
...Happy Reading...
Pelajaran hidup seseorang memang berbeda-beda, begitu juga hikmah yang bisa diambil dari segala arang melintang yang terjadi dalam kehidupan kita.
Bahkan kedukaan yang terjadi dalam diri kita pun bisa membawa berkah tersendiri, semua sudah Tuhan gariskan sesuai dengan porsinya, jadi jangan pernah berburuk sangka dengan takdir Tuhan, karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana nikmat Tuhan yang telah Dia siapkan untuk kita.
Hari ini Gendhis sudah kembali sehat, dia sudah diperbolehkan pulang dan beraktifitas seperti biasanya.
" Haduh... Pria itu benar-benar keterlaluan, aku sudah menyuruh ibu untuk memberitahunya kalau aku sudah boleh pulang, tapi kenapa dia tidak mau menjemputku?" Gendhis tidak berani menyuruh Broto menjemputnya, itu mengapa dia menyuruh ibunya, namun ternyata hal itu tidak digubris juga oleh Broto sedikitpun.
" Itu mobilnya ada dirumah? Woah... Dia benar-benar keterlaluan!" Umpatnya dengan kesal, dia bahkan lupa kalau dirinya sudah ditalak satu.
Gendhis turun dari taksi dengan segala umpatan buruknya tentang Broto yang sama sekali tidak muncul selepas dia mengucapkan kata talak hari itu.
Seperti biasa Gendhis langsung masuk saja kedalam rumah itu tanpa permisi, karena dia masih menggangap itu adalah rumahnya sendiri.
" Broooottt... Broto!"
Teriak Gendhis dengan raut wajah yang kesal dan siap membombardir segala pertanyaaan tentangnya.
" Kemana lagi dia? Broto dimana kamu!"
Gendhis masih saja berteriak sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Dan yang lebih membuat dirinya kesal, ternyata Broto sedang duduk manis sambil menopangkan kedua kaki jenjangnya dengan secangkir kopi hitam ditangannya.
Srupuuuuutttt gerrr!
" Woah... Rasa Kopi ini memang nikmat sekali? Tapi mungkin lebih nikmat rasa janda di luaran sana kali ya?"
Broto sudah mendengar suara Gendhis sedari awal dia masuk ke rumah itu, namun dia memang sengaja memilih diam saja, dia ingin tahu seberapa jauh Gendhis melangkah dalam memperbaiki hubungan diantara mereka.
" Ini dia orangnya, Broto.. Kenapa kamu tidak menjemputku? Bukannya kamu senggang?" Gendhis langsung berkacak pinggang dihadapannya dan kngin meluapkan segala keluh kesahnya.
" Apa kita berteman sekarang?" Ucap Broto tanpa mau memandang kearahnya dan masih melanjutkan menyeruput kopinya sambik memainkan ponselnya.
" Broto, tapi kita kan...?"
Astaga... kenapa aku bisa lupa kalau dia sudah mentalak diriku kemarin, ya ampun... Apa aku harus mengejarnya sekarang?
" Kenapa? Ada yang salah?" Broto seolah kembali pada sikapnya yang super cuek dan kejam seperti dulu lagi.
" Emm... Broto, boleh aku meminta sesuatu denganmu?" Akhirnya Gendhis melembutkan suaranya, tidak ada jalan lain selain merayu Broto mulai saat ini.
" Apa? Apa setelah pulang dari rumah sakit kamu langsung jadi miskin?" Ejek Broto dengan tatapan meledek.
Sabar Gendhis... Harus tetap Calm down!
" Broto, aku sedang ingin bicara serius ini?" Gendhis membuang nafasnya perlahan dan kembali mendekat kearah Broto.
" Apa kamu bisa serius denganku? biasanya bahkan kamu tidak pernah menganggap aku ada bukan?" Ucap Broto tanpa memikirkan hal yang mungkin akan menyakiti hati Gendhis.
Astaga, apa aku sekejam itu? Bukannya akhir-akhir ini kita sudah baikan, apalagi kita pernah civman? Apa dia sudah lupa sekarang?
Gendhis memilih diam terlebih dahulu, agar emosi Broto tidak semakin memuncak. Dan dengan perlahan Gendhis duduk disamping Broto dan mulai mengikis jarak diantara mereka.
