begitu maksud aku tapi..."


" Paaaak... Eh... Mas Panji!"


Belum sempat Panji meneruskan ucapannya suara istrinya sudah terdengar memekakkan telinga dari belakang sana.


" Apalagi itu si bocil nakal!" Walau kesal, namun Panji langsung bergegas menemui istrinya.


" Mas?" Terlihat Ratu berjalan sambil memegangi dinding disana.


" Kamu kenapa?" Tanya Panji yang langsung berjalan mendekat.


" Tanggung jawab ini, masih perih, susah buat jalan!" Rengek Ratu dengan wajah memelas.

__ADS_1


" Kurang tanggung jawab apalagi, bukannya aku sudah menikahimu?" Ledek Panji yang sebenarnya sedang menahan tawa, wajah Ratu memang tidak berbohong kalau dia merasa tidak nyaman di area selang kangan.


" Bantu aku jalan, mas ini nggak tanggung jawab banget, sudah menyakiti aku mau pergi begitu saja, mas anggap aku ini apa? Pelarian semata begitu?"


Ratu langsung mengeluarkan unek-uneknya sedari tadi.


" Kamu ini ngomong apa? Siapa suruh tadi baru setengah kopling kamu nendang mas, begini lah resikonya!" Panji langsung mengambil tas Ratu yang masih teronggok disana.


" Emang kalau dilanjut jadi nggak sakit lagi?" Tanya ratu dengan polosnya, karena memang dia tidak punya pengalaman apapun akan hal itu.


" Pfffttthhh." Panji langsung menahan senyuman sambil melengos.


" Kalau begitu lanjutin aja deh mas, daripada aku jalannya kayak orang selepas sunat begini, kan malu aku saat dilihat orang nantinya!"


Ratu bahkan langsung kembali membuka sweaternya dan bersiap membuka kancing bajunya.


" E.. Eh.. Jangan disini Ratu, nanti dilihat orang!" Panji langsung kembali memakaikan sweater milik istrinya.


Kalau saja mereka masih didalam perjalanan, dengan senang hati Panji pasti akan melakukannya, namun mereka sudah sampai di Dermaga pikirnya, tidak mungkjn dia lanjut mantap-mantap, sedangkan dua sopir itu menunggu di luar.


" Apa kami perlu turun duluan tuan dan nona, biar kalian bisa lanjut satu putaran lagi?"


Ternyata asisten sopir itu masih mematung disana dan menjadi pendengar setia.


Ya ampun Ratu.. Hilang sudah muka suamimu ini didepan sopir itu ,hanya karena semua ulah gilamu itu!


Hap!


" Tidak perlu pak, kami sudah mau turun!"


" Mas... Aku mau pulang ke rumah ibuk ya?" Pinta Ratu saat mereka sedang menunggu sopir yang Panji suruh menjemputnya.


" Nggak boleh!" Jawab Panji dengan cepat.


" Aku mau lihat kak Gendhis loh, masak gitu aja nggak boleh? Ini semua kan gara-gara kita pak!"


" Ya sudah, tapi nggak usah menginap disana."


" Ya elah.. sudah jam berapa ini? Masak cuma sebentar, itu rumah aku dari kecil loh mas!"


" Setelah menikah, seorang wanita itu seperti tamu dirumah orang tua sendiri, dan rumah suami adalah tempatmu pulang, mengerti kamu!"


" Dasar pak dosen killer, egois, mau menangnya sendiri!" Umpat Ratu dengan kesal.


" Kamu panggil aku pak lagi?" Dia tidak suka saat mendengarnya, karena hubungan mereka terkesan jauh jadinya.


" Memang itu yang pantas, karena bapak emang sudah tua, aku itu terlalu muda buat bapak!"


" Woah... Beraninya kamu menyebut suami kamu ini tua? Lihat saja, aku nggak izinkan kamu pulang kerumahmu!"


Panji langsung masuk kedalam mobilnya saat sopir di rumahnya sudah datang menjemput dirinya.


" Mau naik nggak!" Panji membuka kaca mobilnya saat Ratu masih berdiri memaku ditempat, dia enggan mengikuti Panji, karena dia merasa tidak adil saat tidak diizinkan pulang ke rumahnya sendiri.


" Nggak!"


" Yakin?"

