
...Happy Reading...
Menjadi seseorang yang penyabar memang sangat sulit, namun sesuatu yang indah memang butuh perjuangan. Bahkan malam itu pun berlalu begitu saja, tanpa ada pertempuran fanas yang sangat Broto inginkan.
Dulu saat Broto masih belum menikah, kalau dia ingin menyalurkan ha srat yang terpendam mudah saja, banyak wanita yang antri ingin disawer olehnya.
Namun setelah menikah Broto lebih memilih sabar menanti, karena bahkan sampai saat ini dia belum bisa menakhlukkan hati seorang Gendhis dan itu seolah menjadi tantangan tersendiri untuknya.
Siang ini Gendhis dan Broto sengaja membuat acara syukuran rumah barunya, dia hanya mengundang keluarga besarnya dan juga tetangga didekat rumahnya saja.
Rentetan hidangan makanan sudah tersaji disana, hampir semua keluarga yang datang memuji kemewahan rumah yang Broto pilih kali ini.
" Abaaaaaangggg!"
Ratu yang baru datang langsung berteriak saat melihat Broto menyambut mereka didepan, padahal Ratu baru saja turun dari mobil.
" Ratu, jaga sikapmu!"
Panji langsung menarik baju Ratu dari belakang, dia paling malas jika Ratu sudah terlihat akrab dengan Broto.
" Yaelah yank... Cuma manggil doang loh!"
" Biasa aja manggilnya, nggak usah keganjenan gitu kamu!" Panji langsung melotot kearahnya.
" Iya... Tapi lepas dulu tangannya, aku jadi kayak kucing aja dipegangin kayak gitu." Ratu jadi malu sendiri saat saudara mereka yang lainnya menertawakan dirinya.
" Akhirnya datang juga kamu, acara sudah mau dimulai ini?" Sapa Broto yang hanya memandang Ratu saja tanpa mau melirik Panji yang sudah berwajah masam.
" Hehe... Biasa bang, kalau akhir pekan begini aku banyak lemburan, bahkan pagi pun masih ngurusin burung peliharaan, mana maunya ngempeng mulu lagi."
Pletak!
Yang merasa dibicarakan langsung tidak terima, Panji langsung menyentil telinga Ratu dengan kesal, seolah memberikan peringatan kepada istrinya agar tidak sembarangan saat berbicara.
" Hebat juga burung peliharaan kamu ya, punyaku sih perkasa juga, maunya bersiul terus, tapi sayang, sangkarnya belum siap, jadi ya... Mau nggak mau harus sabar menanti deh, dari pada dipaksakan nanti bisa lepas, susah nyari yang model begituan."
Walau tanpa setingan terlebih dahulupun Broto bisa langsung nyambung saat berbicara dengan Ratu, itu mengapa mereka sering klop kalau sedang bersenda gurau, seolah keduanya bisa mengimbangi satu sama lain.
" Bahaha... Sayang sekali bang, sabar aja deh, banyakin ritual aja, siapa tahu besok manjur kan?" Entah dapat ilmu dari mana sang Ratu, sehingga dia bisa paham bahasa kiasan seperti itu.
" Kalian ini ngomongin apa sih?"
Gendhis yang tahu nya cuma suntikan dan alat medis saja, mencoba mencerna dan mengartikan pembicaraan mereka namun gagal, jadi dia memilih bertanya saja.
" Nggak papa, itu adekmu punya hobi baru suka pelihara burung sekarang, mau buka kebun binatang sepertinya."
" Owh ya? Sejak kapan kamu suka burung dek?" Tanya Gendhis dengan polosnya.
" Hah? Owh... Baru-baru ini aja kak, hehe.." Ratu hanya bisa menggaruk rambutnya sendiri yang sebenarnya tidak gatal.
Sedangkan Panji hanya bisa menghela nafasnya sambil geleng kepala melihat dua manusia yang mulutnya seolah sudah blong remnya, seakan urat malu mereka sudah putus ditengah jalan.
" Kamu sudah baikan sekarang? Jangan terlalu capek, kamu duduk saja, biar aku yang menyambut tamu."
Setelah kejadian semalam, Gendhis merasa tidak enak hati, apalagi saat Broto memilih tidur di ruang tamu.
Sebenarnya Gendhis tidak tega, namun dirinya masih belum bisa diajak memadu kasih dengannya, karena kejadian hari itu yang berhasil merusak semua impiannya jadi terbayang kembali.
Dia ingin melupakan, tapi saat lampu padam tiba-tiba kebencian itu kembali muncul di dirinya dan membuatnya menjadi takut.
