
...Happy Reading...
Dinginnya angin malam dan jalanan di perbukitan yang terjal tidak membuat diri seorang Broto Suseno gentar untuk melewatinya.
Walaupun sepertinya hanya mobil Broto lah yang masih melintas jam segini dan masih berani melewati beberapa area hutan belantara di sepanjang perjalanannya menuju kota.
" Aish... Tau gini aku tunda saja idenya si bocil itu, bagaimana kalau keadaan Gendhis parah? daya tahannya kan lemah saat mengandung, haduh... Menyesal aku pergi meninggalkannya."
Seolah ribuan kata sesal pun tidak bisa menggambarkan perasaan dihatinya. Luka di hatinya kini seolah tergantikan dengan rasa khawatir yang sangat besar.
" Seharusnya aku tidak menuruti egoku yang hanya sesaat, wajar dia masih belum sepenuhnya bisa melupakan Panji, karena memang aku yang masuk dalam hubungan mereka, tapi tidak bisa dipungkiri, hatiku terasa pedih saat melihat kedekatan mereka!"
Sepanjang jalan Broto mengumpat dan menyalahkan dirinya sendiri. Terkadang dia sering menyadari jika dirinya memang salah, namun rasa ingin memiliki Gendhis itu seolah mengalahkan rasa penyesalannya, karena tanpa hal itu dia tidak akan bisa dekat dengan Gendhis sampai sekarang, walaupun kenyataannya biar dekat pun dia seolah tetap tidak dianggap, namun setidaknya dia bisa teus memandamg wajah wanita yang dia kagumi walau terkadang ada rasa benci.
" Semoga Gendhis dan bayiku selamat, dan semoga tidak terjadi hal buruk dengan mereka, fuuh... Aku tidak bisa memaafkan diriku kalau mereka sampai kenapa-kenapa, karena perjuanganku selama ini pasti akan sia-sia saja." Broto mencoba berfikir positif, agar dia bisa tetap melajukan mobilnya dengan lancar.
Terkadang cinta itu memang buta, walau berulang kali dia di tolak namun selalu berusaha terus menerima, tanpa memikirkan perihnya luka yang sudah tergores dihatinya.
Dan Broto selalu menutupi kesedihannya dengan tampang cuek dan selengek an, karena dia tidak suka dibelas kasihani orang dan dia hanya ingin dirinya sendiri yang tahu bagaimana kesedihan dan perjuangannya.
Bahkan rasa lelah dan letih selama perjalanannya tidak dia rasakan, tadi di lokasi Camping pun Broto belum sempat istirahat, bahkan perutnya pun belum terisi apapun kecuali air mineral.
Namun rasa cemasnya seolah sudah bisa mengganjal perutnya yang kosong, sehingga rasa lapar itu tidak terasa oleh Broto.
Hingga akhirnya mobil Broto sudah sampai di pelataran rumah sakit milik keluarga Gendhis, karena tanpa bertanya pun Broto tau, sudah pasti Gendhis akan dirawat disana, selain dokter yang menangani perkembangan kehamilannya ada disana, ruangan Gendhis pun sudah di desain sendiri seperti kamar pribadi, jadi sudah pasti nyaman walau harus tinggal berhari-hari di rumah sakit.
Broto sampai disana hampir tengah malam, dia bahkan berjalan tergesa-gesa menuju ruang rawat milik istrinya, andai berlari tidak menggangu pasien lain pun mungkin Broto sudah melakukannya, namun dia juga seorang dokter, yang tidak boleh mengorbankan pasien lain demi urusan pribadi.
Sesampainya didepan pintu ruangan itu, Broto langsung menghentikan langkahnya, karena mendengar suara Gendhis sedang mengobrol dengan Ibunya karena pintu kamar itu tidak tertutup rapat.
" Alhamdulilah, ternyata istriku baik-baik saja!" Broto bisa sedikit lebih tenang, namun saat dia ingin masuk dan melihatnya secara langsung, kakinya kembali terpaku ditempat, senyuman yang tadi mengembang kini perlahan-lahan surut saat mendengar curhatan istrinya kepada ibu kandungnya sendiri.
