
...Happy Reading...
Tanpa terasa waktu cepat sekali berlalu, hari demi hari terlewati begitu saja, tak ada yang berubah, apapun yang terjadi pada diri Gendhis, bumi masih akan terus berputar pada porosnya, tanpa memperdulikan luka dihatinya, ataupun kesengsaraan di hidupnya karena kejadian beberapa minggu yang lalu.
" Ratu, hari ini ada live musik loh di Kafe langganan kita, mampir yuk sudah lama sekali kita nggak nongkrong bareng disana?" Melody langsung merangkul baru sahabatnya saat mereka sudah menyelesaikan kuliah hari ini.
" Ckk... sory Bestie, kayaknya nggak bisa deh?" Dengan wajah yang lesu dia melirik ke arah Melody.
" Tumben, jadi anak rumahan elu sekarang?" Ledek Melody saat melihat sahabatnya yang akhir-akhir ini memang jarang mengajaknya nongkrong bareng di luar, padahal dulu setiap akhir pekan Ratu yang paling heboh duluan.
" Bukan begitu, tapi kak Gendhis akhir-akhir ini sering meriang, kadang pusing lah, demam, mulut terasa pahit, pokoknya ada-ada saja yang membuat ayah dan ibuku khawatir."
Bahkan minggu-minggu ini Gendhis sering izin tidak berangkat ke rumah sakit, bahkan pihak rumah sakit sampai kuwalahan mencari dokter pengganti, karena dokter andalannya sering tidak masuk, namun mau bagaimana lagi, karena kesehatan itu yang lebih utama, orang tua Gendhis pun tidak mau ambil resiko atau mengorbankan putrinya demi kelancaran aktifitas rumah sakit.
" Emang lagi musim pancaroba kan, sekarang banyak yang sering meriang, apalagi meriang karena jomblo."
" Apa hubungannya meriang sama jomblo Mel?" Ratu langsung menyenggol lengan sahabat gilanya itu.
" Meriang, merindukan kasih sayang, hehe."
" Bahaha... kelamaan jomblo akut sih loe, waah... bahaya tuh, kecerdasan elo bisa-bisa jadi terkontaminasi nantinya!"
" Enak saja, akademi tetap harus berjalan lancar seperti biasanya dong, bisa kena sembur nanti gue sama bokap nyokap gue!" Karena Melody adalah anak tunggal jadi tumpuan keluarganya nanti hanyalah Melody saja.
" Padahal ini sudah mendekati hari pernikahannya loh, tapi kenapa malah jadi sering tumbang begini? kan aku juga yang repot, disuruh ini itu sama ibu, apa-apa nyuruh gue, buat undangan, nyari WO pun gue loh, udah kayak anak tiri aja gue, yang mau nikah siapa yang ribet siapa kan." Umpat Ratu yang sering ngedumel kalau sudah mendapatkan titah dari Gendhis dan kedua orang tuanya.
" Dokter ternyata bisa sakit juga ya?" Celoteh Melody.
" Dokter juga manusia kali sob, punya rasa punya hati jangan sama kan dengan pisau belati!" Seperti biasa, dia langsung saja bersenandung ria sesuka hatinya.
" Kecapekan kali kak Gendhis, dia kan tipe wanita gila kerja." Sedikit banyak dia tahu, karena setiap hari Melody selalu bersama Ratu.
" Dari dulu juga dia gila kerja, tapi seger aja tuh badan, emang akhir-akhir ini dia sering bergadang sih, mungkin kurang tidur, syndrome mau nikah kali ya cuy?"
" Masak gitu, mau nikah seharusnya happy dong?"
" Entahlah, aku pun pening lihatnya!"
" Sayang sekali, padahal lama kita nggak konser bareng, rindu juga duet sama penyanyi kafe itu."
" Ckk... ntar kalau kak Gendhis sudah dibawa sama tuh dosen killer, baru bebas lagi gue kayak dulu lagi, sekarang gue harus banyak-banyakin sabar dulu."
" Tapi masih siang begini gaes, masak udah mau pulang, besok akhir pekan juga loh?"
" Kalau begitu maen ke rumah gue aja yok, kita nonton drakor terbaru, ada yang bagus loh."
" Hmm... boleh juga deh, daripada boring dirumah jam segini, tapi kita beli rujak didepan kampus dulu yok, buat cemilan nanti."
" Beres deh, ntar kita beli yang banyak."
" Asiap boskuh!"
Akhirnya dua kantong kresek mereka masukkan kedalam mobil Ratu, dari Rujak buah, siomay, cilok, cimol, cilor, cireng, tahu walik, tahu gejrot, bakso aci, bakso bakar, sosis bakar dan masih banyak lagi, semua mereka beli dalam dua porsi.
" Eh... kayak kenal sama tuh mobil?" Melody langsung mengamati mobil yang sudah terpakir dihalaman rumah Ratu.
" Dosen killer lah tuh, tiap pulang dari kampus pasti mampir dia kesini, walau cuma sebentar."
" Itu sudah ada calon suaminya yang nemenin, masak elu juga nggak dibolehin nongkrong dulu sebelum pulang?"