" Hmm... Sudah lumayan, tapi memang aku nggak kuat berdiri lama-lama."
" Ya sudah kamu istirahat saja di kamar, mereka pasti akan mengerti."
" Baiklah."
" Mau aku bantu?" Broto langsung menawarkan diri.
" Tidak perlu, kamu sambut saja tamu yang lainnya, nggak enak nanti kalau pemilik rumah nggak kelihatan." Gendhis pun langsung menolaknya walau dengan nada halus.
" Okey, kalau butuh apa-apa panggil aku atau yang lainnya."
" Hmm.."
Broto tetap bersikap seperti biasa, walau dia kesal namun apa boleh buat, semua akibat juga pasti ada sebabnya dan karena Gendhis seperti itu gara-gara kelakuan dirinya, jadi Broto bisa apa selain menerima dengan lapang dada.
" Cie... Udah baikan sekarang? Sepertinya ada kemajuan?" Ledek Ratu yang membuat Panji langsung melirik kearahnya.
Dia memang berdiri didekat Ratu, namun dia memilih memutar arah pandangan, karena tidak sudi ngobrol bareng rivalnya dulu.
Padahal sebenarnya dia kepo juga dengan pembicaraan mereka, jadi dia pura-pura cuek saja, namun tetap memasang kedua telinganya baik-baik untuk menguping.
" Ya... Mungkin semua butuh progres, walau lambat asal jalan maju saja sudah untung, cuma modal bertahan saja lah, walau sulit menahan karena sudah sampai di ujung tapi harus tetap sabar menanti." Jawab Broto dengan cuek.
" Kalau sudah sampai di ujung, muntahkan saja bang, bukannya begitu banyak jalan menuju Roma?" Celoteh Ratu yang membuat kedua mata Panji langsung terbelalak saat mendengarnya.
" Woah... Luar biasa sekarang kamu ya Cil? pengalamanmu sudah sampai ke tahap sana sekarang ya, nggak nyangka aku loh, kalau kamu sudah sedewasa itu sekarang?" Bahkan Broto tidak habis pikir dengan ucapan Ratu.
" Haish... Aku bisa apa, nasipku yang malang ini memaksaku untuk cepat tumbuh dewasa sebelum waktunya, jadi dibikin enjoy aja lah."
" Iyalah, orang rasanya enak kan?" Ledek Broto dengan senyum liciknya.
" Banget!" Jawab Ratu dengan mantap.
" Ratu cukup, kita masuk kedalam sekarang juga!"
Panji seolah sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan mereka yang lama-lama membuat sakit gendang telinganya.
" Aku masuk dulu ya bang, itu meja prasmanan sepertinya sudah memanggilku, hehe.."
__ADS_1
" Asiap, jangan lupa nambah, biar makin padat berisi dan semakin mont*k!" Ledek Broto yang langsung mendapat lirikan tajam mematikan dari Panji sang suami.
Acara doa pun berjalan dengan lancar, setelah itu lanjut dengan acara makan-makan, semua tamu bebas mengambil makanan kesukaan mereka masing-masing.
" Ratu anterin aku ke kamar mandi yuk?" Pinta Panji.
" Nggak usah manja deh yank, udah gede mau dicebokin juga apa?" Umpat Ratu yang sebenarnya hanya malas saja.
" Kamu ini, nemenin suami sendiri nggak mau?"
" Aku lapar banget Ay, kamu hajar aku sampai pagi kan tadi malam."
" Tapi tadi juga sebelum kesini kamu sudah makan kan?"
Memang tiada hari tanpa pertempuran fanas di malam-malam mereka berdua.
" Masih laper, tenaga ku sudah habis semua, jadi mumpung makanannya enak-enak aku isi tenaga dulu, kamar mandinya ada diujung sana tuh, sendiri aja ya yank?"
" Ckk... Kamu ini, kalau soal makan aja nggak bisa di ganggu, heran aku sama kamu, makan banyak tapi perutnya segitu aja, kemana coba hasilnya? jangan-jangan cacingan kamu ya?" Ledek Panji.
" Yang enaknya saja kalau ngomong, aku langsing karena rajin olahraga tauk! Mana ada cacingan, sembarangan aja kalau ngomong."
" Hehe... Ya sudah, aku kebelakang dulu."
Akhirnya Panji memilih melenggang sendiri mencari kamar mandi, karena hajatnya sudah tidak tertahan sedari tadi.
Dan saat dia keluar dari kamar mandi, tiba-tiba dia mendengar suara seorang gadis yang sedang meringis menahan kesakitan di arah dapur.