Buang sedikit rasa gengsimu wahai hati, mungkin memang dialah pria yang Tuhan sudah gariskan denganmu, astaga... Andai saja aku memperlakukan dia dengan baik setelah kita menikah dulu, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, tapi kan rasa itu tumbuh baru belakangan ini, aish... Menyebalkan sekali dia!
Rasa penyesalan memang selalu muncul dibelakang dan selalu saja rasa itu menggebu setelah kita merasakan apa itu arti kehilangan.
" Broto, kalau talak satu kan belum resmi bercerai, jadi aku masih boleh kan tinggal disini?" Gendhis langsung melancarkan aksi pembuka.
" Apa kamu mau aku selesaikan semuanya sekarang?" Broto bahkan langsung menantangnya.
" JANGAN! ampun Broto, kamu jangan pernah main-main lagi dengan kata-kata itu, gunakan akal sehatmu, jangan gegabah saat berbicara, kita bisa bicarakan semua baik-baik dulu kan?" Gendhis lansung merangkul lengan Broto, walau sering ditepisnya.
" Kemana aja kamu selama ini?" Celoteh Broto dengan senyum bengisnya.
__ADS_1
" Itu makanya aku ingin memperbaiki semuanya sekarang, jadi boleh ya aku tetap tinggal disini?" Pinta Gendhis dengan raut wajah memelas.
" Why?" Broto kembali meliriknya sekilas.
Aduh... Kalau aku bilang ingin merayumu agar kamu mengucap kata rujuk kembali denganku terlalu cepat nggak ya? Nanti dia jadi semena-mena lagi memperlakukan aku kayak dulu, emm... Mungkin aku harus menakhlukan hatinya dulu perlahan-lahan, yang penting aku tinggal satu atap dulu dengannya, masalah yang lainnya pikir sambil berjalan saja.
" Karena aku suka rumah ini, sejuk dan menenangkan, apalagi ber... Berdua sama kamu, hehe.." Gendhis langsung mengigit bibiirnya sendiri, dia bahkan berbicara manis walau jadinya malah sedikit kaku.
" Sejuk dari mananya? Di depan sana komplek perumahan semua, taman di rumah ini juga tidak seberapa luasnya, bahkan rumputnya pun sintetis, bukan rumput asli." Ucap Broto dengan datar dan cuek.
Aish... Aku hanya ingin merayumu saja, kenapa kamu nggak peka sih?
" Emm... Tapi aku suka rumah ini, lagian kamu juga kan yang ngajak aku kesini, padahal aku sudah menolaknya dulu, tapi dulu kamu juga bilang kalau beliin rumah ini buat aku, masak aku nggak boleh tinggal disini juga?" Gendhis kembali mengingat kata-kata Broto saat itu.
" Apa kamu mau tinggal disini?"
" Iya, mau banget." Jawab Gendhis dengan mantap.
" Kalau begitu tinggallah disini, biar aku yang pergi dari rumah ini! Aku masih mampu beli rumah baru lagi, apartement pun aku juga masih punya." Broto langsung bangkit dari duduknya dan ingin segera pergi dari sana.
" Broto, tolong jangan begini!"
Gendhis langsung memeluk tubuh Broto dari belakang, agar dia tidak pergi dari sana dan meninggalkan dia lagi.
Mulai berani dia?
" Lalu?" Tanya Broto sambil tersenyum dengan bangga, akhirnya semua bisa berbalik keadaan sekarang.
" Aku minta maaf, aku ingin kita memperbaiki hubungan kita." Rengek Gendhis dalam pelukan.
" Memperbaiki hubungan kita yang mana? Selama ini bukannya kamu selalu memperlakukan aku dengan buruk?" Broto langsung melepaskan paksa kedua tangan Gendhis yang memeluk perutnya.
" Broto, jangan ungkit-ungkit masa lalu, bagaimana kalau kita kembali merajut lagi hubungan baru kita? Emm... Kita mulai dari awal, kita pacaran yuk?" Pinta Gendhis yang langsung tersenyum dengan manjanya.
Aduuuh... manisnya dia, bahkan lebih manis dari arti namanya.
" Mana ada trek gantung?"