" Suami macam apa coba Broto itu buk, istrinya sedang sakit karena mengandung anaknya pun dia pergi entah kemana!"
Suara Gendhis terdengar sangat kesal, padahal sedari tadi dia terus menunggu kedatangan Broto untuk sekedar mengelus perutnya, agar janin di perutnya itu tidak berulah dan membuat perutnya terasa kram.
Namun karena Broto tak kunjung datang, Gendhis seolah meluapkan segala kebenciannya yang dia rasakan dahulu, walau sebenarnya saat ini dia sudah mulai bisa menerima Broto dan bahkan mulai tidak bisa jika tidak melihatnya.
Sesungguhnya dia hanya belum menyadarinya saja, karena obsesi dia sedari dulu memang hanya Panji saja, jadi walau hatinya sudah berpindah haluan pun, pikirannya masih terobsesi dengan nama Panji, Panji dan Panji seorang.
" Mungkin Broto sedang ada urusan nak, yang penting perut kamu sudah baikan kan?" Ibu Gendhis mencoba menenangkan putrinya yang terlihat kesal.
" Coba ibu bayangkan, bagaimana jika anak ini nanti lahir, dan dia rewel nangis terus, pasti Broto tidak mau ambil peduli, dia seenaknya buat tanpa izinku, tapi aku yang harus tersiksa karena perbuatannya, aku benci sekali dengan dia buk, benci banget!"
Rintihan seorang Gendhis terdengar jelas di telinga Broto, membuat rasa sesal dihatinya semakin menumpuk.
" Nanti ibu cariin beberapa babysitter buat ngurusin anak kamu, jadi kamu tidak perlu risau ya?"
" Lihat aja nanti, aku nggak akan mau nyusuin anak ini!"
" Gendhis, kamu nggak boleh ngomong gitu nak? makanan bayi itu hanya asi yang terbaik, kasihan nanti dia."
" Biar saja bapaknya yang ngurusin, aku sudah berkorban banyak untuk dia, masak sudah lahirpun aku masih tersiksa olehnya!" Umpat Gendhis yang sebenarnya hanya kecewa saja dengan perjalanan hidupnya.
Astaga... bahkan saat belum lahirpun mamamu sudah melukai hati mu nak, maafkan papa nak, semoga saat lahir nanti kamu menjadi bayi yang kuat ya nak.
Broto memejamkan kedua matanya, entah mengapa hatinya begitu sakit saat mendengar ucapan Gendhis kali ini.
" Gendhis, kamu nggak boleh ngomong gitu nak, anak itu amanah, anak itu rezeki, banyak orang diluaran sana yang menginginkan punya bayi tapi sulit mendapatkannya, jadi kalau kamu diberi kemudahan harusnya kamu bersyukur, jangan begini, kasian anak yang ada di perutmu itu, dia pasti sedih saat mendengar perkataan mamanya seperti itu."
Sebagai seorang ibu yang sudah pernah mengandung dan melahirkan dua anak, ibu Gendhis pun tahu benar bagaimana rasanya.
" Ibu nggak tahu sih, bagaimana rasanya jadi aku, dilecehkan sama orang, bahkan saat tidak sadar, hamil tiba-tiba, pernikahan yang sudah didepan mata gagal begitu saja, dan calon suami yang sangat dicintai menikah dengan adek kandungnya sendiri, coba ibu ada di posisiku, sakit banget tahu buk!" Gendhis seolah mengeluarkan segala unek-uneknya malam itu.
" Ibu mengerti, tapi ini sudah terjadi nak dan semua diluar kuasa kita, tapi janin yang ada didalam kandungan kamu itu tidak bersalah nak, dia suci belum ternoda apapun, jadi jangan kamu memperlakukannya dengan kejam."
" Tapi aku berharap bukan dia ayahnya buk."
" Masalah ayahnya, jika memang kamu tidak bisa menerimanya sampai anak ini lahir, itu hak kamu, ibu tidak akan melarang kamu jika memang kamu sudah tidak tahan dengannya, tapi biarkan anakmu lahir dengan selamat dulu ya nak."
__ADS_1
" Tapi buk, sebenarnya aku ..." Gendhis masih ingin bicara dari hati ke hati, dan mengungkapkan perasaannya tentang Broto, namun sepertinya ibunya sudah tidak mau mendengarnya lagi.