Dapur itu sepi, karena Broto sengaja memesan makanan itu semua dari luar, jadi memang tidak ada yang memasak di dapur atau apapun itu, mereka semua diistimewakan untuk duduk sebagai tamu saja.
" Gendhis? Kamu kenapa?"
Panji yang tidak sengaja melihat Gendhis yang terlihat meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya, langsung melepas jasnya dan berlari mendekat kearah Gendhis.
" Perutku kram mas, aduh sakit banget!" Gendhis memang sering mengalami hal itu kalau dia kecapek an, makanya dia memilih cuti panjang sebagai dokter dan lebih banyak istirahat dirumah.
" Apa perlu ke rumah sakit sekarang? Aku panggil yang lainnya ya?" Panji ingin berlari memberitahukan kerabat yang lainnya namun langsung dicegah oleh Gendhis.
" Nggak usah mas, nanti mereka malah panik."
" Tapi kamu harus segera mendapatkan pertolongan, nanti bisa bahaya loh, kamu juga terlihat kesakitan begini?"
" Nggak papa kok mas, aku emang sering kayak gini, cuma butuh istirahat saja sama minum air putih anget biasanya langsung enakan." Dia sudah merasakannya sejak tadi, itu kenapa dia pergi ke dapur mau mengambil air hangat.
" Okey, kalau begitu kamu duduk pelan-pelan ya, biar mas yang ambilin air hangat untukmu."
Panji langsung memapah tubuh Gendhis dan membantunya duduk di kursi dapur.
" Ini air hangatnya di minum dulu."
Tak lama kemudian Panji datang lagi dan membawakan satu gelas air putih hangat, dia duduk berjongkok dihadapan Gendhis untuk memastikan dia baik-baik saja.
" Terima kasih mas." Jawab Gendhis sambil mengembangkan senyumannya, sudah lama dia tidak ngobrol berdua seperti ini semenjak hari pernikahan itu terjadi.
Sedikit banyaknya Panji penasaran dengan keadaan wanita yang pernah menduduki tahta tertinggi dihatinya itu.
" Emm... Baik kok." Jawab Gendhis walau terlihat ragu.
" Jangan bohong denganku Ndis, aku bisa melihat ada sesuatu yang mengganjal dihatimu."
Apalagi tadi dia mendengar bahwa sangkar Broto katanya belum siap dan masih harus bersabar, itu maknanya mereka belum baik-baik saja pikirnya.
Sedangkan dia dengan Ratu, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, diberbagai sudut ruangan di kamarnya sudah dia coba, tapi kenapa Gendhis masih belum bisa membuka hatinya untuk Broto pikirnya.
Padahal hari itu Panji dan Ratu sempat memergoki mereka sedang bermesraan, jadi sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka pikir Panji, karena jauh didalam lubuk hatinya, Panji juga ingin melihat wanita yang pernah dia sayangi sepenuh hati ini bahagia juga dengan kehidupannya.
" Emm... Semua butuh proses mas, trauma yang aku rasakan tidak bisa hilang begitu saja dengan mudahnya." Gendhis akhirnya memulai sesi curhatnya.
" Hmm... Aku mengerti, mencoba sesuatu yang baru memang tidak mudah, namun kamu harus mencobanya, suatu saat kamu pasti akan nyaman setelahnya."
" Apa mas sudah bisa melupakan aku begitu saja?" Tanya Gendhis penasaran.
" Bukan melupakan Ndis, sampai kapanpun itu aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu dan kenangan kita, tapi memang mungkin kita hanya ditakdirkan sebagai ipar saja."
" Sudah aku coba mas, tapi semua itu terasa sulit bagiku."
" Kita tidak pernah melupakan masa lalu kita. Kita hanya belajar untuk hidup dengan rasa sakit dan luka. Tapi terkadang memang kenangan itu selalu ada di belakang pikiran kita, tidak peduli seberapa keras kita berusaha. Intinya kamu hanya harus berani mencoba hal baru, karena kalau tidak kamu coba, bagaimana kamu bisa tahu hasil akhirnya, ya kan?"
" Bagaimana aku bisa melangkah, ketika aku masih sangat menyayangimu mas, Aku sudah mencoba, tetapi tidak ada yang sepertimu dan caramu mencintaiku itu sulit untuk diganti, dan semua kenangan kita selama ini tidak bisa aku lupakan begitu saja."
" Tapi kita memang tidak punya pilihan lain saat ini Ndis."
" Mas... Kita bisa menyembunyikan semuanya. Tapi, aku tidak bisa melupakannya begitu saja, aduh.. Ini kenapa.. Aw.. Aw..."
