
...Happy Reading...
Pagi ini Gendhis bangun pagi dengan semangat membara, walaupun tadi malam dia tidak bisa menembus benteng pertahanan dari Broto untuk tidur dalam satu kamar, namun dia tak patah arang.
Dia akan terus mencoba di malam-malam berikutnya, walaupun dia sudah banting setir, tapi Gendhis juga tidak mau diskon besar-besaran, setidaknya dia harus tetap menjaga martabatnya sebagai dokter muda yang profesional. Walau sebenarnya dia tau benar, bahwa itu tidak akan ada artinya sedikitpun di depan Broto.
" Selamat pagi kesayangan akuh."
Walau ini bukan kebiasaan Gendhis, namun dia akan terus membiasakan diri untuk tetap bersikap manja dengan Broto, sampai hatinya bisa diluluhkan olehnya.
" Manggilnya bisa biasa aja nggak?" Lama-lama Broto merasa geli sendiri mendengarnya, apalagi jika dibandingkan dengan sikap Gendhis yang biasanya, sangat bertolak belakang sekali dengan sekarang.
" Tuh kan salah lagi, kemarin manggil sayang dia terheran-heran, trus ganti panggil nama juga salah lagi, ini dipanggil kesayangan juga nggak boleh? Sebenarnya aku harus panggil apa sih Brooot!" Gendhis merasa gemas sendiri, karena panggilannya selalu salah dimata Broto.
" Hei... Kok kamu malah nyolot sih?" Entah kenapa Broto tidak suka jika dipanggil dengan nama awalan saja.
" Aduhai... emang siapa yang nyolot sih?" Gendhis mengusap dadaanya agar tidak terbawa emosi.
" Brat.. Broott.. Brat.. Broott, kamu pikir aku ini apa, hah?" Broto mulai menunjukkan wajah kesalnya.
" Trus maunya dipanggil apa dong Dokter Broto Suseno?"
" Sayang aja kan bisa, nggak usah pake awalan dan akhiran, lebih simple pada umumnya kan?"
" Cieee... Yang sudah mau dipanggil sayang?" Gendhis malah langsung meledeknya.
" Apa sih? itu pun kalau kamu mau, kalau enggak juga terserah, jangan buat mood aku turun, atau kamu hanya akan bermimpi untuk bisa rujuk kembali denganku!" Broto seolah sudah menjadi pemenangnya kali ini, jadi dia punya senjata baru untuk bisa mengatasi segala tentang Gendhis.
" Dih... Bisa banget sekarang ngancemnya!" Gendhis langsung mengunyah makanan miliknya dengan ekspresi kesal jika sudah membahas hubungan mereka.
" Bodo amat!" Broto langsung membuang muka.
" Ngambek lagi, ngambek teros, biar aja nanti rambutnya cepat beruban, biar kayak kakek-kakek!" Ledek Gendhis yang langsung membuntuti langkah Broto ke meja makan.
" Tumben menu sarapannya komplit?"
Di atas meja makan sudah tersedia menu komplit dari ayam bakar, sup dan lauk lainnya.
" Iya dong, biar semangat nanti kerjanya." Ucap Gendhis yang oangsung mengambilkan nasi ke piring Broto.
" Rasanya enak nggak nih?" Broto seolah meragukan.
" Jelas enak dong, aku sudah nyicip tadi." Jawab Gendhis denan mantap.
" Sejak kapan kamu pandai masak?" Karena selama menikah, Broto tidak pernah melihat Gendhis masak.
" ONLINE, hehe..." Gendhis menjawabnya dengan santai.
" Cih... Pantesan, sudah aku duga sih, kamu nggak bakalan bisa masak menu komplit kayak gini, paling mentok juga cuma mie rebus, itu pun kalau mateng."
" Bukannya aku nggak bisa masak, tapi biasanya aku bangun bibi sudah menyiapkan segalanya dirumah, jadi aku tinggal makan aja, tapi kalau kamu mau aku belajar masak tidak masalah, aku bisa ambil kelas memasak nanti, biar bisa masakin apapun kesukaan kamu."
Aye... sebenarnya aku senang sekali saat kamu perhatian banget sama aku, apalagi di ranjang, itu yang aku impikan sejak dulu lagi, tapi aku harus bertahan dulu setidaknya sampai beberapa hari, agar dia tidak mudah menyepelekan diriku, karena kalau aku menerimanya sekarang sudah pasti rujuk artinya, fuuh... Ternyata bertahan dari godaan itu berat!