" Sudahlah, tadi kamu sudah diberi obat kan? Ini sudah hampir tengah malam, kamu harus istirahat, nanti perut kamu kram lagi kalau kebanyakan bergadang."
" Buk... tapi aku dan Broto...?"
" Istirahat, jangan pikirkan apapun, besok lagi kita bahas masalah mereka."
" Ya udah deh."
" Satu pesan ibu, sebenci apapun kamu dengan ayahnya, jangan kamu korbankan janin yang ada didalam kandunganmu itu, ataupun ketika dia lahir nanti, coba kamu berada di posisi anak itu, sedih nggak kamu, dia pun kalau boleh di kasih pilihan tidak mau berada di posisinya sebagai anak yang tidak di inginkan, mengerti kamu Ndis?"
" Iya Buk."
Gendhis langsung merebahkan tubuhnya dan ibunya pun langsung membantu menyelimuti tubuh putrinya.
" Maafkan ibu ya Ndis, ibu bukan memarahimu, ibu pun paham dengan kesedihanmu, tapi ibu yakin kamu pasti bisa melewati ini semua, yang sabar ya nak, ayah dan ibu akan selalu ada untukmu."
Ibu Gendhis mengusap rambut putrinya dan mencivm keningnya, dia pun tidak tidak tega sebenarnya.
Hati ibu mana yang tidak terluka melihat putrinya seolah tidak bahagia, namun dia harus tetap terlihat kuat, agar putrinya merasa terlindungi dan punya tempat untuk sekedar berteduh dari lebatnya ujian hidup.
" Istirahat ya, ibu ada di ruangan sebelah, kalau ada apa-apa panggil ibu ya, badan ibu sudah tua, kalau nggak rebahan pinggangnya serasa mau copot."
Dalam ruangan khusus itu sengaja dibuat dua kamar, yang satu untuk kamar pasien, dan satu lagi untuk tempat istirahat keluarga yang ikut menunggunya agar tidak ikut tumbang karena harus bergadang dan kurang tidur juga.
" Hmm.."
Gendhis langsung menganggukan kepalanya dan tidur menyamping, karena sejak perutnya mulai membesar,dia lebih nyaman tidur miring.
Entah mengapa kaki Broto seolah melemas saat mendengar curhatan ibu dan anak itu, tubuhnya merosot seketika dan terduduk dilantai bersandarkan dinding ruangan itu.
" Maafkan aku Gendhis, ternyata aku benar-benar sudah menjadi beban dalam hidupmu."
Broto memejamkan kedua matanya dengan pilu, baru kali ini dia sangat merasa bersalah, karena ada satu nyawa yang tidak tahu apa-apa namun harus terluka karena ulahnya.
Hampir setengah jam dia terduduk dilantai dan menyembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya.
Perlahan dia duduk di tepi ranjang itu, dan mulai menggerakkan tangannya untuk mengusap lembut perut Gendhis.
" Maafkan papa nak, gara-gara papa kamu jadi dibenci oleh mama."
Tanpa Broto sadari air matanya meleleh begitu saja, mungkin baru kali ini dia menitikkan air matanya karena orang lain, namun saat ini hatinya begitu terluka saat Gendhis terlihat sangat membenci anaknya bahkan tidak ingin menyusui anaknya saat dia lahir nanti.
" Tolong jangan benci papa ya nak, saat kamu lahir dan tumbuh dewasa nanti."
Broto menghujani kecvpan di perut Gendhis dan menempelkan kepalanya disana, seolah ingin mendengar jawaban dari calon anaknya itu.
" Jikalau mama kamu begitu tersiksa karena papa mu ini, saat ini juga papa rela pergi dari hidupnya nak."
Broto mengusap air matanya yang masih menetes, seolah mencari kekuatan dari dirinya yang masih tersisa.
" Izinkan papa pergi sementara ya nak, saat kamu lahir nanti, papa akan menjemput kamu diam-diam, karena kamu nggak salah nak, papa yang salah, jadi kamu tidak harus menerima hukuman dari mama kamu. Kamu harus hidup dengan bahagia, walau bukan dengan mama kamu."