Gendhis kembali memegang perutnya karena terasa kram dan seolah ada sesuatu yang menendang perutnya dari dalam dengan begitu hebatnya, sehingga membuat Gendhis kembali meringis kesakitan.
" Gimana ini, aku harus gimana?" Tanya Panji yang tidak tahu apa-apa.
" Usap perutku mas, aduh... Sakit banget mas."
" Hanya diusap saja ini?"
Panji langsung mengusap perut Gendhis perlahan, dia tidak tega melihat wanita yang pernah di hatinya itu terlihat kesakitan.
" Terus mas, aduuh... Kenapa masih sakit ya?"
Biasanya kalau tangan Broto yang mengelusnya, segala tendangan atau apapun itu yang terjadi didalam perutnya langsung membaik, namun entah mengapa siang ini perutnya seolah seperti diputar giling dari dalam.
" Aduh... Gimana? Mas nggak tahu ini."
__ADS_1
Panji tanpa sadar langsung merangkul tubuh Gendhis yang terlihat melemas, dengan tangan kanannya yang terus mengusap perut Gendhis.
" Lihatlah... Katanya kamu sudah tempur dengan berbagai gaya, kenapa laki elu masih nempel-nempel sama kakak kamu itu?"
Ternyata dari ujung pintu Broto dan Ratu sudah menatap ke arah mereka, sambil menyandarkan kepala mereka masing-masing ke tembok dengan ekspresi memprihatinkan.
" Aku pun tak tahu, apa memang semua pria seperti itu ya?"
Broto dan Ratu memang tidak mendengar percakapan mereka dengan jelas, namun dari perlakuan Panji saja, Ratu dan Broto sudah bisa menyimpulkan bahwa keduanya memang masih mempunyai perasaan yang sama.
" Maksud kamu apa?"
" Ya kalau lagi minta jatah denganku bilangnya cinta denganku, namun saat dia sedang bersama wanita lain, dia dengan mudahnya melupakan aku?"
" Hmm... Bisa jadi sih, ibarat kucing siapa sih yang mau nolak kalau ada ikan asin menggodanya, aku pun dulu begitu, tapi sekarang aku hampir menjadi ayah, jadi nggak mungkin juga aku mengajari anakku seperti itu kan?"
" Ckk... Padahal aku kira dia sudah bisa menerimaku, ternyata semua hanya palsu."
" Apes banget nasip kita, kamu sih enak udah nyobain, nah gue... semenjak menikah belum pernah aku menyentuh jatahku sedikitpun." Umpat Broto dengan gilanya.
" Enak sih enak bang, tapi dalam kasus yang seperti ini pihak perempuan lah yang rugi, atau lebih tepatnya disini aku yang rugi kan? Aku sudah habis-habisan dihajarnya setiap hari sampai lembur-lembur nambah tiap hari, tapi endingnya dia kembali melirik mantan, sakit banget tau bang." Ratu mengvsap dadaanya yang terasa sesak.
" Trus enaknya kita apain mereka berdua ini?"
" Sepertinya mereka harus kita beri pelajaran berharga bang?"
" Apaan tuh?" Tanya Broto yang langsung tertarik.
" Ya semacam uji coba lah!"
" Contohnya?"
" $%$@%\#€£€¥₩%!$$\#&€£¥@$." Bisik Ratu yang membuat Broto langsung manggut-manggut.
" Emm... Boleh juga sih ide kamu, kita mulai kapan ini?" Tanya Broto yang langsung menyetujuinya.
" Sekaranglah, ngapain nunggu sampai besok, ke enakan mereka dong!" Umpat Ratu sambil menatap suaminya dengan kesal dari kejauhan.
" Tapi acara syukuran rumah abang belum selesai ini?"
" Misi kita juga penting bang, lagian ini tinggal acara makan-makan doang kan?"
" Okey deh kalau begitu, kamu atur aja, aku ambil dompet dan kunci mobil dulu ya."
" Asiap!" Jawab Ratu dengan mantap.
*Awas aja kamu yank, kamu yang mulai main-main duluan ya, sekarang kita lihat, siapa yang paling kuat bertahan diantara kita, cih... dasar Panjuuuul*!
Ratu langsung bergegas pergi dari sana, untuk menyiapkan misi terbesar yang menyangkut tentang hubungan suami istri diantara dia dan suaminya.
__ADS_1
Tanpa punya niatan pamit bahkan tanpa sepatah katapun yang dia ucapkan dengan suaminya, begitu juga dengan Broto, dia bahkan rela meninggalkan acara syukuran rumah barunya itu begitu saja, demi misi para pasangan yang tersakiti.