" Apaan sih?" Cibir Broto dengan ketus.
" Yang ada juga trek gandeng, kayak kita hehe.." Gendhis semakin banting harga, walau ditolak dia tetap saja menggandeng lengan Broto saat itu.
" Apa kamu pikir ini lucu?"
" Hehe...nggak lucu ya, maaf... Aku memang bukan pelawak."
" Garing!" Umpat Broto kembali.
" Aku tahu bahwa kata-kata maaf ini tidaklah cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, kalau apa yang aku lakukan ke kamu itu tulus. Maafkan aku Broto." Gendhis langsung kembali memeluk Broto dan menyembunyikan wajahnya didadaa bidang Broto yang berotot.
Beerrr!
Seolah hawa pegunungan yang teraliri sungai dengan air yang mengalir diantara kedua gunung itu, kini menyelimuti hati Broto yang sudah lama kekeringan.
" Lepas! Apa kata maaf saja cukup, saat kamu menghilangkan darah dagingku?" Hanya mulutnya saja yang menolak, namun sebenarnya dia merasa sangat senang saat Gendhis memeluknya tanpa harus dia paksa.
" Emm... Maaf karena aku sudah mengecewakanmu dan sudah membuatmu marah, tapi tolong jangan membenciku karena itu, itu sama sekali bukan aku sengaja, Aku yang memang tidak bisa mengerti segala keinginanmu. Tapi percayalah, saat ini aku sedang belajar untuk selalu mengertimu."
Gendhis pun sangat menyesali kejadian itu, namun itu semua diluar kuasanya, kalau ditanya pun dia tetap ingin mempertahankan janinnya walau harus nyawa sebagai taruhannya.
" Tidak semudah itu!" Broto langsung sedikit merenggangkan pelukan mereka.
" Broto.. Eh.. Emm.. Say.. Sayang?"
Gendhis sadar, dulu dia bisa dengan mudahnya mengikat Broto saat masih ada janin diperutnya, namun saat sudah hilang, dia harus sedikit usaha ekstra untuk kembali mengambil hati Broto.
" Heh? Sejak kapan kamu memanggilku sayang?" Broto langsung memundurkan wajahnya karena terkejut dengan panggilan Gendhis, tidak pernah terbayangkan dihidupnya seorang Gendhis mau memanggilnya dengan sebutan sayang.
__ADS_1
" Apa kamu suka?" Gendhis mereggangkan pelukannya dan menatap wajah Broto dengan senyuman lebarnya.
" Aku tidak mengatakan hal itu?" Ucap Broto yang tetap menjunjung tinggi gengsinya.
" Aaa... Tolong jangan membuat aku serba salah begini Broto, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita saja."
Gendhis langsung merengek manja dengannya bahkan mengubah suaranya seperti anak kecil dan mengungselkan wajahnya ke tubuh Broto sambil terus mengeratkan pelukannya.
Aduh... Pertahananku mulai goyah ini, kenapa dia bisa semanis ini coba? Tapi aku harus kuat, jangan secepat ini menyerah Broto, agar dia tidak dengan mudahnya melupakan aku, karena dia berhasil dengan mudahnya mendapatkan kembali hatiku.
" Tapi aku belum bisa memaafkan kamu begitu saja, kesalahan kamu terlalu banyak denganku, bahkan sudah tidak terhitung lagi, apa kamu lupa?" Broto kembali mengingatkan lagi akan kematian janin mereka.
" Emm... Tidak, tapi bukannya sesama manusia itu harus bisa saling memaafkan?"
" Tapi kamu terlalu kejam memperlakukan aku selama ini!"
" Iya tahu, belum memaafkan juga tidak apa-apa, tapi izinkan aku tetap disisimu ya?" Pinta Gendhis dengan wajah melownya.
" Emm... Tapi secara hukum agama kita..."
" Stttt... Jangan bawa-bawa hukum agama dulu, kita masih bisa memperbaikinya dan rujuk kembali kok?"
Gendhis langsung menyahut kata-kata Broto, agar tidak mengungkit lagi kata talak yang terlanjur terucap dari mulutnya.
" Sudah aku bilang berapa kali, kalau aku belum memaafkan kamu Gendhis Andara!"