" Papa akan lakukan apapun asal kamu bisa merasakan hangatnya cinta kasih seorang mama."
" Jikalau mama kandungmu tidak bisa menerimamu, lebih baik kamu tidak melihatnya sekalian, kita pergi saja sejauh mungkin nak, kita cari kebahagiaan kita berdua ya nak."
" Tapi papa mohon nak, selama kamu masih berada didalam kandungan mamamu, jangan kamu sakiti mamamu ya nak, kasian mama kamu selalu mengeluh dan kesakitan."
" Kamu yang sehat diperut mama nak, setelah kamu keluar nanti, kita berdua tidak akan menyusahkan mamamu lagi, okey sayang?"
Air mata Broto semakin mengalir dengan derasnya, bahkan sudah membasahi baju Gendhis saat dia mengobrol banyak dengan calon anaknya.
" Fuuuh..."
Akhirnya Broto menghela nafasnya perlahan, mencoba menenangkan diri dan menguatkan hati.
Setelah mulai tenang, Broto kemudian mengambil satu kartu berwarna hitam dengan berhiaskan chip berwarna emas, atau orang sering menyebutnya dengan kartu elit untuk kalangan sultan.
__ADS_1
Saat dia melihat sebuah buku diatas meja, dia berinisiatif meninggalkan pesan untuk Gendhis, agar dia bisa membacanya saat terbangun nanti.
Gendhis...
Mungkin aku hadir untukmu karena sebuah kesalahan dan bahkan kehadiranku membuat hidupmu menjadi berantakan.
Aku paham, kau selalu ingin menjauh agar aku merasa jenuh, namun kau lupa satu hal; perasaan lahir bukan untuk dibunuh.
Tapi demi kebahagiaanmu aku rela pergi..
Bukannya aku ingin menjauh, tapi hanya ingin kamu tau. Bukannya berubah, tapi hanya ingin kamu peka jika aku sudah lelah.
Kamu tidak perlu menjauh. Tetaplah seperti itu, karena aku tau bagaimana caranya berjalan mundur.
Namun, jika nanti pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang akan memeluk pantaimu erat.
Saat waktunya tiba nanti, aku akan datang kembali, bukan untuk menemuimu atau menambahkan luka di hatimu, aku hanya akan mengambil darah dagingku.
Kamu boleh membenciku kamu boleh melakukan apa saja denganku, tapi tidak dengan anakku.
Kamu hanya perlu melahirkan dia ke dunia saja, jika kamu memang tidak menerimanya, jangan khawatir, kamu hanya perlu mendengar tangisannya untuk pertama kalinya saja, saat matamu terbuka nanti kamu tidak akan melihatnya lagi.
Walau ini sulit, tapi tolong maafkan aku dan pakai kartu ini untuk membiayai semua kebutuhanmu selama mengandung anakku.
Jika kamu memang menginginkan kita berpisah, saat waktunya tiba nanti, aku pasti akan mengabulkannya demi kebahagianmu.
Selamat tinggal, yang sehat ya Ndhis, titip anakku. Semoga dengan kepergianku akan menjadi awal kebahagiaanmu.
Dengan tetesan air mata yang berderai, Broto meletakkan secarik kertas berisikan pesan untuk Gendhis dan meletakkan blackcard diatasnya.
C U P
Sebelum Broto melangkah pergi, dia sengaja meninggalkan satu kecvpan perpisahan di bibiir mungil itu.
" Aku sayang kamu Ndis, sampai kapanpun itu."
Lalu dengan berat hati Broto pergi keluar dari ruangan itu, meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi diantara mereka.
Broto sadar dia memang salah, itu mengapa dia memilih pergi, karena tidak ingin menambah luka dan beban di hati sang istri.
Sepanjang kisah perjalanannya sebagai seorang player, baru kali ini Broto merasakan apa itu yang disebut dengan CIDRO.
__ADS_1
..."Semua pasti berubah, mau tidak mau. Semua pasti berpisah, ingin tidak ingin. Semua pasti berakhir, siap tidak siap."...
..."Perpisahan itu ada, agar kita bisa menghargai sebuah pertemuan."...