" Terserah saja, aku pun tidak perduli!"
Lain di mulut lain pula dihati, itulah Gengsi.
" Jang cuek begitu boh kemari polo sa kah adoh.. Su stegah mati bujuk ko tolong kasih perhatian.. Ko badiam diam terlalu lama ko simpan-simpan.. Jang begitu kalo sa salah kas tau." Gendhis langsung menyanyikan satu lagu yang terdengar asing ditelinga Broto.
" Artinya apa?" Ternyata dia pun menyimak setiap kata yang Gendhis ucapkan.
" Jangan cuek terus, nanti dosa!" Ucap Gendhis dengan asal, dia pun tidak tahu arti keseluruhannya, hanya sering mendengarnya saja, yang penting ada liriknya cuek pikirnya.
" Nggak jelas banget kamu ini, trus kamu ikut berpakaian rapi sepagi ini mau kemana?"
" Ikut ke rumah sakit lah!" Jawab Gendhis sambil tersenyum, pokoknya hari-harinya kini harus di penuhi dengan full senyum, karena senyuman akan membawa aura positif bagi semuanya.
" Ngapain? sekarang udah bucin banget kamu sama aku? Nggak bisa pisah gitu walau hanya sebentar saja?" Ledek Broto sambil melirik Gendhis di sampingnya.
" Dih... Ge er nya minta ampun!"
" Cih, trus ngapain kamu ke rumah sakit, kamu kan baru pulang kemarin?"
" Aku juga mau kerja, bosen dirumah terus hampir dua bulan penuh, aku juga rindu sama jarum suntik, karena punya kepemilikan satu aja pakainya nyuri-nyuri, giliran udah ready malah minta pisah!" Gendhis langsung saja menyindir Broto dengan perumpamaan yang dia buat sendiri.
" Kamu ini ngomongin apa sih?" Broto hanya bisa menghentikan sarapannya dan menatap wanitanya itu dengan wajah keheranan.
" Hehe... Nggak ada, iklan doang bentar tadi, pokoknya aku mau ikut ke rumah sakit, kalau dirumah terus suntuk banget aku."
" Terserah kamu sajalah, aku sudah kenyang!"
" Barengan berangkatnya ya?" Pinta Gendhis.
__ADS_1
" Nggak!"
Bukannya Broto tidak mau, namun sebenarnya dia hanya menjaga diri, karena Gendhis seolah menggempur benteng pertahanannya terus menerus tanpa henti.
" Dih... orang tujuannya sama kok, pelit amat ditumpangin doang?"
" Beli mobil sendiri sana! Kamu kan masih menyimpan blackcard milikku?"
" Aku balikin nah! Aku mau numpang aja!" Gendhis langsung mengambil dompetnya dan memberikan kembali kartu itu.
" Buat kamu aja!" Namun Broto langsung menolaknya.
" Nggak, aku mau berangkat bareng kamu pokoknya, titik!" Rengek Gendhis.
" Ckk... Ya sudah iya, ayok berangkat, tapi kamu simpan saja kartu itu, aku sudah buat lagi." Daripada berdebat pagi-pagi, Broto mengiyakan saja, lagian jarak rumah mereka dari rumah sakit tidak begitu jauh.
" Apa ini berarti kamu mau memberikan nafkah untukku? Jadi kita udah rujuk ya?" Gendhis menarik-narik kemeja Broto dengan manjanya.
" Dih... Usaha dulu kamu! Kesalahanmu itu terlalu besar untuk bisa dimaafkan begitu saja!" Broto langsung menyentil kening Gendhis dengan gemas.
" Astaga... Nasip punya suami pekok!" Umpat Gendhis perlahan.
" Apa tadi kamu bilang?"
" Nggak, orang tadi cuma nyanyi doang kok!" Ucap Gendhis yang memilih tidak melanjutkan pembahasannya daripada harus kembali berdebat, tapi setidaknya dia sedikit lega, karena ada sedikit kemajuan pikirnya, karena pria mana sih yang rela memberikan sebuah kartu tanpa batas, untuk seseorang jika tidak ada alasan.
Sesampainya dirumah sakit mereka masuk kedalam ruangan mereka masing-masing. Pasien Broto pun sudah banyak yang mengantri.
" Dokter Gendhis?"