" Namanya juga kak Gendhis, dia masih jaim lah mau nyuruh-nyuruh calon suaminya, jadi kalau mau ngapa-ngapain yang dicari juga pasti gue, emang ngeselih tuh kakak gue atu-atu nye!"
" Mau kesel, sebel pun kamu nurut juga sama dia."
" Mau bagaimana lagi, kami cuma dua bersaudara, ayoklah kita pulang, apapun itu yang penting bisa tetep nonton oppa-oppa Korea yang tampannya kebangetan itu."
__ADS_1
Begitulah Ratu, walau dia memang sering protes dan banyak bicara, sebenarnya dia memang sangat menyayangi kakak wanitanya itu, mulutnya saja yang bawel, tapi hatinya penyayang, karena sedari kecil yang sering menemaninya dirumah cuma kakaknya itu, disaat kedua orang tuanya tetep sibuk bekerja dirumah sakit.
" Kak... aku pulang, mau dianterin ke kamar mandi nggak?"
Seperti biasa, Ratulah yang akan menemani kakaknya ke kamar mandi, karena pernah hari itu kakaknya demam tapi maksa ke kamar mandi sendiri malah pingsan, jadi sejak saat itu kalau kakaknya sakit harus ada Ratu yang menemaninya, begitulah titah dari kedua orang tuanya.
" Iya dek, sini buruan!"
" Awas pak dosen, ini urusan wanita, jadi bapak keluar dulu."
" Ya sudah, mas tunggu dibawah ya sayang?"
" Iya mas."
Ratu hanya menemaninya saja, Gendhis hanya terlihat lemas saja, badannya juga tetap seger, dia masih bisa melakukan apa-apa sendiri, cuma orang tuanya saja yang terlalu khawatir, karena dia adalah salah satu generasi penerus rumah sakit, jadi harus dijaga baik-baik, karena Ratu sama sekali tidak berminat berkecimpung dalam dunia medis.
" Mel... ayo kita mulai nonton, kak Gendhis udah beres nih, biarkan dia pacaran, kita nonton aja berdua."
" Hmm... bau apa ini?" Gendhis yang ikut turun dengan ratu langsung mengendus-endus sesuatu dari sana.
" Owh... itu palingan juga aroma jajanan kita, buat temen nonton, emang kakak mau?" Ratu langsung menawarkan saja, karena dia sengaja beli banyak tadi.
" Mauk!" Jawab Gendhis dengan mantap, padahal biasanya dia paling bawel kalau soal makanan, apalagi kalau Ratu sudah jajan sembarangan.
" Nggak boleh, itu makanan dari pinggir jalan kan Ratu." Panji langsung menahan tubuh Gendhis saat dia ingin mendekat kearah mereka.
" Emang kenapa kalau dipinggir jalan, ini enak loh pak Dosen?"
" Mas, aku mau itu, sepertinya memang enak loh." Rengek Gendhis dengan manja.
" Mau enak juga tetep nggak boleh, kamu masih dalam masa pemulihan sayang, jangan makan jajanan sembarangan, apalagi dari pinggir jalan, ke-higienisannya kan tidak terjamin, apalagi banyak debu disana dan itu makanannya berminyak juga kan."
" Yaelah... ribet amat dah! begini nih kalau mau nikah sama dosen, kebanyakan teori, kalau begitu kita sikat aja berdua Mel!" Ratu tidak menggubrisnya, dia langsung saja mencomot sana-sini jajanan diatas meja.
" Ngomong apa kamu Ratu!" Panji langsung melotot kearah Ratu.
" Dill to pagel hai... dill diwana hai... Tere liyee...! aku nyanyi loh tadi pak." Ratu pura-pura bodo saja menanggapinya.
" Awas kamu kalau mengumpat bapak, aku sumpahin nanti jodohmu juga dosen!"
" Dih... amit-amit, kecuali kalau pak Arga yang mau mendua, aku siap bersanding dengannya!" Jawab Ratu dengan mantap, entah mengapa jiwa bar bar nya langsung muncul ketika mengingat satu-satunya dosen favoritnya itu.
" Hahaha... dasar wong edan!" Melody langsung ikut terkekeh dengan jawaban sahabatnya itu.
" Kalau yang itu boleh nggak mas?"
" Apa itu?"
" Rujak buah ini pak." Jawab Melody yang juga sedang memakannya.
" Boleh ya mas, dari kemarin mulutku ini rasanya pahit, makan apapun seolah tidak terasa, jadi pengen yang seger-seger."
" Kalau buah boleh deh." Panji langsung menggangukkan kepalanya, padahal disana yang profesinya sebagai dokter Gendhis, bukan Panji.
" Yeaay... makasih ya mas." Karena terlalu senang, Gendhis bahkan langsung melompat dan memeluk Panji didepan kedua mahasiswanya.
" A e lah... kalau mau terima kasih itu sama gue, orang yang beli rujak kan gue, bukan calon suami kakak itu keles!"
Pyak... pyak...!