__ADS_1


" Aku bisa pulang sendiri!" Ucapnya dengan penuh keyakinan!"


" Emang kamu punya duit?"


" Cih... Kamu kira aku miskin? Sory ya.. Aku punya blackcard asal bapak tahu!" Ratu langsung merasa tidak terima, karena sedari kecil hidupnya memang selalu bergelimangan harta.


" Owh ya? Mana?" Ledek Panji dengan senyum liciknya.


" Eh... Mana tas ku? Dompetku? Ponselku?" Ratu langsung kelabakan saat dia baru tersadar kalau tidak ada benda apapun yang dia bawa.


" Sana pulang jalan kaki aja kamu, kalau enggak naik angkutan umum, itupun kalau kamu punya uang receh, karena semua uang, kartu dan ponselmu ada disini, bye istriku tersayang, haha!"


Panji langsung menutup kembali jendela mobilnya sambil tertawa dan meninggalkan Ratu yang mulutnya sudah terlihat mengaga.


" Aaaaaaaa... Dasar suami gendeng! Tega-teganya dia ninggalin gue beneran, ini dermaga mana ya?" Rengek Ratu yang langsung kebingungan sendiri.


" Haduh... Mana panas, laper lagi, awas aja kamu pak, tidak akan aku biarkan kamu menyentuhku walau hanya secuil aja, apalagi sampai enyen!" Dia bahkan teriak-teriak karenanya, tanpa menghiraukan ada orang yang melihatnya.


Rasa dongkol dari diri Ratu langsung mengumpul menjadi satu, saat mobil suaminya sudah jauh dari pandangan.


" Tapi masak jalan kaki sih? Buat jalan aja masih nggak nyaman gini?"


" Dih... Punya suami ngeselin amat sih, trus gue kemana ini?"


Ratu langsung berjalan tak tentu arah, mencari tempat yang teduh sambil mencari bantuan, walau dia tidak begitu yakin, karena jaman sekarang hidup tanpa uang sangat sulit, apalagi semua harga barang kebutuhan hidup naik, membuat uang kecil seolah sudah tidak berarti lagi.


Dugh!


Brak!


Saat Ratu menoleh kanan dan kiri untuk mencari seseorang yang bisa dia mintain pertolongan, ternyata tanpa sadar kakinya menabrak sebuah batu dan membuat dia terpeleset dan jatuh ke lantai yang cukup kasar.


" Aaaaaaaaa... Ibuk, aku jatuh, sakit ini buk!" Ratu sontak merengek memanggil ibunya, saat melihat da rah di lututnya sedikit mengucur karena lantai kasar disana.


" Aduh... Gimana ini, kenapa aku sial sekali hari ini, sudah sakit di dadaa, sakit di selang kangan bahkan lutut pun ikut terasa sakit dan berdarah, ya Tuhan... Apa aku hanya Engkau ciptakan ke dunia ini untuk tersakiti?"


" Hiks.. Hiks.. Apa nggak ada orang yang mau membantuku?"


Akhirnya Ratu terduduk lemas di jalanan sambil meniup-niup lututnya yang masih mengeluarkan da rah.


Grep!


Cup


" Makanya jangan bandel jadi orang, sudah sering aku jadi Endomie, tapi belum juga jadi seleramu!"


Tiba-tiba ada bayangan hitam seseorang, yang langsung memeluk tubuh Ratu dari belakang dan menghujani kecvpan di area wajahnya, seolah membantu mengusap air matanya yang sudah jatuh berhamburan membasahi pipi Ratu dengan bibiirnya.


Dan pada akhirnya, setiap rasa akan berubah, tergantung bagaimana seseorang memperlakukan kita.


Hubungan mencintai dan memiliki adalah berbeda, mencintai cukup mencintai, kepastian bisa dimiliki tidak tersedia.


Biarkan dirinya tumbuh dan bahagia seperti seharusnya, jikalau akhirnya perasaan itu sama, semoga hadir karena dirinya juga menginginkannya bukan sebab keterpaksaan.


Sebelumnya othor mon maap ya, kemarin nggak bisa update, sekarangpun update kesiangan, karena saudara othor ada yang meninggal dunia.


Tapi like, vote dan hadiahnya tetap jangan lupa juga loh ya? Big huge buat kalian readersku terrrrsegalanya.

__ADS_1


__ADS_2