" Iya sayangku, aku mengerti sekali, tapi kita kan bisa kembali memulai dan merintis semuanya lagi dari awal, kita pacaran dulu okey?"
Serrrr!
Jantung Broto seolah sudah tak menentu, selama ini dia memperlakukan wanita tidak dengan perasaannya, baru dengan Gendhis lah dia mampu merasakan debar-debar cinta.
" Dih... Kita bahkan sudah tidak layak dan tidak pantas untuk menjalin hubungan sebagai pacar, kita terlalu tua untuk itu."
" Aaaa... Broto, jangan galak-galak denganku bisa nggak?"
" Cih... Kamu ini plin plan sekali, tadi sudah panggil sayang, sekarang panggil nama lagi, kamu itu memang wanita yang penuh dengan kepalsuan!" Umoat Broto kembali.
" SAYANG... Utututu... Sayangku, kamu ini jahat banget, aku kan cuma lupa, kamu langsung menghujatku kayak netizen aja!" Gendhis kembali menempel di tubuh Broto.
" Ckk... Sudahlah! Awas minggir kamu!" Broto sedikit mendorong tubuh Gendhis agar sedikit mendramatisir keadaan.
" Aaaa... Sayang, jangan pergi lagi! Pokoknya apapun yang terjadi, kamu akan tetap menjadi nomor satu bagiku. Bisalah kamu memaafkan atas apa yang telah aku lakukan sayang? Aku ingin bisa kembali menjalani rutinitas sehari-hari kita, tanpa perlu bertengkar. Aku mengakui kesalahanku. Aku tidak akan melakukan hal ini lagi. Ayolah maafkan aku dan kembalilah bersamaku." Gendhis langsung menghalangi langkah Broto dengan merentangkan kedua tangannya.
" Kamu ini berisik sekali, aku cuma mau mandi, tubuhku gerah dari tadi kamu tempelin terus!" Ucap Broto sambil menahan senyuman, padahal sebenarnya dia ingin sekali bersorak akhirnya wanita idamannya ini takut sekali akan kehilangan dirinya.
Alhamdulilah... Setidaknya dia mengizinkan aku untuk tinggal bersamanya, satu langkah lebih maju untuk bisa kembali mendapatkan hatimu, walau harus sedikit tidak punya rasa malu, tapi ya sudahlah, karena ini memang resiko yang harus aku terima.
Bukan hanya Broto yang bahagia secara diam-diam, Gendhis pun merasakan hal yang sama dan sedikit lega, dia hanya ingin memperbaiki hubungannya dan merasakan apa itu arti bahagia.
" Kalau tidurnya boleh bareng lagi nggak?" Gendhis kembali bersuara saat Broto mulai berjalan pergi meninggalkan dirinya.
" Cih... Mau modus kamu!" Langkah kaki Broto langsung terhenti dan menoleh kearah Gendhis dengan cepat.
" Hehe... Bukan begitu, tapi.. emm.. Kalau nggak tidur bareng lagi, gimana kita bisa bikin dedek bayi lagi?"
Walau tidak berani memandang ke arah wajah Broto, namun Gendhis rela memberanikan diri untuk lebih nekad lagi, harga dirinya jatuh tidak masalah pikirnya, toh hanya didepan suaminya saja, karena apapun akan dia lakukan agar tidak lagi kehilangan seorang pria di dirinya.
Duaaarr!
Syaminamina e... e...wakawaka e... e...
Ingin sekali Broto bergoyang asoy, ngebor, ngecor rumah sekalian, namun dia masih belum puas untuk membuat istrinya melakukan hal-hal manis yang lainnya, dan untuk sedikit berjuang lebih keras lagi, jadi dia tidak akan mudah terbujuk dengan rayuan Gendhis begitu saja kali ini.
Kita bukanlah sebatang pohon, namun kita hanyalah setiap helai daun yang terhubung dan saling melengkapi satu sama lain.
Kita mencintai seseorang bukan karena dia sempurna, tapi untuk belajar dan saling memahami serta melengkapi ketidaksempurnaan kita.
__ADS_1
Kehidupan cinta adalah tentang bagaimana kita saling melengkapi bukan bagaimana kita saling menyakiti.