Sementara Gendhis hanya menerima konsultasi pasien yang rawat jalan saja, belum berani langsung ke ruang tindakan.
" Eh suster... Banyak pasien?"
" Lumayan dokter, ada beberapa jadwal operasi hari ini."
" Okey... Yang semangat ya kerjanya?"
" Loh... Dokter nggak ikut ke ruang tindakan?"
" Emm... Aku masih sedikit kurang fit, jadi cuma menerima pasien rawat jalan saja tadi dan sekarang mau ngecek-ngecek keadaan rumah sakit aja dulu, mungkin beberapa hari lagi baru aktif di ruang operasi."
Sebagai dokter dia tidak mau mengambil resiko, karena didalam pekerjaannya nyawa adalah taruhannya kalau dia sampai lalai ataupun kurang konsentrasi.
" Jadi seperti itu, baiklah kalau begitu saya permisi dokter Gendhis."
" Iya dokter Gendhis, ada yang bisa saya bantu?"
" Emm... Kalau boleh saya tahu, pasien yang mendaftar bagian dokter umum ada banyak nggak?"
" Emm.. Kalau tadi sih lumayan Dokter, tapi kalau saat ini mungkin sudah berkurang, rata-rata hanya periksa penyakit flu dan batuk biasa saja, soalnya kan ini perubahan musim, jadi seharusnya sih tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksanya." Suster itu sempat melewati ruangan dokter umum tadi.
" Okey, terima kasih sus atas informasinya."
" Sama-sama dokter." Jawab Perawat itu yang tidak merasa curiga sama sekali, karena bertanya hal seperti itu hal yang wajar bagi mereka.
" Cek ke ruangan Ayang dulu lah, tiba-tiba udah kangen aja ngelihat dia ngebawel lagi, hihi.."
Gendhis langsung memakai kembali jas putihnya dan bergegas pergi ke ruangan Broto.
" Permisi dokter Broto?"
Gendhis melongokkan kepalanya terlebih dahulu saat Broto masih memeriksa pasien didalam ruangan itu.
" Gen... Eh, Dokter Gendhis? Ada yang bisa saya bantu?" Saat di rumah sakit Broto berusaha bersikap profesional.
" Sedikit, tapi it's okey.. Dokter Broto bisa selesaikan dulu memeriksa pasien-pasiennya, saya bisa menunggu sampai selesai."
" Kalau emang urgent katakan saja, aku bisa mencari ganti dokter lain?"
Cie, dia aja perhatian, pasti cuma jual mahal sama aku.
" Tidak perlu, aku sudah selesai tugas kok, silahkan dilanjutkan saja, saya boleh kan menunggu diruangan ini?"
" Apa tidak ada pasienmu hari ini?"
" Ada, lumayan tadi, tapi kondisiku belum begitu fit, perutku masih sedikit emm... Aduh duh... Agak kram sedikit!" Gendhis langsung pura-pura memegang perutnya.
Brak!
Broto langsung bangkit dengan cepat dari tempat duduknya, bahkan menimbulkan suara gesekan yang cukup kuat sehingga mengejutkan pasien yang ada disana.
" Kenapa? Ada apa dokter?" Tanya Gendhis yang langsung ikut panik.
__ADS_1
" Kamu duduk disini." Broto langsung memberikan kursi miliknya untuk Gendhis.
Aaaa... So sweet!
" Nggak usah dokter, aku bisa berdiri saja, silahkan dilanjut periksanya." Gendhis tidak enak hati saat melihat pasien disana yang sudah tersenyum-senyum melihat mereka.
" Duduk sini, tolong nggak usah melawan, bisa kan?" Broto berusaha bersikap tenang, karena masih ada pasiennya.
" Eherm... Kekasihnya ya dokter?" Tanya Pasien itu yang sedari tadi menyimak mereka.
" Hehe... Hai ibuk?" Gendhis langsung tersenyum menyapa.
" Emm... Dokter Gebdhis sedang tidak enak badan, jadi dia tidak boleh kelamaan berdiri." Ucap Broto yang membuat Gendhis langsung meliriknya dengan kesal.
" Perhatian banget, pasti ada rasa nih?" Pasien itu ternyata masih belum puas dengan jawaban Broto.
" Sesama profesi dokter memang harus saling perhatian buk, semua juga begitu." Broto oun melakukan pembelaan.
" Masak sih?"