Tatapan tajam yang mirip seperti burung pelatuk itu langsung kembali terarah ke Ratu, membuat nyalinya langsung menciut seketika.
" Ssst... Ratu, kakak loe doyan apa ngidam itu?" Melody sampai melongo melihat Gendhis yang terlihat lahap sekali memakan rujak buah itu.
" Ngidam gundulmu itu, dia emang lagi nggak selera makan akhir-akhir ini, jadi biarkan saja, yang penting ada yang bisa dia telan, kita makan rujaknya satu bungkus berdua saja, besok kita beli lagi."
__ADS_1
" Bukan itu masalahnya, tapi itu pasti pedes banget."
" Masak sih? kak... pedes banget nggak rujaknya?" Ratu langsung menanyakan hal itu kepada kakaknya, karena memang tidak ada ekspresi kepedasan dari wajah cantik kakaknya itu.
" Enggak kok, ini enak, seger banget, dimana kalian beli, kakak besok nitip lagi ya?"
" Iya, tuh kan...nggak pedes, kakak gue juga pasti nggak doyan kalau terlalu pedas."
" Tapi yang satu tadi aku pesen yang pedes level sepuluh loh Ra?"
" Lupa kali abangnya." Ratu masih tidak percaya.
" Nggak mungkin, orang aku tungguin kok, aku lihat sendiri abang rujak itu ngulek cabenya banyak, besar-besar, mana cabai setan lagi." Melody masih kekeh dengan ingatannya, karena dia yang turun dari mobil dan membelinya, Ratu hanya menunggu di mobil saja tadi.
" Sayang, suapin dong, mas mau cobain rujaknya."
Panji yang mendengar umpatan Melody dengan Ratu, jadi ikut penasaran, akhirnya dia ingin memastikan sendiri.
" Mas mau? aak dulu?" Gendhis langsung menyuapkan satu potongan buah yang dilumuri bumbu rujak.
Hap!
Buuuuurrrrr!
Panji yang memang tidak suka makanan pedas langsung menyemburkan rujak itu bagai naga yang mengeluarkan kobaran apinya.
" Sayang, jangan dimakan, ini pedes banget!" Panji langsung mengambil rujak dari tangan Gendhis dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah.
" Enggak kok mas." Gendhis masih mencoba menahannya.
" Masak sih, sini aku cobain juga, orang punyaku ini enak, nggak pedes!" Ratu pun ikut terheran.
" Ratu, kamu mau meracuni orang apa bagaimana, kakakmu ini masih dalam masa penyembuhan loh!" Panji langsung marah-marah tidak jelas, padahal Gendhis saja terlihat santai-santai saja.
" Orang kakak yang mau kok, kenapa jadi aku yang disalahin."
" Sudahlah mas, nggak pedes kok, aku nggak apa-apa." Gendhis pun langsung membela adiknya.
" Tuh... kak Gendhis aja santai, sini deh kak aku cobain dulu."
" Nggak papa dek, enak kok tadi, kakak suka kok, sini mas aku mau lagi."
" Nggak boleh sayang, bahaya!"
Buuuuuur!
Ratu yang penasaran dan mencoba rujak itu pun langsung ikut menyemburkan rujaknya, bahkan tidak ada lagi rasa segar seperti yang kakaknya bilang, karena buah itu seolah hanya terasa cabe saja.
" Rasain kamu!" Panji langsung tersenyum miring saat melihatnya Ratu juga merasakan apa yang dia rasakan.
" Gila Mel... ini sih beneran pedes banget, beda ama yang satu bungkus kita makan berdua tadi?" Ratu langsung menenggak air mineral satu botol baru bisa berbicara.
" Kan sudah gue bilang kalau yang satu pedes level sepuluh, biar bisa nangis kalau nonton film Korea, ikut mendramatisir gitu loh!"
" Nggak waras luu, tapi kok kak Gendhis bilang enak ya? dia kan biasanya juga nggak suka makanan yang terlalu pedas, nggak sehat katanya, tapi kenapa dia tadi malah makan dengan lahapnya, sebenarnya apa yang terjadi dengan kak Gendhis?"
Apa kak Gendhis beneran nyidam? tapi kapan mereka buatnya? perasaan mereka berdua kalau pacaran sehat, diruang terbuka terus, lagian juga nggak mungkin kak Gendhis dan pak Panji melakukan hal itu sebelum ada kata SAH diantara mereka?
Ratu dan Melody hanya bisa melongo, dengan lamunan mereka masing-masing, saat melihat Gendhis yang masih mencoba merayu calon suaminya, agar kembali boleh menghabiskan rujak yang Panji ambil dengan paksa tadi.
Seperti Langit, hidup juga sering tertukar warna. Tak selamanya memberi warna yang kita sukai, kadang ia perlu menjadi kelabu hitam. Namun, disetiap warnanya pasti punya keajaiban untuk kita miliki.
Jika kita bisa menikmati warna langit, mengapa kita tidak bisa menikmati hidup ini dengan baik, sedangkan kita butuh hidup yang berwarna untuk kita nikmati.
Ayo... ayo... tunjukkan jempol kalian gaes😊
__ADS_1