" Baiklah pemeriksaan sudah selesai buk, silahkan tebus obatnya di apotek ya buk, semoga cepat sehat kembali dan jangan lupa beristirahat."
" Baik dokter, terima kasih."
" Sama-sama."
" Eherm... Apa ada larangan kalau dirumah sakit nggak boleh mengakui aku sebagai istrimu di depan pasien?" Gendhis langsung menggeser kursinya dihadapan Broto.
" Pengen banget kamu?" Broto langsung tersenyum miring kearahnya.
" Apa susahnya, tidak melanggar aturan juga kan?"
" Apa kamu lupa, kalau aku belum mengucap kata rujuk denganmu?"
" Lah... Ini sudah, makasih ya sayang sudah mau rujuk lagi denganku?" Gendhis bahkan sudah pandai bermain kata sekarang.
" Apaan sih?"
Grep!"
" Aaaa.... Sayang, jangan lama-lama dong, aku capek loh berantem terus sama kamu, sekali-kali ajakin aku jalan dong, hanya ke supermarket terdekat juga boleh deh, asal berdua sama kamu?"
Gendhis langsung memeluk tubuh Broto dengan mesra dihadapannya, dalam posisi Gendhis masih duduk di kursi milik Broto.
" Pfffthh... Apaan sih kamu ini Ndis!" Antara kesel dan aneh yang Broto rasakan saat ini, namun dia cukup bahagia saat Gendhis selalu bersikap manja seperti itu dengannya.
" Sayang... udah dong ngambeknya, kita rujuk balik yuk?" Pinta Gendhis sambil menyembunyikan wajahnya di perut Broto.
" Belum saatnya!" Jawab Broto dengan singkat.
" Trus kapan?" Gendhis langsung mendongakkan wajahnya saat Broto duduk menyandar diatas meja.
" Kamu sabarlah, usahamu aja belum maksimal, baru gitu aja kamu sudah.... Empth!"
C U P
Masih dalam posisi duduk, Gendhis langsung menarik dasi yang dipakai oleh suaminya dan mengecvpnya sekilas.
" Gendhis! Kamu ini... Hmpth!"
Demi sebuah kata yaitu Rujuk, akhirnya tidak ada pilihan lain selain Big Sale yang Gendhis lakukan saat ini, dia seolah tidak membiarkan Broto bicara kali ini, dengan sigap Gendhis semakin memperdalam civmannya, bahkan Broto yang tadinya belum siap pun, lama kelamaan langsung bisa mengimbangi dan mulai memejamkan kedua matanya, untuk meresapi setiap gerakan yang mereka lakukan.
Cih... Segitu aja pertahananmu Broot? Ditempelin bibiir doang udah lemah, ahahay..
Gendhis sebisa mungkin menahan senyuman, agar Broto tidak curiga dengan aksi gilanya. Walau belum ada kata rujuk yang terucap dari mulutnya, namun setidaknya perlakuan Broto sudah menandakan bahwa dia menerima dirinya kembali.
" Permisi dokter Broto, eh... Opsh maaf dokter?" Perawat itu sengaja masuk kedalam, karena Broto tidak memanggil-manggil pasien berikutnya.
" Eherm... Kamu bisa panggil pasien berikutnya!" Broto langsung mengusap bibirnya dan berusaha menetralkan wajahnya.
" Baik dokter." Perawat itu langsung malu sendiri melihatnya.
" Aaaaa... Mau lagi!" Gendhis kembali menarik dasi Broto.
C U P
" Hmpth! Sudah Gendhis, lanjut di rumah saja, masih banyak pasienku!" Broto langsung memegang kepala Gendhis dan menjauhkan dari wajahnya.
" Aaaaaaa... Terima kasih sayang, akhirnya nanti bisa otewe bikin dedek lagi!" Gendhis langsung berdiri dan memeluk Broto kembali.
" Aish, bodohnya aku!"
Broto langsung menjambak rambutnya sendiri, rasa sayangnya terhadap Gendhis membuatnya tidak bisa terlalu lama menyembunyikan perasaan itu.
__ADS_1
Menyatukan dua manusia tidaklah semudah bergandengan. Diperlukan pasangan yang bisa mengalah sehingga bisa saling melengkapi seperti jari tangan yang saling mengisi.
Kebersamaan itu ada karena sebuah perbedaan, karena keindahan pelangi tercipta dari kumpulan berbagi warna yang berbeda, namun saling melengkapi dan menjadikan ia sempurna.